23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
May 26, 2020
in Esai
Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia

STOVIA, Sekolah Kedokteran di Batavia. {Sumber Foto Wikipedia]

“Para dokter STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) tak hanya menjadi pahlawan di tengah wabah, tapi juga bergelut dengan politik praktis. Sebagian dari mereka aktif di organisasi dan lantang menyuarakan nasionalisme lewat tulisan di surat kabar. Daya kritis mereka salah satunya disulut sikap pemerintah Kolonial terhadap kaum pribumi yang diskriminatif kala wabah terjadi” (Hans Pols, Profesor Sejarah Kesehatan dari Australia, Penulis buku Merawat Bangsa : Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia).

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyejarah, artinya menggunakan tilikan masa lalu untuk bertindak bijaksana di masa kini dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu, kita tidak perlu alergi berkiblat ke masa lalu dengan tujuan mendapatkan jalan keluar atas permasalahan yang kita alami di masa kini dan atau mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di masa depan. Faktanya, bangsa kita belum bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya. Sebab masa lalu hanya menjadi cerita usang yang tidak diminati di masa kini. Sebuah dongeng sebelum tidur yang dipenuhi cerita-cerita mistis dibanding usaha untuk menemukan hikmahnya.

Gagasan Hans Pols melalui bukunya di atas yang menjelaskan genealogi nasionalisme Indonesia yang bermula dari kegigihan priyayi Jawa lulusan STOVIA dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya memerangi wabah Pes di Malang pada tahun 1911 sangat menarik untuk dikaji. Apalagi momentum pada bulan Mei ini, kita dihadapkan pada dua hal penting yang seanalog dengan masa itu yakni masih eksisnya virus Corona dan peringatan kenegaraan tentang Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari Rabu, 20 Mei 2020.

Soetomo, Tjipto, Suwardi dan Abdul Rivai adalah segelintir anak-anak tamatan STOVIA yang memiliki empati besar terhadap diskriminasi Negara Kolonial terhadap pribumi kala wabah menggejala di beberapa tempat di Hindia Belanda. Meski mereka tercatat sebagai priyayi lokal yang mendapatkan akses sosial berupa keistimewaan mengecap pendidikan Barat melalui sekolah dokter di STOVIA, tidak mengurangi kadar  empati sosial terhadap saudara sebangsanya yang tengah kesusahan.

Di sisi lain, mereka juga melakoni aktivitas politik praktis melalui kegiatan-kegiatan agitasi di beberapa organisasi. Awalnya, mereka ikut memelopori lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 bersama dengan DR. Wahidin Sudirohusodo. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, gerakan organisasi yang terlalu Jawa sentris dan hanya berpusat pada aristokrasi Jawa membuat beberapa anggota tidak puas. Mereka keluar dari keanggotaan, lalu membentuk organisasi baru yang dirasa bisa mewadahi pikiran-pikiran radikal dan progresif demi mewujudkan nasionalisme pribumi yang dicitakan.

Saat itu, nama Indonesia belum populer, sehingga nasionalisme kolektif yang dibayangkan bersama adalah nasionalisme Hindia.  Baru ketika Tjipto dan Suwardi bersama dengan Douwes Dekker membentuk Indische Partij pada tahun 1912, nama Insulinde diketengahkan untuk menggantikan  Hindia Belanda (Nederland Indie) yang dianggap lambang supremasi Belanda.

Meski IP hadir sebagai organisasi politik modern pertama di Hindia Belanda yang mampu meradikalisasi konsep nasionalisme sebelumnya, namun populisme yang ingin dibangun dengan menghadirkan konsep insulinde kurang mendapatkan sambutan meriah. Insulinde, seperti juga konsep Nusantara atau Dipantara dianggap eksklusif oleh sebagian besar kalangan dan tidak mencerminkan pluralitas masyarakat Hindia Belanda.

