13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anom Darsana | Telisik Tekhnologi, Telusur Seni Tradisi

Kadek Wahyudita by Kadek Wahyudita
July 26, 2021
in Khas
Anom Darsana | Telisik Tekhnologi, Telusur Seni Tradisi

Kadek Wahyudita dan Anom Darsana

Orang memang lebih sering mengeluhkan krisis ekonomi di masa pandemi, padahal seni-budaya, terutama seni tradisi juga mengalami krisis.  Untuk itulah Mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar menggelar Seminar Berwawasan Seni Untuk Kita  dengan mengusung tajuk “Seni Virtual dan Masa Depan Seni Tradisi,  Minggu, 25 Juli 2021.

Seminar itu menghadirkan Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. (Dosen Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta), Anak Agung Anom Darsana (Direktur Antida Musik ) dan pembicara kunci (Keynote Speaker) yakni Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar Prof. Dr. I Wayan Adnyana.

Aris Setiawan bicara tentang terseoknya seni tradisi di tengah pandemi. Upaya terakhir agar seni tradisi mampu lentur dan cair masuk gerbong baru bernama “panggung virtual” boleh dikata belum menemukan titik terang.  “Kodrat panggung virtual seolah bertolak belakang dengan gaya dan karakter seni tradisi kita. Dunia virtual, anggaplah YouTube misalnya, selama ini mendamba pada sesuatu yang filmis, mengandalkan sisi visual yang glamour, bising, gaduh, konfliktual, bahkan tidak jarang banal,” jelasnya.

  • Pandangan Aris Setiawan selengkapnya bisa baca “Seni Tradisi Terseok di Jagat Digital”.

Lalu apa kata Anom Darsana? Di tengah pandemi ini ia tak banyak berkata-kata namun lebih banyak melakukan sesuatu, salah satunya adalah memadukan seni tradisi dengan teknologi agar seni tradisi bisa dengan cara yang baik masuk ke dunia digital. Ia menelisik berbagai kemungkinan teknologi untuk bisa mendukung keberadaan seni tradisi di jagat digital. Memang bukan pekerjaan yang mudah, tapi Anom Darsana yang biasa dipanggil Jik Anom terus berusaha. Bagaimana hasilnya?   

Usai seminar saya sempat bincang-bincang dengan Jik Anom tentang apa yang dia lakukan selama ini terhadap seni tradisi. Inilah hasil bincang-bincang itu…

  • Bagaimana Jik Anom awal mulanya bersentuhan dengan seni tradisi?

Seni tradisi merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan sampai sekarang masih berlaku, sejak kecil kita selalu diajarkan untuk mengenal kesenian Bali oleh orang tua kita, dan saya juga suka latihan menari dan mengikuti sanggar di Denpasar, dan di Kesiman.

Di rumah juga sebagian besar kakek dan nenek dulu adalah pregina (penari, dalang dan penabuh). Sampai sekarang masih ada peninggalan leluhur yang disimpan, seperti topeng, kostum tari, wayang, dan lontar lontar yang masih dijaga. 

Dan saya ingin mendalami lagi seni tari. Sejak pandemi saya belajar  nopeng (menari topeng) di Batuan (Gianyar) bersama Bapak Made Suteja, dan sudah sempat ikut ngayah di Pura, dan juga pentas di sebuah acara storry teller di Ubud.  Itulah asal mula sentuhan seni tradisi yang saya alami sampai saat ini.

  • Bagaimana pengalaman Jik Anom saat belajar dan bekerja di luar negeri , dan melihat kondisi kehidupan seni di Indonesia?

Saat saya belajar dan bekerja di luar negeri. di sisi seni pertunjukkan hanya sebatas sound engineer, Saya melihat bahwa kesenian sangat mendapatkan tempat yang baik dan mendapat apresiasi, terutama di bidang seni pertunjukkan. Sangat beda dengan di Indonesia.

Pengaruh dan apresiasi penonton menjadi bagian yang sangat penting. Lagi pula dukungan dari pemerintah cukup besar untuk mengadakan sebuah festival seni yang cukup panjang durasinya dan bisa mendatang banyak kesenian daerah dari berbagai Negara .Banyaknya kantong-kantong budaya yang bisa memfasilitasi karya-karya anak muda. Di Indonesia, saya lihat sudah mencapai katagori tersebut saat ini. Perubahan generasi, perubahan etika di seni pertunjukkan sudah terjadi.

Sekarang orang menonton teater tidak berisik dan banyak adanya diskusi-diskusi tentang seni dan kantong budaya mulai merambah ke mana-mana. Dan  ini sangat bagus untuk perkembangan seni dan penyemangat seniman baik di sisi akademis maupun praktisi.

