24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Kucing itu ada di Penjara

Ferry Fansuri by Ferry Fansuri
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ferry Fansuri

PAGI ini seperti hari sebelumnya, aku selalu menikmati secangkir kopi hitam racikan dari biji Gayo pemberian dari seorang teman. Gula kubiarkan mengendap di dasar tanpa kuaduk agar rasa kopi terasa nikmat ditemani pisang goreng istimewa buatan istri tercinta.

Kubuka koran pagi yang tersaji di mejaku, kulihat berita korupsi di mana-mana. Pejabat negara tertangkap basah menerima gratifikasi, kasus suap triyulanan, aduh, di mana-mana berita korupsi. Kututup koran, kunyalakan televisi dan tiap channel tak habis-habis membahas berita korupsi. Miris rasanya mendengar jika ada seorang anggota partai atau menteri terkena suap seperti menteri negara sekelas Dulmatin.

Kadang dalam hati ini bertanya kenapa melakukan itu semua? Dulmatin bukan orang yang kelaparan atau kekurangan? Itu sebuah profesi atau hobi baginya?

“Pa, hari ini narik nggak?” Lamunanku buyar saat Kantil, istiku, menegurku.

“Iya, Ma, hari ini seperti biasa kerja,” sahutku

“Sekalian antar si Tarjo sekolah juga yah,” mintanya

Aku hanya mengangguk kepala tanda setuju, kuraih jaket dan helmku yang berwarna hijau. Langsung menuju ke motor matic dan kugandeng anak lanang-ku si Tarjo naik di depan.

“Pa, entar ngebut yah. Karena tahu sendiri kalau pagi daerah Kebayoran Lama itu macet di dekat pasar,” cerocos Tarjo, anakku sambil memakai helmnya.

Tapi aku tak menjawab karena itu sebuah pertanyaan rutinitas, aku hanya menyalakan kontak maticku dan siap membelah kemacetan ibukota.

Hampir setahun ini menggantungkan rejeki dari motor matic ini, wira-wiri antar penumpang, delivery makanan atau antar barang. Yah, benar, ojek online itu pekerjaan lagi happening di jagad raya ini. Semua sarjana dan penggangguran berbondong-bondong mendaftar jadi ojek online. Profesi yang dulu dianggap rendah dan kasar tapi mampu mengurangi angka penggangguran  di negara ini. Tinggal pencet sana pencet sini, kemudahan didapat. Kontra-nya dimusuhi opang (ojek pangkalan), supir angkot dan taxi konvensional. Demo sana, ribut dikit terus bentrok, ah, semua ini masalah perut, jika lapar manusia pasti marah dan beringas.

“Pa, sudah sampai. Tarjo turun di gerbang saja, biar Papa langsung narik saja,”  kata Tarjo sambil menunjuk pintu gerbang.

Kulihat gerbang itu mulai ditutup oleh satpam sekolah, berbarengan dengan Pak Umar Patek, wali kelas Tarjo, keluar. Sepertinya ia memang menunggu sesuatu atau seseorang, kupikir begitu. Setelah aku menurunkan Tarjo, aku langsung membelokkan maticku untuk menjauh.

“Pak Sarwo, tunggu bentar. Jangan pergi dulu!” Ada kata seru dari ucapan Umar Patek, wali kelas si Tarjo.

Aku hanya mengeryitkan alis, ada apa gerangan? Tumben seorang wali kelas melarang orang tua murid untuk berangkat kerja.

“Mohon waktunya sebentar Pak. Ini tentang Tarjo, ada yang perlu dibicarakan!” ungkapnya.

“Mari, Pak, ke ruangan saya!” Beliau menyilakan aku untuk masuk ruang para guru.

Aku hanya menuruti, mengikuti dan memparkir maticku sambil melirik smartphone-ku. Alert order sudah menyalak, rejeki melayang nih diambil ojek online lainnya. Tak apalah harus meladeni Umar Patek dan juga keinginantahuanku tentang Tarjo. Apa pula yang ia perbuat sampai wali kelasnya menghentikan aku di depan gerbang sekolah.

Kulepas jaket dan duduk di kursi depan meja Umar Patek, memang agak tidak sopan karena aku hanya mengenakan kaos oblong, celana jeans dan sepatu canvas. Biasanya menghadiri acara formal sekolah memakai batik dan sepatu pantofel, aku agak rikuh juga.

“Begini Pak Sarwo, ini tentang anak Bapak!” omongan pertama kali Pak Umar Patek.

“Ada apa, yah, Pak? Anak saya nakal? Berkelahi? Nilainya turun?” Aku langsung nyerocos untuk mencari jawaban tentang rasa penasaranku dari tadi.

