2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Tanpa Makan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 26, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Bukan tanpa alasan jika Bhagawan Wararuci menyebut ucapan Bhagawan Byasa ada pada setiap ajaran. Baginya, ajaran Bhagawan Byasa seperti cahaya yang melenyapkan gelap. Terutama kegelapan pikiran. Konon Bhagawan Byasa tidak ada yang tidak diketahuinya, karena itu ia disebut mengetahui segalanya dan tanpa kebodohan [tan hana kapinggingnira]. Karena dari seorang Bhagawan yang demikianlah lahir ajaran, wajarlah jika orang yang demikian dihormati sebagai orang yang terpelajar. Yang dihormati, tidak hanya ajarannya tapi juga yang mengajarkan.

Bhagawan Byasa adalah satu dari sekian banyak nama-nama yang disebut-sebut dalam teks kuna. Konon, Bhagawan ini dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Satyawati, sedangkan ayahnya bernama Bhagawan Parasara. Nama Parasara selain menjadi nama Bhagawan, juga nama salah satu Dharma Sastra. Apakah ada hubungan antara Bhagawan Parasara dan Parasara Dharma Sastra? Saya belum tahu soal ini, karena belum menemukan sumber-sumber yang bisa menjadi landasan pemikiran.

Satu hal yang penting bagi saya, adalah keterangan dari Bhagawan Wararuci bahwa Bhagawan Byasa dilahirkan di sebuah tempat bernama pulau hitam [Kresna Dwipa]. Sedangkan menurut banyak sumber, nama tempat seringkali juga menjadi nama orang atau sebaliknya. Dalam kasus ini, Bhagawan Byasa juga dikenal dengan sebutan Kresna Dwaipayana Wyasa. Itulah keterangan yang bisa kita dapat tentang Bhagawan Byasa yang dideskripsikan oleh Bhagawan Wararuci.

Byasa Wacana atau ajaran Bhagawan Byasa dipuji kemuliaannya bagai emas permata yang memenuhi daratan dan lautan. Hanya mereka yang berani menggali dan menyelam yang akan mendapatkan permata-permata mulia itu. Menurut Bhagawan Wararuci, isi Bharatakatha yang dikerjakan oleh Bhagawan Byasa adalah kematangan tentang rasa yang utama. Yang dimaksudkan sebagai rasa utama yang matang itu adalah pengetahuan yang super halus [rahasyajnana].

Rahasyajnana itulah yang menjadi sumber mata pencaharian bagi seorang Kawiwara [pinakopajiwana sang kawiwara]. Kawiwara berarti seorang penyair yang terkemuka. Dengan demikian, kita sampai pada pemahaman bahwa penyair adalah mereka yang menikmati rahasyajnana. Apakah yang dimaksud dengan rahasyajnana? Sampai pada pertanyaan itu, kita hentikan dulu sejenak. Saya ingin mengatakan, bahwa konsep kepenyairan yang demikianlah yang berlaku pada masa pustaka Sarasamuccaya tercipta. Konsep ini bisa saja telah berganti sesuai peralihan jaman. Tidak ada yang aneh dalam perubahan itu, karena segala yang ada di dunia ini, bergerak maupun tidak bergerak akan berubah.

Rahasyajnana sangatlah sulit untuk dijelaskan karena kerahasiaannya. Rahasia dalam hal ini berarti sangat halus, saking halusnya dia tidak bisa dipikirkan. Karena tidak terpikirkan, dengan singkat orang-orang lebih memilih untuk menyebutnya ‘memang demikian’ lalu selesai.

Mari kita tengok pustaka berjudul Sang Hyang Bedajnana untuk memetakan, apakah yang dimaksud dengan rahasyajnana ini. Bahkan menurut pustaka ini, jnana tidak hanya rahasia tapi sangat rahasia atau sangat halus [paramarahasya]. Kerahasiaannya dibagi menjadi dua, yakni rahasia dari jagat raya dan rahasia dari jagat kecil atau tubuh. Artinya, jnana merahasia di dua jagat itu. Oleh sebab itu, pustaka Sang Hyang Bedajnana menjanjikan bahwa orang-orang yang berhasil mengetahui rahasia di kedua jagat itulah yang akan mencapai alam Shiwa.

Untuk mengetahui rahasia dua jagat itu tadi, ada syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya adalah menjadi Pandita. Syarat ini ditentukan dengan sangat jelas dalam pustaka Sang Hyang Bedajnana. Karena menurut pustaka tersebut, tubuh cahaya [dewa sharira] dan kelepasan [kamoktan] ditemukan [pinangguh] oleh sang Pandita. Mengenai hal ini, kita sudah bicarakan pada pembicaraan terdahulu tentang Diksa Widhi Widhana. Kalau tidak ingat, saya akan mengingatkan bahwa seseorang bisa disebut Pandita jika melakukan Lokika Karya yakni Diksa Widhi Widhana dan Parama Kaiwalya Jnana.

