2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Kebangsaan dan Asal Usul Nama Indonesia

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
August 17, 2021
in Esai
Dialektika Kebangsaan dan Asal Usul Nama Indonesia

Ilustrasi foto: Jayen Photography

Selasa, 27 Juli, saya ditemani sdr. I Gede Kusuma Wahyudi berkunjung ke kediaman Bapak I Made Pageh ; salah satu staff dosen di lingkungan Jurusan Sejarah Sosiologi dan Perpustakaan Undiksha. Maksud kedatangan kami malam itu adalah mengucap bela sungkawa atas kepergian ibunda tercinta sekaligus mewakili teman-teman angkatan yang tidak dapat bertemu menyampaikan uang suka duka dari alumni Prodi  Pendidikan Sejarah angkatan 2007.

Dalam pertemuan singkat itu, saya membayangkan obrolan yang melankolis dengan nuansa sentimentil yang kuat. Sekaligus bernostalgia dengan hiruk pikuk kenangan beliau dengan ibunda tercinta yang sudah berpulang ke rumah Tuhan. Nyatanya, hal itu tidak terjadi. Hanya sesekali saya melihat wajahnya yang telah menua dan keriput dengan tatapan nanar menengadah ke langit malam. Dalam kondisi itu, saya justru menangkap gairah intelektual yang tidak tersalurkan dari dalam dirinya yang selama ini terkungkung rutinitas kampus. Kesibukan sebagai birokrat kampus, sebagai ayah, kakek dan sekaligus suami, yang tentu saja telah menyita waktu, tenaga dan pikirannya sehingga tidak sempat menuangkan gagasan akademis.

Kedatangan kami seperti pelita di tengah kegelapan ; temaram, namun cukup menerangi jiwanya yang sedang suram. Untuk sementara, kesedihannya teralihkan dengan diskusi-diskusi berat tentang kebangsaan Indonesia. Pertemuan itu sekaligus mengobati rasa rindunya berada di mimbar akademik. Suaranya yang parau dan berat khas Bali selatan memulai obrolan hingga larut malam.

Kusuma Wahyudi, Bapak I Made Pageh, dan Penulis

Apa itu Indonesia?

Tulisan ini disaripatikan dari percakapan kami malam itu. Sengaja saya terbitkan di momen tujuh belasan supaya lebih terasa spirit kejuangannya. Saya sisipkan beberapa referensi agar lebih menukik dan dialektik.  Secara khusus, saya persembahkan tulisan ini kepada mahaguru, sahabat dan teman berpikir, Bapak I Made Pageh. Saya dan sdr. Kusuma Wahyudi dengan setia mendengarkan penjelasan yang disampaikannya. Berat dan berbobot. isinya daging semua. Serasa kembali kuliah S1.

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah “apa itu Indonesia?” Selanjutnya, definisi harfiah itu akan membimbing kita pada prosesualisasi historis untuk menemukenali  eksistensi Indonesia sebagai sebuah konsep berpikir yang selama ini dipahami secara monolitik. Dengan meminjam gagasan Eric Hobsbawm, sejarawan Inggris menyatakan bahwa ide-ide nasionalisme yang diwujudkan dengan runtuhnya monarki Eropa dan lahirnya negara republik baru sebagai fenomena termutakhir di Eropa sejak  awal abad ke-19. Ia menyebutnya invented tradition, atau sesuatu yang ditemuciptakan. Pun demikian dengan gagasan Indonesia, merupakan gagasan yang ditemuciptakan dan tidak memiliki akar sejarah yang panjang dibanding istilah-istilah kawasan lain yang telah eksis sebelumnya seperti Nusantara, Dipantara, Nederland Indie, bahkan Insulinde.  

Sejak awal, nama Indonesia hanya diperuntukkan sebagai entitas kebudayaan dan bagian dari simplifikasi terhadap kompleksitas kawasan “selatan Cina”. Ia hanya, atau lebih sering dibicarakan di mimbar akademik, alih-alih politik. Oleh sebab itu, sangat kental nuansa elitisnya. Bagi akademisi Barat yang saat itu sedang gandrung menghadirkan wawasan orientalisme sebagai antitesis oksidentalisme, kawasan “selatan cina” yang kemudian disebut “Indonesia” adalah penyedia bahan mentah yang sangat kaya bagi arkeolog, sejawaran, antropolog, linguistik, filolog, epigraf dan masih banyak lagi bidang ilmu lainnya.

Tercatat, konsep Indonesia mulai popular diwacanakan dan dibicarakan di dalam mimbar akademik dengan tujuan memudahkan identifikasi kebudayaan “selatan Cina” sejak tahun 1850. Nama Indonesia pertama kali ditemukan di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia yang terbit di Singapura. Ditulis oleh Richardson Logan dan Samuel Windsor Earl. Sebelum menghasilkan nama Indonesia, keduanya terlibat perdebatan linguistik. Logan memilih nama Melayunesia, sedangkan Earl memilih nama Indunesia. Belakangan Logan sepakat dengan Earl, lalu mengganti huruf U dengan O sehingga menjadi Indonesia ; artinya  kawasan kepulauan yang mendapatkan pengaruh India. Gagasan keduanya diteruskan dan dipopulerkan lagi oleh etnolog Jerman, Adolf Sebastian melalui bukunya Indonesien Oder Die Inseln des Malayischen Archipels dan Die Volkev des Ostl Asien, terbit 1884.

