14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Dian Suryantini by Dian Suryantini
July 26, 2021
in Khas
Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Menyusuri jembatan bambu di tengah taman mangrove Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng, Bali

Jembatan bambu itu memanjang lurus di sela-sela hutan bakau. Saya menyusuri jembatan itu perlahan, terasa seperti memasuki lorong dengan dinding hutan yang hijau. Apalagi, di setiap satu kilometer, terdapat gazebo kecil sebagai tempat jeda. Dari gazebo, lihatlah ke bawah, ke dalam air di antara akar pohon. Ikan-ikan kecil wara-wiri ke sana kemari. Mereka nampak bahagia.

Jembatan panjang lurus itu berada di kawasan Konservasi Mangrove Putri Menjangan di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Setengah hari saya berjalan-jalan di atas jembatan, menikmati beragam jenis mangrove.

“Ada duabelas jenis pohon mangrove atau bakau di hutan ini, semuanya asli dari Desa Pejarakan,” kata Abdul Hari, Kamis (22/7/2021). Abdul Hari yang biasa disapa Riri adalah Ketua Satgas Lingkungan Desa Pejarakan yang bersedia menemani saya berkeliling hutan.

Saya dengan santai menapaki jembatan bambu yang terbentang sepanjang hutan. Selain ikan, sesekali saya lirik ada kepiting kecil yang berjalan miring di akar-akar tunjang. Ombak laut sesekali menepi menghempas lembut pohon bakau. Ahh, damai sekali rasanya.

Di tengah hutan saya melihat ibu-ibu yang sedang mengumpulkan ranting-ranting mangrove kering. Ranting kering memang diizinkan untuk diambil sebagai kayu bakar. Di Pejarakan memang banyak warga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Tentang 12 jenis mangrove yang ada di kawasan Desa Pejarakan, Riri menjelaskan jenis pertama adalah Rhizepora, Sp. Jenis ini ada tiga yaitu Rhizepora Mucronata, Rhizepora Setylosa, Rhizepora Apiculata. Jenis berikutnya adalag Ceriops. Jenis ini juga dibagi menjadi dua, Ceriops Tagal dan Ceriops Ustralis. Lalu ada Sonnaratia Alba, Lumitzera Recemosa, Bruguera Gymnorrhiza, Acegiras Grinatum, Oxbornea Grinatum.

Masing-masing dari jenis itu memiliki wilayah pertumbuhan yang berbeda berdasarkan subtrat atau media tanamnya. Namun secara umum manfaat dan fungsinya sama. Yakni sebagai penahan gelombang air laut. “Dari jenis itu ada yang ditanam lebih dominan karena cocok dengan subtratnya. Seperti misalnya, di daerah Teluk Banyuwedang lebih dominan jenis Rhizepora,sp. Lalu di kawasan Putri Menjangan tempat saya berjalan-jalan itu lebih ke penanaman mangrove jenis Sonnaratia Alba. Tapi Rhezipora juga ada,” kata Riri.

Jika bergerak lebih ke timur, terutama di wilayah Pura Batu Togog sampai ke Teluk Sumbekima, akan ditemukan lebih banyak lagi jenis mangrove. Sebab kultur tanah atau subtratnya bervariatif dengan kondisinya hampir semimbang. “Semua jenis bisa dijumpai di sana,” kata Riri.

Apalagi, di Teluk Banyuwedang kondisi tanahnya berlumpur, ada pasir dan kerikil. Kondisi semacam itu membuat pertumbuhan jenis Sonaratia Alba lebih cepat. Jenis ini tumbuh dari biji-biji buah mangrove yang sudah tua. “Buah itu pecah bila sudah tua dan bijinya terjatuh menyebar ke sekitar di antara kerikil-kerikil itu,” ujar Riri.

Berwisata di taman mangrove Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng

Wisata Edukasi

Untuk upaya edukasi, Riri tengah menata kawasan Putri Menjangan. Jembatan bambu yang ada perlahan mulai diperbaiki agar pengunjung dapat melihat lebih dekat sepeti apa didalam hutan mangrove. Selain itu juga di samping kawasan itu, Riri dan kelompok Putri Menjangan membuka rumah bibit. Di rumah bibit itu terdapat 12 jenis mangrove yang tumbuh. Mulai dari bibit propagul hingga bibit yang sudah bertunas siap tanam.

