24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Media Making: Menjadikan Apa pun dan Siapa pun

Chusmeru by Chusmeru
September 19, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

NAMA Norman Kamaru sempat viral di jagat maya pada tahun 2011. Polisi asal Gorontalo itu terkenal di Tanah Air berkat joged India dan lipsing lagu Chaiyya Chaiyya yang diunggah ke Youtube. Berbagai tawaran manggung dan tampil di televisi pun berdatangan. Jadilah Norman Kamaru sosok selebriti Indonesia.

Menjadi terkenal di media dan industri hiburan membuat Norman Kamaru mengundurkan diri  dari institusi kepolisian. Selanjutnya tentu saja ia berharap dapat mengubah nasib dan menjadi selebriti. Namun sayang, nasibnya tak seperti impiannya. Media tak lagi meliriknya untuk tetap bertahan di dunia hiburan. Dia pun kembali menjalani kehidupan seperti layaknya masyarakat biasa.

Masih sosok pria asal Gorontalo; adalah Fajar Sad Boy yang jadi perbincangan publik. Ketenarannya diperoleh dengan “menjajakan” raut wajah sedihnya di media sosial. Berperan sebagai sosok yang teraniaya karena cinta, Fajar Sad Boy juga viral di dunia maya. Imbasnya, ia menjadi langganan bintang tamu di berbagai stasiun televisi. Sama seperti Norman Kamaru, Fajar Sad Boy pun tak bertahan lama di media. Dia hilang bak ditelan bumi.

Fenomena Citayam Fashion Week juga menyedot perhatian khalayak. Ajang fashion show ala remaja yang sering nongkrong di dekat Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat itu menimbulkan kehebohan tersendiri di masyarakat. Fenomena itu telah melahirkan nama-nama selebriti dadakan, seperti Jeje ‘Slebew’, Bonge, dan Roy. Mereka melambung namanya setelah media meliputnya secara masif.

Kasus yang cukup anyar memunculkan nama Bima Yudho Saputro. Mahasiswa dan Tiktoker asal Lampung ini mengkritik infrastruktur di daerahnya melalui media sosial. Kritiknya dianggap tidak etis dan berlebihan, sehingga seorang pengacara melaporkannya ke polisi. Namun bukannya dijerat dengan hukum, kasus Bima Yudho Saputro justru mendapat dukungan netizen Tanah Air.

Bahkan Menkopolhukam, Mahfud Md memberikan tanggapan seolah mendukung kritik Bima itu. Tak hanya itu, Presiden Jokowi pun melakukan kunjungan kerja ke Lampung untuk mengecek infrastruktur di daerah itu. Bima Yudho Saputro menjadi dikenal di berbagai daerah. Gaya Tiktoker itu lantas ditiru oleh pegiat media sosial di daerah lain. Jadilah Bima representasi generasi Z yang kritis.

Ekonomi Media

Begitulah media. Mampu menjadikan orang sebagai apa pun dan siapa pun dalam waktu sekejap. Tak heran jika media, baik konvensional maupun modern; dijadikan ajang untuk menyalurkan pendapat, kritik, keresahan, dan panjat sosial.

Betul kiranya kata Marshall McLuhan (1964), The Medium is The Message. Sejak lama McLuhan memprediksi bahwa media bakal memiliki kekuatan luar biasa. Media mampu membentuk persepsi orang tentang pesan yang disampaikannya. Bahkan kekinian, pengaruh media dalam masyarakat lebih hebat ketimbang isi pesan yang disampaikannya. Orang  lantas berburu media untuk menjadi apa pun dan siapa pun.

Meski demikian, di balik keperkasaan media tetap saja ada faktor ekonomi yang membesarkannya. Dan itu yang acapkali menjadi pertimbangan bagi media untuk menyaring pesan dan memilih orang-orang yang layak ditampilkan di media. Artinya, tak ada kekuatan yang jatuh dari langit untuk media. Selalu ada faktor ekonomi di belakangnya.

Paling tidak ada tiga hal yang secara ekonomis mendukung posisi media agar menjadi kuat. Pertama, sumber-sumber yang menopang media. Sumber yang selama ini diandalkan media adalah iklan. Sepanjang iklan masih banyak bertengger di media, maka nafas panjang media masih bisa diharapkan. Tidak hanya iklan, media (sosial) sangat membutuhkan dukungan yang bersumber dari viewer, subscriber, follower, dan like dari khalayaknya.

Sementara itu, di tengah keinginan media untuk merebut khalayaknya, kompetisi di antara media juga begitu ketat. Media penyiaran, media massa online, dan media sosial tumbuh bak jamur di musim hujan. Media dituntut memiliki kecepatan dan keakuratan dalam menyampaikan informasi agar ditonton dan dibaca khalayak sebanyak mungkin.

Satu sisi yang tak bisa dihindari media adalah orientasinya pada profit. Media tetap saja kapitalistik. Sepanjang orang-orang yang viral dadakan itu tak mampu lagi mendulang cuan, maka media akan meninggalkan. Sedangkan dengan setumpuk uang, orang dapat menyewa atau membeli ruang di media untuk menjadi apa pun dan siapa pun.

Kekuatan Media

Media memiliki kekuatan memproduksi identitas dan mengkonstruksi audience. Media turut serta membentuk identitas seseorang. Apakah seseorang akan berada di posisi terhormat ataukah teraniaya, peran media begitu besar. Media juga punya kekuatan membentuk identitas seseorang sebagai alim ataukah zalim.

Selain itu, media mampu mengkonstruksi khalayaknya. Pendukung satu kelompok musik atau klub olah raga dibesarkan oleh media. Maka dari itu, media juga turut andil dalam membentuk representasi identitas khalayak. Atribut maupun kostum para pendukung tokoh politik perlu sorotan kamera media, agar tokoh yang didukungnya dapat menjadi apa pun dan siapa pun.

Media sebagai bagian dari institusi pers membuat orang hidup dalam world of media dan media world. Media membawa dunia kepada kita dan mampu membentuk dunia. Namun lebih dari itu, pers dan dunia bisa saling menciptakan sesuatu. Itulah yang disebut Media Making ( Lawrence Grossberg, 1998).

Media making terjadi ketika pers mampu menciptakan realitas media, informasi kekinian, dan memori kolektif. Jika dikaitkan dengan situasi kekinian, bagaimana media making mewarnai Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 nanti, tentu menarik untuk dicermati. Kadangkala realitas politik di lapangan akan berbeda dengan realitas di media. Sehingga popularitas tokoh di media kerap menjadi tolok ukur keterpilihan.

Dalam media making, orang sesungguhnya hidup dalam dunia media; bukan media dunia. Mengapa? Karena media itu diciptakan; dan dalam waktu yang bersamaan media menciptakan sesuatu yang lain. Hakikat media menurut Groosberg adalah membuat sesuatu itu (making). Membuat uang. Membuat kehidupan sehari-hari. Membuat makna, identitas, realitas, perilaku, dan sejarah.

Terkait pemilu nanti, menarik untuk dikaji apakah media juga bisa menjadikan calon presiden (Capres) sebagai apa pun dan siapa pun. Akankah seorang Capres menjadi pejuang ataukah pecundang di mata khalayak. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Komunikasi dan Kekuasaan yang Tak Pernah Senyum
Berita Kisah: Berita yang Nyaris Ditinggalkan Media
Berkomunikasi dalam Kebisuan: Haru Biru Media Baru
Tags: ilmu komunikasikomunikasikomunikasi informasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Raghu Vira Sahabat Bung Karno, Pakar Lontar Nusantara

Next Post

Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang

Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co