14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Aris Setiawan by Aris Setiawan
July 26, 2021
in Esai
Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Dua tahun pandemi menjadi catatan suram bagi perkembangan seni tradisi. Upaya terakhir agar seni tradisi mampu lentur dan cair masuk gerbong baru bernama “panggung virtual” boleh dikata belum menemukan titik terang. Kodrat panggung virtual seolah bertolak belakang dengan gaya dan karakter seni tradisi kita.

Dunia virtual, anggaplah YouTube misalnya, selama ini mendamba pada sesuatu yang filmis, mengandalkan sisi visual yang glamour, bising, gaduh, konfliktual, bahkan tidak jarang banal. Sementara kodrat seni tradisi menuju keintiman yang kontemplatif, di mana cara menikmatinya justru bukan sekadar dilihat, tapi juga didengar, dirasakan, dan dibatin. Perbedaan inilah yang menyebabkan seni tradisi terseok-seok kala harus “hijrah” menjadi ujud anyar atas nama konten.

Berlawanan

Masuknya seni tradisi dalam dunia virtual tidak cukup dibaca; hanya sekadar “memindah” tubuh pertunjukan, tetapi juga mengalami lapis-lapis pemaknaan yang tidak tunggal. Dunia virtual memang sebuah keniscayaan, dan harus diakui bahwa, pelaku kesenian tradisi gagap dalam menyikapi hal itu. Baru tersadarkan saat pandemi datang, kala intimitas kerumunan menjadi hal tabu dan ditakuti.

Jauh sebelum pandemi mengoyak, kajian-kajian ilmiah tentang seni (tradisi) virtual jarang dilakukan, tidak menarik minat para peneliti dan akademisi. Kita masih beranggapan bahwa kesenian tradisi mampu tumbuh dan hidup dalam dunianya yang khas, di mana keramaian, persentuhan tubuh, bahkan tatapan mata para penonton secara langsung menjadi tolok ukur keberhasilan.

Oleh karena itu, di saat keharusan tampil di jagat virtual, kita tidak memiliki acuan dan peta jalan yang jelas, tentang bagaimana mekanisme ideal saat seni tradisi harus bermetamorfosis menjadi “tagar” dan “trending”.

Segala hal yang awalnya diagung-agungkan sebagai daya tarik kesenian tradisi, terutama atas nama “adi luhung”, di mana segala penikmatan terhadapnya tidak semata mengandalkan perangkat fisik (mata dan telinga), tetapi juga “rasa”, kini layak dipertanyakan kembali, karena episentrum jagat digital hanya mensyaratkan satu hal; bahasa sinema.

Sebagus dan seindah apapun kesenian tradisi jika tidak masuk dalam kategori itu maka dianggap gagal. Dan kegagalan itulah yang kini jamak kita lihat dan ratapi. Banyak persoalan yang belum tuntas untuk diulas, bahkan dicarikan jalan keluarnya.

Sebagai contoh, pertunjukan gamelan Jawa yang selama ini mengandalkan kesayuan bunyi, kelembutan suara, dan keheningan gending harus terdepak paling jauh dari jagat virtual. Pemain gamelan tabu untuk banyak tingkah, sebisa mungkin mereka tidak bergerak bebas, penuh konsentrasi pada pencapaian kualitas estetik musik yang dimainkan. Pemain-pemain itu laksana patung membisu.

Lalu, apa yang bisa dinikmati dari YouTube pada pertunjukan demikian. Apa yang bisa ditonton? Jangankan untuk menjadi viral, sekadar “diklik” saja sudah beruntung.

Tentu kita masih bisa mendebatnya lebih jauh bahwa, seharusnya menikmati gending gamelan di YouTube itu didengarkan, bukan dilihat, karena kodrat music itu untuk telinga, tidak untuk mata. Baiklah!

Namun pertanyaan yang tak kalah mendesak, bagaimana meramu sisi auditif (suara-bunyi) gamelan di jagat digital agar kualitasnya sama (atau paling tidak mendekati) dengan gending di pendopo yang agung itu?

Di pendopo, penataan gamelan dilakukan dengan memenuhi kaidah estetik, berdasar pertimbangan capaian gumpalan bunyi yang utuh, kata lain dari sempurna. Karena itu, gong-kempul selalu berada di tengah dan paling belakang bersanding dengan kenong, di depannya ada instrument balungan, berturut-turut semakin ke depan ada instrumen kendang, bonang yang sejajar dengan rebab, gender, dan sindhen.

Penataan itu sengaja dilakukan demi membentuk ambience atau gaung bunyi yang puncak. Apa yang terjadi saat bunyi-bunyi instrumen itu campur-aduk menjadi satu berupa getaran elektron, diambil lewat  perangkat bernama “microphone”, lalu diolah pada alat yang bernama “audio mixer”. Dan hasilnya bisa kita dengarkan di laman digital. Apakah masalah selesai? Belum!