Saat edukasi dilakukan, maka terlebih dahulu diarahkan ke rumah bibit untuk melihat seperti apa mangrove sebelum tumbuh besar. Kemudian, pengunjung akan diajak untuk menanam. Saat proses penanaman ini Riri bersama Satgas Lingkungan, kembali memberikan penjelasan tentang cara menanam mangrove. Jika bibitnya berupa propagul, maka tinggal ditancapkan saja. Jika sudah berupa tunas, maka harus dibuatkan lubang tanamnya dulu. Tentunya disesuaikan dengan subtrat dari jenis mangrove. Setelah itu barulah diajak berkeliling hutan mangrove melalui jembatan bambu yang memecah hutan mangrove.

Begitulah cerita Riri mengalir sembari menemani saya menikmati suasana hutan bakau. Sekembalinya dari menyusuri jembatan bambu, saya diajak rehat sejenak. Kami menuju sebuah warung sederhana di dekat taman Konservasi Putri Menjangan. Di sana sudah banyak teman Riri yang nongkrong sambil ngopi-ngopi ganteng. Sekitar 10 orang kurang lebih.

Ikan Senang Nelayan Senang

Suasana terik saat itu tak terasa. Sebab, hawa sejuk datang dari celoteh teman-teman Riri yang berprofesi sebagai nelayan. Guyonan demi guyonan terlontar dari mereka yang sedang rehat usai melaut. Saya ingat celetukan seorang nelayan yang mengatakan salah satu temannya mirip ikan cotek. “Monyong begitu, mirip cotek sampean,” guyonnya diiringi gelak tawa yang lainnya. “Dapat ikan banyak sampean bisanya cuma ngeledek,” sahut yang lainnya menimpali.

Beberapa detik saya terbius oleh guyonan mereka. Hingga Putu, salah satu nelayan berkata kepada saya bahwa ia sangat bersyukur. Sejak bakau ini tumbuh subur di pesisir pantai desa Pejarakan, aktivitas melaut mereka terasa lebih menyenangkan. Sebab, ikan-ikan yang dulunya harus ia cari di tengah laut dengan jarak puluhan mil, kini bisa ditangkap dengan mudah di dekat pantai.

“Cari ikannya bisa agak ke pinggir sekarang, Mbak. Ikan-ikannya senang ada di bakau-bakau itu. Ikan senang, saya juga senang,” ujarnya sembari tertawa riang.

Rasanya kebahagiaan mereka tak bisa ditukar dengan apa pun. Kehidupan sebagai nelayan di pesisir Pantai Desa Pejarakan dengan anugrah biota laut merupakan harta yang paling berharga bagi mereka.

Hebatnya lagi, buah mangrove yang ada di Desa Pejarakan itu diproduksi sebagai makanan yang nikmat. Ibu-ibu nelayan dengan difasilitasi oleh PT Pertamina membuat olahan tepung serta sirup dari buah mangrove. Bahkan, hasilnya pernah dipamerkan hingga ke Jakarta. “Itu yang buat ibu-ibu nelayannya. Pernah sampai ke Jakarta ikut pameran,” kata Ketua Nelayan Banyumandi, Nyoman Sandi.

Jadi tidak hanya ikan, kepiting dan kerang yang bisa didapat dari mangrove yang tumbuh di pesisir Desa Pejarakan. Perekonomuan mereka sedikit-demi sedikit terangkat karena geliat ibu-ibu nelayan yang melakukan pengolahan terhadap buah mangrove. “Buahnya itu seperti apel. Bulat. Itu yang dipakai untuk tepung. Dari tepungnya itu dibuat jajanan,” ujar Sandi.

