3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Dian Suryantini by Dian Suryantini
July 26, 2021
in Khas
Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Menyusuri jembatan bambu di tengah taman mangrove Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng, Bali

Jembatan bambu itu memanjang lurus di sela-sela hutan bakau. Saya menyusuri jembatan itu perlahan, terasa seperti memasuki lorong dengan dinding hutan yang hijau. Apalagi, di setiap satu kilometer, terdapat gazebo kecil sebagai tempat jeda. Dari gazebo, lihatlah ke bawah, ke dalam air di antara akar pohon. Ikan-ikan kecil wara-wiri ke sana kemari. Mereka nampak bahagia.

Jembatan panjang lurus itu berada di kawasan Konservasi Mangrove Putri Menjangan di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Setengah hari saya berjalan-jalan di atas jembatan, menikmati beragam jenis mangrove.

“Ada duabelas jenis pohon mangrove atau bakau di hutan ini, semuanya asli dari Desa Pejarakan,” kata Abdul Hari, Kamis (22/7/2021). Abdul Hari yang biasa disapa Riri adalah Ketua Satgas Lingkungan Desa Pejarakan yang bersedia menemani saya berkeliling hutan.

Saya dengan santai menapaki jembatan bambu yang terbentang sepanjang hutan. Selain ikan, sesekali saya lirik ada kepiting kecil yang berjalan miring di akar-akar tunjang. Ombak laut sesekali menepi menghempas lembut pohon bakau. Ahh, damai sekali rasanya.

Di tengah hutan saya melihat ibu-ibu yang sedang mengumpulkan ranting-ranting mangrove kering. Ranting kering memang diizinkan untuk diambil sebagai kayu bakar. Di Pejarakan memang banyak warga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Tentang 12 jenis mangrove yang ada di kawasan Desa Pejarakan, Riri menjelaskan jenis pertama adalah Rhizepora, Sp. Jenis ini ada tiga yaitu Rhizepora Mucronata, Rhizepora Setylosa, Rhizepora Apiculata. Jenis berikutnya adalag Ceriops. Jenis ini juga dibagi menjadi dua, Ceriops Tagal dan Ceriops Ustralis. Lalu ada Sonnaratia Alba, Lumitzera Recemosa, Bruguera Gymnorrhiza, Acegiras Grinatum, Oxbornea Grinatum.

Masing-masing dari jenis itu memiliki wilayah pertumbuhan yang berbeda berdasarkan subtrat atau media tanamnya. Namun secara umum manfaat dan fungsinya sama. Yakni sebagai penahan gelombang air laut. “Dari jenis itu ada yang ditanam lebih dominan karena cocok dengan subtratnya. Seperti misalnya, di daerah Teluk Banyuwedang lebih dominan jenis Rhizepora,sp. Lalu di kawasan Putri Menjangan tempat saya berjalan-jalan itu lebih ke penanaman mangrove jenis Sonnaratia Alba. Tapi Rhezipora juga ada,” kata Riri.

Jika bergerak lebih ke timur, terutama di wilayah Pura Batu Togog sampai ke Teluk Sumbekima, akan ditemukan lebih banyak lagi jenis mangrove. Sebab kultur tanah atau subtratnya bervariatif dengan kondisinya hampir semimbang. “Semua jenis bisa dijumpai di sana,” kata Riri.

Apalagi, di Teluk Banyuwedang kondisi tanahnya berlumpur, ada pasir dan kerikil. Kondisi semacam itu membuat pertumbuhan jenis Sonaratia Alba lebih cepat. Jenis ini tumbuh dari biji-biji buah mangrove yang sudah tua. “Buah itu pecah bila sudah tua dan bijinya terjatuh menyebar ke sekitar di antara kerikil-kerikil itu,” ujar Riri.

Berwisata di taman mangrove Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng

Wisata Edukasi

Untuk upaya edukasi, Riri tengah menata kawasan Putri Menjangan. Jembatan bambu yang ada perlahan mulai diperbaiki agar pengunjung dapat melihat lebih dekat sepeti apa didalam hutan mangrove. Selain itu juga di samping kawasan itu, Riri dan kelompok Putri Menjangan membuka rumah bibit. Di rumah bibit itu terdapat 12 jenis mangrove yang tumbuh. Mulai dari bibit propagul hingga bibit yang sudah bertunas siap tanam.

