23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Kucing itu ada di Penjara

Ferry Fansuri by Ferry Fansuri
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ferry Fansuri

PAGI ini seperti hari sebelumnya, aku selalu menikmati secangkir kopi hitam racikan dari biji Gayo pemberian dari seorang teman. Gula kubiarkan mengendap di dasar tanpa kuaduk agar rasa kopi terasa nikmat ditemani pisang goreng istimewa buatan istri tercinta.

Kubuka koran pagi yang tersaji di mejaku, kulihat berita korupsi di mana-mana. Pejabat negara tertangkap basah menerima gratifikasi, kasus suap triyulanan, aduh, di mana-mana berita korupsi. Kututup koran, kunyalakan televisi dan tiap channel tak habis-habis membahas berita korupsi. Miris rasanya mendengar jika ada seorang anggota partai atau menteri terkena suap seperti menteri negara sekelas Dulmatin.

Kadang dalam hati ini bertanya kenapa melakukan itu semua? Dulmatin bukan orang yang kelaparan atau kekurangan? Itu sebuah profesi atau hobi baginya?

“Pa, hari ini narik nggak?” Lamunanku buyar saat Kantil, istiku, menegurku.

“Iya, Ma, hari ini seperti biasa kerja,” sahutku

“Sekalian antar si Tarjo sekolah juga yah,” mintanya

Aku hanya mengangguk kepala tanda setuju, kuraih jaket dan helmku yang berwarna hijau. Langsung menuju ke motor matic dan kugandeng anak lanang-ku si Tarjo naik di depan.

“Pa, entar ngebut yah. Karena tahu sendiri kalau pagi daerah Kebayoran Lama itu macet di dekat pasar,” cerocos Tarjo, anakku sambil memakai helmnya.

Tapi aku tak menjawab karena itu sebuah pertanyaan rutinitas, aku hanya menyalakan kontak maticku dan siap membelah kemacetan ibukota.

Hampir setahun ini menggantungkan rejeki dari motor matic ini, wira-wiri antar penumpang, delivery makanan atau antar barang. Yah, benar, ojek online itu pekerjaan lagi happening di jagad raya ini. Semua sarjana dan penggangguran berbondong-bondong mendaftar jadi ojek online. Profesi yang dulu dianggap rendah dan kasar tapi mampu mengurangi angka penggangguran  di negara ini. Tinggal pencet sana pencet sini, kemudahan didapat. Kontra-nya dimusuhi opang (ojek pangkalan), supir angkot dan taxi konvensional. Demo sana, ribut dikit terus bentrok, ah, semua ini masalah perut, jika lapar manusia pasti marah dan beringas.

“Pa, sudah sampai. Tarjo turun di gerbang saja, biar Papa langsung narik saja,”  kata Tarjo sambil menunjuk pintu gerbang.

Kulihat gerbang itu mulai ditutup oleh satpam sekolah, berbarengan dengan Pak Umar Patek, wali kelas Tarjo, keluar. Sepertinya ia memang menunggu sesuatu atau seseorang, kupikir begitu. Setelah aku menurunkan Tarjo, aku langsung membelokkan maticku untuk menjauh.

“Pak Sarwo, tunggu bentar. Jangan pergi dulu!” Ada kata seru dari ucapan Umar Patek, wali kelas si Tarjo.

Aku hanya mengeryitkan alis, ada apa gerangan? Tumben seorang wali kelas melarang orang tua murid untuk berangkat kerja.

“Mohon waktunya sebentar Pak. Ini tentang Tarjo, ada yang perlu dibicarakan!” ungkapnya.

“Mari, Pak, ke ruangan saya!” Beliau menyilakan aku untuk masuk ruang para guru.

Aku hanya menuruti, mengikuti dan memparkir maticku sambil melirik smartphone-ku. Alert order sudah menyalak, rejeki melayang nih diambil ojek online lainnya. Tak apalah harus meladeni Umar Patek dan juga keinginantahuanku tentang Tarjo. Apa pula yang ia perbuat sampai wali kelasnya menghentikan aku di depan gerbang sekolah.

Kulepas jaket dan duduk di kursi depan meja Umar Patek, memang agak tidak sopan karena aku hanya mengenakan kaos oblong, celana jeans dan sepatu canvas. Biasanya menghadiri acara formal sekolah memakai batik dan sepatu pantofel, aku agak rikuh juga.

“Begini Pak Sarwo, ini tentang anak Bapak!” omongan pertama kali Pak Umar Patek.

“Ada apa, yah, Pak? Anak saya nakal? Berkelahi? Nilainya turun?” Aku langsung nyerocos untuk mencari jawaban tentang rasa penasaranku dari tadi.