“Bukan, Pak. Tarjo anak Bapak itu pintar dan nilai-nilainya di atas temannya,” jawab Umar Patek. “Tapi ada masalah sedikit, Pak. Anak bapak memberikan contekan pada temannya saat ujian karena dijanjikan akan diberikan coklat dan makanan setiap jawaban Tarjo.”

Pak Umar Patek berhenti sebentar.

“Apakah Tarjo tidak dikasih uang saku atau bekal makan, Pak?” Tanya Umar Patek kemudian.

Aku tak menjawab pertanyaan Umar Patek ini, cuma di otak kepalaku berputar-putar kenapa Tarjo berbuat seperti itu.  Oleh Kantil, ibunya, selalu ia diberi bekal makan dari rumah dan aku selalu memberikan uang saku cukup buat Tarjo. Biarpun aku hanya tukang ojek online tapi pendapatan tiap hari atau bulannya lumayan hampir sama dengan pegawai kantoran. Tarjo cukup bekal untuk anak seumur 10 tahun seperti dia. Memberikan contekan saat ujian? Hanya cuman gara-gara sogokan coklat?

“Bapak paham kan, hal tersebut terlarang di sekolah dan tidak mendidik anak untuk jujur dalam ujian biarpun itu membantu temannya,” suara Umar Patek menggema di gendang telingaku.

Aku tak menimpali lagi, hanya berjabat tangan dan berpamit untuk pergi bekerja kembali. Pikiranku masih berkecamuk tentang Tarjo, mungkin nanti pas aku jemput sepulang sekolah akan kuajak bicara dari hati ke hati.

***

            Hari ini lumayan penghasilan cukup untuk mentraktir Tarjo di warung es krim kesukaannya. Saat kujemput, Tarjo begitu senang, apalagi saat mau ke warung es krim, dia memesan es krim coklat krim bertopping strawberry. Begitu lahap sampai belepotan di mulut serta pipinya, setelah ia menyendok es krim terakhirnya. Aku mulai berkata.

“Nak, tadi aku ketemu wali kelasmu dan berbicara tentang kamu. Katanya kamu memberikan contekan ujian kepada teman-teman karena diiming-iming coklat atau permen?” kubertanya secara halus

“Oh itu, Pa, memang dikasih coklat sama teman-teman dan aku kasih jawabannya,” timpalnya sambil tertawa riang.

“Itu dilarang, Nak,  saat ujian kamu tidak boleh mencontek dan memberikan contekan sekalipun itu temanmu. Karena itu harga sebuah kejujuran harus kita junjung tinggi,” cerocosku.

“Iya, Pa, aku tahu itu salah. Tapi Tarjo tetap akan menerima coklat atau permen itu karena Tarjo itu kucing yang suka makan… miaw.. meow… meong,” jawabnya sambil menirukan seorang kucing menjilat-jilat sisa-sisa es krimnya.

Ucapan Tarjo itu mengedor pikiran dan imajinasiku. Jika Tarjo kucing, bukan anak kecil atau manusia apakah dunia ini bisa menerimanya? Sebuah jawaban yang membuatku sepanjang perjalanan aku susah bernapas dan terasa pusing.

Karena selama melintas bundaran Thamrin sampai rumah, ada peristiwa ganjil yang sukar dipercaya. Semua orang yang berlalu lalang di trotoar ada yang berkepala kucing, pria berjas dan berdasi itu juga atau wanita memakai blouse-rok. Semua menjilat tangannya dan bercakap dengan bahasa binatang omnivora tersebut.

Aduh, kenapa mataku ini, aku kucek-kucek untuk memastikan mataku yang sebenarnya kabur karena semua pemandangan berubah. Semua berkepala kucing tapi memang ada yang tidak dan itu segilintir saja. Aneh tapi nyata, apakah aku yang bermimpi?

Saat aku berhenti di lampu merah, aku juga melihat seorang polisi berkepala kucing dan di mulut ada peluit untuk mengatur lalu lintas. Sebelahku ada sopir angkot, di dalamnya ada ibu-ibu setengah baya, cewek berseragam sekolah, pria bersorban dan berjanggut. Semua itu berkepala kucing… aih, kepala ini jadi pening dan hampir mata gelap pingsan.

Setibanya aku di rumah, kutelan dua butir aspirin dan beranjak ke peraduan untuk menghilangkan sakit kepalaku ini. Tak kuhiraukan istri dan anakku, kepala ini terasa berat sekali seperti dihantam berton-ton besi yang merajam otakku dan kuterlelap dalam tidur, berharap keesokkan harinya semua normal kembali.

