24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Jaswanto by Jaswanto
June 18, 2023
in Khas
Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Moderator dan narasumber dalam talkshow KCKB Buleleng | Foto: Dok. Jayen

BULAN JUNI, bukan saja istimewa kerena puisi Sapardi Djoko Damono yang terkenal itu, lebih dari itu, Juni menjadi istimewa juga sebab dua hal: Soekarno dan Pancasila. Pada bulan Juni Soekarno dilahirkan sekaligus kembali ke haribaan Tuhan—ia lahir 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970.

Pada bulan ini pula, tepatnya 1 Juni 1945, Pancasila resmi ditetapkan sebagai dasar negara—kelahiran Pancasila sebagai dasar negara bermula dari sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Oleh sebab dua hal tersebut, bulan Juni juga disebut sebagai “Bulan Bung Karno”. Dan di Bali, peringatan bulan Juni sebagai Bulan Bung Karno sudah menjadi agenda tahunan. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 19 Tahun 2019 tentang Bulan Bung Karno.

Maka tak heran, setiap tiba bulan Juni, banyak instansi pemerintah, kampus, sampai komunitas-komunitas, dari yang berbadan hukum sampai yang tak tahu hukum, sama-sama, dengan gembira, memperingatinya. Dan seperti umumnya komunitas atau instansi lain, Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) Kabupaten Buleleng juga tak mau ketinggalan.

Pada Sabtu (17/6/2023) sore, bertempat di Open Stage Hotel Bali Taman Beach Resort and Spa, KCKB Buleleng menggelar kegiatan talkshow, fashion show, dan pementasan teater (kisah cinta Nyoman Rai Srimben) dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno dan mengapresiasi sosok ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben—yang memang lahir dan besar di Buleleng.

Suasana hadirin saat menyanyikan lagu Indonesia Raya / Foto: Dok. Jayen

Menurut Agata, selaku ketua panitia, melalui kegiatan yang memacak tema “Perempuan dalam Balutan Patriotisme Bangsa” itu, Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) Kabupaten Buleleng ingin tetap menggelorakan jiwa patriotisme—seseorang yang rela mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah air atau cinta tanah air—di setiap anggota khususnya dan perempuan pada umumnya.

Benar, acara yang dihadiri oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Buleleng, Kadis Perdagangan Kabupaten Buleleng, Komunitas Cinta Kain Bali pusat, Ketua HIPMI Buleleng, Ketua IWAPI Buleleng, Komunitas Mahima, beberapa media—termasuk Tatkala.co—yang diundang, dan sejumlah tokoh perempuan seperti Mas Aries Sujati dan Ida Ayu Wardhany itu, memang sarat akan nuansa patriotismenya—paling tidak, itu dibuktikan dengan penampilan ibu-ibu yang tergabung dalam KCKB maupun tamu undangan, yang mengenakan sandang, mulai dari pakaian sampai aksesoris, khas Bali.

Agata dan Paramita Lihadnyana / Foto: Dok. Jayen

Kecintaan terhadap tanah air, atau patriotisme, mereka tampakkan dalam bentuk kepedulian terhadap kelestarian kain Bali: tenun maupun songket.

“Kebijakan bangga menggunakan produk lokal merupakan upaya pemerintah guna mendorong pelaku IKM pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat. Hal ini menjadi penopang dan penggerak utama perekonomian di Kabupaten Buleleng,” terang Ketua Dekranasda Kabupaten Bueleleng, Paramita Lihadnyana, dalam sambutannya.

Seusai sambutan Ketua Dekranasda Kabupaten Buleleng yang sekaligus membuka acara secara resmi, tak lengkap rasanya jika komunitas pecinta kain tak “memamerkan” kain-kainnya. Maka, dengan kepercayaan diri penuh, tanpa ragu dan malu, bersama dengan riuh tepuk tangan hadirin, ibu-ibu cantik dan elegan yang tergabung dalam KCKB Buleleng dan Denpasar itu, tampil dalam peragaan busana.

Ibu-ibu itu mengenakan kain dan motif khas Bali—sebuah kesadaran perempuan untuk melestarikan warisan bangsa.

