23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remaja dan Resiliensi Mengatasi Masalah di Lingkungan Sosial

Putu Asih Primatanti by Putu Asih Primatanti
August 21, 2023
in Esai
Remaja dan Resiliensi Mengatasi Masalah di Lingkungan Sosial

Ilustrasi tatkala.co

MASA REMAJA merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, dimana banyak sekali perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikologis, dan sosial. Berbagai tekanan sosial yang ditemukan terkait ataupun tidak dengan perkembangan teknologi, menuntut remaja untuk membentuk pola kehidupan baru sesuai usianya. Hal ini seringkali membuat ketidaknyamanan dan berdampak pada ketidakstabilan emosi pada remaja, bahkan dapat berujung pada respon maladaptive seperti perilaku menyakiti diri atau munculnya ide bunuh diri.

World Health Organization (WHO) menyampaikan bahwa bunuh diri menjadi fenomena global sebagai penyebab kematian kedua terbanyak pada tahun 2012 dengan temuan terbanyak pada rentang usia 15-29 tahun. WHO juga memperkirakan kejadian di Indonesia adalah 4,3% per 100.000 populasi, sedangkan belum ada data nasional yang pasti terkait kejadian tersebut pada usia remaja. Menyikapi hal tesebut, beberapa penelitian menyebutkan bahwa meningkatkan resiliensi pada remaja merupakan suatu upaya penting untuk mencegah respon-respon maladaptive pada remaja menghadapi berbagai perubahan dan tekanan hidup yang dihadapinya.

Konsep Resiliensi pada Remaja

Resiliensi merupakan suatu kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan mengelola dirinya dalam merespon kesulitan, pengalaman, trauma maupun stres, sehingga mampu beradaptasi secara fleksibel dan bangkit kembali. Resiliensi pada remaja mencerminkan kemampuan remaja tersebut untuk tetap kuat, berfungsi secara positif, dan mampu mengembangkan kekuatan mental dan emosionalnya dalam menghadapi tekanan dan kesulitan.

Resiliensi pada remaja bukan berarti tidak memiliki stress ataupun kesulitan, namun lebih pada bagaimana remaja tersebut memiliki suatu kemampuan dalam menghadapi dan pulih dari situasi tersebut, dengan mengandalkan kemampuan dirinya dan dukungan yang ada.

Remaja yang memiliki resiliensi yang baik memiliki beberapa ciri berikut:

  • Ketahanan emosional; mampu untuk mengelola emosi dengan baik dalam menghadapi tekanan dan konflik
  • Kepercayaan diri; yakin pada diri sendiri dalam mengatasi tantangan, dan memiliki persepsi positif terhadap kemampuan diri
  • Mampu beradaptasi; memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan atau situasi yang berbeda atau sulit
  • Kemampuan menyelesaikan masalah; mampu mengidenfifikasi masalah, mencari solusi yang efektif, dan mengambil tindakan yang tepat
  • Optimisme; sikap positif terhadap hidup dan suatu situasi, serta memiliki harapan yang realistis
  • Sistem dukungan sosial; mampu memiliki hubungan sosial yang mendukung dan memperoleh dukungan yang proporsional dari
  • Ketahanan fisik dan kesehatan yang baik, berusaha menjaga pola hidup sehat untuk mendukung kesejahteraan secara keseluruhan

Remaja yang tidak memiliki resiliensi yang baik, seringkali saat dihadapkan pada suatu kondisi sulit akan mengalami kondisi seperti mudah mengalami kecemasan, kehilangan motivasi dan putus asa dalam menghadapi tantangan. Mereka juga sulit beradaptasi dalam menghadapi perubahan hidup, cenderung terjebak dalam zona nyaman dan tidak mampu menghadapi perubahan. Seringkali mereka sulit bangkit kembali setelah mengalami kegagalan, merasa rendah diri, pesimis, dan sulit mengelola emosi.

Kesulitan mengelola emosi ditunjukkan dengan beberapa perilaku seperti impulsive (dapat pula menyakiti diri atau disebut self-harm), agresif, atau cenderung menekan emosi dan tidak mengungkapkannya secara sehat. Kondisi kurangnya dukungan membuat remaja merasa kesepian dan tidak memiliki jaringan sosial yang positif. Keseluruhan dampak yang ditimbulkan karena kurangnya resiliensi membuat remaja sulit belajar dari pengalaman dan terperangkap dalam pola pemikiran yang negative. Hal ini dapat menyebabkan masalah psikologis mulai dari yang ringan sampai mengalami suatu gangguan mental, sehingga menurunkan kualitas hidup seorang remaja.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi pada Remaja

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi resiliensi remaja, dan dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu:

  1. Faktor internal, merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu, termasuk karakteristik dan sifat remaja tersebut. Faktor internal ini diantaranya adalah self-esteem, self-regulation, dan kemampuan beradaptasi
  2. Faktor eksternal, merupakan faktor-faktor di luar individu yang dapat mempengaruhi resilensi remaja, diantaranya lingkungan sosial, pengaruh lingkungan fisik, dan interaksi dengan orang lain.

Selain faktor dari dalam diri remaja, role model yang positif dalam kehidupan remaja dapat pula mempengaruhi resiliensi mereka. Remaja akan melihat bagaimana orang lain mampu mengatasi kesulitan dan menjalani kehidupan, dapat memberikan inspirasi dan menjadi motivasi bagi mereka. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa faktor-faktor tersebut saling berinteraksi, dan pengaruhnya dapat bervariasi di antara individu.

