2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 18, 2023
in Esai
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Ilustrasi Tatkala.co

PEMAIN SEPAKBOLA hebat dunia sering dijuluki seniman bola. Bahkan Pele atau Maradona, misalnya, disanjung tinggi sebagai pesepakbola berkelas maestro.

Olahraga yang paling populer sejagat itu juga dikagumi sebagai sebuah permainan yang maha indah. Karena itu, permainan elok sepakbola Brasil dipuji bak tari Samba. Demikian pula liukan sepakbola Argentina disanjung bagaikan tari Tango nan mempesona.

Jika kesenian dipandang bersifat universal—memancarkan binar keindahan pada kehidupan manusia di penjuru bumi—sepakbola juga tak kalah semesta spirit damainya.

Jejak-jejak olahraga ini sudah ditemukan pada sejumlah peradaban kuno Tiongkok dinasti Han abad II Masehi hingga zaman Romawi dengan sebutan haspartun.

Kini, sepakbola dimainkan di negara-negara besar modern sampai di pelosok kampung  pedalaman yang posisinya mungkin tak terendus dalam peta dunia.

Olahraga permainan si kulit bundar yang merakyat ini termasuk digemari banyak penonton. Ada pula yang dengan fanatik mengusung olahraga ini sebagai “agama” kedua.

Sepakbola membumbung gengsinya sejak digelar dalam ajang Piala Dunia oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) pada tahun 1930 yang dilangsungkan di Uruguay.

***

Masyarakat Indonesia masa kini termasuk sangat menggandrungi sepakbola. Olahrahga ini mulai dimainkan di Pulau Jawa pada tahun 1914 yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda.

Sebaran pegiat dan pecinta olahraga bola kaki ini, dalam perkembangannya, kemudian dinaungi dengan pendirian lembaga Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930.  Sejak itu, timnas sepakbola Indonesia tak mau kalah untuk merengkuh prestasi bahkan sampai level Piala Dunia, seperti misalnya ambil bagian dalam kualifikasi Piala Dunia pada tahun 1958 yang dilangsungkan di Swedia.

Kendati belum mampu unjuk gigi membanggakan bangsa di forum tertinggi itu, akan tetapi eksistensi sepakbola di Tanah Air tak pernah kendor, hingga hari ini.  Di Bali, misalnya, masyarakatnya, selain antusias menonton seni pertunjukan, juga banyak yang tertarik menonton pertandingan sepakbola—menggeliat sejak tahun 2015 yang digelorakan oleh kebolehan Bali United. Stadion Kapten I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar menjadi saksi membuncahnya riuh penonton sepakbola di Pulau Dewata.

Hampir setiap negara di dunia berharap para atlet sepakbolanya tampil di Piala Dunia. Selain terobsesi dan berambisi menggamit juara, tidak sedikit yang berjuang keras untuk menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola sedunia itu.

Hasrat sebagai negara peserta maupun berdahaga menjadi penyelenggara tersebut, juga bergemuruh di dada bangsa Indonesia. Walaupun asa itu tampaknya seperti halusinasi, akan tetapi ada jalan ada peluang.

Celah itu menguak pada gelaran Piala Dunia U-20. Digedor oleh keinginan yang berdebur, dengan percaya diri, Indonesia pun mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah perhelatan tahun 2023. Syukur, melalui suatu proses seleksi yang dilakukan oleh FIFA, mimpi indah untuk turut sebagai peserta dan sekaligus bertindak selaku tuan rumah dipastikan menjadi kenyataan.

Pada bulan Mei-Juni, Indonesia resmi ditunjuk sebagai penyelenggara. Bersama 23 negara lainnya, pesepakbola muda Indonesia yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri, diberi “bonus” untuk turut berlaga. Enam lapangan sepakbola telah dipilih, termasuk stadion Kapten I Wayan Dipta.