Sampai pada titik itu, syaratnya belumlah selesai. Selain menjadi Pandita, seseorang diwajibkan mengikuti syarat lainnya yakni menjadi murid. Saat menjadi murid pun, ada beberapa lagi syarat lainnya. Syarat-syarat itu ada beberapa, yakni setia [shrad-dadhano], menguasai indriya [jitendriya], menjalankan dharma [dharmatmo], menepati janji diri [wrata sampanno], dan berbakti pada guru [guru bhakti]. Setelah syarat-syarat itu terpenuhi, barulah seorang murid pantas diberikan pengetahuan berupa Sang Hyang Bedajnana.

Itulah sedikit penjelasan yang sangat tidak menjelaskan tentang rahasyajnana. Oleh sebab itu, berdasarkan pada penjelasan tadi, kita bisa mengetahui bahwa seorang kawiwara juga adalah seorang Pandita. Sekali lagi, itulah konsep ideal kepenyairan yang berlaku pada masanya.

Baiklah, sekarang kita kembali pada ucapan Bhagawan Wararuci yang sangat menghormati karya dan Bhagawan Byasa. Saking hormat dan kagumnya, Bhagawan Wararuci sampai-sampai mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan yang tidak dilandasi oleh ucapan Bhagawan Byasa. Tentu saja ucapan itu tidak sepenuhnya benar, karena menurut nyatanya ada beberapa pengetahuan yang tidak bersumber dari Bharatakatha semisal Ramayana. Entah itu Ramayana karya Walmiki, atau Ramayana karya pujangga Bhati. Tetapi ungkapan ini jelaslah digunakan sebagai metafora untuk meninggikan kedudukan Bharatakatha.

Satu lagi metafora peninggian itu adalah seperti tubuh yang tidak akan pernah ada tanpa makanan dan minuman. Makanan dan minuman dalam metafora itu adalah Bharatakatha, sedangkan tubuh adalah ilmu-ilmu turunan yang lainnya. Perumpamaan itu digunakan dengan sangat tepat, sebab memang tubuh ini tidak akan dapat bertahan tanpa adanya makanan dan minuman. Meskipun, pada beberapa khasus ada yang mengatakan bahwa tubuh bisa bertahan dengan mengolah nafas.

Pernyataan itu jelaslah beralasan. Menurut satu pustaka, setidaknya ada tiga jalur utama dalam tubuh yang fungsinya untuk menyalurkan tiga hal yakni makanan, minuman dan udara. Saluran untuk makanan disebut anawaha. Berasal dari kata ana yang berarti makanan. Saluran untuk minuman bernama toyawaha. Sedangkan saluran untuk udara atau nafas adalah pranawaha. Ketiga saluran inilah yang disebut sebagai Tri Nadi. Di antara ketiganya, hanya saluran udara yang tetap berada di tengah. Sedangkan saluran makanan dan minuman, kadangkala berbeda antara pustaka yang satu dengan pustaka yang lainnya.

Perbedaan itu bisa ditemukan dimana saja, dalam pustaka apa saja jika dibanding-bandingkan. Bagaimana menjelaskan mengapa perbedaan itu ada, adalah sebuah kasus lain lagi yang sangat baik jika dicari penjelasannya secara bersama-sama dan dibagikan pada tiap orang yang benar-benar ingin tahu.

Nah, sampai disini dulu pembicaraan kali ini. Tapi di akhir tulisan ini, saya ingin mengemukakan sesuatu yang penting yang terus saja berkelindan di pikiran saya. Menurut pembicaraan tadi, kita tahu bahwa tiga unsur pokok pembentuk tubuh adalah nafas, makanan dan minuman. Di antara ketiganya, dalam berbagai macam pustaka, ada ajaran untuk meniadakan makanan dan minuman. Upawasa istilahnya dalam teks Siwaratrikalpa. Itu artinya, ada dua saluran yang diistirahatkan dalam tubuh. Sedangkan saluran tengah, yakni nafas tidak ditiadakan sama sekali. Tetapi dikendalikan dengan berbagai macam cara.

Kita mengenal kata Pranayama untuk pengendalian nafas itu. Artinya, nafas menjadi satu bagian yang penting untuk mempertahankan tubuh tanpa makanan dan minuman. Tidak hanya tubuh darah dan daging, tapi juga tubuh halus bernama pikiran.

Dan menurut suatu pustaka yang tidak saya katakan sumbernya, tubuh darah dan daging mirip sebuah kota dengan banyak pintu gerbang. Pintu-pintu itu, konon bisa terbuka dan tertutup asal orang punya kuncinya. Sama seperti Jnana, kunci dari gerbang tubuh itu disebut rahasya. Istilah lengkapnya kunci rahasya. Apa dan dimanakah kunci itu? [T]

Tags: filsafatrenungansastra
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia

Next Post

Kisah Kaos Kaki di Kapal Pesiar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Kisah Kaos Kaki di Kapal Pesiar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co