2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nama-nama Orang Indonesia : Kreatifitas Atau Anu?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
April 22, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

KALI INI SAYA PUNYA kesempatan menantang pujangga terbesar sepanjang sejarah, Shakespeare yang tersohor dengan ungkapan satirnya, “What’s in a name?” Lengkapnya, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Andaikata kita memberi nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap berbau wangi.

Shakespeare memang begitu sedih dengan kisah yang diciptakannya sendiri. Sepasang sejoli tak bisa bersatu, alih-alih saling memiliki, berdamai pun tidak, nyawa mereka pun direnggutkan. Tak lain karena dua nama keluarga yang berseteru begitu runcing.

Nama, acap kali memang tak sekadar kata. Ia begitu kompleks. Selain tentu saja sebagai panggilan, nama bisa sebagai identitas atau mewakili strata sosial, doa dan harapan, cerminan sebuah era bahkan bisa jadi gambaran mentalitas suatu masyarakat.  Betulkah?

Nama saya Putu Arya Nugraha. Jelas ini bukan nama Bali asli alias tradisional. Meskipun Putu memang sebutan khas orang Bali untuk anak pertama atau sulung selain bisa juga memakai Gede atau Wayan, Arya dan Nugraha tentu saja bahasa serapan. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta dan Nugraha sendiri telah diserap ke dalam bahasa Jawa dan kemudian bahasa Indonesia. Sepertinya orang tua saya merasa lebih mentereng jika nama anaknya menggunakan kata dari bahasa serapan yang memang kedengarannya bagus.

Nama ayah saya sendiri adalah I Made Awas dan ibu saya I Nyoman Ratep. Nama ibu jelas nama tradisional Bali yang artinya dekat, rapat atau akur. Sementara Awas, maknanya sudah sangat terang dan memberi gambaran, setidaknya kakek saya sudah mengenal bahasa Indonesia pada saat itu atau situasi saat kelahiran ayah adalah masa-masa pasca kemerdekaan yang menuntut kewaspadaan, awas! Boleh disebut, ini model kontenporer nama orang Bali.

Saya amati, dalam generasi saya, nama tradisonal Bali seperti Locong, Gredeg atau Monyer sudah nyaris punah. Sepertinya jenis nama-nama ini sudah dianggap kuno dan kurang gaul bahkan mengundang cemooh. Padahal, pernah ada seorang bupati bernama I Wayan Gredeg. Mengapa nama-nama tradisonal Bali itu ditinggalkan? Adakah karena kita mudah menerima hal-hal baru atau cenderung meniru, punya mental minder atau sebuah budaya kreatifitas?

Saya punya tiga orang anak dan nama ketiganya punya karakter yang sama yaitu memakai kata dari serapan bahasa Jawa atau Sanskerta. Nama mereka Ni Luh Putu Sasmitha Ayu, I Made Dwi Wedhananta (alm) dan I Nyoma Arya Wirabhumi. Setidaknya saya melanjutkan gagasan ayah yang sepertinya minder jika memberi saya nama I Putu Locong atau I Wayan Prongot.

Tentu saja saya pun tak tega memberi nama putri saya Ni Luh Putu Monyer. Tak bisa dipungkiri saya telah ikut minder dengan nama-nama Bali asli tersebut. Teman-teman saya yang lain bahkan sudah ada yang menamai anak mereka dengan nama-nama barat atau Eropa seperti Kevin, Johny atau Harry. Boleh dibilang kelompok nama ini sudah merupakan evolusi generasi ketiga nama-nama orang Bali. Dari nama tradisional Bali era tahun enam puluhan ke bawah, nama serapan bahasa Jawa atau Sanskerta lalu nama-nama bercirikan barat atau Eropa sejak era sembilan puluhan.      

Padahal orang-orang barat atau Eropa atau Yahudi (Ibrani), Arab atau India bahkan Latin,  rasa-rasanya tak ada dari mereka yang  memakai nama-nama Indonesia seperti Mr Slamet, Miss Butet apalagi Mr Locong! Ini memang fenomena cukup menarik. Saat seakan-akan kita bangga mengadopsi nama-nama asing tersebut, sebaliknya mereka orang-orang asing tersebut tidak ada yang memakai nama-nama kita.

Cukup banyak nama-nama orang Indonesia yang memakai bahasa Ibrani seperti Ebenezer atau Jessica, namun belum pernah kita dengar nama orang Yahudi seperti Ucok atau Sariyem. Demikian juga tak ada orang India bernama Ratep atau Monyer.

Orang Indonesia yang memakai nama dari bahasa Arab tak kalah banyak jumlahnya. Sebutlah Ghibran, Habibi atau Jamila. Sementara orang Arab belum ada kita dengar bernama Timbul, Mukidi atau Suginem. Bahkan sudah merupakan hal lumrah orang Indonesia bernama latin seperti Alexis, Andromeda atau Grace. Namun tidak sebaliknya. Belum ada pemain bola Spanyol bernama Bambang atau Ribut. Ah, bertepuk sebelah tangan!

Nampak sekali perubahan yang cukup cepat, karakter nama-nama orang Indonesia. Ini dapat dibandingkan dengan nama-nama orang Eropa atau China yang cenderung statis. Ambil saja contoh raja Inggris saat ini adalah Charles III. Nah raja Charles yang pertama itu berkuasa pada abad ke-16. artinya dalam kurun waktu sekitar 400 tahun, nama orang Inggris masih tetap sama. Dalam sejarah China, Yin Zheng adalah kaisar pertama Tiongkok pada tahun 247 SM yang kemudian mendirikan dinasti Qin. Nama Yin Zheng juga digunakan oleh seorang aktor Tiongkok kelahiran tahun 1986. Dari kekaisaran di masa lampau hingga menjadi bangsa modern di masa kini, nama yang digunakan tetap sama.

Jadi ada apa dengan nama-nama orang Indonesia? Yah, bisa jadi kita memang bangsa yang kreatif dan mudah menerima pengaruh asing, atau jangan-jangan kita memang suka meniru atau plagiat. Bisa juga karena keinginan untuk menaruh doa dan harapan pada nama-nama tersebut. Mungkin saja nama-nama asing lebih akomodatif untuk kebutuhan ini. Namun, kita pun sebetulnya bisa melakukannya dalam nama-nama Indonesia.

Jika dalam bahasa Inggris ada nama Mr Goodman, maka dalam bahasa Indonesia ada Tulus atau dalam bahasa Bali ada nama I Becik (baik) atau Putu Nau (senang). Ataukah karena nama-nama asing kedengaran lebih gaya atau keren? Sehingga kita pun ingin memakai nama-nama itu? Masuk akal juga sih.

Tapi jangan salah, jika nama barat dibilang gaya seperti Mr Waterman, nama orang Jawa ada juga kok, Wateman. Bahkan jika ada superhero termasyur bernama Superman, di Jawa ada juga mas Suparman. Di Bali ada nama Kaler, nah itu tak kalah keren dari nama barat, Kohler, pemilik salah satu perusahaan manufaktur terbesar di USA. Jika demikian, harus diakui,  jangan-jangan kita masih menyimpan sikap minder terhadap bangsa lain. [T]

BACA esai dan cerpen lain dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA

Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida
Dialektika Kebangsaan dan Asal Usul Nama Indonesia
Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali
Tags: Dokter Arya NugrahaNamanama balinama indonesiaPutu Arya Nugraha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha

Next Post

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co