Terik matahari menembus jendela rumahku dan menusuk ke sela-sela kelopak mataku. Terbangun dari tempat tidurku, semua badan terasa remuk redam bak beraktivitas berat dalam satu hari. Dengan langkah gontai aku menuju ruang tengah, di mana istriku Kantil menyediakan kopi, pisang goreng dan koran pagi untuk sarapan pagiku.

Hari ini terlihat normal kembali, pandangan tidak kabur kembali dan tidak ada penampakan kucing di sekitarku. Begitu santainya aku duduk di kursi malas dan membuka lembar koran pagiku sambil menyeruput gelas kopi.

“Puuff.. huekk.. hueek”

Aku tersedak dan langsung menyembur sisa kopi ke lembaran-lembaran koran yang kubaca. Sangat kaget apa yang kulihat, semua berita korupsi masih ada dan bikin aneh pejabat-pejabat negara itu yang terkena suap atau gratifikasi terpampang dengan kepala kucing.

Kubolak-balik koran itu, semua foto yang dijepret fotografer media massa ini berkepala kucing semua. Dalam sebuah foto ada kerumunan di gedung KPK, itu semua berkepala kucing mulai dari satpam, wartawan, tukang parkir atau juru sita pengadilan tak terkecuali. Dunia terbalik jika ini terjadi, kututup koran pagi dan kulempar ke sudut rumah.

“Gila, negara macam apa ini kenapa semua orang berkepala kucing?” gumamku dalam hati dan tak terasa rasa pening datang menjalar kembali.

Sedikit aku menarik napas dalam-dalam agar oksigen di rongga dadaku terisi penuh dan duduk dengan tenang. Kucoba menyalakan televisi di depan, kupencet tombol channel untuk melihat berita.

Bagitu terkejutnya aku, semua channel nasional menyiarkan berita korupsi besar-besaran. Semua kantor berita memuat headline tentang korupsi yang melanda negeri ini mulai dari lini terkecil sampai aristokrat.

Tampak salah satu channel TV pro pemerintahan ad interim menayangkan live pengadilan menteri negara Dulmatin yang terkena kasus e-KTP berjumlah triyulan rupiah. Pengadilan rakyat itu akan dipimpin oleh hakim yang terhormat, Sarbot, yang terkenal dengan ketegasan dan kejujurannya.

Kupelototi persidangan dan mencari jawaban semua keanehan ini. Dalam sebuah sesi tanya jawab antara hakim Sarbot dan menteri negara Dulmatin.

Hakim Sarbot  : Menteri negara Dulmatin, apakah Anda tahu dan sadar dalam persidangan ini duduk di kursi pesakitan itu.

            Dulmatin : Tentu yang mulia, saya sadar dan tidak gila. Anda bisa tanyakan psikater yang memeriksa kejiwaan saya.

            Hakim Sarbot : Jika Anda memang normal dan tidak mengalami gangguan jiwa seperti yang Anda katakan. Tapi Anda melakukan korupsi dan menerima suap di kasus Anda ini. Anda tahu hukuman bagi para koruptor?

            Dulmatin : Yang Mulia terhormat. Semua itu saya memahami dengan benar karena menteri negara mempunyai kewajiban untuk mengerti hukum dan undang-udang yang berlaku di negara ini. Tapi Yang Mulia, hukum itu memang dapat berjalan dengan sempurna jika diterapkan pada seorang manusia yang punya akal pikiran yang sehat. Seperti Anda ketahui Yang Mulia, saya bukanlah manusia tapi seorang kucing gendut yang malas suka makan dan semua orang mengetahui itu semua.

            Hakim Sarbot : Hah? Apakah yang anda katakan benar-benar dan tidak mengada-ngada kan, menteri negara Dultamin? Perkataan Anda itu telah disumpah di pengadilan dan jika tidak artinya Anda menghina pengadilan ini. Apakah Anda benar-benar sadar apa yang dikatakan tadi?

            Dulmatin : Saya menjawab dengan sesungguhnya Yang Mulia Terhormat… miaw.. meow.. .meong (Dulmatin menjilat lengan baju batiknya dan menggosok tangannya di kepalanya layaknya kucing).

Sekejap Dulmatin berubah menjadi kucing gendut dan digelandang keluar pengadilan.

Keesokan harinya kudengar semua penjara negara telah penuh oleh kucing, dari yang kurus hingga yang gendut.

Dan aku ingat Tarjo, anakku. Aku cemas sekali.

 

Takengon, Maret 2017

Tags: Cerpen
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Adu Ayam “Aci Keburan”: Ini Persembahan, Bukan Soal Kalah atau Menang

Next Post

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co