Jagat virtual mensyaratkan hal lain yakni: perangkat (device, tools)! Dalam mendengarkan gamelan secara daring, perbedaan perangkat (handphone, headset, jaringan, kuota) akan menentukan capaian estetiknya. Keagungan gending gamelan itupun semakin terdistorsi. Kesenian tradisi lain tentu juga memiliki persoalan yang tak kalah pelik.

Tari misalnya, pada pertunjukan langsung penonton dapat menikmati “gerak tubuh” penari secara bebas, tapi di laman digital sepenuhnya ditentukan oleh “mata kamera”. Dengan kata lain, penonton tidak lagi memiliki kuasa atas pertunjukan tari yang dinikmatinya.

Layar Pintar

Masuknya tradisi dalam budaya layar berdalih konten tidak sepenuhnya menjadikan kesenian itu merdeka, namun sangat mungkin terintervensi dengan keharusan mengubah sajian, isi, bentuk, karakter, dan gaya. Budaya digital kini memang dirayakan secara masif, menjadikan semua sebagai artis (kata lain youtuber, vloger) namun miskin penikmat. Terlebih untuk kasus-kasus seni tradisi.

Keberhasilan sajian yang ditentukan oleh kalkulasi jumlah penonton (viewer) agar mampu mendatangkan iklan terhitung sangat rendah. Mayoritas penontonnya adalah seniman sealiran, teman, sahabat, dan keluarga, alih-alih menikmati sajian pertunjukan digital yang ada justru empati, rasa prihatin, memberi semangat, dan saling salam.

Rendahnya jumlah penonton itu berakibat pada semakin tak berdayanya tradisi di musim pandemi. Seniman-seniman mulai berpikir untuk terus bertahan hidup dengan menjual peralatan seni yang dimiliki seperti gamelan, wayang, dan lain sebagainya.

Tak terbacanya seni tradisi juga disebabkan karena pengaruh algoritma digital. Seni tradisi di panggung baru itu ibarat setetes air tawar di luasnya samudera virtual. Dunia virtual adalah dunia yang tak terbatas. Di YouTube misalnya, ada jutaan konten yang diproduksi setiap hari. Satu konten bersaing dengan konten lainnya, dan tradisi adalah salah satunya. Hanya konten-konten viral yang diburu oleh penonton. Hal itu akan menentukan mekanisme kerja algoritma.

Setidaknya, algoritma digital akan memberikan sugesti pada penonton, terkait konten apa yang bisa dinikmati setelah tontonan pertama usai diputar. Dan bisa ditebak, tontonan selanjutnya adalah serupa dengan tontonan sebelumnya, begitu seterusnya. Akibatnya, kesenian tradisi tak mendapat tempat, tak mampu  terbaca secara lebih terbuka, karena algoritma digital tak pernah merekomendasikannya pada publik.

Kekhusyukan dalam menikmati seni tradisi tidak didapatkan dalam panggung virtual, yang sekali lagi, menekankan kegaduhan dan kebisingan isu. Seniman-seniman tradisi memang mulai banyak beradu keuntungan di jagat digital, tapi ekstase yang didapat adalah berupa katarsis berpentas, bukan keuntungan finansial.

Artinya, pentas itu semata mengobati kerinduan untuk tampil, yang selama ini tubuh mereka terpenjara karena pandemi. Berpentas digital sebagai sarana detoksinasi dari jemunya menjalani hidup sebagai seniman tradisi yang tak lagi bisa merengkuh panggungnya.

Oleh karena itu, jangan terlalu banyak berharap bahwa jagat virtual mampu memberi akses berpentas yang lebih manusiawi di kala benturan-benturan kepentingan, karakter, dan formulasi bentuk sajian terjadi. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan seni tradisi akan berpendar menjadi narasi purbawi megalitik, tidak lagi dijumpai di kehidupan manusia kini dan nanti. Aduh!! [T]

  • Artikel ini adalah makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional bertajuk “Seni Virtual dan Masa Depan Seni Tradisi” yang diselenggarakan oleh Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu, 25 Juli 2021.
Tags: digitalISI DenpasarSeniseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Next Post

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Seorang jurnalis yang rajin melakukan pencatatan peristiwa musik untuk dipublikasikan di media massa. Beberapa karya tulisnya rutin terbit di Harian Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jawa Pos, Detik.com, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Majalah Basis, Republika, Basa-basi.co, Koran Jakarta, Koran Kontan, Etnis.id. Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah seperti Dewa Ruci, Sorai, Gelar, Terob, Resital, Music Scholarship, Pelataran Seni, Harmonia, Abdi Seni. Aris Setiawan menjadi dosen di Jurusan Etnomusikologi dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co