24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
December 18, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

TAK mudah mengenal karakteristik seseorang. Apalagi orang itu sudah terbiasa diterjang berbagai badai kehidupan. Dalam laci hati yang dipenuhi kemarahan, ia bisa menunjukkan wajah yang dipenuhi keramahan. Dalam relung hati yang kecewa, ia bisa mempertontonkan tawa. Dalam jiwa yang diakrabi kehilangan, ia justru selalu tampak riang. Ditutupinya kenyataan hidup dalam sebuah ruang rahasia sehingga yang tampak di luar selalu kebalikannya.

Kelebihan orang ini tentu karena pengalaman hidup suka-duka yang telah diakrabinya. Meski barangkali tubuhnya sangat lelah merapikan serakan keadaan untuk ditampilkan selalu indah di permukaan, kenyataannya tidak semua orang leluasa menunjukkan diri luar dan dalam. Artinya, orang selalu berusaha tidak jujur atas dirinya. Ada tuntutan pekerjaan, status sosial, kedudukan, dan seterusnya yang mengikatnya untuk tampil purna tanpa cela. Menjadi apa adanya semakin sulit akibat berbagai kebutuhan sosial dan mungkin juga media sosial.

Meski begitu rumit untuk mengetahui karakteristik seseorang, para cerdik pandai Bali di masa lalu ternyata ada yang berminat untuk mempelajari khazanah pengetahuan ini. Cara yang ditawarkannya untuk menyibak karakteristik seseorang justru bertitik pangkal dari sesuatu yang dekat, yaitu sisi fisiknya. Bentuk dan ukuran tubuh, warna kulit atau rambut, dan tanda-tanda lain tubuh diduga membawa kecenderungan karakteristik bawaan khas, unik, dan khusus.

Hasil pergulatan memahami hubungan yang ada di antara fisik dan karakteristik inilah yang kemudian ditulis dalam salah satu lontar yang berjudul Pawetuan Jadma. Kata pawetuan bermakna kelahiran. Sementara itu, kata jadma berarti manusia. Dengan demikian, pawetuan jadma berarti kelahiran manusia. Dalam konteks yang lebih luas, kelahiran manusia yang dimaksud adalah potensi karakteristiknya. Kita tentu bertanya, siapa yang memproduksi teks ini dan tujuan apa? Di bagian akhir tulisan ini, kta akan coba memetakan berbagai jawaban atas pertanyaan di atas.

Lontar Pawetuan Jadma

Pustaka lontar Pawetuan Jadma dikoleksi oleh keluarga pendeta di wilayah Payangan Gianyar. Teks dimulai dari uraian mengenai hubungan antara fisik dan karakteristik seorang perempuan. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang tentang laki-laki. Meski dalam berbagai pustaka lain ada kelahiran yang disebut kedi (perempuan dengan karakteristik laki-laki atau sebaliknya), tetapi pustaka ini tidak menyinggung watak kelahiran tersebut. Mungkin diperlukan strategi khusus untuk mengetahui sifat dari kelahiran seseorang yang disebutkan terakhir, atau mungkin penulis belum memprioritaskannya.

Lebih jauh, mari kita baca sejumlah identifikasi karakter seorang perempuan yang telah dihimpun oleh penulis pustaka Pawtuan Jadma di bawah ini. Sesungguhnya ada dua puluh dua karakter yang diulas secara panjang lebar, tetapi kita batasi sepuluh saja dulu yang mungkin bisa mewakili karakteristik seseorang pada umumnya. Sisanya, kita bahas pada kesempatan yang lainnya.   

Pertama, pustaka pawetuan jadma menyebutkan apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih kemerahan, perawakannya tinggi besar, dan payudaranya besar. Itu disebut dengan Durga Ngrik. Maka, tidak baik dijadikan istri karena akan membuat suaminya takut. Kedua, apabila ada perempuan yang tubuhnya kecil dengan warna kulit putih mulus, ujung payudaranya berwarna merah muda, dan rambutnya kekuningan. Itu disebut dengan Durga Saring. Orang itu tidak akan berhenti berpikiran negatif dan jahat. Ketiga, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna kuning langsat (nyandat), payudaranya bagus karena berukuran kecil, rambutnya hitam, dan betisnya kecil. Itu disebut dengan Istri Koci Kecana (Kencana). Perempuan itu akan selalu berperilaku baik dan setia kepada suami.