Tunggu, jangan bereuforia dulu. Tak ada mendung tak ada hujan, kebanggaan dan kehormatan menjadi tempat perhelatan prestisius Piala Dunia itu, tiba-tiba disambar gledek di siang bolong.

Sekitar pertengahan Maret, sejumlah pihak dari ormas, partai politik hingga satu dua pejabat pemerintah melontarkan penolakan keikutsertaan dan kehadiran Israel—salah satu kesebelasan yang lolos kualifikasi.

Polemik pun merebak bersengkarut dalam silang pro dan kontra. Singkat cerita, akhir Maret, FIFA mengambil langkah lugas, mencoret Indonesia sebagai tuan rumah. Kita ternganga. Kita blingsatan terbangun dari sebuah buaian mimpi.

Para insani sepakbola Indonesia bersedu sedan, sedih dan kecewa. Kesempatan langka untuk menunjukkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia sirna. Media sosial menjadi sesak dengan beragam hiruk pikuk ungkapan, dari yang mengerang emosional hingga celoteh  menggerutu dongkol.

Di tengah ingar bingar ini, Presiden Joko Widodo berpidato dengan amanat jelas, “Jangan mencampuradukkan urusan olahraga dengan politik”. Tapi, kiranya, para penolak tim Israel itu, telah berhura riang.

***

Panggung diplomasi kebudayaan telah berkontribusi pada politik luar negeri Indonesia. Jagat seni sering dikedepankan pada zaman Bung Karno, di antaranya dengan mengirim para seniman andal unjuk pesona di luar negeri.

Namun, walau kini, partisipasi atlet-atlet kita dalam perhelatan olahraga antar bangsa yang digelar di dalam maupun di luar negeri tak digadang-gadang secara eksplisit sebagai misi diplomasi, akan tetapi sumbangsihnya pada keharuman nama Indonesia tidak sedikit.

Dalam bidang bulutangkis misalnya, Indonesia begitu disegani dunia dan sering mengobarkan keharuan nasionalisme kita di forum internasional. Terbukti pula, asas sportivitas dan persahabatan dalam olahraga telah menunjukkan hasil yang positif dan berhasil merujukkan hubungan renggang antar negara.

Tengoklah kembali diplomasi pingpong Amerika-Tiongkok di tahun 1970an yang berujung pada kunjungan Presiden Amerika Richard Nixon yang menjadi penanda dibukanya isolasi Tiongkok dari dunia luar. “Diplomasi sepakbola” yang bertujuan perdamaian antar bangsa  juga sudah banyak dipertandingkan di penjuru belahan jagat.

Pencampuradukan olahraga dengan politik yang kontra produktif bahkan destruktif adalah bila dicemari dengan politik bablas pragmatis. Kiranya, pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia dikoyak oleh egoisme politik oportunis tumpul empati, mengabaikan dimensi konstruktif bagi persepakbolaan kita.

Bagi Bali yang terpilih sebagai salah satu venue pertandingan, sudah pasti akan mereguk imbas ekonomi kepariwisataan berikut semua aspeknya. Mata dunia pun kian akan lebih terbelalak pada Bali, sebagai destinasi wisata masyur Island of Paradise.

Tetapi, begitulah. Binar-binar cerah itu telah padam. Gol pinalti FIFA telah menerjang. Kita telah mempermalu diri sendiri. Kita dicibir dengan sinisme tudingan mencla-mencle, plintat-plintut, konyol dan sederet cap minor lainnya.

Jika kita tak jera berulah offside dan berpaham absurd dalam konteks percaturan olahraga internasional, Indonesia akan terus diganjar “kartu merah”. Sepakbola kita membusuk di liang kubur. Sepakbola pun tak tampak indah lagi.[T]

Bali, Indonesia, dan Piala Dunia
Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu
Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman
Tags: baliPiala Dunia U 20Politiksepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tamblingan dan Lanskap yang (tidak) Indah

Next Post

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co