24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
December 18, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

TAK mudah mengenal karakteristik seseorang. Apalagi orang itu sudah terbiasa diterjang berbagai badai kehidupan. Dalam laci hati yang dipenuhi kemarahan, ia bisa menunjukkan wajah yang dipenuhi keramahan. Dalam relung hati yang kecewa, ia bisa mempertontonkan tawa. Dalam jiwa yang diakrabi kehilangan, ia justru selalu tampak riang. Ditutupinya kenyataan hidup dalam sebuah ruang rahasia sehingga yang tampak di luar selalu kebalikannya.

Kelebihan orang ini tentu karena pengalaman hidup suka-duka yang telah diakrabinya. Meski barangkali tubuhnya sangat lelah merapikan serakan keadaan untuk ditampilkan selalu indah di permukaan, kenyataannya tidak semua orang leluasa menunjukkan diri luar dan dalam. Artinya, orang selalu berusaha tidak jujur atas dirinya. Ada tuntutan pekerjaan, status sosial, kedudukan, dan seterusnya yang mengikatnya untuk tampil purna tanpa cela. Menjadi apa adanya semakin sulit akibat berbagai kebutuhan sosial dan mungkin juga media sosial.

Meski begitu rumit untuk mengetahui karakteristik seseorang, para cerdik pandai Bali di masa lalu ternyata ada yang berminat untuk mempelajari khazanah pengetahuan ini. Cara yang ditawarkannya untuk menyibak karakteristik seseorang justru bertitik pangkal dari sesuatu yang dekat, yaitu sisi fisiknya. Bentuk dan ukuran tubuh, warna kulit atau rambut, dan tanda-tanda lain tubuh diduga membawa kecenderungan karakteristik bawaan khas, unik, dan khusus.

Hasil pergulatan memahami hubungan yang ada di antara fisik dan karakteristik inilah yang kemudian ditulis dalam salah satu lontar yang berjudul Pawetuan Jadma. Kata pawetuan bermakna kelahiran. Sementara itu, kata jadma berarti manusia. Dengan demikian, pawetuan jadma berarti kelahiran manusia. Dalam konteks yang lebih luas, kelahiran manusia yang dimaksud adalah potensi karakteristiknya. Kita tentu bertanya, siapa yang memproduksi teks ini dan tujuan apa? Di bagian akhir tulisan ini, kta akan coba memetakan berbagai jawaban atas pertanyaan di atas.

Lontar Pawetuan Jadma

Pustaka lontar Pawetuan Jadma dikoleksi oleh keluarga pendeta di wilayah Payangan Gianyar. Teks dimulai dari uraian mengenai hubungan antara fisik dan karakteristik seorang perempuan. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang tentang laki-laki. Meski dalam berbagai pustaka lain ada kelahiran yang disebut kedi (perempuan dengan karakteristik laki-laki atau sebaliknya), tetapi pustaka ini tidak menyinggung watak kelahiran tersebut. Mungkin diperlukan strategi khusus untuk mengetahui sifat dari kelahiran seseorang yang disebutkan terakhir, atau mungkin penulis belum memprioritaskannya.

Lebih jauh, mari kita baca sejumlah identifikasi karakter seorang perempuan yang telah dihimpun oleh penulis pustaka Pawtuan Jadma di bawah ini. Sesungguhnya ada dua puluh dua karakter yang diulas secara panjang lebar, tetapi kita batasi sepuluh saja dulu yang mungkin bisa mewakili karakteristik seseorang pada umumnya. Sisanya, kita bahas pada kesempatan yang lainnya.   

Pertama, pustaka pawetuan jadma menyebutkan apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih kemerahan, perawakannya tinggi besar, dan payudaranya besar. Itu disebut dengan Durga Ngrik. Maka, tidak baik dijadikan istri karena akan membuat suaminya takut. Kedua, apabila ada perempuan yang tubuhnya kecil dengan warna kulit putih mulus, ujung payudaranya berwarna merah muda, dan rambutnya kekuningan. Itu disebut dengan Durga Saring. Orang itu tidak akan berhenti berpikiran negatif dan jahat. Ketiga, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna kuning langsat (nyandat), payudaranya bagus karena berukuran kecil, rambutnya hitam, dan betisnya kecil. Itu disebut dengan Istri Koci Kecana (Kencana). Perempuan itu akan selalu berperilaku baik dan setia kepada suami.