  • Antida Musik Studio tidak hanya sebagai tempat untuk merekam dan memproduksi musik, namun juga menjadi laboratorium kreasi penciptaan sekaligus ruang publik, misalnya pertunjukan kolaborasi  pelukis Nyoman Erawan dan sejumlah penyair. Apa cita-cita atau gagasan Jik Anom lewat ruang tersebut?

Gagasan saya adalah ingin menciptakan kantong budaya yang profesional dan memberikan kebebasan berimajinasi dan berkreasi buat semua lapisan masyarakat. Ruang atau flatform untuk para kreator dan komunitas menginspirasi dan terinspirasi.

Selain itu juga membuat program-program seni, baik itu musik, tari, teater dan film. Dan juga menjadikan tempat itu sebagai ruang untuk belajar bersama dengan mengadakan workshop musik dan seni lainnya. Dan sampai sekarang masih tetap ada, namun  kegiatannya semakin sedikit karena pandemi ini

  • Bagaimana Antida Musik beradaptasi di masa pandemi? Apa saja program-program yang telah dikerjakan?

Kalau boleh jujur pandemi mematikan semua kegiatan saya di seni pertunjukkan dan berbagai festival yang saya buat, dan seni pertunjukan lain  yang saya garap, namun ini tidak mematikan ide-ide, Gagasan yang bisa saya lakukan selama pandemi berlangsung saat ini , mengawinkan seni dan teknologi yang sudah  sangat erat hubungannya dan mencipatakan karya baru secara virtual.

Live streaming, hanya itu saja yang bisa kita lakukan selama pandemi ini untuk  menuangkan ide-ide dan gagasan saya di seni pertunjukkan. Semua kegiatan-kegiatan di Antida tidak luput dari protokol kesehatan selama acara  seni di masa pandemi ini berlangsung.

Program yang kami gagas dan selenggarakan sekarang adalah Telusur Seni Tradisi atau Panggung Seni Tradisi Bali. Seri Telusur Seni Tradisi ini merupakan sebuah upaya dari Antida Music Production untuk mendokumentasikan berbagai kekayaan seni tradisi yang ada di berbagai wilayah di Bali. Bagaimana sebuah tradisi itu harus dijaga, dilestarikan dan juga didokumentasikan untuk dapat menjembatani generasi muda yang mana mereka cenderung lebih akrab dengan teknologi. Semoga pendokumentasian ini nantinya mampu menjadi media yang mewadahi seni tradisi di Bali. Rangkaian kegiatan ditayangkan secara virtual di kanal youtube Antidamusic

Misi utama kami adalah berusaha mewadahi para seniman untuk kembali ke panggung seni, juga menghibur masyarakat yang berada di negeri ini dan di seluruh dunia  karena teknologi memberikan kesan bahwa dunia ini sangat kecil. Selain itu, juga membantu para seniman secara ekonomi walaupun sedikit tapi bisa  membantu bagi yang tidak mempunyai pekerjaan atau tak bisa pentas. Yang lain, mengembalikan kondisi pariwisata dengan mengajak masyarakat mengenal    seni tradisi Bali.  Yang tak kalah penting adalah memiliki data base yang cukup untuk suatu saat jika pandemi ini menjadi endemi bisa  membawa mereka ke festival-festival nasional maupun internasional.

Dan di sini saya berkolaborasi bersama teman-teman, baik seniman atau para kreator yang bisa mewujudkan program ini dan juga berkat bantuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kemendikbud program Telusur Seni Tradisi ini sudah berjalan selama pandemi. Misalnya Gengong Kutus Desa Batuan. Ada juga pementasan Kenapa Legong karya Dayu Ani, salah satu dosen di ISI Denpasar. Ada pula acara Panggung Bertutur kutipan dari buku Kadek Purnami,  dan Seni Tradisi Okokan Kediri Tabanan. Bulan depan kami akan adakan Sanghyang Jaran dan Sangyang Dedari di Ubud.

  • Apakah Jik Anom melihat momentum pandemi dan seni virtual ini  dapat mengakselerasi konten seni tradisi?

Tergantung konten seperti apa yang kita buat. Seandainya konten-konten singkat, para seniman banyak yang menggunggah kesenian tradisi seperti tarian, tabuh, kesusastraan dengan konsep yang lebih  modern dan kualitasnya banyak yang bagus .

Ada komunitas namanya Swaradanta di Ubud, mereka sering sekali saya amati mengunggah konten-konten tradisi dengan kemasan modern dan ini tujuannya untuk menarik penonton, dan bagus, bagus sekali cara mereka mengemas. Dan  banyak lagi anak-anak muda yang mengunggah seni tradisi berbasis teknologi.

Namun seni tradisi yang benar benar mempunyai struktur yang kompleks sangat  sulit dipertunjukkan di media kecuali memang ada penyelenggara yang didukung secara financial, misalnya untuk menyelenggarakan kesenian semi kolosal. Dan ini baru bisa kita lakukan dan sangat jarang kecuali PKB (Pesta Kesenian Bali).