“Bukan, Pak. Tarjo anak Bapak itu pintar dan nilai-nilainya di atas temannya,” jawab Umar Patek. “Tapi ada masalah sedikit, Pak. Anak bapak memberikan contekan pada temannya saat ujian karena dijanjikan akan diberikan coklat dan makanan setiap jawaban Tarjo.”

Pak Umar Patek berhenti sebentar.

“Apakah Tarjo tidak dikasih uang saku atau bekal makan, Pak?” Tanya Umar Patek kemudian.

Aku tak menjawab pertanyaan Umar Patek ini, cuma di otak kepalaku berputar-putar kenapa Tarjo berbuat seperti itu.  Oleh Kantil, ibunya, selalu ia diberi bekal makan dari rumah dan aku selalu memberikan uang saku cukup buat Tarjo. Biarpun aku hanya tukang ojek online tapi pendapatan tiap hari atau bulannya lumayan hampir sama dengan pegawai kantoran. Tarjo cukup bekal untuk anak seumur 10 tahun seperti dia. Memberikan contekan saat ujian? Hanya cuman gara-gara sogokan coklat?

“Bapak paham kan, hal tersebut terlarang di sekolah dan tidak mendidik anak untuk jujur dalam ujian biarpun itu membantu temannya,” suara Umar Patek menggema di gendang telingaku.

Aku tak menimpali lagi, hanya berjabat tangan dan berpamit untuk pergi bekerja kembali. Pikiranku masih berkecamuk tentang Tarjo, mungkin nanti pas aku jemput sepulang sekolah akan kuajak bicara dari hati ke hati.

***

            Hari ini lumayan penghasilan cukup untuk mentraktir Tarjo di warung es krim kesukaannya. Saat kujemput, Tarjo begitu senang, apalagi saat mau ke warung es krim, dia memesan es krim coklat krim bertopping strawberry. Begitu lahap sampai belepotan di mulut serta pipinya, setelah ia menyendok es krim terakhirnya. Aku mulai berkata.

“Nak, tadi aku ketemu wali kelasmu dan berbicara tentang kamu. Katanya kamu memberikan contekan ujian kepada teman-teman karena diiming-iming coklat atau permen?” kubertanya secara halus

“Oh itu, Pa, memang dikasih coklat sama teman-teman dan aku kasih jawabannya,” timpalnya sambil tertawa riang.

“Itu dilarang, Nak,  saat ujian kamu tidak boleh mencontek dan memberikan contekan sekalipun itu temanmu. Karena itu harga sebuah kejujuran harus kita junjung tinggi,” cerocosku.

“Iya, Pa, aku tahu itu salah. Tapi Tarjo tetap akan menerima coklat atau permen itu karena Tarjo itu kucing yang suka makan… miaw.. meow… meong,” jawabnya sambil menirukan seorang kucing menjilat-jilat sisa-sisa es krimnya.

Ucapan Tarjo itu mengedor pikiran dan imajinasiku. Jika Tarjo kucing, bukan anak kecil atau manusia apakah dunia ini bisa menerimanya? Sebuah jawaban yang membuatku sepanjang perjalanan aku susah bernapas dan terasa pusing.

Karena selama melintas bundaran Thamrin sampai rumah, ada peristiwa ganjil yang sukar dipercaya. Semua orang yang berlalu lalang di trotoar ada yang berkepala kucing, pria berjas dan berdasi itu juga atau wanita memakai blouse-rok. Semua menjilat tangannya dan bercakap dengan bahasa binatang omnivora tersebut.

Aduh, kenapa mataku ini, aku kucek-kucek untuk memastikan mataku yang sebenarnya kabur karena semua pemandangan berubah. Semua berkepala kucing tapi memang ada yang tidak dan itu segilintir saja. Aneh tapi nyata, apakah aku yang bermimpi?

Saat aku berhenti di lampu merah, aku juga melihat seorang polisi berkepala kucing dan di mulut ada peluit untuk mengatur lalu lintas. Sebelahku ada sopir angkot, di dalamnya ada ibu-ibu setengah baya, cewek berseragam sekolah, pria bersorban dan berjanggut. Semua itu berkepala kucing… aih, kepala ini jadi pening dan hampir mata gelap pingsan.

Setibanya aku di rumah, kutelan dua butir aspirin dan beranjak ke peraduan untuk menghilangkan sakit kepalaku ini. Tak kuhiraukan istri dan anakku, kepala ini terasa berat sekali seperti dihantam berton-ton besi yang merajam otakku dan kuterlelap dalam tidur, berharap keesokkan harinya semua normal kembali.

