14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remaja dan Resiliensi Mengatasi Masalah di Lingkungan Sosial

Putu Asih Primatanti by Putu Asih Primatanti
August 21, 2023
in Esai
Remaja dan Resiliensi Mengatasi Masalah di Lingkungan Sosial

Ilustrasi tatkala.co

MASA REMAJA merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, dimana banyak sekali perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikologis, dan sosial. Berbagai tekanan sosial yang ditemukan terkait ataupun tidak dengan perkembangan teknologi, menuntut remaja untuk membentuk pola kehidupan baru sesuai usianya. Hal ini seringkali membuat ketidaknyamanan dan berdampak pada ketidakstabilan emosi pada remaja, bahkan dapat berujung pada respon maladaptive seperti perilaku menyakiti diri atau munculnya ide bunuh diri.

World Health Organization (WHO) menyampaikan bahwa bunuh diri menjadi fenomena global sebagai penyebab kematian kedua terbanyak pada tahun 2012 dengan temuan terbanyak pada rentang usia 15-29 tahun. WHO juga memperkirakan kejadian di Indonesia adalah 4,3% per 100.000 populasi, sedangkan belum ada data nasional yang pasti terkait kejadian tersebut pada usia remaja. Menyikapi hal tesebut, beberapa penelitian menyebutkan bahwa meningkatkan resiliensi pada remaja merupakan suatu upaya penting untuk mencegah respon-respon maladaptive pada remaja menghadapi berbagai perubahan dan tekanan hidup yang dihadapinya.

Konsep Resiliensi pada Remaja

Resiliensi merupakan suatu kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan mengelola dirinya dalam merespon kesulitan, pengalaman, trauma maupun stres, sehingga mampu beradaptasi secara fleksibel dan bangkit kembali. Resiliensi pada remaja mencerminkan kemampuan remaja tersebut untuk tetap kuat, berfungsi secara positif, dan mampu mengembangkan kekuatan mental dan emosionalnya dalam menghadapi tekanan dan kesulitan.

Resiliensi pada remaja bukan berarti tidak memiliki stress ataupun kesulitan, namun lebih pada bagaimana remaja tersebut memiliki suatu kemampuan dalam menghadapi dan pulih dari situasi tersebut, dengan mengandalkan kemampuan dirinya dan dukungan yang ada.

Remaja yang memiliki resiliensi yang baik memiliki beberapa ciri berikut:

  • Ketahanan emosional; mampu untuk mengelola emosi dengan baik dalam menghadapi tekanan dan konflik
  • Kepercayaan diri; yakin pada diri sendiri dalam mengatasi tantangan, dan memiliki persepsi positif terhadap kemampuan diri
  • Mampu beradaptasi; memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan atau situasi yang berbeda atau sulit
  • Kemampuan menyelesaikan masalah; mampu mengidenfifikasi masalah, mencari solusi yang efektif, dan mengambil tindakan yang tepat
  • Optimisme; sikap positif terhadap hidup dan suatu situasi, serta memiliki harapan yang realistis
  • Sistem dukungan sosial; mampu memiliki hubungan sosial yang mendukung dan memperoleh dukungan yang proporsional dari
  • Ketahanan fisik dan kesehatan yang baik, berusaha menjaga pola hidup sehat untuk mendukung kesejahteraan secara keseluruhan

Remaja yang tidak memiliki resiliensi yang baik, seringkali saat dihadapkan pada suatu kondisi sulit akan mengalami kondisi seperti mudah mengalami kecemasan, kehilangan motivasi dan putus asa dalam menghadapi tantangan. Mereka juga sulit beradaptasi dalam menghadapi perubahan hidup, cenderung terjebak dalam zona nyaman dan tidak mampu menghadapi perubahan. Seringkali mereka sulit bangkit kembali setelah mengalami kegagalan, merasa rendah diri, pesimis, dan sulit mengelola emosi.

Kesulitan mengelola emosi ditunjukkan dengan beberapa perilaku seperti impulsive (dapat pula menyakiti diri atau disebut self-harm), agresif, atau cenderung menekan emosi dan tidak mengungkapkannya secara sehat. Kondisi kurangnya dukungan membuat remaja merasa kesepian dan tidak memiliki jaringan sosial yang positif. Keseluruhan dampak yang ditimbulkan karena kurangnya resiliensi membuat remaja sulit belajar dari pengalaman dan terperangkap dalam pola pemikiran yang negative. Hal ini dapat menyebabkan masalah psikologis mulai dari yang ringan sampai mengalami suatu gangguan mental, sehingga menurunkan kualitas hidup seorang remaja.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi pada Remaja

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi resiliensi remaja, dan dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu:

  1. Faktor internal, merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu, termasuk karakteristik dan sifat remaja tersebut. Faktor internal ini diantaranya adalah self-esteem, self-regulation, dan kemampuan beradaptasi
  2. Faktor eksternal, merupakan faktor-faktor di luar individu yang dapat mempengaruhi resilensi remaja, diantaranya lingkungan sosial, pengaruh lingkungan fisik, dan interaksi dengan orang lain.

Selain faktor dari dalam diri remaja, role model yang positif dalam kehidupan remaja dapat pula mempengaruhi resiliensi mereka. Remaja akan melihat bagaimana orang lain mampu mengatasi kesulitan dan menjalani kehidupan, dapat memberikan inspirasi dan menjadi motivasi bagi mereka. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa faktor-faktor tersebut saling berinteraksi, dan pengaruhnya dapat bervariasi di antara individu.

