12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Kucing itu ada di Penjara

Ferry Fansuri by Ferry Fansuri
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ferry Fansuri

PAGI ini seperti hari sebelumnya, aku selalu menikmati secangkir kopi hitam racikan dari biji Gayo pemberian dari seorang teman. Gula kubiarkan mengendap di dasar tanpa kuaduk agar rasa kopi terasa nikmat ditemani pisang goreng istimewa buatan istri tercinta.

Kubuka koran pagi yang tersaji di mejaku, kulihat berita korupsi di mana-mana. Pejabat negara tertangkap basah menerima gratifikasi, kasus suap triyulanan, aduh, di mana-mana berita korupsi. Kututup koran, kunyalakan televisi dan tiap channel tak habis-habis membahas berita korupsi. Miris rasanya mendengar jika ada seorang anggota partai atau menteri terkena suap seperti menteri negara sekelas Dulmatin.

Kadang dalam hati ini bertanya kenapa melakukan itu semua? Dulmatin bukan orang yang kelaparan atau kekurangan? Itu sebuah profesi atau hobi baginya?

“Pa, hari ini narik nggak?” Lamunanku buyar saat Kantil, istiku, menegurku.

“Iya, Ma, hari ini seperti biasa kerja,” sahutku

“Sekalian antar si Tarjo sekolah juga yah,” mintanya

Aku hanya mengangguk kepala tanda setuju, kuraih jaket dan helmku yang berwarna hijau. Langsung menuju ke motor matic dan kugandeng anak lanang-ku si Tarjo naik di depan.

“Pa, entar ngebut yah. Karena tahu sendiri kalau pagi daerah Kebayoran Lama itu macet di dekat pasar,” cerocos Tarjo, anakku sambil memakai helmnya.

Tapi aku tak menjawab karena itu sebuah pertanyaan rutinitas, aku hanya menyalakan kontak maticku dan siap membelah kemacetan ibukota.

Hampir setahun ini menggantungkan rejeki dari motor matic ini, wira-wiri antar penumpang, delivery makanan atau antar barang. Yah, benar, ojek online itu pekerjaan lagi happening di jagad raya ini. Semua sarjana dan penggangguran berbondong-bondong mendaftar jadi ojek online. Profesi yang dulu dianggap rendah dan kasar tapi mampu mengurangi angka penggangguran  di negara ini. Tinggal pencet sana pencet sini, kemudahan didapat. Kontra-nya dimusuhi opang (ojek pangkalan), supir angkot dan taxi konvensional. Demo sana, ribut dikit terus bentrok, ah, semua ini masalah perut, jika lapar manusia pasti marah dan beringas.

“Pa, sudah sampai. Tarjo turun di gerbang saja, biar Papa langsung narik saja,”  kata Tarjo sambil menunjuk pintu gerbang.

Kulihat gerbang itu mulai ditutup oleh satpam sekolah, berbarengan dengan Pak Umar Patek, wali kelas Tarjo, keluar. Sepertinya ia memang menunggu sesuatu atau seseorang, kupikir begitu. Setelah aku menurunkan Tarjo, aku langsung membelokkan maticku untuk menjauh.

“Pak Sarwo, tunggu bentar. Jangan pergi dulu!” Ada kata seru dari ucapan Umar Patek, wali kelas si Tarjo.

Aku hanya mengeryitkan alis, ada apa gerangan? Tumben seorang wali kelas melarang orang tua murid untuk berangkat kerja.

“Mohon waktunya sebentar Pak. Ini tentang Tarjo, ada yang perlu dibicarakan!” ungkapnya.

“Mari, Pak, ke ruangan saya!” Beliau menyilakan aku untuk masuk ruang para guru.

Aku hanya menuruti, mengikuti dan memparkir maticku sambil melirik smartphone-ku. Alert order sudah menyalak, rejeki melayang nih diambil ojek online lainnya. Tak apalah harus meladeni Umar Patek dan juga keinginantahuanku tentang Tarjo. Apa pula yang ia perbuat sampai wali kelasnya menghentikan aku di depan gerbang sekolah.

Kulepas jaket dan duduk di kursi depan meja Umar Patek, memang agak tidak sopan karena aku hanya mengenakan kaos oblong, celana jeans dan sepatu canvas. Biasanya menghadiri acara formal sekolah memakai batik dan sepatu pantofel, aku agak rikuh juga.

“Begini Pak Sarwo, ini tentang anak Bapak!” omongan pertama kali Pak Umar Patek.

“Ada apa, yah, Pak? Anak saya nakal? Berkelahi? Nilainya turun?” Aku langsung nyerocos untuk mencari jawaban tentang rasa penasaranku dari tadi.

