23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nama-nama Orang Indonesia : Kreatifitas Atau Anu?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
April 22, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

KALI INI SAYA PUNYA kesempatan menantang pujangga terbesar sepanjang sejarah, Shakespeare yang tersohor dengan ungkapan satirnya, “What’s in a name?” Lengkapnya, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Andaikata kita memberi nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap berbau wangi.

Shakespeare memang begitu sedih dengan kisah yang diciptakannya sendiri. Sepasang sejoli tak bisa bersatu, alih-alih saling memiliki, berdamai pun tidak, nyawa mereka pun direnggutkan. Tak lain karena dua nama keluarga yang berseteru begitu runcing.

Nama, acap kali memang tak sekadar kata. Ia begitu kompleks. Selain tentu saja sebagai panggilan, nama bisa sebagai identitas atau mewakili strata sosial, doa dan harapan, cerminan sebuah era bahkan bisa jadi gambaran mentalitas suatu masyarakat.  Betulkah?

Nama saya Putu Arya Nugraha. Jelas ini bukan nama Bali asli alias tradisional. Meskipun Putu memang sebutan khas orang Bali untuk anak pertama atau sulung selain bisa juga memakai Gede atau Wayan, Arya dan Nugraha tentu saja bahasa serapan. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta dan Nugraha sendiri telah diserap ke dalam bahasa Jawa dan kemudian bahasa Indonesia. Sepertinya orang tua saya merasa lebih mentereng jika nama anaknya menggunakan kata dari bahasa serapan yang memang kedengarannya bagus.

Nama ayah saya sendiri adalah I Made Awas dan ibu saya I Nyoman Ratep. Nama ibu jelas nama tradisional Bali yang artinya dekat, rapat atau akur. Sementara Awas, maknanya sudah sangat terang dan memberi gambaran, setidaknya kakek saya sudah mengenal bahasa Indonesia pada saat itu atau situasi saat kelahiran ayah adalah masa-masa pasca kemerdekaan yang menuntut kewaspadaan, awas! Boleh disebut, ini model kontenporer nama orang Bali.

Saya amati, dalam generasi saya, nama tradisonal Bali seperti Locong, Gredeg atau Monyer sudah nyaris punah. Sepertinya jenis nama-nama ini sudah dianggap kuno dan kurang gaul bahkan mengundang cemooh. Padahal, pernah ada seorang bupati bernama I Wayan Gredeg. Mengapa nama-nama tradisonal Bali itu ditinggalkan? Adakah karena kita mudah menerima hal-hal baru atau cenderung meniru, punya mental minder atau sebuah budaya kreatifitas?

Saya punya tiga orang anak dan nama ketiganya punya karakter yang sama yaitu memakai kata dari serapan bahasa Jawa atau Sanskerta. Nama mereka Ni Luh Putu Sasmitha Ayu, I Made Dwi Wedhananta (alm) dan I Nyoma Arya Wirabhumi. Setidaknya saya melanjutkan gagasan ayah yang sepertinya minder jika memberi saya nama I Putu Locong atau I Wayan Prongot.

Tentu saja saya pun tak tega memberi nama putri saya Ni Luh Putu Monyer. Tak bisa dipungkiri saya telah ikut minder dengan nama-nama Bali asli tersebut. Teman-teman saya yang lain bahkan sudah ada yang menamai anak mereka dengan nama-nama barat atau Eropa seperti Kevin, Johny atau Harry. Boleh dibilang kelompok nama ini sudah merupakan evolusi generasi ketiga nama-nama orang Bali. Dari nama tradisional Bali era tahun enam puluhan ke bawah, nama serapan bahasa Jawa atau Sanskerta lalu nama-nama bercirikan barat atau Eropa sejak era sembilan puluhan.      

Padahal orang-orang barat atau Eropa atau Yahudi (Ibrani), Arab atau India bahkan Latin,  rasa-rasanya tak ada dari mereka yang  memakai nama-nama Indonesia seperti Mr Slamet, Miss Butet apalagi Mr Locong! Ini memang fenomena cukup menarik. Saat seakan-akan kita bangga mengadopsi nama-nama asing tersebut, sebaliknya mereka orang-orang asing tersebut tidak ada yang memakai nama-nama kita.

Cukup banyak nama-nama orang Indonesia yang memakai bahasa Ibrani seperti Ebenezer atau Jessica, namun belum pernah kita dengar nama orang Yahudi seperti Ucok atau Sariyem. Demikian juga tak ada orang India bernama Ratep atau Monyer.

Orang Indonesia yang memakai nama dari bahasa Arab tak kalah banyak jumlahnya. Sebutlah Ghibran, Habibi atau Jamila. Sementara orang Arab belum ada kita dengar bernama Timbul, Mukidi atau Suginem. Bahkan sudah merupakan hal lumrah orang Indonesia bernama latin seperti Alexis, Andromeda atau Grace. Namun tidak sebaliknya. Belum ada pemain bola Spanyol bernama Bambang atau Ribut. Ah, bertepuk sebelah tangan!

Nampak sekali perubahan yang cukup cepat, karakter nama-nama orang Indonesia. Ini dapat dibandingkan dengan nama-nama orang Eropa atau China yang cenderung statis. Ambil saja contoh raja Inggris saat ini adalah Charles III. Nah raja Charles yang pertama itu berkuasa pada abad ke-16. artinya dalam kurun waktu sekitar 400 tahun, nama orang Inggris masih tetap sama. Dalam sejarah China, Yin Zheng adalah kaisar pertama Tiongkok pada tahun 247 SM yang kemudian mendirikan dinasti Qin. Nama Yin Zheng juga digunakan oleh seorang aktor Tiongkok kelahiran tahun 1986. Dari kekaisaran di masa lampau hingga menjadi bangsa modern di masa kini, nama yang digunakan tetap sama.

Jadi ada apa dengan nama-nama orang Indonesia? Yah, bisa jadi kita memang bangsa yang kreatif dan mudah menerima pengaruh asing, atau jangan-jangan kita memang suka meniru atau plagiat. Bisa juga karena keinginan untuk menaruh doa dan harapan pada nama-nama tersebut. Mungkin saja nama-nama asing lebih akomodatif untuk kebutuhan ini. Namun, kita pun sebetulnya bisa melakukannya dalam nama-nama Indonesia.

Jika dalam bahasa Inggris ada nama Mr Goodman, maka dalam bahasa Indonesia ada Tulus atau dalam bahasa Bali ada nama I Becik (baik) atau Putu Nau (senang). Ataukah karena nama-nama asing kedengaran lebih gaya atau keren? Sehingga kita pun ingin memakai nama-nama itu? Masuk akal juga sih.

Tapi jangan salah, jika nama barat dibilang gaya seperti Mr Waterman, nama orang Jawa ada juga kok, Wateman. Bahkan jika ada superhero termasyur bernama Superman, di Jawa ada juga mas Suparman. Di Bali ada nama Kaler, nah itu tak kalah keren dari nama barat, Kohler, pemilik salah satu perusahaan manufaktur terbesar di USA. Jika demikian, harus diakui,  jangan-jangan kita masih menyimpan sikap minder terhadap bangsa lain. [T]

BACA esai dan cerpen lain dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA

Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida
Dialektika Kebangsaan dan Asal Usul Nama Indonesia
Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali
Tags: Dokter Arya NugrahaNamanama balinama indonesiaPutu Arya Nugraha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha

Next Post

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co