23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 18, 2023
in Esai
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Ilustrasi Tatkala.co

PEMAIN SEPAKBOLA hebat dunia sering dijuluki seniman bola. Bahkan Pele atau Maradona, misalnya, disanjung tinggi sebagai pesepakbola berkelas maestro.

Olahraga yang paling populer sejagat itu juga dikagumi sebagai sebuah permainan yang maha indah. Karena itu, permainan elok sepakbola Brasil dipuji bak tari Samba. Demikian pula liukan sepakbola Argentina disanjung bagaikan tari Tango nan mempesona.

Jika kesenian dipandang bersifat universal—memancarkan binar keindahan pada kehidupan manusia di penjuru bumi—sepakbola juga tak kalah semesta spirit damainya.

Jejak-jejak olahraga ini sudah ditemukan pada sejumlah peradaban kuno Tiongkok dinasti Han abad II Masehi hingga zaman Romawi dengan sebutan haspartun.

Kini, sepakbola dimainkan di negara-negara besar modern sampai di pelosok kampung  pedalaman yang posisinya mungkin tak terendus dalam peta dunia.

Olahraga permainan si kulit bundar yang merakyat ini termasuk digemari banyak penonton. Ada pula yang dengan fanatik mengusung olahraga ini sebagai “agama” kedua.

Sepakbola membumbung gengsinya sejak digelar dalam ajang Piala Dunia oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) pada tahun 1930 yang dilangsungkan di Uruguay.

***

Masyarakat Indonesia masa kini termasuk sangat menggandrungi sepakbola. Olahrahga ini mulai dimainkan di Pulau Jawa pada tahun 1914 yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda.

Sebaran pegiat dan pecinta olahraga bola kaki ini, dalam perkembangannya, kemudian dinaungi dengan pendirian lembaga Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930.  Sejak itu, timnas sepakbola Indonesia tak mau kalah untuk merengkuh prestasi bahkan sampai level Piala Dunia, seperti misalnya ambil bagian dalam kualifikasi Piala Dunia pada tahun 1958 yang dilangsungkan di Swedia.

Kendati belum mampu unjuk gigi membanggakan bangsa di forum tertinggi itu, akan tetapi eksistensi sepakbola di Tanah Air tak pernah kendor, hingga hari ini.  Di Bali, misalnya, masyarakatnya, selain antusias menonton seni pertunjukan, juga banyak yang tertarik menonton pertandingan sepakbola—menggeliat sejak tahun 2015 yang digelorakan oleh kebolehan Bali United. Stadion Kapten I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar menjadi saksi membuncahnya riuh penonton sepakbola di Pulau Dewata.

Hampir setiap negara di dunia berharap para atlet sepakbolanya tampil di Piala Dunia. Selain terobsesi dan berambisi menggamit juara, tidak sedikit yang berjuang keras untuk menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola sedunia itu.

Hasrat sebagai negara peserta maupun berdahaga menjadi penyelenggara tersebut, juga bergemuruh di dada bangsa Indonesia. Walaupun asa itu tampaknya seperti halusinasi, akan tetapi ada jalan ada peluang.

Celah itu menguak pada gelaran Piala Dunia U-20. Digedor oleh keinginan yang berdebur, dengan percaya diri, Indonesia pun mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah perhelatan tahun 2023. Syukur, melalui suatu proses seleksi yang dilakukan oleh FIFA, mimpi indah untuk turut sebagai peserta dan sekaligus bertindak selaku tuan rumah dipastikan menjadi kenyataan.

Pada bulan Mei-Juni, Indonesia resmi ditunjuk sebagai penyelenggara. Bersama 23 negara lainnya, pesepakbola muda Indonesia yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri, diberi “bonus” untuk turut berlaga. Enam lapangan sepakbola telah dipilih, termasuk stadion Kapten I Wayan Dipta.

