13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 18, 2023
in Esai
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Ilustrasi Tatkala.co

PEMAIN SEPAKBOLA hebat dunia sering dijuluki seniman bola. Bahkan Pele atau Maradona, misalnya, disanjung tinggi sebagai pesepakbola berkelas maestro.

Olahraga yang paling populer sejagat itu juga dikagumi sebagai sebuah permainan yang maha indah. Karena itu, permainan elok sepakbola Brasil dipuji bak tari Samba. Demikian pula liukan sepakbola Argentina disanjung bagaikan tari Tango nan mempesona.

Jika kesenian dipandang bersifat universal—memancarkan binar keindahan pada kehidupan manusia di penjuru bumi—sepakbola juga tak kalah semesta spirit damainya.

Jejak-jejak olahraga ini sudah ditemukan pada sejumlah peradaban kuno Tiongkok dinasti Han abad II Masehi hingga zaman Romawi dengan sebutan haspartun.

Kini, sepakbola dimainkan di negara-negara besar modern sampai di pelosok kampung  pedalaman yang posisinya mungkin tak terendus dalam peta dunia.

Olahraga permainan si kulit bundar yang merakyat ini termasuk digemari banyak penonton. Ada pula yang dengan fanatik mengusung olahraga ini sebagai “agama” kedua.

Sepakbola membumbung gengsinya sejak digelar dalam ajang Piala Dunia oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) pada tahun 1930 yang dilangsungkan di Uruguay.

***

Masyarakat Indonesia masa kini termasuk sangat menggandrungi sepakbola. Olahrahga ini mulai dimainkan di Pulau Jawa pada tahun 1914 yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda.

Sebaran pegiat dan pecinta olahraga bola kaki ini, dalam perkembangannya, kemudian dinaungi dengan pendirian lembaga Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930.  Sejak itu, timnas sepakbola Indonesia tak mau kalah untuk merengkuh prestasi bahkan sampai level Piala Dunia, seperti misalnya ambil bagian dalam kualifikasi Piala Dunia pada tahun 1958 yang dilangsungkan di Swedia.

Kendati belum mampu unjuk gigi membanggakan bangsa di forum tertinggi itu, akan tetapi eksistensi sepakbola di Tanah Air tak pernah kendor, hingga hari ini.  Di Bali, misalnya, masyarakatnya, selain antusias menonton seni pertunjukan, juga banyak yang tertarik menonton pertandingan sepakbola—menggeliat sejak tahun 2015 yang digelorakan oleh kebolehan Bali United. Stadion Kapten I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar menjadi saksi membuncahnya riuh penonton sepakbola di Pulau Dewata.

Hampir setiap negara di dunia berharap para atlet sepakbolanya tampil di Piala Dunia. Selain terobsesi dan berambisi menggamit juara, tidak sedikit yang berjuang keras untuk menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola sedunia itu.

Hasrat sebagai negara peserta maupun berdahaga menjadi penyelenggara tersebut, juga bergemuruh di dada bangsa Indonesia. Walaupun asa itu tampaknya seperti halusinasi, akan tetapi ada jalan ada peluang.

Celah itu menguak pada gelaran Piala Dunia U-20. Digedor oleh keinginan yang berdebur, dengan percaya diri, Indonesia pun mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah perhelatan tahun 2023. Syukur, melalui suatu proses seleksi yang dilakukan oleh FIFA, mimpi indah untuk turut sebagai peserta dan sekaligus bertindak selaku tuan rumah dipastikan menjadi kenyataan.

Pada bulan Mei-Juni, Indonesia resmi ditunjuk sebagai penyelenggara. Bersama 23 negara lainnya, pesepakbola muda Indonesia yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri, diberi “bonus” untuk turut berlaga. Enam lapangan sepakbola telah dipilih, termasuk stadion Kapten I Wayan Dipta.

