2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
July 27, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Juli 2021

Orang Bali umumnya sudah lupa, bahkan tidak tahu, sebelum dikenal dupa dengan lidi karena pengaruh Tionghoa, leluhur kita menggunakan kukus-harum atau padipan dengan bahan utama kayu Majegau atau dikenal dengan nama Cempaga.

Kata majegau masih (tertinggal) terselip dalam tembang orang Bali setiap kali bersembahyang, yang menembangkan syair tembang ini: “Asep menyan majegau” — Asep menyan majegau, cendana nuhur dewane, mangda Ida gelis rawuh, mijil sakeng luring langit, sampun madabdaban sami, maring giri meru reko.

Pohon Majegau dahulunya menjadi kebanggaan karena kekayaan hayati yang sangat khas dari pulau Bali. Pohon Majegau adalah flora identitas Provinsi Bali yang terlupakan. Bahkan nama lainnya, yaitu Cempaga, tidak lagi dikenal sebagai nama pohon di Bali — orang sudah lupa kalau desa Cempaga (baik yang ada di Bangli dan Buleleng) adalah kawasan yang dulu hutan Majegau atau Cempaga. Nama ilmiah dari Pohon Majegau atau Cempaga adalah Dysoxylum densiflorum. Masuk dalam keluarga Meliaceae yang berkerabat dengan tanaman mahoni. Pohon ini bertumbuh mencapai ketinggian hingga 45 meter, dengan diameter batang rata-rata 65 cm. Kulit pohon ini berwarna kelabu-hijau. Buah berwarna kelabu-hijau yang berbentuk buah pir, memiliki panjang hingga 4 cm.

Majegau/cempaga dikenal dengan berbagai nama daerah yang berbeda-beda, pohon pingku (Sunda), cempaga (Jawa), kheuruh (Madura), dan tumbawa rendai (Minahasa).

Bahasa Indonesia dari Cempaga/Majegau adalah Gaharu. Karena harumnya ketika dibakar senada dengan cendana, sampai-sampai ada ungkapan: “Sudah gaharu, cendana pula”.

Dalam khazanah pohon-pohon sakral di Bali, Majegau dipercaya sebagai simbol Bhatara Sadasiwa. Lontar Usana Bali menyebutkan harum asep majegau adalah sarana nedungang Hyang Sada Siwa. Cempaga atau Majegau pun dipakai secara khusus dalam upacara manusa yadnya. Kayu majegau dibakar dalam pelaksanaan upakara sebagai padupan-padipan, harum asap majegau ini yang dikenal sebagai kukus-harum. Daun dan bunga untuk canang. Parutan kulit kayunya dapat dipakai sebagai pengganti kapur untuk membuat porosan.

Dikisahkan, di masa lalu, ketika para pandita penasihat raja membuat agni-horta (homa-traya) — sebagaimana disebut dalam Lontar TATTWA WIT — ketika Bhagawan Purbbhasomi dan Bhagawan Romacana meruwat bumi, majegau dipakai sebagai kukus-harum — maka papanganan agni, samiddha utama, candhana, majegau, kelapa, menyan, titibakaken tengah kundha…

Lontar Gegelaran Pemangku Sangkulputih menyebutkan pohon ini sebagai sarana menurunkan para leluhur dan dewata: Om Pukulun paduka Bhatara, manusanira aminta nugraha, ring para Bhatara malejeg maring menyan majegau…

Pohon majegau [Foto diambil dari https://www.dosenpendidikan.co.id]

Sementara itu, dalam dunia usada, dalam lontar Taru Pramana, disebutkan bahwa Majegau dipakai sebagai obat nelunelu (mual- mual). Bagian yang dipakai: Getah, akar dan daun majegau diisi dengan air cuka, garam ireng (uyah ireng) lalu diulek (cakcak), airnya disaring kemudian diminum.

Menurut seorang tukang kayu yang tinggal tidak jauh dari desa Cempaga (Buleleng) dulu memang banyak ada Majegau di sana. Demikian juga di hutan Selat.

Saya tidak menyangka ketika membeli kayu bekas, mendapat beberapa batang kayu bekas itu adalah majegau. Kabarnya memang dulu majegau banyak dibalak di hutan dan dijadikan bahan bangunan. Demikian juga, di jaman patung bust (patung setengah badan) dari Bali banyak dibuat, dari semenjak tahun 1930-an sampai 1970-an, kurang lebih 50 tahun, pembuatan bust banyak berbahan kayu majegau.Tanpa sengaja ketika saya menggosok salah satu koleksi bust saya, tercium aroma harum majegau. Ternyata, kabar tersebut tidak isapan jempol, ada banyak bust dibuat dengan bahan majegau.

Masyarakat Bali, kita semua, sepertinya harus membayar kembali kelangkaan majegau yang habis oleh berbagai konsumsi tidak bijak kita di masa lalu, dengan cara kembali menanam majegau.

Terkhusus, masyarakat Cempaga, baik yang ada di Bangli dan Buleleng, ada baiknya kembali menanam Majegau karena nama lain dari Cempaga adalah Majegau. Agar generasi mudanya paham kalau nama desanya adalah berasal dari nama pohon.

Para ahli kehutanan menilai Bali perlu kembali menanam pohon ini untuk penghutanan kembali Bali karena pohon ini pohon penting dalam khazanah upakara dan pohon asli pulau ini. Bali memerlukan banyak majegau, sekarang dan di masa depan, untuk renovasi pura. Kayu Majegau adalah kayu yang sangat tinggi kedudukannya sebagai pelinggih dan bahan utama perbaikan pura-pura di Bali di masa lalu. [T]

Tags: bali agadesa tuafloraPohon Majegau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Next Post

Taman Asri Jalanan Bersih| Berterimakasihlah kepada Pak Regen dan Kawan-kawan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Taman Asri Jalanan Bersih| Berterimakasihlah kepada Pak Regen dan Kawan-kawan

Taman Asri Jalanan Bersih| Berterimakasihlah kepada Pak Regen dan Kawan-kawan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co