Terik matahari menembus jendela rumahku dan menusuk ke sela-sela kelopak mataku. Terbangun dari tempat tidurku, semua badan terasa remuk redam bak beraktivitas berat dalam satu hari. Dengan langkah gontai aku menuju ruang tengah, di mana istriku Kantil menyediakan kopi, pisang goreng dan koran pagi untuk sarapan pagiku.

Hari ini terlihat normal kembali, pandangan tidak kabur kembali dan tidak ada penampakan kucing di sekitarku. Begitu santainya aku duduk di kursi malas dan membuka lembar koran pagiku sambil menyeruput gelas kopi.

“Puuff.. huekk.. hueek”

Aku tersedak dan langsung menyembur sisa kopi ke lembaran-lembaran koran yang kubaca. Sangat kaget apa yang kulihat, semua berita korupsi masih ada dan bikin aneh pejabat-pejabat negara itu yang terkena suap atau gratifikasi terpampang dengan kepala kucing.

Kubolak-balik koran itu, semua foto yang dijepret fotografer media massa ini berkepala kucing semua. Dalam sebuah foto ada kerumunan di gedung KPK, itu semua berkepala kucing mulai dari satpam, wartawan, tukang parkir atau juru sita pengadilan tak terkecuali. Dunia terbalik jika ini terjadi, kututup koran pagi dan kulempar ke sudut rumah.

“Gila, negara macam apa ini kenapa semua orang berkepala kucing?” gumamku dalam hati dan tak terasa rasa pening datang menjalar kembali.

Sedikit aku menarik napas dalam-dalam agar oksigen di rongga dadaku terisi penuh dan duduk dengan tenang. Kucoba menyalakan televisi di depan, kupencet tombol channel untuk melihat berita.

Bagitu terkejutnya aku, semua channel nasional menyiarkan berita korupsi besar-besaran. Semua kantor berita memuat headline tentang korupsi yang melanda negeri ini mulai dari lini terkecil sampai aristokrat.

Tampak salah satu channel TV pro pemerintahan ad interim menayangkan live pengadilan menteri negara Dulmatin yang terkena kasus e-KTP berjumlah triyulan rupiah. Pengadilan rakyat itu akan dipimpin oleh hakim yang terhormat, Sarbot, yang terkenal dengan ketegasan dan kejujurannya.

Kupelototi persidangan dan mencari jawaban semua keanehan ini. Dalam sebuah sesi tanya jawab antara hakim Sarbot dan menteri negara Dulmatin.

Hakim Sarbot  : Menteri negara Dulmatin, apakah Anda tahu dan sadar dalam persidangan ini duduk di kursi pesakitan itu.

            Dulmatin : Tentu yang mulia, saya sadar dan tidak gila. Anda bisa tanyakan psikater yang memeriksa kejiwaan saya.

            Hakim Sarbot : Jika Anda memang normal dan tidak mengalami gangguan jiwa seperti yang Anda katakan. Tapi Anda melakukan korupsi dan menerima suap di kasus Anda ini. Anda tahu hukuman bagi para koruptor?

            Dulmatin : Yang Mulia terhormat. Semua itu saya memahami dengan benar karena menteri negara mempunyai kewajiban untuk mengerti hukum dan undang-udang yang berlaku di negara ini. Tapi Yang Mulia, hukum itu memang dapat berjalan dengan sempurna jika diterapkan pada seorang manusia yang punya akal pikiran yang sehat. Seperti Anda ketahui Yang Mulia, saya bukanlah manusia tapi seorang kucing gendut yang malas suka makan dan semua orang mengetahui itu semua.

            Hakim Sarbot : Hah? Apakah yang anda katakan benar-benar dan tidak mengada-ngada kan, menteri negara Dultamin? Perkataan Anda itu telah disumpah di pengadilan dan jika tidak artinya Anda menghina pengadilan ini. Apakah Anda benar-benar sadar apa yang dikatakan tadi?

            Dulmatin : Saya menjawab dengan sesungguhnya Yang Mulia Terhormat… miaw.. meow.. .meong (Dulmatin menjilat lengan baju batiknya dan menggosok tangannya di kepalanya layaknya kucing).

Sekejap Dulmatin berubah menjadi kucing gendut dan digelandang keluar pengadilan.

Keesokan harinya kudengar semua penjara negara telah penuh oleh kucing, dari yang kurus hingga yang gendut.

Dan aku ingat Tarjo, anakku. Aku cemas sekali.

 

Takengon, Maret 2017

Tags: Cerpen
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Adu Ayam “Aci Keburan”: Ini Persembahan, Bukan Soal Kalah atau Menang

Next Post

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co