Tunggu, jangan bereuforia dulu. Tak ada mendung tak ada hujan, kebanggaan dan kehormatan menjadi tempat perhelatan prestisius Piala Dunia itu, tiba-tiba disambar gledek di siang bolong.

Sekitar pertengahan Maret, sejumlah pihak dari ormas, partai politik hingga satu dua pejabat pemerintah melontarkan penolakan keikutsertaan dan kehadiran Israel—salah satu kesebelasan yang lolos kualifikasi.

Polemik pun merebak bersengkarut dalam silang pro dan kontra. Singkat cerita, akhir Maret, FIFA mengambil langkah lugas, mencoret Indonesia sebagai tuan rumah. Kita ternganga. Kita blingsatan terbangun dari sebuah buaian mimpi.

Para insani sepakbola Indonesia bersedu sedan, sedih dan kecewa. Kesempatan langka untuk menunjukkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia sirna. Media sosial menjadi sesak dengan beragam hiruk pikuk ungkapan, dari yang mengerang emosional hingga celoteh  menggerutu dongkol.

Di tengah ingar bingar ini, Presiden Joko Widodo berpidato dengan amanat jelas, “Jangan mencampuradukkan urusan olahraga dengan politik”. Tapi, kiranya, para penolak tim Israel itu, telah berhura riang.

***

Panggung diplomasi kebudayaan telah berkontribusi pada politik luar negeri Indonesia. Jagat seni sering dikedepankan pada zaman Bung Karno, di antaranya dengan mengirim para seniman andal unjuk pesona di luar negeri.

Namun, walau kini, partisipasi atlet-atlet kita dalam perhelatan olahraga antar bangsa yang digelar di dalam maupun di luar negeri tak digadang-gadang secara eksplisit sebagai misi diplomasi, akan tetapi sumbangsihnya pada keharuman nama Indonesia tidak sedikit.

Dalam bidang bulutangkis misalnya, Indonesia begitu disegani dunia dan sering mengobarkan keharuan nasionalisme kita di forum internasional. Terbukti pula, asas sportivitas dan persahabatan dalam olahraga telah menunjukkan hasil yang positif dan berhasil merujukkan hubungan renggang antar negara.

Tengoklah kembali diplomasi pingpong Amerika-Tiongkok di tahun 1970an yang berujung pada kunjungan Presiden Amerika Richard Nixon yang menjadi penanda dibukanya isolasi Tiongkok dari dunia luar. “Diplomasi sepakbola” yang bertujuan perdamaian antar bangsa  juga sudah banyak dipertandingkan di penjuru belahan jagat.

Pencampuradukan olahraga dengan politik yang kontra produktif bahkan destruktif adalah bila dicemari dengan politik bablas pragmatis. Kiranya, pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia dikoyak oleh egoisme politik oportunis tumpul empati, mengabaikan dimensi konstruktif bagi persepakbolaan kita.

Bagi Bali yang terpilih sebagai salah satu venue pertandingan, sudah pasti akan mereguk imbas ekonomi kepariwisataan berikut semua aspeknya. Mata dunia pun kian akan lebih terbelalak pada Bali, sebagai destinasi wisata masyur Island of Paradise.

Tetapi, begitulah. Binar-binar cerah itu telah padam. Gol pinalti FIFA telah menerjang. Kita telah mempermalu diri sendiri. Kita dicibir dengan sinisme tudingan mencla-mencle, plintat-plintut, konyol dan sederet cap minor lainnya.

Jika kita tak jera berulah offside dan berpaham absurd dalam konteks percaturan olahraga internasional, Indonesia akan terus diganjar “kartu merah”. Sepakbola kita membusuk di liang kubur. Sepakbola pun tak tampak indah lagi.[T]

Bali, Indonesia, dan Piala Dunia
Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu
Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman
Tags: baliPiala Dunia U 20Politiksepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tamblingan dan Lanskap yang (tidak) Indah

Next Post

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co