Sempat Kritis, Hijau Kembali

Kawasan Konservasi Mangrove Putri Menjangan di Desa Pejarakan bukan sebuah kawasan yang sejak dulu memang hijau seperti itu. Pada tahun 1990-an, hutan mangrove banyak yang ditebang dan mati. Masyarakat melakukan itu karena mereka ingin membuka tambak. Baik tambak udang maupun tambak ikan. Seiring berjalannya waktu, kerusakan pun tak bisa dihindari. Abrasi semakin parah. Bila gelombang tinggi, tambak-tambak yang ada di pinggir pantai itu terhempas dan berdampak ada menurunnya produktivitas tambak.

Kondisi itu berlangsung cukup lama, hingga warga Desa Pejarakan menyadari pentingnya ada penahan gelombang dan media pencegah abrasi. Tahun 2012, kelompok masyarakat dan Satgas Lingkungan beramai-ramai menanam mangrove di sepanjang garis pantai Desa Pejarakan. Penanaman rutin dilakukan setiap tahun dengan menanam 5.000 bibit mangrove. Bibit-bibit itu diambil dari buah mangrove yang sudah tua, yang masih tersisa saat itu.

a Satgas Lingkungan Desa Pejarakan selalu memantau pertumbuhan mangrove di pessir desa itu

Tahun terus berganti, masyarakat mulai merasakan dampaknya. Abrasi berkurang dan ekosistem laut terjaga. Warga sekitar pun mulai terdampak dengan meningkatnya produktivitas biota laut seperti ikan, udang dan kepiting yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hingga saat ini sudah ada 40 hektar lebih hutan mangrove yang terbentang di wilayah pesisir pantai desa Pejarakan sepanjang 14,23 km dari total 76,89 km di Kecamatan Gerokgak. Sebab, setiap tahunnya selalu dilakukan restorasi terhadap kondisi mangrove di kawasan tersebut.

Marcito nelayan desa Pejarakan yang sudah melaut dari tahun 1990 merasakan dampaknya. Dulu sebelum ada mangrove di pesisir desa Pejarakan ikan-ikan seperti barakuda dan sneper itu tidak ada. Hilang entah kemana. Saat melaut, ia pun harus mengambil jarak belasan mil untuk bisa menjala atau memancing ikan. “Jauh dulu. Sampe ke dalam,” tuturnya.

Beda dulu, beda sekarang. Jika dulu mangrove banyak ditebang, kini mulai dikembangkan. Marcito pun turut langsung dalam konservasi itu. Karena sudah merasakan dampaknya, Marcito bersama kawan-kawannya selalu turut bila ada upaya penanaman atau bersih-bersih sampah di sekitar pantai. “Sejak ada mangrove banyak yang kami dapat. Ikat yang dulu hilang, kini dia telah kembali pulang. Cari ikan bisa lebih ke pinggir. Terus ibu-ibunya bisa juga cari kerang yang di akar-akar mangrove itu lo, Mbak,” kata Marcito antusias.

Jika sedang musim, Marcito bisa mendapat 20 kilogram ikan awan hasil menjala. Kemudian ia serahkan kepada istrinya untuk kemudian dijual secara berkeliling desa. “Kalau sebelum mangrove ada, angin kan kenceng ya. Namanya di laut. Ikan-ikan pada mencar semua. Nah pas mangrove ada, ada penahan anginnya. Lebih mudah tangkap ikan,” sambungnya.

Dari upaya konservasi yang dilakukan, Satgas Lingkungan Desa Pejarakan tidak sendiri, mereka selalu menggandeng masyarakat lokal, kelompok nelayan, pelajar dan mahasiswa hingga pihak ketiga lainnya. Aksi yang dilakukan juga tidak saja sekadar menanam, namun juga mereka memberikan edukasi terkait keberadaa hutan mangrove.

Nah, dari 12 jenis mangrove yang ditanam di Desa Pejarakan, Satgas Lingkungan sama sekali tidak pernah mengusik keberadaan mangrove itu. Tidak ada yang ditambah dan tidak ada yang dikurangi juga. Yang biasa-biasa saja. Sebab jika ditambah ada kekhawatiran akan merusak ekosistem yang telah terbentuk sebelumnya. Alhasil ekosistem yang ada menjadi tidak seimbang. Selain itu, jika mendatangkan jenis baru diluar dari jenis yang sudah ada, ada ketakutan jenis yang asli akan kalah dengan jenis baru yang ditanam.

