14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nama-nama Orang Indonesia : Kreatifitas Atau Anu?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
April 22, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

KALI INI SAYA PUNYA kesempatan menantang pujangga terbesar sepanjang sejarah, Shakespeare yang tersohor dengan ungkapan satirnya, “What’s in a name?” Lengkapnya, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Andaikata kita memberi nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap berbau wangi.

Shakespeare memang begitu sedih dengan kisah yang diciptakannya sendiri. Sepasang sejoli tak bisa bersatu, alih-alih saling memiliki, berdamai pun tidak, nyawa mereka pun direnggutkan. Tak lain karena dua nama keluarga yang berseteru begitu runcing.

Nama, acap kali memang tak sekadar kata. Ia begitu kompleks. Selain tentu saja sebagai panggilan, nama bisa sebagai identitas atau mewakili strata sosial, doa dan harapan, cerminan sebuah era bahkan bisa jadi gambaran mentalitas suatu masyarakat.  Betulkah?

Nama saya Putu Arya Nugraha. Jelas ini bukan nama Bali asli alias tradisional. Meskipun Putu memang sebutan khas orang Bali untuk anak pertama atau sulung selain bisa juga memakai Gede atau Wayan, Arya dan Nugraha tentu saja bahasa serapan. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta dan Nugraha sendiri telah diserap ke dalam bahasa Jawa dan kemudian bahasa Indonesia. Sepertinya orang tua saya merasa lebih mentereng jika nama anaknya menggunakan kata dari bahasa serapan yang memang kedengarannya bagus.

Nama ayah saya sendiri adalah I Made Awas dan ibu saya I Nyoman Ratep. Nama ibu jelas nama tradisional Bali yang artinya dekat, rapat atau akur. Sementara Awas, maknanya sudah sangat terang dan memberi gambaran, setidaknya kakek saya sudah mengenal bahasa Indonesia pada saat itu atau situasi saat kelahiran ayah adalah masa-masa pasca kemerdekaan yang menuntut kewaspadaan, awas! Boleh disebut, ini model kontenporer nama orang Bali.

Saya amati, dalam generasi saya, nama tradisonal Bali seperti Locong, Gredeg atau Monyer sudah nyaris punah. Sepertinya jenis nama-nama ini sudah dianggap kuno dan kurang gaul bahkan mengundang cemooh. Padahal, pernah ada seorang bupati bernama I Wayan Gredeg. Mengapa nama-nama tradisonal Bali itu ditinggalkan? Adakah karena kita mudah menerima hal-hal baru atau cenderung meniru, punya mental minder atau sebuah budaya kreatifitas?

Saya punya tiga orang anak dan nama ketiganya punya karakter yang sama yaitu memakai kata dari serapan bahasa Jawa atau Sanskerta. Nama mereka Ni Luh Putu Sasmitha Ayu, I Made Dwi Wedhananta (alm) dan I Nyoma Arya Wirabhumi. Setidaknya saya melanjutkan gagasan ayah yang sepertinya minder jika memberi saya nama I Putu Locong atau I Wayan Prongot.

Tentu saja saya pun tak tega memberi nama putri saya Ni Luh Putu Monyer. Tak bisa dipungkiri saya telah ikut minder dengan nama-nama Bali asli tersebut. Teman-teman saya yang lain bahkan sudah ada yang menamai anak mereka dengan nama-nama barat atau Eropa seperti Kevin, Johny atau Harry. Boleh dibilang kelompok nama ini sudah merupakan evolusi generasi ketiga nama-nama orang Bali. Dari nama tradisional Bali era tahun enam puluhan ke bawah, nama serapan bahasa Jawa atau Sanskerta lalu nama-nama bercirikan barat atau Eropa sejak era sembilan puluhan.      

Padahal orang-orang barat atau Eropa atau Yahudi (Ibrani), Arab atau India bahkan Latin,  rasa-rasanya tak ada dari mereka yang  memakai nama-nama Indonesia seperti Mr Slamet, Miss Butet apalagi Mr Locong! Ini memang fenomena cukup menarik. Saat seakan-akan kita bangga mengadopsi nama-nama asing tersebut, sebaliknya mereka orang-orang asing tersebut tidak ada yang memakai nama-nama kita.

Cukup banyak nama-nama orang Indonesia yang memakai bahasa Ibrani seperti Ebenezer atau Jessica, namun belum pernah kita dengar nama orang Yahudi seperti Ucok atau Sariyem. Demikian juga tak ada orang India bernama Ratep atau Monyer.

Orang Indonesia yang memakai nama dari bahasa Arab tak kalah banyak jumlahnya. Sebutlah Ghibran, Habibi atau Jamila. Sementara orang Arab belum ada kita dengar bernama Timbul, Mukidi atau Suginem. Bahkan sudah merupakan hal lumrah orang Indonesia bernama latin seperti Alexis, Andromeda atau Grace. Namun tidak sebaliknya. Belum ada pemain bola Spanyol bernama Bambang atau Ribut. Ah, bertepuk sebelah tangan!

Nampak sekali perubahan yang cukup cepat, karakter nama-nama orang Indonesia. Ini dapat dibandingkan dengan nama-nama orang Eropa atau China yang cenderung statis. Ambil saja contoh raja Inggris saat ini adalah Charles III. Nah raja Charles yang pertama itu berkuasa pada abad ke-16. artinya dalam kurun waktu sekitar 400 tahun, nama orang Inggris masih tetap sama. Dalam sejarah China, Yin Zheng adalah kaisar pertama Tiongkok pada tahun 247 SM yang kemudian mendirikan dinasti Qin. Nama Yin Zheng juga digunakan oleh seorang aktor Tiongkok kelahiran tahun 1986. Dari kekaisaran di masa lampau hingga menjadi bangsa modern di masa kini, nama yang digunakan tetap sama.

Jadi ada apa dengan nama-nama orang Indonesia? Yah, bisa jadi kita memang bangsa yang kreatif dan mudah menerima pengaruh asing, atau jangan-jangan kita memang suka meniru atau plagiat. Bisa juga karena keinginan untuk menaruh doa dan harapan pada nama-nama tersebut. Mungkin saja nama-nama asing lebih akomodatif untuk kebutuhan ini. Namun, kita pun sebetulnya bisa melakukannya dalam nama-nama Indonesia.

Jika dalam bahasa Inggris ada nama Mr Goodman, maka dalam bahasa Indonesia ada Tulus atau dalam bahasa Bali ada nama I Becik (baik) atau Putu Nau (senang). Ataukah karena nama-nama asing kedengaran lebih gaya atau keren? Sehingga kita pun ingin memakai nama-nama itu? Masuk akal juga sih.

Tapi jangan salah, jika nama barat dibilang gaya seperti Mr Waterman, nama orang Jawa ada juga kok, Wateman. Bahkan jika ada superhero termasyur bernama Superman, di Jawa ada juga mas Suparman. Di Bali ada nama Kaler, nah itu tak kalah keren dari nama barat, Kohler, pemilik salah satu perusahaan manufaktur terbesar di USA. Jika demikian, harus diakui,  jangan-jangan kita masih menyimpan sikap minder terhadap bangsa lain. [T]

BACA esai dan cerpen lain dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA

Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida
Dialektika Kebangsaan dan Asal Usul Nama Indonesia
Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali
Tags: Dokter Arya NugrahaNamanama balinama indonesiaPutu Arya Nugraha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha

Next Post

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co