Penyebab Menurunnya Resiliensi pada Remaja

Orangtua, sebagai orang dewasa yang paling dekat dengan kehidupan remaja diharapkan peka dan dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada resiliensi remaja. Memahami beberapa kemungkinan penyebab menurunnya resiliensi pada remaja dapat membantu mereka membangun kembali resiliensi dan mencegah masalah-masalah gangguan pada mental remaja.

Beberapa penyebab menurunnya resiliensi pada remaja antara lain karena kurangnya support lingkungan, adanya suatu trauma, rendahnya keterampilan dalam memecahkan masalah, kurangnya pengalaman menghadapi tantangan, ketergantungan pada teknologi atau media sosial, serta adanya masalah gangguan mental pada remaja. Kurang support lingkungan di antaranya adalah pada keluarga yang disfungsional, lingkungan sekolah yang dirasa kurang aman, serta pengaruh lingkungan sosial, seperti kurangnya teman atau masalah dengan teman yang membuat remaja merasa terisolasi. Berbagai pengalaman trauma seperti kehilangan orang terdekat, kekerasan, pelecehan, atau bencana alam, khususnya semua trauma yang tidak diatasi dengan baik dapat menyebabkan stress berkepanjangan dan menghambat kemampuan remaja untuk pulih dan bangkit kembali.

Remaja yang kurang pengalaman dalam hidupnya berhadapan dengan masalah atau tantangan juga akan tidak terbiasa mengatasi kesulitan yang dihadapi. Kurangnya kesempatan mendapatkan pengalaman sulit juga akan menbuat remaja kurang mampu memecahkan masalah dan tidak mampu mengembangkan resiliensi yang kuat.

Hal yang tidak kalah penting adalah remaja yang sangat tergantung pada teknologi dan berlebihan dalam penggunaan media sosial. Waktu yang dihabiskan terlalu banyak di dunia maya, tekanan untuk menjadi sempurna dalam berbagai hal, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan dapat berpengaruh pada resiliensi, bahkan dapat berujung pada kondisi kesehatan mental yang terganggu. Kondisi kesehatan mental yang sering muncul, seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, kecanduan (bukan hanya narkoba tapi berbagai jenis perilaku kecanduan lain seperti kecanduan internet, game online, dan lainnya) dapat menghambat kemampuan remaja untuk menghadapi tantangan dan mengembangkan resiliensinya.

Bagaimana Membangun Resiliensi pada Remaja

Beberapa cara perlu dilakukan dalam membangun atau mengembangkan resiliensi pada remaja. Diantaranya adalah dengan cara:

  • Menjadi contoh yang baik atau berperan sebagai role model, dengan menunjukkan contoh-contoh resilensi dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Hal ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi remaja dalam menghadapi kehidupannya.
  • Memberikan dukungan dan membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, atau siapa saja yang dapat memberikan dukungan emosional.
  • Mengajak remaja terlibat pada berbagai kegiatan untuk mendapatkan banyak pengalaman, mengembangkan keterampilan sosial, dan membangun rasa percaya diri. Kegiatan yang dimaksud misalnya aktif dalam organisasi, berolahraga, kegiatan seni, kegiatan sukarelawan.
  • Memberikan keterampilan dan strategi efektif dalam menghadapi masalah, termasuk identifikasi, pengembangan solusi, dan mengevaluasi hasil.
  • Melatih regulasi emosi, manajemen stress, dan teknik relaksasi. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan belajar teknik pernafasan, mediasi, kegiatan fisik yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan ketahanan mental.
  • Memberi kesempatan untuk belajar dari kegagalan dan mendorong pemikirian optimis. Hal ini membiasakan remaja untuk selalu berusaha mencari sisi positif dalam setiap situasi, dan memahami bahwa kegagalan adalah bagian normal dari kehidupan untuk dapat belajar dan memperbaiki diri.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri melalui penguatan positif, penghargaan yang membangun, serta memperluas zona nyaman mereka.
  • Melatih kemampuan adaptasi dengan lebih fleksibel terhadap perubahan dan menghadapi tantangan baru.

Suatu hal yang perlu diingat bahwa mengembangkan resiliensi merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan kesabaran serta dukungan yang konsisten. Penting untuk mendukung remaja dalam membangun kekuatan mental dan emosionalnya, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan dan mengatasi kesulitan dengan lebih baik.

Hal yang penting dicatat adalah resiliensi merupakan suatu spektrum, dan seseorang mungkin menunjukkan berbagai tingkat resiliensi dalam kehidupan mereka. Resiliensi adalah proses menemukan dan mengenali hal positif dibalik suatu pengalaman kurang menyenangkan, kemudian mampu bangkit dan memanfaatkannya sebagai proses belajar, optimis menggapai harapan, kebahagiaan, dan cita-cita sebagai tujuan hidup.

Mereka yang mampu membangun dan mengembangkan resiliensi akan dapat menghadapi dan mengatasi tantangan yang dihadapi dengan lebih baik, mampu meningkatkan kesehatan mental dan emosional, meningkatkan prestasi akademik, lebih mandiri, dan dapat menikmati hubungan sosialnya dengan lebih bahagia. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar
Deteksi Dini Adanya Kecanduan Internet pada Anak-Remaja
Bicara Kesehatan Mental Lewat Buku “Introvert”
Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik
Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia
Tags: kesehatan jiwakesehatan mentalPerhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa IndonesiaRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Partisipasi Netizen di Dunia Maya: Likes, Share, and Comment

Next Post

Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali

Putu Asih Primatanti

Putu Asih Primatanti

Dr. dr. Putu Asih Primatanti, SpKJ., Dosen/Psikiater di FKIK Universitas Warmadewa dan Klinik Utama Dharma Sidhi

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co