Untuk itu, pihak desa dan Satgas Lingkungan tetap menjaga 12 jenis mangrove di kawasan itu. Namun dari 12 jenis itu, penanaman difokuskan pada kelompok Rhizepora,sp. Sebab pada mangrove jenis ini biota laut paling banyak dapat beradaptasi dan berkembang biak. Akar-akar tunjang dari jenis ini sangat cocok sebagai tempat pemijahan ikan, tempat berlindung bagi telur-telur ikan dan biota lainnya. Lalu pada bagian atas akan banyak sarang-sarang burung. Baik yang hinggap untuk bermigrasi ataupun yang berkembang biak di sana.

Kawasan taman mangrove di Desa Pejarakan tidak saja difungsikan sebagai kawasan konservasi saja. Namun juga dimanfaatkan sebagai kawasan wisata edukasi. Yang dikelola untuk edukasi itu, dulunya fokus di Kawasan Putri Menjangan di dekat pantai. Tapi sekarang karena Putri Menjangan sudah direstorasi, kawasan edukasi lebih mengarah di wilayah timur. Tepatnya di perbatasan Desa Sumberkima-Desa Pejarakan, khususnya di Teluk Sumberkima.

Di wilayah itu juga dilakukan upaya konservasi dengan menggunakan pola tanam rumpun berjarak.  Dengan pola tanam ini gelombang laut masih bisa menembus rumpun dan tidak tertahan langsung sehingga tidak merusak bibit yang mulai bertunas. Penanamannya setiap satu kelompok atau satu rumpun berisi 500 bibit sekali tanam. Pada jarak 15 meter dibuat lagi rumpun lain dengan isian 500 bibit propagul. Pada 10 meter berikutnya diisi 500 atau 400. Arahnya berbentuk zigzag. Tidak dilakukan secara berbaris atau berjejer.

Sebagaimana kata Riri, konservasi mangrove yang dilakukan bukan semata-mata hanya untuk mencegah terjadinya abrasi saja, tapi konservasi itu dilakukan juga dalam rangka pemulihan hutan mangrove. “Meski kondisi hutan mangrove di kawasan Bali Barat itu tidak terlalu parah, namun konservasi harus terus dilakukan,” katanya.

Warga Desa Pejarakan menanam mangrove

Upaya-upaya yang dilakukan warga ternyata bersambung dengan program yang dilakukan pemerintah. Pada 23 Oktober 2020 pemerintah melaksankan Program Pemulihan Mangrove. Pemulihan hutan mangrove di wilayah Bali dilakukan lewat Program Padat Karya, dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Unda Anyar, yang merupakan Unit Pelaksanaan Teknis Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Pada program itu dihadiri langsung Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Alue Dohong. Dalam pidatonya ia menyampaikan Indonesia sendiri memiliki sebaran mangrove seluas 3.311,207 hektar yang berada di dalam dan di luar kawasan hutan, yang diantaranya seluas 637.624 hektar termasuk dalam kondisi kritis dan perlu dipulihkan. Dan Bali sendiri memiliki target 100 hektar yang harus dipulihkan.  Program Padat Karya Penanaman Mangrove di Teluk Terima ini melibatkan Kelompok Wana Segara desa Sumberklampok sebanyak 25 orang. Kelompok ini diberikan upah dengan sistem pembayaran langsung ke rekening pribadi. Diberikan sebesar Rp 110 ribu per Hari Orang Kerja (HOK). Selain sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, sekaligus menjadi bagian dari corrective measure di era kabinet kerja 2019-2024.

Hutan mangrove menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir yang dalam masa pandemi ini merasakan dampak penurunan ekonomi yang paling signifikan. Oleh karena itu, melalui Program Padat Karya Penanaman Mangrove tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus perekonomian bagi masyarakat di sekitar ekosistem mangrove dan sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional. [T]

Tags: hutan bakaukonservasimangrovePariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anom Darsana | Telisik Tekhnologi, Telusur Seni Tradisi

Next Post

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co