Saat edukasi dilakukan, maka terlebih dahulu diarahkan ke rumah bibit untuk melihat seperti apa mangrove sebelum tumbuh besar. Kemudian, pengunjung akan diajak untuk menanam. Saat proses penanaman ini Riri bersama Satgas Lingkungan, kembali memberikan penjelasan tentang cara menanam mangrove. Jika bibitnya berupa propagul, maka tinggal ditancapkan saja. Jika sudah berupa tunas, maka harus dibuatkan lubang tanamnya dulu. Tentunya disesuaikan dengan subtrat dari jenis mangrove. Setelah itu barulah diajak berkeliling hutan mangrove melalui jembatan bambu yang memecah hutan mangrove.

Begitulah cerita Riri mengalir sembari menemani saya menikmati suasana hutan bakau. Sekembalinya dari menyusuri jembatan bambu, saya diajak rehat sejenak. Kami menuju sebuah warung sederhana di dekat taman Konservasi Putri Menjangan. Di sana sudah banyak teman Riri yang nongkrong sambil ngopi-ngopi ganteng. Sekitar 10 orang kurang lebih.

Ikan Senang Nelayan Senang

Suasana terik saat itu tak terasa. Sebab, hawa sejuk datang dari celoteh teman-teman Riri yang berprofesi sebagai nelayan. Guyonan demi guyonan terlontar dari mereka yang sedang rehat usai melaut. Saya ingat celetukan seorang nelayan yang mengatakan salah satu temannya mirip ikan cotek. “Monyong begitu, mirip cotek sampean,” guyonnya diiringi gelak tawa yang lainnya. “Dapat ikan banyak sampean bisanya cuma ngeledek,” sahut yang lainnya menimpali.

Beberapa detik saya terbius oleh guyonan mereka. Hingga Putu, salah satu nelayan berkata kepada saya bahwa ia sangat bersyukur. Sejak bakau ini tumbuh subur di pesisir pantai desa Pejarakan, aktivitas melaut mereka terasa lebih menyenangkan. Sebab, ikan-ikan yang dulunya harus ia cari di tengah laut dengan jarak puluhan mil, kini bisa ditangkap dengan mudah di dekat pantai.

“Cari ikannya bisa agak ke pinggir sekarang, Mbak. Ikan-ikannya senang ada di bakau-bakau itu. Ikan senang, saya juga senang,” ujarnya sembari tertawa riang.

Rasanya kebahagiaan mereka tak bisa ditukar dengan apa pun. Kehidupan sebagai nelayan di pesisir Pantai Desa Pejarakan dengan anugrah biota laut merupakan harta yang paling berharga bagi mereka.

Hebatnya lagi, buah mangrove yang ada di Desa Pejarakan itu diproduksi sebagai makanan yang nikmat. Ibu-ibu nelayan dengan difasilitasi oleh PT Pertamina membuat olahan tepung serta sirup dari buah mangrove. Bahkan, hasilnya pernah dipamerkan hingga ke Jakarta. “Itu yang buat ibu-ibu nelayannya. Pernah sampai ke Jakarta ikut pameran,” kata Ketua Nelayan Banyumandi, Nyoman Sandi.

Jadi tidak hanya ikan, kepiting dan kerang yang bisa didapat dari mangrove yang tumbuh di pesisir Desa Pejarakan. Perekonomuan mereka sedikit-demi sedikit terangkat karena geliat ibu-ibu nelayan yang melakukan pengolahan terhadap buah mangrove. “Buahnya itu seperti apel. Bulat. Itu yang dipakai untuk tepung. Dari tepungnya itu dibuat jajanan,” ujar Sandi.