Ketiga, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, tubuhnya tinggi besar, payudaranya bagus, rambut berwarna hitam, tangannya panjang, dan betisnya juga bagus.  Itu disebut dengan Istri Bitang (Bintang) Dreman. Baik dijadikan istri oleh sang raja (wnang patning de sang ratu). Keempat, apabila ada perempuan yang warna kulitnya putih, tubuhnya kecil, jarinya juga kecil, perawakannya pendek, dan rambutnya hitam. Itu disebut dengan Bintang Kara. Luar biasa baik karena bisa mendatangkan kekayaan. Kelima, apabila ada seorang perempuan yang tubuhnya tinggi besar, rambutnya panjang dan lebat, kulitnya berwarna hitam, dan payudaranya kecil.Itu disebut dengan Taman Ayu. Apabila payudaranya besar, disebut dengan Paksi Ngrem. Karekter perempuan itu malas (kiyul).

Keenam, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, rambutnya hitam dengan ujung berwarna kuning, cara berjalannya agak cepat. Itu disebut dengan Istri Ula Mandhi. Buruk dan tidak baik dijadikan pendamping (apennin). Ketujuh, apabila ada perempuan yang tubuhnya agak gempal dan tinggi, cara berjalannya agak cepat, payudara bagus. Itu adalah perempuan yang mungkin tidak bisa melahirkan keturunan. Kedelapan, apabila ada perempuan yang memiliki gigi dengan jarak renggang, mata cekung. Itu adalah perempuan yang suka berhutang (kuat mutang). Apabila dinikahi akan sering bertengkar. Kesembilan, apabila ada perempuan yang urat matanya agak keputihan, raut wajahnya sopan, itu adalah perempuan yang takut kepada suaminya. Sangat baik dan utama. Kesepuluh, apabila ada perempuan yang kulitnya berwarna putih, perawakan tubuhnya tinggi, payudaranya padat, rambutnya ikal, seperti suara uang logam suaranya merdu. Perempuan itu akan mendatangkan banyak harta dan pengetahuan. Ini disebut dengan Udan Rasa atau Udan Pipis. Kemungkinan besar akan kaya dan bisa dijadikan istri.

Kakung (Laki-Laki)

Agar seimbang, selanjutnya kita bahas tentang ciri-ciri fisik laki-laki yang dihubungkan dengan karakteristiknya. Pustaka Pawetuan Jadma membentangkan tiga puluh ciri-ciri fisik seorang laki-laki untuk mengetahui karakteristiknya. Untuk penjelasan yang lebih rinci, mari kita ambil sepuluh saja dari tiga puluh uraian yang ada.

Pertama, apabila ada laki-laki yang hidungnya besar, tetapi lobangnya kecil, itu adalah orang yang benar dan terpercaya (pasaja gugu). Kedua, apabila ada laki-laki yang bibirnya tebal, itu adalah orang yang pemalu. Ketiga, apabila ada laki-laki yang dagunya lebar, itu adalah orang yang berpikiran baik. Keempat, apabila ada laki-laki yang dagunya kecil dan agak runcing, itu adalah orang yang penakut. Kelima, apabila ada laki-laki yang lehernya panjang, itu adalah orang yang teliti dan terampil, serta bersih.

Keenam, apabila laki-laki yang matanya cekung, pendek, dan tubuhnya kecil (kurus), itu adalah orang yang tidak bisa diberi rahasia. Ketujuh, apabila ada laki-laki yang dadanya kecil, bahunya menurun, itu adalah orang yang penakut, pasti mendatangkan keburukan. Kedelapan, apabila ada laki-laki yang tangannya pendek, itu adalah orang yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. Hanya makan saja. Kesembilan, Apabila ada laki-laki yang telinganya berisi tahi lalat, pasti akan disenangi oleh tuannya. Kesepuluh, apabila ada laki-laki yang posisi giginya renggang, itu adalah laki-laki yang sombong dan pembohong (buruk).

Yang Bersembunyi di Balik Naskah

            Demikianlah hubungan antara ciri fisik dengan karakteristik seseorang menurut pustaka Pawetuan Jadma. Kembali ke pertanyaan awal, siapakah figur di balik teks ini? Dengan tujuan apa ia memproduksinya?