Oleh karena sifatnya yang elitis, nama Indonesia belum dilirik oleh founding fathers kita di era pergerakan nasional sejak awal abad XX. Organisasi modern proto Indonesia seperti Boedi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij masih memperlihatkan primordialisme golongan, suku dan agama dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Boedi utomo, di awal pendirian pada 20 Mei 1908 lalu dikukuhkan sebagai hari kebangkitan nasional, merekrut anak-anak lulusan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang radikal dan nonkooperatif seperti Tjipto, Sutomo dan Suwardi, pada akhirnya ditinggalkan oleh anggota-anggotanya  karena dianggap kurang progresif, jawasentris, feodal dan lebih banyak diisi aristokrat Jawa yang berposisi sebagai ambtenaar Pemerintah Belanda. Akibatnya, ide-ide kebangsaan yang sempat tersemai sejak digagas dr. Wahidin Sudirohusodo  layu sebelum mekar. Setelahnya, Budi Utomo menjadi organisasi proto Indonesia berstatus medioker, artinya bidang kajian hanya mencakup sosial dan kebudayaan. Tidak ada keberanian merambah ke persoalan-persoalan politik kebangsaan.

Pada tahun 1905, Raden Tirto Adi Suryo memelopori kelahiran Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor. Pramoedya, Sastrawan Lekra yang dihukum penjara tanpa perose peradilan di era Orde Baru menyebutnya sebagai “bapak pers nasional” dan menjadikan Tirto sebagai tokoh sentral di dalam novelnya yang bernas berjudul “sang pemula”. Gagasan Tirto tentang SDI di Bogor menjalar ke Solo ; Haji Samanhudi membentuk SDI di Solo pada 1912 untuk mewadahi pedagang batik lokal agar mampu bersaing dengan pedagang batik Cina yang didukung pemerintah kolonial. Radikalisasi ide-ide kemandirian pedagang batik lokal yang terwadahi di dalam organisasi SDI mencapai titik kulminasi di era Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Agar tidak terkesan ekonomistis, SDI diubah menjadi Sarekat Islam. Dengan begitu, basis gerakannya adalah Islam untuk mewujudkan keadilan sosial.  

Kooptasi ide-ide komunisme yang dibawa Henk Sneevliet melalui organisasi buruh Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) ke dalam tubuh SI menyebabkan organisasi itu pecah menjadi dua kubu yakni putih yang konvensional Islam dan merah yang komunis marxis. Akibatnya, militansi anggota SI terhadap kolonialisme menjadi berkurang. Popularitasnya menurun seiring dengan pengetatan pengawasan terhadap aktivitas politik HOS dan kondisi kesehatan yang semakin memburuk. Sepeninggal HOS, SI menatap sandyakalaning dan digantikan oleh organisasi radikal lainnya.

Serupa dan sejaman dengan SI Solo bentukan H. Samanhudi, Indische Partij (IP) hadir dengan visi keadilan antargolongan. Salah satu pendirinya, Douwes Dekker berdarah campuran. Dalam struktur sosial masyarakat Hindia Belanda saat itu, warga blasteran kurang mendapat tempat sehingga sering diacuhkan dalam interaksi sosialnya. Secara umum, citizenship masyarakat Hindia Belanda saat itu hanya mengakui tiga kelompok yakni Eropa (Belanda, Inggri, Prancis), Timur Asing (Cina, India, Jepang dan Arab), dan bumiputera. Stratifikasi sosial ini sekaligus berdampak pada dimensi lain khususnya pendidikan. Akibatnya, golongan masyarakat Eropa, karena kedudukannya paling atas, berhak mendapatkan layanan pendidikan yang memadai dibandingkan bumiputera. Hanya bumiputera yang orang tuanya memilki kedudukan penting dalam hirarki negara Kolonial saja yang bisa mendapatkan akses pendidikan Barat.

Umur IP tidak panjang. Radikalisasi yang ditunjukkan Suwardi Suryaningrat melalui tulisan als ik nederlander was, serta tulisan-tulisan agitatif Tjipto di beberapa surat kabar sebagai bagian dari pengalaman saat menjadi dokter pribumi yang bersedia diturunkan ke Malang saat kawasan itu mengalami wabah pes yang hebat, menyebabkan ketiganya diasingkan. Aktivitas politik ketiganya dianggap meresahkan dan menganggu visi rust en orde negara kolonial. Perjuangan berhenti dan akhirnya mati.      