Dan juga seperti apa yang kami di Antida lakukan di Telusur Seni Tradisi berkat dukungan Kemendikbud dan Kemenparekraf.  Program kami tetap akan berjalan kalau tidak ada perubahan situasi dan financial .

  • Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika menyajikan seni tradisi di media virtual?

Kalau dari sisi teknis kita harus menyediakan piranti yang cukup bagus dan berkualitas, tata suara, lighting dan visual,  harus sesuai dengan kebutuhan yang akan kita  sajikan. Teknis panggung diatur layaknya pementasan pada umumnya. Panggung dibuat dengan optimal, baik dari sisi dekorasi, sistem suara maupun pencahayaan sehingga tidak mengurangi makna dari sebuah pementasan.

Selain itu juga memilih jenis kesenian yang bisa disesuaikan dengan media visual. Kalau sistemnya  live streaming kita harus mempunyai koneksi internet yang stabil karena ini akan mempengaruhi kualitas streaming dan gangguan koneksi membuat gambar dan suara akan terputus putus dan ini mengurangi daya tarik penonton. Promosi di berbagai platform media untuk menarik penonton. Ingat, prokes CHSE selalu diterapkan.

  • Apa saja tantangan yang dihadapi oleh seniman, juga tim kreatif yang  mengerjakannya?

Kalau di kalangan seniman adalah kesempatan mereka untuk latihan di masa pandemi, karena regulasi dan sering adanya surat edaran dari pemerintah daerah dan pusat ketika kita tidak diijinkan berkerumun, berkumpul dan kegiatan budaya ditiadakan.  Karena seni tradisi Bali kerap kali jumlahnya tidak sedikit ketika mereka mengadakan sebuah pertunjukkan.

Mengadakan sebuah pertunjukkan tanpa penonton terkesan sangat berbeda dan hampa dan rasa tidak puas mereka. Karena sebuah pertunjukkan yang mestinya ada  penonton dan ini juga mengurangi semangat mereka kalau dibandingkan dengan pertunjukkan sebelum pandemi

Kalau di sisi tim kreatif tantangannya adalah di perijinan, terutama satgas dan polres, walaupun pertunjukkan ini tidak ada penonton atau sangat minim hanya tim produksi saja bersama para seniman.

Perubahan situasi setiap saat bisa terjadi pelarangan dan pembatalan acara secara  tiba-tiba. Kita harus siap menghadapi hal-hal ini. Dan kadang dengan adanya PPKM waktunya cukup lama, jadi kegiatan kita akan tertunda. Ini juga mengurangi semangat kita sebagai tim kreatif.

Kalau di sisi teknis adalah koneksi internet yang kadang tidak stabil. Adalah stress kami  yang paling utama karena ketika internetnya lambat, kita tidak bisa meyalahkan siapa- siapa. Hanya bisa berdoa dalam hati. Idealisme seniman di sebuah pertunjukan tidak selalu bisa diwujudkan dalam dunia  virtual .

Hilangnya estetika sebuah pertunjukan seni ketika senimannya harus menggunakan prokes (masker ) dan jaga jarak di saat pementasan, padahal kita juga sudah di test swab semuanya dengan hasil yang negatif.

Cuaca ketika kita mengadakan seni virtual outdoor juga tantangan. Live streaming tidak bisa dihentikan, beda dengan offline show. Jadi  perubahan cuaca bisa menggagalkan kelancaran  seni virtual . Selain itu sedikitnya dukungan dari pemerintah daerah tentang seni tradisi di masa pandemi.

  • Harapan Jik Anom terhadap keberlangsungan seni tradisi?

Yang paling utama berharap pandemi ini menjadi endemi dan saya bisa lebih  leluasa berkarya tanpa hambatan. Semoga dengan kemajuan teknologi ini seni tradisi bisa menyemangati genereasi millenial untuk berkarya dan menciptakan ide-ide cemerlang demi  kelestarian seni tradisi tersebut

Semoga pendokumentasian seni tradisi yang kami buat mampu menjadikan media yg mewadahi seni tradisi di Bali. Berharap bisa memberikan kesempatan para seniman tradisi utk mementaskan karyanya lebih banyak dan bisa memotivasi para seniman dgn adakan kegiatan kegiatan seperti ini . Dan seni tradisi tetap hidup berkembang mengikuti jaman dan bisa menanggulangi tantangan tantangan yg dihadapi di era sekarang dan ke depannya. [T]

Tags: Antida Music ProductiondigitalISI Denpasarseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Next Post

Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Kadek Wahyudita

Kadek Wahyudita

Pekerja seni, Ketua Yayasan Penggak Men Mersi, tinggal di Denpasar

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co