Apabila menyimak uraiannya tentang kelindan ciri fisik dan karakteristik yang konsisten diwacanakan dalam hubungannya dengan tuan atau raja, kita bisa menduga kuat bahwa produsen teks ini adalah seseorang yang berada di lingkaran kekuasaan. Pustaka Siwagama menyebutkan setidaknya ada dua pejabat khusus yang berhubungan dengan tata kelola para abdi negara yang kemungkinan memproduksi teks ini, yaitu Rakryan Demang dan Juru Pangalasan.  

Rakryan Demang adalah pejabat yang bertugas untuk mengurusi segala upacara raja, bunyi-bunyian, menata keindahan istana, merancang dan membuat pakaian kebesaran raja, membangun tempat berkumpulnya para gadis (karang kaputren), membuat ramalan-ramalan, dan yang lainnya. Berangkat dari tugas utama Rakryan Demang kita dapat menduga pejabat inilah yang bertugas untuk merekrut abdi perempuan untuk melayani sang raja atau memberi raja pertimbangan dalam memilih pasangan hidupnya.

Sebab, tak dapat disangkal, bahwa seorang permaisuri akan sangat menentukan apakah raja akan mencapai keajayaan atau sebaliknya kesuraman dalam menatakelola pemerintahannya. Oleh sebab itulah perlu pertimbangan yang luar biasa untuk menentukan pasangan yang paling ideal agar raja mencapai titik optimalnya dalam mengusahakan kesejahteraan rakyatnya (mahayu ning rāt).

Berbagai karakteristik perempuan seperti koci kencana, bintang dreman, bintang kara, udan rasa, dan yang lainnya adalah figur yang secara eksplisit disebut wenang patning de sang ratu‘bisa dijadikan istri oleh sang raja’. Sementara itu, sejumlah sebutan seperti Durga Ngrik, Durga Sring, ula mandhi, dan yang lainnya menurut pustaka Pawetuan Jadma sebaiknya dihindari karena bisa membuat pendamping hidupnya takut, apalagi bagi mereka yang tidak memiliki kerendahan hati untuk menerima kekurangan masing-masing. Figur perempuan yang disebutkan terakhir dalam konteks kekinian barangkali tepat untuk mengisi posisi-posisi pekerjaan seperti Polwan, Satpam, dan yang lainnya karena memiliki daya yang tinggi untuk mengatur berbagai keadaan.

Di samping itu, sejumlah karakteristik laki-laki yang berhubungan dengan nilai-nilai keuletan, penjagaan rahasia, kesetiaan, dan yang lainnya juga berhubungan erat dengan tata kelola pasukan kerajaan yang ditangani oleh Juru Pangalasan. Juru Pangalasan pada zaman kerajaan memiliki fungsi untuk menyeleksi pasukan raja yang siap bertempur, mencari tipu muslihat musuh, berani, dan setia dalam menjaga rahasia kerajaan. Juru Pangalasan ini dalam perusahaan yang modern bisa disejajarkan dengan HRD (Human Resource Depelovment). Sebagai seseorang yang bertugas untuk merekrut tenaga kerja keraajaan yang mumpuni, mereka perlu memiliki pengetahuan mendalam tentang hubungan fisik dan karakeristik seseorang. SDM pegawai memiliki peran sentral untuk bisa menggulung pasar atau justru menjadi gulung tikar.

Itulah penjelasan penjelasan pustaka Pawetuan Jadma mengenai hubungan antara fisik dan karakteristik seseorang. Sebagai manusia biasa di luar konteks tugas kerajaan, beberapa bagian tubuh tentu tak akan bisa diubah, tetapi menyadari berbagai karakter dasar bawaannya menjadi penting sebagai pijakan awal untuk memperbaiki diri. Konon kebahagiaan akan bisa diraih seseorang apabila dia tahu dua hal, yaitu tahu diri dan tahu batas. Tahu diri membuatnya berusaha memperkecil kekurangan, tahu batas membuatnya untuk memperbesar rasa syukur.   [T]


[i] Terima kasih dihaturkan kepada sahabat De Nyana Kusuma dan Penyuluh Bahasa Bali atas bantuannya mendigitialisasi naskah ini di wilayah Desa Kelusa Payangan sekitar tahun 2018. Tulisan ini tidak bermaksud body shamming atau yang sejenisnya, tetapi berusaha menjadi pintu masuk untuk mempertimbangkan berbagai warisi literasi kuno untuk kehidupan kita saat ini.

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: lontarManusia Balisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menengok Sisi-sisi Lain Manusia dalam Festival Film Kemanusiaan

Next Post

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co