Ucapan terimakasih terhadap radikalisasi konsepsi Indonesia yang sebelumnya bertendensi antropologis ke arah gerakan politis harus diberikan kepada PKI atau Partai Komunis Indonesia yang sebelumnya bernama PKH (Partai Komunis Hindia) yang dibentuk pada 23 Mei 1920. Sejak saat itu, beberapa organisasi yang muncul belakangan selalu menggunakan nama Indonesia seperti Perhimpunan Indonesia (PI) yang digagas penerima beasiswa Leiden seperti Mohamad Hatta dan Sutan Sjahrir pada tahun 1922, serta PNI (Partai Nasional Indonesia) yang lahir dari pemikiran Soekarno pada tahu 1927.

Dengan melihat bagaimana nasionalisme Indonesia bertumbuh di atas yang diawali dari kegundahan anak-anak STOVIA itu, kita bisa menyimpulkan bahwa ideologi yang kini kita sebut sebagai nasionalisme, meski dibungkus dengan pendidikan Barat dan didiseminasikan melalui bahasa Belanda, justru terkatalisasi melalui kehadiran wabah. Alasannya, wabah semacam Pes dan Kolera telah memperlihatkan konflik diametral yang jelas antara siapa yang disebut penjajah dan siapa yang disebut terjajah. Di sisi lain, kehadiran wabah mampu menjelaskan wajah mendua dari negara Kolonial, di satu sisi mengeruk kekayaan tanah pribumi, di sisi lain enggan bertanggung jawab manakala warganya sakit parah akibat penyakit menular tersebut.

Tjipto, kala mewabah penyakit Pes di Malang langsung turun tangan bahkan tanpa menggunakan alat pelindung semacam masker yang saat itu keberadaannya cukup baru baik di dunia medis Eropa apalagi Hindia. Pekerjaaannya sangat berisiko, sebab saat itu penularan Pes tidak hanya melalui gigitan tikus yang membawa virus, melainkan juga dari gigitan nyamuk yang sebelumnya telah mengigit tikus yang telah terkontaminsi oleh gigitan kutu pembawa bakteri Yersinia Pestis. Sejak saat itu, penggunaan kelambu menjadi popular terutama untuk melindungi seseorang dari ancaman gigitan nyamuk yang dianggap ikut menyebarkan penyakit Pes.

Dampak Pes di Eropa bahkan lebih buruk dibanding Hindia Belanda. Sebelum dunia medis mencapai perkembangan yang pesat pada awal abad XX, pada abad XIV, di Eropa mewabah penyakit Pes. Ciri-ciri fisik yang ditimbulkan seperti kematian jaringan pada ujung jari tangan, kaki atau hidung hingga warnanya yang menghitam menyebabkan penyakit ini mendapat julukan Black Death. Membunuh hampir 2/3 populasi Eropa. Penanganan terhadap penyakit ini semakin sulit dilakukan sebab predator alami tikus yakni kucing mengalami depopulasi besar-besaran karena dianggap lambang penyihir perempuan paganis Eropa. Hal ini bisa dimaklumi sebab Eropa tengah mengalami transisi dari era The Dark Age ke era Renaisans. Akibatnya populasi tikus tidak terkendali dan ikut menyebarluaskan penyakit Pes ke seantoro Eropa.       

Kesediaan Tjipto untuk terjun langsung ke Malang memperlihatkan segregasi sosial yang parah. Struktur masyarakatnya terkotak-kotak antara golongan pribumi yang paling bawah, Timur Asing di bagian tengah dan orang-orang Eropa di bagian atas. Mereka, orang-orang Eropa dan Timur Asing mendapatkan keistimewaan dan keleluasaan dalam berbagai hal. Mereka juga tergolong orang-orang mampu yang hidup dengan sanitasi lingkungan yang baik. Pribumi di sisi lain, hidup di lingkungan kumuh dan dengan sanitasi yang buruk sehingga memiliki potensi yang tinggi untuk terkena atau tertular penyakit.  