Tunggu, jangan bereuforia dulu. Tak ada mendung tak ada hujan, kebanggaan dan kehormatan menjadi tempat perhelatan prestisius Piala Dunia itu, tiba-tiba disambar gledek di siang bolong.

Sekitar pertengahan Maret, sejumlah pihak dari ormas, partai politik hingga satu dua pejabat pemerintah melontarkan penolakan keikutsertaan dan kehadiran Israel—salah satu kesebelasan yang lolos kualifikasi.

Polemik pun merebak bersengkarut dalam silang pro dan kontra. Singkat cerita, akhir Maret, FIFA mengambil langkah lugas, mencoret Indonesia sebagai tuan rumah. Kita ternganga. Kita blingsatan terbangun dari sebuah buaian mimpi.

Para insani sepakbola Indonesia bersedu sedan, sedih dan kecewa. Kesempatan langka untuk menunjukkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia sirna. Media sosial menjadi sesak dengan beragam hiruk pikuk ungkapan, dari yang mengerang emosional hingga celoteh  menggerutu dongkol.

Di tengah ingar bingar ini, Presiden Joko Widodo berpidato dengan amanat jelas, “Jangan mencampuradukkan urusan olahraga dengan politik”. Tapi, kiranya, para penolak tim Israel itu, telah berhura riang.

***

Panggung diplomasi kebudayaan telah berkontribusi pada politik luar negeri Indonesia. Jagat seni sering dikedepankan pada zaman Bung Karno, di antaranya dengan mengirim para seniman andal unjuk pesona di luar negeri.

Namun, walau kini, partisipasi atlet-atlet kita dalam perhelatan olahraga antar bangsa yang digelar di dalam maupun di luar negeri tak digadang-gadang secara eksplisit sebagai misi diplomasi, akan tetapi sumbangsihnya pada keharuman nama Indonesia tidak sedikit.

Dalam bidang bulutangkis misalnya, Indonesia begitu disegani dunia dan sering mengobarkan keharuan nasionalisme kita di forum internasional. Terbukti pula, asas sportivitas dan persahabatan dalam olahraga telah menunjukkan hasil yang positif dan berhasil merujukkan hubungan renggang antar negara.

Tengoklah kembali diplomasi pingpong Amerika-Tiongkok di tahun 1970an yang berujung pada kunjungan Presiden Amerika Richard Nixon yang menjadi penanda dibukanya isolasi Tiongkok dari dunia luar. “Diplomasi sepakbola” yang bertujuan perdamaian antar bangsa  juga sudah banyak dipertandingkan di penjuru belahan jagat.

Pencampuradukan olahraga dengan politik yang kontra produktif bahkan destruktif adalah bila dicemari dengan politik bablas pragmatis. Kiranya, pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia dikoyak oleh egoisme politik oportunis tumpul empati, mengabaikan dimensi konstruktif bagi persepakbolaan kita.

Bagi Bali yang terpilih sebagai salah satu venue pertandingan, sudah pasti akan mereguk imbas ekonomi kepariwisataan berikut semua aspeknya. Mata dunia pun kian akan lebih terbelalak pada Bali, sebagai destinasi wisata masyur Island of Paradise.

Tetapi, begitulah. Binar-binar cerah itu telah padam. Gol pinalti FIFA telah menerjang. Kita telah mempermalu diri sendiri. Kita dicibir dengan sinisme tudingan mencla-mencle, plintat-plintut, konyol dan sederet cap minor lainnya.

Jika kita tak jera berulah offside dan berpaham absurd dalam konteks percaturan olahraga internasional, Indonesia akan terus diganjar “kartu merah”. Sepakbola kita membusuk di liang kubur. Sepakbola pun tak tampak indah lagi.[T]

Bali, Indonesia, dan Piala Dunia
Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu
Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman
Tags: baliPiala Dunia U 20Politiksepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tamblingan dan Lanskap yang (tidak) Indah

Next Post

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co