23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi dan Nasionalisme dalam Bingkai Sumpah Pemuda

Chusmeru by Chusmeru
October 28, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

TIDAK ADA kehebohan dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda di Tanah Air. Kehebohan itu sudah tumpah ruah saat perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus tiba. Tidak ada lomba balap karung, panjat pinang, lomba makan kerupuk, dan hiburan musik pada Hari Sumpah Pemuda. Semua sudah terjadi pada peringatan Proklamasi selama sebulan suntuk.

Kegembiraan bangsa ini memang klimaks di bulan Agustus. Seolah nasionalisme anak bangsa berada saat perayaan kemerdekaan itu. Padahal Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 tak akan pernah terjadi jika ikrar Sumpah Pemuda tak digaungkan para pejuang bangsa tanggal 28 Oktober 1928.

Sejatinya Sumpah Pemuda juga menggambarkan heroisme, patriotisme, dan nasionalisme anak bangsa. Sumpah Pemuda membawa pesan komunikasi tentang nasionalisme jauh sebelum Indonesia diproklamasikan. Ada pesan politik dan sosial budaya yang ingin disampaikan para pendahulu bangsa kepada generasi penerus.

Pesan politik Sumpah Pemuda berisi pengakuan bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Pesan ini patut dipertahankan oleh seluruh rakyat Indonesia sampai titik darah penghabisan. Tak satu pun dapat merebut Tanah Air.

Pesan sosial dari ikrar Sumpah Pemuda mengaku berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia. Hal ini mengisyarakatkan bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tercerai-berai.

Sedangkan pesan budaya yang terkandung dalam Sumpah Pemuda adalah kebulatan tekad untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Makna pesan komunikasi ini adalah agar seluruh rakyat Indonesia saling memahami di tengah keragaman bahasa daerah.

Nasionalisme

Nasionalisme dimaknai oleh para pendiri bangsa kala itu dengan ikrar Sumpah Pemuda. Nasionalisme adalah mempertemukan segala perbedaan. Nasionalisme adalah kompromi kebangsaan untuk bersatu. Tanpa nasionalisme, republik yang bernama Indonesia ini tak akan pernah berdiri.

 Seiring perjalanan bangsa, nasionalisme mendapat banyak tantangan. Beragam kepentingan politik dan ekonomi menjadikan nasionalisme menjadi barang mahal di Tanah Air. Nasionalisme dianggap sebagai bagian dari nostalgia masa lalu.

Sesungguhnya nasionalisme itu sangat sederhana, yaitu semangat kebangsaan. Kesetiaan tertinggi atas individu diletakkan untuk kepentingan bangsa. Mencintai segala produk dalam negeri ketimbang buatan negara lain adalah contoh sederhana nasionalisme.

Bahkan nasionalisme dalam konteks keindonesiaan bisa lebih sederhana. Berjuang untuk pelestarian lingkungan, belanja di pasar tradisional, membayar upah buruh yang layak, mengabdikan diri untuk pendidikan di pedalaman adalah bentuk nasionalisme.

 YB Romo Mangunwijaya (1996) lebih tegas menyebut nasionalisme sebagai keinginan untuk terlibat dalam pembebasan orang-orang kecil di Indonesia dari eksplorasi kaum kaya-kuasa dalam segala bentuk oleh siapa pun. Jadi nasionalisme adalah khas sekali. Wataknya adalah watak pemerdekaan, pembebasan, pertolongan, dan pengangkatan kaum kecil dan miskin.

Alangkah indahnya bumi Indonesia bila seluruh anak bangsa saling berkomunikasi untuk kerja-kerja nasionalisme. Pemanfaatan media sosial bukan hanya berisi konten flexing harta, kekayaan, dan pelesiran; tetapi juga berisi kerja-kerja kemanusiaan dan pembebasan untuk rakyat kecil.

Pluralitas

Salah satu warisan yang ditinggalkan para pendiri republik Indonesia adalah pluralitas negeri ini. Pluralitas itu ada dalam ranah budaya dan politik. Bahasa dan etnis begitu majemuk. Indonesia sangat kaya akan seni, tradisi, dan kepercayaan.

Kesenian daerah, misalnya; terbukti mampu mengakomodasi pluralitas dan menjaga nasionalisme. Kesenian daerah dapat menjadi media adaptasi, akulturasi, dan negosiasi budaya untuk meminimalisasi konflik. Salah satu contoh adalah kesenian Calengsai yang ada di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kesenian Calengsai adalah akulturasi antara kesenian Calung dan Lengger dari Jawa, dan Barongsai dari China.

Berdasarkan hasil penelitian, kesenian Calengsai dapat menjadi media komunikasi antarbudaya dan juga media negosiasi antaretnis (Kusumo, Samuel Jati Jiwo, 2009). Para pemain Calengsai terdiri dari atnis Jawa dan Tionghoa yang ada di Kabupaten Banyumas. Kesenian daerah ini telah mampu mengikat jiwa nasionalisme di tengah pluralitas. Terbukti, konflik antaretnis di Kabupaten Banyumas tidak pernah terjadi hingga saat ini.

Pluaritas politik ditandai dengan jumlah partai politik di Indonesia yang banyak. Berdasar data dari Komisi Pemilihan Umum, untuk Pemilu tahun 2024 nanti diikuti oleh 24 partai politik. Konsekuensinya tentu saja akan menghasilkan anggota parlemen yang terdiri dari beragam partai politik.

Kabinet di pemerintahan nanti juga dipastikan akan terdiri dari menteri-menteri hasil koaliasi. Tidak dapat dipungkiri, koalisi di kabinet adalah representasi pluralitas politik. Namun sesungguhnya, koalisi adalah upaya untuk meminimalisasi konflik, bukan sekadar berbagi kursi menteri.

Bagaimana merawat pluralitas adalah pertanyaan berikut ketika bangsa yang beragam ini tetap ingin menjadi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Toleransi di tengah kemajemukan menjadi kata kunci.

Toleransi adalah menghormati kebebasan sesama, demikian kata Eberhard Puntsch (1996). Toleransi berarti mengakui hak menentukan sendiri dan hak turut menentukan yang dimiliki oleh orang lain. Secara  filosofis, toleransi bukan hanya dinyatakan dengan menghargai dan menerima pendapat serta tingkah laku yang berbeda. Lebih jauh lagi, toleransi dibuktikan melalui sikap dan cara ketika berhadapan dengan pandangan dan tindakan yang tidak dapat ditoleransi.

Nasionalisme yang dibangun di atas pluralitas jelas membutuhkan toleransi. Sedangkan pluralitas sendiri memiliki potensi terjadinya konflik yang menganggu semangat nasionalisme. Perlu dicatat, seperti dituturkan Eberhard Puntsch; orang yang memiliki toleransi akan menyesali terjadinya konflik, sedangkan orang yang tidak toleran akan mencari dan menikmati konflik. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya
Mendengarkan dalam Komunikasi
Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum
Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi
Tags: ilmu komunikasikomunikasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengulik Stoisisme Bersama Henry Manampiring

Next Post

Puisi-puisi Gilang Sakti Ramadhan | Anggaran Perubahan Daerah

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gilang Sakti Ramadhan | Anggaran Perubahan Daerah

Puisi-puisi Gilang Sakti Ramadhan | Anggaran Perubahan Daerah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co