Ketiga, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, tubuhnya tinggi besar, payudaranya bagus, rambut berwarna hitam, tangannya panjang, dan betisnya juga bagus.  Itu disebut dengan Istri Bitang (Bintang) Dreman. Baik dijadikan istri oleh sang raja (wnang patning de sang ratu). Keempat, apabila ada perempuan yang warna kulitnya putih, tubuhnya kecil, jarinya juga kecil, perawakannya pendek, dan rambutnya hitam. Itu disebut dengan Bintang Kara. Luar biasa baik karena bisa mendatangkan kekayaan. Kelima, apabila ada seorang perempuan yang tubuhnya tinggi besar, rambutnya panjang dan lebat, kulitnya berwarna hitam, dan payudaranya kecil.Itu disebut dengan Taman Ayu. Apabila payudaranya besar, disebut dengan Paksi Ngrem. Karekter perempuan itu malas (kiyul).

Keenam, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, rambutnya hitam dengan ujung berwarna kuning, cara berjalannya agak cepat. Itu disebut dengan Istri Ula Mandhi. Buruk dan tidak baik dijadikan pendamping (apennin). Ketujuh, apabila ada perempuan yang tubuhnya agak gempal dan tinggi, cara berjalannya agak cepat, payudara bagus. Itu adalah perempuan yang mungkin tidak bisa melahirkan keturunan. Kedelapan, apabila ada perempuan yang memiliki gigi dengan jarak renggang, mata cekung. Itu adalah perempuan yang suka berhutang (kuat mutang). Apabila dinikahi akan sering bertengkar. Kesembilan, apabila ada perempuan yang urat matanya agak keputihan, raut wajahnya sopan, itu adalah perempuan yang takut kepada suaminya. Sangat baik dan utama. Kesepuluh, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, perawakan tubuhnya tinggi, payudaranya padat, rambutnya ikal, seperti suara uang logam suaranya merdu. Perempuan itu akan mendatangkan banyak harta dan pengetahuan. Ini disebut dengan Udan Rasa atau Udan Pipis. Kemungkinan besar akan kaya dan bisa dijadikan istri.

Kakung (Laki-Laki)

Agar seimbang, selanjutnya kita bahas tentang ciri-ciri fisik laki-laki yang dihubungkan dengan karakteristiknya. Pustaka Pawetuan Jadma membentangkan tiga puluh ciri-ciri fisik seorang laki-laki untuk mengetahui karakteristiknya. Untuk penjelasan yang lebih rinci, mari kita ambil sepuluh saja dari tiga puluh uraian yang ada.

Pertama, apabila ada laki-laki yang hidungnya besar, tetapi lobangnya kecil, itu adalah orang yang benar dan terpercaya (pasaja gugu). Kedua, apabila ada laki-laki yang bibirnya tebal, itu adalah orang yang pemalu. Ketiga, apabila ada laki-laki yang dagunya lebar, itu adalah orang yang berpikiran baik. Keempat, apabila ada laki-laki yang dagunya kecil dan agak runcing, itu adalah orang yang penakut. Kelima, apabila ada laki-laki yang lehernya panjang, itu adalah orang yang teliti dan terampil, serta bersih.

Keenam, apabila laki-laki yang matanya cekung, pendek, dan tubuhnya kecil (kurus), itu adalah orang yang tidak bisa diberi rahasia. Ketujuh, apabila ada laki-laki yang dadanya kecil, bahunya menurun, itu adalah orang yang penakut, pasti mendatangkan keburukan. Kedelapan, apabila ada laki-laki yang tangannya pendek, itu adalah orang yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. Hanya makan saja. Kesembilan, Apabila ada laki-laki yang telinganya berisi tahi lalat, pasti akan disenangi oleh tuannya. Kesepuluh, apabila ada laki-laki yang posisi giginya renggang, itu adalah laki-laki yang sombong dan pembohong (buruk).

Yang Bersembunyi di Balik Naskah

            Demikianlah hubungan antara ciri fisik dengan karakteristik seseorang menurut pustaka Pawetuan Jadma. Kembali ke pertanyaan awal, siapakah figur di balik teks ini? Dengan tujuan apa ia memproduksinya?