Sempat Kritis, Hijau Kembali

Kawasan Konservasi Mangrove Putri Menjangan di Desa Pejarakan bukan sebuah kawasan yang sejak dulu memang hijau seperti itu. Pada tahun 1990-an, hutan mangrove banyak yang ditebang dan mati. Masyarakat melakukan itu karena mereka ingin membuka tambak. Baik tambak udang maupun tambak ikan. Seiring berjalannya waktu, kerusakan pun tak bisa dihindari. Abrasi semakin parah. Bila gelombang tinggi, tambak-tambak yang ada di pinggir pantai itu terhempas dan berdampak ada menurunnya produktivitas tambak.

Kondisi itu berlangsung cukup lama, hingga warga Desa Pejarakan menyadari pentingnya ada penahan gelombang dan media pencegah abrasi. Tahun 2012, kelompok masyarakat dan Satgas Lingkungan beramai-ramai menanam mangrove di sepanjang garis pantai Desa Pejarakan. Penanaman rutin dilakukan setiap tahun dengan menanam 5.000 bibit mangrove. Bibit-bibit itu diambil dari buah mangrove yang sudah tua, yang masih tersisa saat itu.

a Satgas Lingkungan Desa Pejarakan selalu memantau pertumbuhan mangrove di pessir desa itu

Tahun terus berganti, masyarakat mulai merasakan dampaknya. Abrasi berkurang dan ekosistem laut terjaga. Warga sekitar pun mulai terdampak dengan meningkatnya produktivitas biota laut seperti ikan, udang dan kepiting yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hingga saat ini sudah ada 40 hektar lebih hutan mangrove yang terbentang di wilayah pesisir pantai desa Pejarakan sepanjang 14,23 km dari total 76,89 km di Kecamatan Gerokgak. Sebab, setiap tahunnya selalu dilakukan restorasi terhadap kondisi mangrove di kawasan tersebut.

Marcito nelayan desa Pejarakan yang sudah melaut dari tahun 1990 merasakan dampaknya. Dulu sebelum ada mangrove di pesisir desa Pejarakan ikan-ikan seperti barakuda dan sneper itu tidak ada. Hilang entah kemana. Saat melaut, ia pun harus mengambil jarak belasan mil untuk bisa menjala atau memancing ikan. “Jauh dulu. Sampe ke dalam,” tuturnya.

Beda dulu, beda sekarang. Jika dulu mangrove banyak ditebang, kini mulai dikembangkan. Marcito pun turut langsung dalam konservasi itu. Karena sudah merasakan dampaknya, Marcito bersama kawan-kawannya selalu turut bila ada upaya penanaman atau bersih-bersih sampah di sekitar pantai. “Sejak ada mangrove banyak yang kami dapat. Ikat yang dulu hilang, kini dia telah kembali pulang. Cari ikan bisa lebih ke pinggir. Terus ibu-ibunya bisa juga cari kerang yang di akar-akar mangrove itu lo, Mbak,” kata Marcito antusias.

Jika sedang musim, Marcito bisa mendapat 20 kilogram ikan awan hasil menjala. Kemudian ia serahkan kepada istrinya untuk kemudian dijual secara berkeliling desa. “Kalau sebelum mangrove ada, angin kan kenceng ya. Namanya di laut. Ikan-ikan pada mencar semua. Nah pas mangrove ada, ada penahan anginnya. Lebih mudah tangkap ikan,” sambungnya.

Dari upaya konservasi yang dilakukan, Satgas Lingkungan Desa Pejarakan tidak sendiri, mereka selalu menggandeng masyarakat lokal, kelompok nelayan, pelajar dan mahasiswa hingga pihak ketiga lainnya. Aksi yang dilakukan juga tidak saja sekadar menanam, namun juga mereka memberikan edukasi terkait keberadaa hutan mangrove.

Nah, dari 12 jenis mangrove yang ditanam di Desa Pejarakan, Satgas Lingkungan sama sekali tidak pernah mengusik keberadaan mangrove itu. Tidak ada yang ditambah dan tidak ada yang dikurangi juga. Yang biasa-biasa saja. Sebab jika ditambah ada kekhawatiran akan merusak ekosistem yang telah terbentuk sebelumnya. Alhasil ekosistem yang ada menjadi tidak seimbang. Selain itu, jika mendatangkan jenis baru diluar dari jenis yang sudah ada, ada ketakutan jenis yang asli akan kalah dengan jenis baru yang ditanam.