“Bukan, Pak. Tarjo anak Bapak itu pintar dan nilai-nilainya di atas temannya,” jawab Umar Patek. “Tapi ada masalah sedikit, Pak. Anak bapak memberikan contekan pada temannya saat ujian karena dijanjikan akan diberikan coklat dan makanan setiap jawaban Tarjo.”

Pak Umar Patek berhenti sebentar.

“Apakah Tarjo tidak dikasih uang saku atau bekal makan, Pak?” Tanya Umar Patek kemudian.

Aku tak menjawab pertanyaan Umar Patek ini, cuma di otak kepalaku berputar-putar kenapa Tarjo berbuat seperti itu.  Oleh Kantil, ibunya, selalu ia diberi bekal makan dari rumah dan aku selalu memberikan uang saku cukup buat Tarjo. Biarpun aku hanya tukang ojek online tapi pendapatan tiap hari atau bulannya lumayan hampir sama dengan pegawai kantoran. Tarjo cukup bekal untuk anak seumur 10 tahun seperti dia. Memberikan contekan saat ujian? Hanya cuman gara-gara sogokan coklat?

“Bapak paham kan, hal tersebut terlarang di sekolah dan tidak mendidik anak untuk jujur dalam ujian biarpun itu membantu temannya,” suara Umar Patek menggema di gendang telingaku.

Aku tak menimpali lagi, hanya berjabat tangan dan berpamit untuk pergi bekerja kembali. Pikiranku masih berkecamuk tentang Tarjo, mungkin nanti pas aku jemput sepulang sekolah akan kuajak bicara dari hati ke hati.

***

            Hari ini lumayan penghasilan cukup untuk mentraktir Tarjo di warung es krim kesukaannya. Saat kujemput, Tarjo begitu senang, apalagi saat mau ke warung es krim, dia memesan es krim coklat krim bertopping strawberry. Begitu lahap sampai belepotan di mulut serta pipinya, setelah ia menyendok es krim terakhirnya. Aku mulai berkata.

“Nak, tadi aku ketemu wali kelasmu dan berbicara tentang kamu. Katanya kamu memberikan contekan ujian kepada teman-teman karena diiming-iming coklat atau permen?” kubertanya secara halus

“Oh itu, Pa, memang dikasih coklat sama teman-teman dan aku kasih jawabannya,” timpalnya sambil tertawa riang.

“Itu dilarang, Nak,  saat ujian kamu tidak boleh mencontek dan memberikan contekan sekalipun itu temanmu. Karena itu harga sebuah kejujuran harus kita junjung tinggi,” cerocosku.

“Iya, Pa, aku tahu itu salah. Tapi Tarjo tetap akan menerima coklat atau permen itu karena Tarjo itu kucing yang suka makan… miaw.. meow… meong,” jawabnya sambil menirukan seorang kucing menjilat-jilat sisa-sisa es krimnya.

Ucapan Tarjo itu mengedor pikiran dan imajinasiku. Jika Tarjo kucing, bukan anak kecil atau manusia apakah dunia ini bisa menerimanya? Sebuah jawaban yang membuatku sepanjang perjalanan aku susah bernapas dan terasa pusing.

Karena selama melintas bundaran Thamrin sampai rumah, ada peristiwa ganjil yang sukar dipercaya. Semua orang yang berlalu lalang di trotoar ada yang berkepala kucing, pria berjas dan berdasi itu juga atau wanita memakai blouse-rok. Semua menjilat tangannya dan bercakap dengan bahasa binatang omnivora tersebut.

Aduh, kenapa mataku ini, aku kucek-kucek untuk memastikan mataku yang sebenarnya kabur karena semua pemandangan berubah. Semua berkepala kucing tapi memang ada yang tidak dan itu segilintir saja. Aneh tapi nyata, apakah aku yang bermimpi?

Saat aku berhenti di lampu merah, aku juga melihat seorang polisi berkepala kucing dan di mulut ada peluit untuk mengatur lalu lintas. Sebelahku ada sopir angkot, di dalamnya ada ibu-ibu setengah baya, cewek berseragam sekolah, pria bersorban dan berjanggut. Semua itu berkepala kucing… aih, kepala ini jadi pening dan hampir mata gelap pingsan.

Setibanya aku di rumah, kutelan dua butir aspirin dan beranjak ke peraduan untuk menghilangkan sakit kepalaku ini. Tak kuhiraukan istri dan anakku, kepala ini terasa berat sekali seperti dihantam berton-ton besi yang merajam otakku dan kuterlelap dalam tidur, berharap keesokkan harinya semua normal kembali.