Jalan Keindonesiaan

Meski tidak satupun dari organisasi proto Indonesia yang mempopulerkan nama Indonesia sebagai basis gerakan politik, aktivitas politik yang mereka lakukan telah menginspirasi jalan keindonesiaan. Dua organisasi berikutnya yang bisa dikatakan menjadikan Indonesia sebagai entitas politik adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Perhimpunan Indoesia (PI). Partai Komunis Indonesia lahir dari kubu merah, pecahan SI. Pendirinya, seperti Muso, Alimin dan Darsono adalah anak ideologis HOS Tjokroaminoto. Ketiganya bahkan pernah indekost di rumah HOS. Setiap malam selalu terlibat diskusi tentang marxisme dan revolusi-reovokusi besar dunia. Tidak ketinggalan, di kediaman HOS, Soekarno muda yang berhasil masuk ke HBS (hogere burgere school) digembleng mentalnya. Aktivitas diskusi tiap malam itu ibarat kawah candradimuka bagi tersemainya ide-ide kebangsaan Indonesia yang dilahirkan dari pemikiran Soekarno di era berikutnya.  

Pada tahun 1920, Partai Komunis Hindia terbentuk, namun hanya berselang setahun kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Hanya dalam hitungan bulan, organisasi pergerakan yang lahir dari anak-anak Leiden Belanda seperti Hatta dan Sjahrir yang menamai gerakannnya dengan Indische Vereeniging, segera menggantinya dengan nama Perhimpunan Indonesia (PI). Sejak saat itu, gerakan-gerakan kebangsaan gandrung menggunakan nama Indonesia di belakang nama organisasinya. Pada tahun 1927, Soekarno membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Namun, karea agitasi politiknya yang dianggap berbahaya menyebabkan ia dihukum di penjara Sukamiskin. Pada tahun 1930, ia diadili, dan memberi pleidoi yang sangat terkenal, “Indonesia Menggugat”.

Setelah tahun-tahun yang menegangkan, menyeret pemimpin organisasi pergerakan ke dalam penjara dan pengasingan seperti yang dialami Sjahrir dan Hatta yang diasing ke Papua Boven Digul, nuansa pergerakan nasional pasca bubarnya PNI dan PI berubah dari yang nonkooperatif menjadi kooperatif. Sejak saat itu, radikalisasi dan militansi berorganisasi mencapai titik jenuh hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942.

Di era Pendudukan Jepang 1942-1945, cita-cita kemerdekaan yang telah berfondasikan ide-ide keindonesiaan relatif cair.  Hanya saja, hal tersebut diwarnai dengan bipolarisasi ideologis antara Golongan Muda dengan Golongan Tua. Golongan Muda enggan tunduk pada fasisme Jepang. Oleh sebab itu, mereka mengambil sikap berseberangan dengan pemerintah Jepang. Mereka berusaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan dengan cara-cara ilegal melalui gerakan  bawah tanah. Sebaliknya, Golongan Tua yang diwakili Soekarno dan Hatta cenderung berhati-hati, sebab mereka sadar bahwa kekuatan militer Jepang itu nyata. Untuk meminimalisasi potensi pertumpahan darah, mereka cenderung kooperatif dengan Jepang. Titik puncak bipolarisasi golongan muda dan gologan tua melahirkan peristiwa Rengasdengklok pada 16 agustus 1945.

Perdebatan siapa tokoh yang dianggap cocok memproklamasikan kemerdekaan terjawab ; Soekarno dengan segenap popularitas yang dimiliki, pidato yang memukau telah menghasilkan dukungan seluruh masyarakat Jawa jika proklamasi dilakukan. Padahal, tiga bulan sebelum itu, tepatnya di bulan April 1945, Sjahrir telah lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi tidak mendapat respon memadai. Safari politik yang dilakukannya bersama Tan Malaka ke pelosok Jawa menghasilkan kesimpulan, sosok yang dipilih itu adalah Soekarno, Sang Putra Fajar. Pada Jumat, 17 Agustus 1945, sehari setelah peristiwa Rengasdengklok, pukul 10.00 Waktu Indonesia Barat, di Pengangsan Timur Jakarta, berkumandang Indonesia raya. Indonesia merdeka.  [T] 

____

Baca artikel lain dari penulis PUTU HENDRA MAS MARTAYANA

Tags: HUT Kemerdekaan RIIndonesiakemerdekaansejarahSejarah Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ini Penyebab Kita Lebih Hapal Nama Karakter Anime Daripada Nama Pahlawan Bangsa Sendiri

Next Post

Membaca Gajah Mada di Sekitar Hari Kemerdekaan | Rembug Sastra Sarasastra Yayasan Janahita Mandala Ubud

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Gajah Mada di Sekitar Hari Kemerdekaan | Rembug Sastra Sarasastra Yayasan Janahita Mandala Ubud

Membaca Gajah Mada di Sekitar Hari Kemerdekaan | Rembug Sastra Sarasastra Yayasan Janahita Mandala Ubud

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co