Penyebab Menurunnya Resiliensi pada Remaja

Orangtua, sebagai orang dewasa yang paling dekat dengan kehidupan remaja diharapkan peka dan dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada resiliensi remaja. Memahami beberapa kemungkinan penyebab menurunnya resiliensi pada remaja dapat membantu mereka membangun kembali resiliensi dan mencegah masalah-masalah gangguan pada mental remaja.

Beberapa penyebab menurunnya resiliensi pada remaja antara lain karena kurangnya support lingkungan, adanya suatu trauma, rendahnya keterampilan dalam memecahkan masalah, kurangnya pengalaman menghadapi tantangan, ketergantungan pada teknologi atau media sosial, serta adanya masalah gangguan mental pada remaja. Kurang support lingkungan di antaranya adalah pada keluarga yang disfungsional, lingkungan sekolah yang dirasa kurang aman, serta pengaruh lingkungan sosial, seperti kurangnya teman atau masalah dengan teman yang membuat remaja merasa terisolasi. Berbagai pengalaman trauma seperti kehilangan orang terdekat, kekerasan, pelecehan, atau bencana alam, khususnya semua trauma yang tidak diatasi dengan baik dapat menyebabkan stress berkepanjangan dan menghambat kemampuan remaja untuk pulih dan bangkit kembali.

Remaja yang kurang pengalaman dalam hidupnya berhadapan dengan masalah atau tantangan juga akan tidak terbiasa mengatasi kesulitan yang dihadapi. Kurangnya kesempatan mendapatkan pengalaman sulit juga akan menbuat remaja kurang mampu memecahkan masalah dan tidak mampu mengembangkan resiliensi yang kuat.

Hal yang tidak kalah penting adalah remaja yang sangat tergantung pada teknologi dan berlebihan dalam penggunaan media sosial. Waktu yang dihabiskan terlalu banyak di dunia maya, tekanan untuk menjadi sempurna dalam berbagai hal, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan dapat berpengaruh pada resiliensi, bahkan dapat berujung pada kondisi kesehatan mental yang terganggu. Kondisi kesehatan mental yang sering muncul, seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, kecanduan (bukan hanya narkoba tapi berbagai jenis perilaku kecanduan lain seperti kecanduan internet, game online, dan lainnya) dapat menghambat kemampuan remaja untuk menghadapi tantangan dan mengembangkan resiliensinya.

Bagaimana Membangun Resiliensi pada Remaja

Beberapa cara perlu dilakukan dalam membangun atau mengembangkan resiliensi pada remaja. Diantaranya adalah dengan cara:

  • Menjadi contoh yang baik atau berperan sebagai role model, dengan menunjukkan contoh-contoh resilensi dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Hal ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi remaja dalam menghadapi kehidupannya.
  • Memberikan dukungan dan membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, atau siapa saja yang dapat memberikan dukungan emosional.
  • Mengajak remaja terlibat pada berbagai kegiatan untuk mendapatkan banyak pengalaman, mengembangkan keterampilan sosial, dan membangun rasa percaya diri. Kegiatan yang dimaksud misalnya aktif dalam organisasi, berolahraga, kegiatan seni, kegiatan sukarelawan.
  • Memberikan keterampilan dan strategi efektif dalam menghadapi masalah, termasuk identifikasi, pengembangan solusi, dan mengevaluasi hasil.
  • Melatih regulasi emosi, manajemen stress, dan teknik relaksasi. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan belajar teknik pernafasan, mediasi, kegiatan fisik yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan ketahanan mental.
  • Memberi kesempatan untuk belajar dari kegagalan dan mendorong pemikirian optimis. Hal ini membiasakan remaja untuk selalu berusaha mencari sisi positif dalam setiap situasi, dan memahami bahwa kegagalan adalah bagian normal dari kehidupan untuk dapat belajar dan memperbaiki diri.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri melalui penguatan positif, penghargaan yang membangun, serta memperluas zona nyaman mereka.
  • Melatih kemampuan adaptasi dengan lebih fleksibel terhadap perubahan dan menghadapi tantangan baru.

Suatu hal yang perlu diingat bahwa mengembangkan resiliensi merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan kesabaran serta dukungan yang konsisten. Penting untuk mendukung remaja dalam membangun kekuatan mental dan emosionalnya, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan dan mengatasi kesulitan dengan lebih baik.

Hal yang penting dicatat adalah resiliensi merupakan suatu spektrum, dan seseorang mungkin menunjukkan berbagai tingkat resiliensi dalam kehidupan mereka. Resiliensi adalah proses menemukan dan mengenali hal positif dibalik suatu pengalaman kurang menyenangkan, kemudian mampu bangkit dan memanfaatkannya sebagai proses belajar, optimis menggapai harapan, kebahagiaan, dan cita-cita sebagai tujuan hidup.

Mereka yang mampu membangun dan mengembangkan resiliensi akan dapat menghadapi dan mengatasi tantangan yang dihadapi dengan lebih baik, mampu meningkatkan kesehatan mental dan emosional, meningkatkan prestasi akademik, lebih mandiri, dan dapat menikmati hubungan sosialnya dengan lebih bahagia. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar
Deteksi Dini Adanya Kecanduan Internet pada Anak-Remaja
Bicara Kesehatan Mental Lewat Buku “Introvert”
Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik
Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia
Tags: kesehatan jiwakesehatan mentalPerhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa IndonesiaRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Partisipasi Netizen di Dunia Maya: Likes, Share, and Comment

Next Post

Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali

Putu Asih Primatanti

Putu Asih Primatanti

Dr. dr. Putu Asih Primatanti, SpKJ., Dosen/Psikiater di FKIK Universitas Warmadewa dan Klinik Utama Dharma Sidhi

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co