Apabila menyimak uraiannya tentang kelindan ciri fisik dan karakteristik yang konsisten diwacanakan dalam hubungannya dengan tuan atau raja, kita bisa menduga kuat bahwa produsen teks ini adalah seseorang yang berada di lingkaran kekuasaan. Pustaka Siwagama menyebutkan setidaknya ada dua pejabat khusus yang berhubungan dengan tata kelola para abdi negara yang kemungkinan memproduksi teks ini, yaitu Rakryan Demang dan Juru Pangalasan.  

Rakryan Demang adalah pejabat yang bertugas untuk mengurusi segala upacara raja, bunyi-bunyian, menata keindahan istana, merancang dan membuat pakaian kebesaran raja, membangun tempat berkumpulnya para gadis (karang kaputren), membuat ramalan-ramalan, dan yang lainnya. Berangkat dari tugas utama Rakryan Demang kita dapat menduga pejabat inilah yang bertugas untuk merekrut abdi perempuan untuk melayani sang raja atau memberi raja pertimbangan dalam memilih pasangan hidupnya.

Sebab, tak dapat disangkal, bahwa seorang permaisuri akan sangat menentukan apakah raja akan mencapai keajayaan atau sebaliknya kesuraman dalam menatakelola pemerintahannya. Oleh sebab itulah perlu pertimbangan yang luar biasa untuk menentukan pasangan yang paling ideal agar raja mencapai titik optimalnya dalam mengusahakan kesejahteraan rakyatnya (mahayu ning rāt).

Berbagai karakteristik perempuan seperti koci kencana, bintang dreman, bintang kara, udan rasa, dan yang lainnya adalah figur yang secara eksplisit disebut wenang patning de sang ratu‘bisa dijadikan istri oleh sang raja’. Sementara itu, sejumlah sebutan seperti Durga Ngrik, Durga Sring, ula mandhi, dan yang lainnya menurut pustaka Pawetuan Jadma sebaiknya dihindari karena bisa membuat pendamping hidupnya takut, apalagi bagi mereka yang tidak memiliki kerendahan hati untuk menerima kekurangan masing-masing. Figur perempuan yang disebutkan terakhir dalam konteks kekinian barangkali tepat untuk mengisi posisi-posisi pekerjaan seperti Polwan, Satpam, dan yang lainnya karena memiliki daya yang tinggi untuk mengatur berbagai keadaan.

Di samping itu, sejumlah karakteristik laki-laki yang berhubungan dengan nilai-nilai keuletan, penjagaan rahasia, kesetiaan, dan yang lainnya juga berhubungan erat dengan tata kelola pasukan kerajaan yang ditangani oleh Juru Pangalasan. Juru Pangalasan pada zaman kerajaan memiliki fungsi untuk menyeleksi pasukan raja yang siap bertempur, mencari tipu muslihat musuh, berani, dan setia dalam menjaga rahasia kerajaan. Juru Pangalasan ini dalam perusahaan yang modern bisa disejajarkan dengan HRD (Human Resource Depelovment). Sebagai seseorang yang bertugas untuk merekrut tenaga kerja keraajaan yang mumpuni, mereka perlu memiliki pengetahuan mendalam tentang hubungan fisik dan karakeristik seseorang. SDM pegawai memiliki peran sentral untuk bisa menggulung pasar atau justru menjadi gulung tikar.

Itulah penjelasan penjelasan pustaka Pawetuan Jadma mengenai hubungan antara fisik dan karakteristik seseorang. Sebagai manusia biasa di luar konteks tugas kerajaan, beberapa bagian tubuh tentu tak akan bisa diubah, tetapi menyadari berbagai karakter dasar bawaannya menjadi penting sebagai pijakan awal untuk memperbaiki diri. Konon kebahagiaan akan bisa diraih seseorang apabila dia tahu dua hal, yaitu tahu diri dan tahu batas. Tahu diri membuatnya berusaha memperkecil kekurangan, tahu batas membuatnya untuk memperbesar rasa syukur.   [T]


[i] Terima kasih dihaturkan kepada sahabat De Nyana Kusuma dan Penyuluh Bahasa Bali atas bantuannya mendigitialisasi naskah ini di wilayah Desa Kelusa Payangan sekitar tahun 2018. Tulisan ini tidak bermaksud body shamming atau yang sejenisnya, tetapi berusaha menjadi pintu masuk untuk mempertimbangkan berbagai warisi literasi kuno untuk kehidupan kita saat ini.

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: lontarManusia Balisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menengok Sisi-sisi Lain Manusia dalam Festival Film Kemanusiaan

Next Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co