Terik matahari menembus jendela rumahku dan menusuk ke sela-sela kelopak mataku. Terbangun dari tempat tidurku, semua badan terasa remuk redam bak beraktivitas berat dalam satu hari. Dengan langkah gontai aku menuju ruang tengah, di mana istriku Kantil menyediakan kopi, pisang goreng dan koran pagi untuk sarapan pagiku.

Hari ini terlihat normal kembali, pandangan tidak kabur kembali dan tidak ada penampakan kucing di sekitarku. Begitu santainya aku duduk di kursi malas dan membuka lembar koran pagiku sambil menyeruput gelas kopi.

“Puuff.. huekk.. hueek”

Aku tersedak dan langsung menyembur sisa kopi ke lembaran-lembaran koran yang kubaca. Sangat kaget apa yang kulihat, semua berita korupsi masih ada dan bikin aneh pejabat-pejabat negara itu yang terkena suap atau gratifikasi terpampang dengan kepala kucing.

Kubolak-balik koran itu, semua foto yang dijepret fotografer media massa ini berkepala kucing semua. Dalam sebuah foto ada kerumunan di gedung KPK, itu semua berkepala kucing mulai dari satpam, wartawan, tukang parkir atau juru sita pengadilan tak terkecuali. Dunia terbalik jika ini terjadi, kututup koran pagi dan kulempar ke sudut rumah.

“Gila, negara macam apa ini kenapa semua orang berkepala kucing?” gumamku dalam hati dan tak terasa rasa pening datang menjalar kembali.

Sedikit aku menarik napas dalam-dalam agar oksigen di rongga dadaku terisi penuh dan duduk dengan tenang. Kucoba menyalakan televisi di depan, kupencet tombol channel untuk melihat berita.

Bagitu terkejutnya aku, semua channel nasional menyiarkan berita korupsi besar-besaran. Semua kantor berita memuat headline tentang korupsi yang melanda negeri ini mulai dari lini terkecil sampai aristokrat.

Tampak salah satu channel TV pro pemerintahan ad interim menayangkan live pengadilan menteri negara Dulmatin yang terkena kasus e-KTP berjumlah triyulan rupiah. Pengadilan rakyat itu akan dipimpin oleh hakim yang terhormat, Sarbot, yang terkenal dengan ketegasan dan kejujurannya.

Kupelototi persidangan dan mencari jawaban semua keanehan ini. Dalam sebuah sesi tanya jawab antara hakim Sarbot dan menteri negara Dulmatin.

Hakim Sarbot  : Menteri negara Dulmatin, apakah Anda tahu dan sadar dalam persidangan ini duduk di kursi pesakitan itu.

            Dulmatin : Tentu yang mulia, saya sadar dan tidak gila. Anda bisa tanyakan psikater yang memeriksa kejiwaan saya.

            Hakim Sarbot : Jika Anda memang normal dan tidak mengalami gangguan jiwa seperti yang Anda katakan. Tapi Anda melakukan korupsi dan menerima suap di kasus Anda ini. Anda tahu hukuman bagi para koruptor?

            Dulmatin : Yang Mulia terhormat. Semua itu saya memahami dengan benar karena menteri negara mempunyai kewajiban untuk mengerti hukum dan undang-udang yang berlaku di negara ini. Tapi Yang Mulia, hukum itu memang dapat berjalan dengan sempurna jika diterapkan pada seorang manusia yang punya akal pikiran yang sehat. Seperti Anda ketahui Yang Mulia, saya bukanlah manusia tapi seorang kucing gendut yang malas suka makan dan semua orang mengetahui itu semua.

            Hakim Sarbot : Hah? Apakah yang anda katakan benar-benar dan tidak mengada-ngada kan, menteri negara Dultamin? Perkataan Anda itu telah disumpah di pengadilan dan jika tidak artinya Anda menghina pengadilan ini. Apakah Anda benar-benar sadar apa yang dikatakan tadi?

            Dulmatin : Saya menjawab dengan sesungguhnya Yang Mulia Terhormat… miaw.. meow.. .meong (Dulmatin menjilat lengan baju batiknya dan menggosok tangannya di kepalanya layaknya kucing).

Sekejap Dulmatin berubah menjadi kucing gendut dan digelandang keluar pengadilan.

Keesokan harinya kudengar semua penjara negara telah penuh oleh kucing, dari yang kurus hingga yang gendut.

Dan aku ingat Tarjo, anakku. Aku cemas sekali.

 

Takengon, Maret 2017

Tags: Cerpen
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Adu Ayam “Aci Keburan”: Ini Persembahan, Bukan Soal Kalah atau Menang

Next Post

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co