Untuk itu, pihak desa dan Satgas Lingkungan tetap menjaga 12 jenis mangrove di kawasan itu. Namun dari 12 jenis itu, penanaman difokuskan pada kelompok Rhizepora,sp. Sebab pada mangrove jenis ini biota laut paling banyak dapat beradaptasi dan berkembang biak. Akar-akar tunjang dari jenis ini sangat cocok sebagai tempat pemijahan ikan, tempat berlindung bagi telur-telur ikan dan biota lainnya. Lalu pada bagian atas akan banyak sarang-sarang burung. Baik yang hinggap untuk bermigrasi ataupun yang berkembang biak di sana.

Kawasan taman mangrove di Desa Pejarakan tidak saja difungsikan sebagai kawasan konservasi saja. Namun juga dimanfaatkan sebagai kawasan wisata edukasi. Yang dikelola untuk edukasi itu, dulunya fokus di Kawasan Putri Menjangan di dekat pantai. Tapi sekarang karena Putri Menjangan sudah direstorasi, kawasan edukasi lebih mengarah di wilayah timur. Tepatnya di perbatasan Desa Sumberkima-Desa Pejarakan, khususnya di Teluk Sumberkima.

Di wilayah itu juga dilakukan upaya konservasi dengan menggunakan pola tanam rumpun berjarak.  Dengan pola tanam ini gelombang laut masih bisa menembus rumpun dan tidak tertahan langsung sehingga tidak merusak bibit yang mulai bertunas. Penanamannya setiap satu kelompok atau satu rumpun berisi 500 bibit sekali tanam. Pada jarak 15 meter dibuat lagi rumpun lain dengan isian 500 bibit propagul. Pada 10 meter berikutnya diisi 500 atau 400. Arahnya berbentuk zigzag. Tidak dilakukan secara berbaris atau berjejer.

Sebagaimana kata Riri, konservasi mangrove yang dilakukan bukan semata-mata hanya untuk mencegah terjadinya abrasi saja, tapi konservasi itu dilakukan juga dalam rangka pemulihan hutan mangrove. “Meski kondisi hutan mangrove di kawasan Bali Barat itu tidak terlalu parah, namun konservasi harus terus dilakukan,” katanya.

Warga Desa Pejarakan menanam mangrove

Upaya-upaya yang dilakukan warga ternyata bersambung dengan program yang dilakukan pemerintah. Pada 23 Oktober 2020 pemerintah melaksankan Program Pemulihan Mangrove. Pemulihan hutan mangrove di wilayah Bali dilakukan lewat Program Padat Karya, dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Unda Anyar, yang merupakan Unit Pelaksanaan Teknis Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Pada program itu dihadiri langsung Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Alue Dohong. Dalam pidatonya ia menyampaikan Indonesia sendiri memiliki sebaran mangrove seluas 3.311,207 hektar yang berada di dalam dan di luar kawasan hutan, yang diantaranya seluas 637.624 hektar termasuk dalam kondisi kritis dan perlu dipulihkan. Dan Bali sendiri memiliki target 100 hektar yang harus dipulihkan.  Program Padat Karya Penanaman Mangrove di Teluk Terima ini melibatkan Kelompok Wana Segara desa Sumberklampok sebanyak 25 orang. Kelompok ini diberikan upah dengan sistem pembayaran langsung ke rekening pribadi. Diberikan sebesar Rp 110 ribu per Hari Orang Kerja (HOK). Selain sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, sekaligus menjadi bagian dari corrective measure di era kabinet kerja 2019-2024.

Hutan mangrove menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir yang dalam masa pandemi ini merasakan dampak penurunan ekonomi yang paling signifikan. Oleh karena itu, melalui Program Padat Karya Penanaman Mangrove tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus perekonomian bagi masyarakat di sekitar ekosistem mangrove dan sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional. [T]

Tags: hutan bakaukonservasimangrovePariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anom Darsana | Telisik Tekhnologi, Telusur Seni Tradisi

Next Post

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co