22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengarkan dalam Komunikasi

Chusmeru by Chusmeru
October 10, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

MENDENGARKAN adalah aktivitas yang dilakukan orang setiap hari. Sebagaimana berbicara, mendengarkan adalah kegiatan komunikasi yang melibatkan hubungan dua atau banyak orang.

Ada perbedaan antara mendengar dan mendengarkan. Mendengar adalah proses sensorik untuk menangkap bunyi di telinga. Mendengar bersifat pasif, seperti mendengar bunyi klakson mobil di jalan.

Sedangkan mendengarkan bersifat aktif, yaitu memahami, memaknai, dan menghayati pesan yang disampaikan orang lain. Oleh sebab itu dibutuhkan perpaduan antara kemampuan auditif dan kognitif; antara pendengaran dan pemikiran.

Mendengarkan dianggap sebagai keterampilan berkomunikasi yang semestinya dapat dilakukan oleh setiap orang. Kecuali penyandang tunarungu yang memiliki cara mendengar dan mendengarkan tersendiri, baik dengan bahasa isyarat maupun alat bantu.

Komunikasi memang selalu melibatkan dua pihak, yaitu pembicara dan pendengar. Kegagalan komunikasi bisa datang dari pembicara maupun pendengar. Pembicara yang gagal akan berdampak pada pemahaman komunikasi yang keliru. Sedangkan kegagalan dalam mendengarkan akan berakibat efek komunikasi yang menyimpang.

Mendengarkan tidak sebatas pada komunikasi interpersonal. Dalam komunikasi bisnis dan politik juga sangat diperlukan kemampuan mendengarkan. Pengusaha harus selalu mendengarkan keluhan konsumen agar dapat memperbaiki kualitas produknya.

Industri pariwisata harus mendengarkan keluhan wisatawan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Begitu pun politisi, mesti rajin mendengarkan suara rakyat agar bisa membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kemampuan mendengarkan dengan baik. Orang sibuk ingin menjadi pembicara yang andal. Banyak pebisnis dan politisi yang ingin menjadi penjual gagasan terbaik, tapi lupa untuk menjadi pendengar yang baik.

Hambatan Mendengarkan

Komunikasi yang efektif akan terjadi jika apa yang disampaikan orang dapat dipahami oleh orang lain. Dengan kata lain, apa yang dibicarakan orang dapat didengar orang lain. Persoalannya tentu tidak semudah itu, karena banyak hambatan dalam proses mendengarkan.

Hambatan mendengarkan bisa datang dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal bersumber dari diri sendiri. Penghambat paling serius dan paling merusak dalam mendengarkan yang efektif adalah kecenderungan orang untuk menjadi sibuk dengan diri sendiri (DeVito, 1997).

Orang hanya memusatkan perhatian pada tindakan sendiri saat berkomunikasi dengan orang lain. Orang yang sibuk dengan diri sendiri disebabkan oleh kehendaknya untuk berperan sebagai pembicara. Sehingga orang sedari awal sibuk untuk menyiapkan dan memikirkan apa yang akan ia katakan untuk menjawab pembicara. Pada saat seperti ini biasanya orang tidak akan memperhatikan apa yang dibicarakan orang lain.

Faktor eksternal merupakan tendensi orang untuk memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang tidak relevan dalam berinteraksi. Orang memikirkan apa yang telah dilakukannya pada malam Minggu kemarin saat komunikasi berlangsung. Atau memikirkan rencana untuk menonton serial sinetron di televisi saat sedang terjadi pembicaraan. Makin sibuk orang dengan masalah eksternal, semakin tidak efektif dalam mendengarkan.

Merekonstruksi pesan yang disampaikan orang lain sesuai dengan sikap, prasangka, kebutuhan, dan nilai sendiri juga menghambat proses mendengarkan. Orang yang memiliki prsangka dan nilai negatif terhadap politik dan kekuasaan akan mengabaikan apa pun yang disampaikan seorang pejabat atau politisi. Orang bisa duduk manis ketika seorang pejabat berpidato, tetapi sesungguhnya ia tidak mendengarkan.

Bisa juga orang tidak mendengarkan apa yang disampaikan orang lain, karena posisi kawan-lawan. Jika seseorang menganggap pembicara adalah seorang yang jahat, rakus, dan menindas maka pembicara akan diposisikan sebagai lawan. Dan orang tak akan pernah mendengarkan apa pun yang disampaikan pembicara. Sebaliknya, jika pembicara dianggap sebagai kawan yang baik, ramah, sopan, dan dermawan, maka orang akan mendengarkan dengan serius.

Pendengar yang Buruk

Setiap komunikasi tentunya menghendaki adanya respons. Namun tidak semua orang akan memberi tanggapan yang sama terhadap pesan komunikasi. Mendengarkan merupakan salah satu hal yang akan menentukan ragam respons komunikasi itu.

Robert L.Montgomery (1983) membuat kategori pendengar yang buruk dan yang baik dalam proses komunikasi. Pendengar yang buruk memiliki ciri selalu menyela ketika orang lain sedang berbicara. Kalau pun ia mendengarkan, biasanya akan mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa.

Secara nonverbal, pendengar yang buruk biasanya kurang memperhatikan saat orang lain sedang menyampaikan pembicaraan. Ekspresi matanya menatap keliling ruangan dan sikapnya kurang baik. Bahkan ada pendengar yang bersikap gelisah dengan memainkan pena, pensil, atau jepitan kertas.

Membuat catatan penting dalam sebuah pertemuan memang diperlukan. Namun mencatat segala-galanya dianggap sebagai pendengar yang buruk. Apalagi, apa pun yang disampaikan pembicara dicatat, namun tidak memberikan tanggapan apa pun kepada pembicara.

Pendengar yang Baik

Berdasarkan daftar pertanyaan yang diajukan Montgomery terhadap berbagai kelompok responden diperoleh beberapa ciri pendengar yang baik. Biasanya pendengar yang baik akan memandang orang lain ketika orang tersebut sedang berbicara. Perhatiannya kepada pembicara ditunjukkan dengan mengajukan pertanyaan tentang topik pembicaraan.

Pendengar yang baik akan memberikan perhatian yang besar kepada pembicara, tidak menyela pembicaraan, serta tidak mendorong pembicara untuk lebih cepat. Memang diperlukan ketenangan dan kesabaran sebagai pendengar yang baik.

Reaksi nonverbal juga ditunjukkan oleh pendengar yang baik. Beberapa reaksi nonverbal yang dapat mencerminkan pendengar yang baik, antara lain dengan menganggukkan kepala, memberikan senyuman, atau mengerutkan dahi.

Mendengarkan adalah cara terbaik bagi orang untuk dapat memahami orang lain. Namun tidak setiap orang mampu menjadi pendengar yang baik; entah karena munculnya hambatan maupun keengganan orang untuk mendengarkan. Menjelang Pemilihan Umum 2024, sebuah usaha bisnis kaos di media online membuat disain kaos bertuliskan: “Minta Dipilih, Minta Didengar. Sudah Terpilih, Lupa Mendengar”. Entah kepada siapa pesan dalam tulisan itu dialamatkan.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Media Making: Menjadikan Apa pun dan Siapa pun
Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum
Fungsi Komunikasi dalam Tradisi
Tags: ilmu komunikasikomunikasikomunikasi informasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam Ni Ketut Yudhani | Drama Gong Kehilangan “Permaisuri”

Next Post

Sisyphus Game dan Dewa Khayali Itu

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sisyphus Game dan Dewa Khayali Itu

Sisyphus Game dan Dewa Khayali Itu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co