Status sosial pada struktur masyarakat Kolonial itulah yang menyebabkan mengapa tenaga kesehatan yang bersedia diterjunkan saat wabah merajalela itu minim. Dokter-dokter Eropa enggan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pribumi yang paling banyak menjadi korban, sebab uang yang dibayarkan terlalu sedikit. Jikapun terpaksa melayani pribumi, mereka akan memberikan pelayanan seadanya dan bahkan sengaja menyampaikan diagnosis yang salah. Dokter-dokter Eropa itu lebih suka melayani orang-orang Timur Asing dan dari kalangan Eropa sendiri karena iming-iming bayaran yang tinggi.

Perilaku dokter-dokter Eropa ini akan berlanjut saat Hindia Belanda dihantam wabah Flu Spanyol pada tahun 1918. Parahnya lagi, mereka bahkan menaikkan tarif layanan kesehatan yang berdampak serius pada kenaikan harga beras. Akibatnya kelaparan di mana-mana. Penduduk pribumi Hindia kala itu tidak hanya mati karena terjangkit Flu Spanyol yang mematikan saja melainkan juga wabah kelaparan yang tidak kalah hebat.   

Kesadaran nasionalisme seorang Tjipto muncul dari upayanya untuk ikut berjuang menyelamatkan nyawa saudara sebangsanya dari wabah. Penyakit Pes di Malang menyadarkan nasionalisme seorang Tjpto dalam wujud politik, stigma dan organisasi sosial. Realitas-realitas kesehatan berbalut diskriminasi tersebut telah membentuk mental politik praktis pada diri anak-anak tamatan STOVIA itu. Beberapa di antaranya rajin menulis dan menyalurkan kegelisahan dan kritik terhadap diskriminasi negara Kolonial terhadap penduduk pribumi. Selain Tjipto yang nanti eksis di IP, ada Soetomo, DR. Radjiman Widyodiingrat serta Abdul Rivai. Mereka bahkan menjadi anggota parlemen yang aktif menyampaikan suara pribumi yang tertindas. Bahkan, nama terakhir aktif menulis di surat kabar, salah satunya Bintang Hindia.

Dalam historiografi Indonesia versi marxis kiri, konflik sentrifugal kaum borjuis dan proletar mungkin dianggap sebagai pemantik awal kebangkitan nasionalisme Indonesia. Pun demikian dengan marxis kanan ala Ben Anderson atau Rudolf Mrazek yang berhasil memotret perkembangan sistem transportasi di Hindia Belanda bahwa nasionalisme Indonesia berawal dari kemajuan print capitalism. R.E Elson, Werttheim dan Anthony Reid se-iya sekata menyatakan bahwa proto nasionalisme Indonesia berangkat dari gagasan – gagasan besar tentang pan austronesianisme sehingga menjadi konsep yang sakral. Bebeda dari gagasan yang ditawarkan historiografi arus besar di atas, saya melihat dimensi kesehatan, dalam hal ini kehadiran wabah Pes, Kolera dan bahkan Flu Spanyol sebagai alternatif historiografi Indonesia dalam melihat bagaimana kesadaran kebangsaan itu bertumbuh dan disemaikan ke dalam pemikiran-pemikiran besar.              

Kehadiran wabah Pes dan Kolera di Hindia Belanda pada medio pertama awal abad XX yang muncul berkelindan telah membantu membuka wajah sosial dari seseorang atau sekelompok orang. Darinya kita juga belajar arti ketulusan, siapa yang benar-benar peduli dengan sesamanya. Struktur sosial masyarakat Kolonial yang diskriminatif telah menimbulkan segregasi sosial yang parah, dan melalui wabah lah gambaran itu telah menghasilkan kesadaran nasional (isme) pada anak-anak muda STOVIA seperti Tjipto, Soetomo dan Abdul Rivai yang menjadi embrio bagi radikalisasi keindonesiaan di masa berikutnya. [T]

Tags: dokterkesehatannasionalismesejarah
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Next Post

Tubuh Tanpa Makan

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Tubuh Tanpa Makan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co