Usaha menumbuhkan kesadaran perempuan

Tak hanya fashion show saja, seperti yang sudah disinggung di awal, acara komunitas yang berdiri sejak tahun 2019 dan beraggotakan Ibu-ibu dari berbagai profesi—dengan satu tujuan menjaga warisan budaya khususnya kain Bali—itu, juga menghadirkan lima perempuan hebat di bidang entrepreneur dalam acara talkshow yang dimoderatori langsung oleh Kadek Sonia Piscayanti, tokoh perempuan di bidang sastra dan pendidikan.

Kelima perempuan hebat itu adalah: Yoseva Listyati, Direktur CV. Surya Tirta Buana sekaligus pendiri Komunitas Cinta Kain Bali; Ni Made Adnyani, guru dan pengelola usaha kain jumputan dengan brand Ratu Bali; Eva Elyanthi, pemilik usaha Bunga Pertiwi yang menjual kue-kue tradisional; Ketut Radinna Wikantari, Direktur Operasional dan Pemasaran Kopi Banyuatis sekaligus Owner Naz Beauty Lounge; dan  I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri, Dokter Umum, Direktur Krisna Agung Property, Direktur Kamitra Sejahtera Properti, dan Owner Bimbingan Belajar Dunia Prestasi.

Dari kiri ke kanan: Kadek Sonia Piscayanti, Eva Elyanthi, I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri, Ni Made Adnyani, Yoseva Listyati, dan Ketut Radinna Wikantari / Foto: Dok. Jayen

Kadek Sonia, selaku moderator, dalam mukadimahnya mengungkapkan, bahwa kita tahu dan percaya, salah satu penyangga bangsa adalah perempuan. Dari rahim perempuan lahir calon-calon pemimpin bangsa yang besar. “Hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan kebesaran salah satu perempuan bangsa yang melahirkan pendiri Republik Indonesia, Ir Sukarno. Perempuan itu bernama Nyoman Rai Srimben,” lanjutnya.

Benar, dari rahim Nyoman Rai Srimben memang lahir pemimpin bangsa yang besar. Darinya kita belajar bahwa perempuan juga harus memiliki ketangguhan dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup di dunia. Perempuan juga harus tetap menyokong ekonomi keluarga dan menjadi penggerak dalam keluarga.

Dengan adanya talkshow ini, secara tidak langsung, KCKB Buleleng mencoba membangun dan menumbuhkan kesadaran perempun yang sebenarnya. Mengingat, di Indonesia, khususnya di Bali, beberapa orang masih menganggap bahwa perempuan hanya manusia “kelas dua”.

Tidak bisa dimungkiri, bahwa sejarah peradaban manusia didominasi oleh peradaban patriarki. Peradaban ini telah menggiring dan menjadikan perempuan tak ubahnya sebuah properti. Sebagai sebuah properti kebudayaan, perempuan “dituntut” agar tumbuh berkembang sesuai kehendak laki-laki.

Laki-laki dianggap memiliki otoritas mutlak dalam menentukan spesifikasi terhadap pembentukan fisik dan moral perempuan. Hal tersebut seolah-olah mengisyaratkan perempuan sebagai sosok yang tidak mampu membentuk kebudayaannya sendiri. Yang lebih mengerikan, peradaban menganggap bahwa kesadaran perempuan tidak lebih dari kesadaran laki-laki.

Padahal, seperti ungkapan pameo tua “di balik laki-laki sukses, ada perempuan hebat di belakangnya”, jelas mengisyaratkan bahwa peran perempuan dalam kehidupan laki-laki tak main-main.

Yoseva Listyati, Direktur CV. Surya Tirta Buana, dalam talkshow KCKB, mengaku, bahwa kesuksesan suaminya kini juga berkat dorongan darinya. “Istri adalah partner kerja suami. Maka dari itu saya memacu suami saya supaya bisa membuka usaha sendiri,” kata perempuan yang akrab dipanggil Eva itu.

Benr, apa yang disampaikan Eva sebenarnya banyak terjadi di luar sana. Nyatanya, banyak istri hebat yang mampu menjadi pemantik suaminya dalam hal apapun. “Jelas, saya tidak bisa melakukan apapun seperti yang saya lakukan sekarang tanpa Michelle,” ucap Obama, Presiden Amerika, kepada istrinya di hari pernikahan mereka ke-25.

Tak hanya mampu mendorong suami saja, menurut Ni Made Adnyani, pemilik brand Ratu Bali, tak ada salahnya perempuan juga terjun sendiri ke lapangan. Ia mengatakan, perempuan harus mampu melihat peluang usaha di sekitarnya. “Misalnya, Pergub tentang mamakai kain Bali itu menurut saya peluang. Dari situ saya memulai usaha,” ujarnya.

Sedangkan menurut I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri—atau yang lebih akrab disapa Gek Igar—, selain harus dapat membaca peluang, perempun juga harus mampu menerima dan membuat tantangan. Apalagi perempuan yang memilih terjun ke dunia bisnis, tak hanya kuat, tapi juga harus tangguh.

“Jadi pengusaha itu harus siap capek, nggak ada pengusaha yang enak. Tapi, di situlah tantangannya—dan saya memang suka tantangan,” ucap Gek Igar sambil tertawa.

Eva Elyanthi, pemilik usaha Bunga Pertiwi, untuk menjadi perempuan yang bisa membaca peluang atau mampu menerima tantangan, menurutnya perempuan harus terus belajar—kepada siapa pun, katanya.

Ia, misalnya, dalam rangka mengembangkan usahanya di bidang pembuatan kue-kue tradisional, ia rela belajar ke desa-desa untuk dapat menghasilkan kue dengan cita rasa luar biasa. “Saya belajar dari desa-desa. Menurut saya, dalam hal membuat kue, orang desa itu memang menggunakan rasa,” imbuhnya.

Dan terakhir, Ketut Radinna Wikantari, Direktur Operasional dan Pemasaran Kopi Banyuatis, mengatakan bahwa perempuan harus bekerja keras. Perempuan yang pernah menjadi pramugari itu merasa bahwa tak ada alasan apapun bagi perempuan untuk tidak berjuang.

“Kenapa perempuan harus takut untuk membuat usaha sendiri? Kenapa takut dengan kegagalan? Selama kita melakukan yang terbaik, dengan perhitungan-perhitungan yang tepat tentu saja, yakinlah, bahwa usaha kita akan berkembang,” kata Owner Naz Beauty Lounge itu.

Pada akhirnya, apa yang disampaikan kelima perempuan dalam talkshow KCKB Buleleng kemarin, sekali lagi, adalah sebuah usaha untuk menumbuhkan kesadaran kaum perempuan, khususnya dalam bidang kewirausahaan.

Perempuan memang harus menjadi pembebas bagi kaumnya sendiri, bukan justru melegitimasi dominasi laki-laki. Perjuangan kesetaraan gender tidak bisa dilakukan setengah-setengah—sebuah sikap yang tidak secara absolut memberikan kesempatan bagi perempuan untuk beraktualisasi dan bereksistensi sesuai dengan harapan dan keinginannya.

Dan sebagai langkah untuk menyuarakan keistimewaan perempuan, Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) Kabupaten Buleleng, sudah sangat tepat menyelenggarakan kegiatan seperti kemarin—yang isinya tentang perempuan yang saling menguatkan perempuan lain melalui berbagi cerita, pengalaman, pengetahuan, dan jaringan, untuk lebih baik.

Adegan pementasan teater Nyoman Rai Srimben / Foto: Dok. Jayen.

Acara dalam rangka memperingati Bulan Bung itu di tutup dengan pementasan naskah teater karya Kadek Sonia Piscayanti tentang kisah cinta Nyoman Rai Srimben dan Raden Soekemi, foto bersama, dan makan bersama—sebuah penutupan yang manis.[T]

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah
Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji
Sosok-sosok Kartini Buleleng, Dari Segala Lini Menebar Inspirasi Bagi Perempuan Buleleng
Tags: baliBung Karnokain tenunPerempuan BaliRai Srimben
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Next Post

Barung Gong Kebyar Buleleng: Mengalir dan Berputar | Catatan PKB 2023 Duta Kabupaten Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Barung Gong Kebyar Buleleng: Mengalir dan Berputar | Catatan PKB 2023 Duta Kabupaten Buleleng

Barung Gong Kebyar Buleleng: Mengalir dan Berputar | Catatan PKB 2023 Duta Kabupaten Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co