2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Aris Setiawan by Aris Setiawan
July 26, 2021
in Esai
Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Dua tahun pandemi menjadi catatan suram bagi perkembangan seni tradisi. Upaya terakhir agar seni tradisi mampu lentur dan cair masuk gerbong baru bernama “panggung virtual” boleh dikata belum menemukan titik terang. Kodrat panggung virtual seolah bertolak belakang dengan gaya dan karakter seni tradisi kita.

Dunia virtual, anggaplah YouTube misalnya, selama ini mendamba pada sesuatu yang filmis, mengandalkan sisi visual yang glamour, bising, gaduh, konfliktual, bahkan tidak jarang banal. Sementara kodrat seni tradisi menuju keintiman yang kontemplatif, di mana cara menikmatinya justru bukan sekadar dilihat, tapi juga didengar, dirasakan, dan dibatin. Perbedaan inilah yang menyebabkan seni tradisi terseok-seok kala harus “hijrah” menjadi ujud anyar atas nama konten.

Berlawanan

Masuknya seni tradisi dalam dunia virtual tidak cukup dibaca; hanya sekadar “memindah” tubuh pertunjukan, tetapi juga mengalami lapis-lapis pemaknaan yang tidak tunggal. Dunia virtual memang sebuah keniscayaan, dan harus diakui bahwa, pelaku kesenian tradisi gagap dalam menyikapi hal itu. Baru tersadarkan saat pandemi datang, kala intimitas kerumunan menjadi hal tabu dan ditakuti.

Jauh sebelum pandemi mengoyak, kajian-kajian ilmiah tentang seni (tradisi) virtual jarang dilakukan, tidak menarik minat para peneliti dan akademisi. Kita masih beranggapan bahwa kesenian tradisi mampu tumbuh dan hidup dalam dunianya yang khas, di mana keramaian, persentuhan tubuh, bahkan tatapan mata para penonton secara langsung menjadi tolok ukur keberhasilan.

Oleh karena itu, di saat keharusan tampil di jagat virtual, kita tidak memiliki acuan dan peta jalan yang jelas, tentang bagaimana mekanisme ideal saat seni tradisi harus bermetamorfosis menjadi “tagar” dan “trending”.

Segala hal yang awalnya diagung-agungkan sebagai daya tarik kesenian tradisi, terutama atas nama “adi luhung”, di mana segala penikmatan terhadapnya tidak semata mengandalkan perangkat fisik (mata dan telinga), tetapi juga “rasa”, kini layak dipertanyakan kembali, karena episentrum jagat digital hanya mensyaratkan satu hal; bahasa sinema.

Sebagus dan seindah apapun kesenian tradisi jika tidak masuk dalam kategori itu maka dianggap gagal. Dan kegagalan itulah yang kini jamak kita lihat dan ratapi. Banyak persoalan yang belum tuntas untuk diulas, bahkan dicarikan jalan keluarnya.

Sebagai contoh, pertunjukan gamelan Jawa yang selama ini mengandalkan kesayuan bunyi, kelembutan suara, dan keheningan gending harus terdepak paling jauh dari jagat virtual. Pemain gamelan tabu untuk banyak tingkah, sebisa mungkin mereka tidak bergerak bebas, penuh konsentrasi pada pencapaian kualitas estetik musik yang dimainkan. Pemain-pemain itu laksana patung membisu.

Lalu, apa yang bisa dinikmati dari YouTube pada pertunjukan demikian. Apa yang bisa ditonton? Jangankan untuk menjadi viral, sekadar “diklik” saja sudah beruntung.

Tentu kita masih bisa mendebatnya lebih jauh bahwa, seharusnya menikmati gending gamelan di YouTube itu didengarkan, bukan dilihat, karena kodrat music itu untuk telinga, tidak untuk mata. Baiklah!

Namun pertanyaan yang tak kalah mendesak, bagaimana meramu sisi auditif (suara-bunyi) gamelan di jagat digital agar kualitasnya sama (atau paling tidak mendekati) dengan gending di pendopo yang agung itu?

Di pendopo, penataan gamelan dilakukan dengan memenuhi kaidah estetik, berdasar pertimbangan capaian gumpalan bunyi yang utuh, kata lain dari sempurna. Karena itu, gong-kempul selalu berada di tengah dan paling belakang bersanding dengan kenong, di depannya ada instrument balungan, berturut-turut semakin ke depan ada instrumen kendang, bonang yang sejajar dengan rebab, gender, dan sindhen.

Penataan itu sengaja dilakukan demi membentuk ambience atau gaung bunyi yang puncak. Apa yang terjadi saat bunyi-bunyi instrumen itu campur-aduk menjadi satu berupa getaran elektron, diambil lewat  perangkat bernama “microphone”, lalu diolah pada alat yang bernama “audio mixer”. Dan hasilnya bisa kita dengarkan di laman digital. Apakah masalah selesai? Belum!

Jagat virtual mensyaratkan hal lain yakni: perangkat (device, tools)! Dalam mendengarkan gamelan secara daring, perbedaan perangkat (handphone, headset, jaringan, kuota) akan menentukan capaian estetiknya. Keagungan gending gamelan itupun semakin terdistorsi. Kesenian tradisi lain tentu juga memiliki persoalan yang tak kalah pelik.

Tari misalnya, pada pertunjukan langsung penonton dapat menikmati “gerak tubuh” penari secara bebas, tapi di laman digital sepenuhnya ditentukan oleh “mata kamera”. Dengan kata lain, penonton tidak lagi memiliki kuasa atas pertunjukan tari yang dinikmatinya.

Layar Pintar

Masuknya tradisi dalam budaya layar berdalih konten tidak sepenuhnya menjadikan kesenian itu merdeka, namun sangat mungkin terintervensi dengan keharusan mengubah sajian, isi, bentuk, karakter, dan gaya. Budaya digital kini memang dirayakan secara masif, menjadikan semua sebagai artis (kata lain youtuber, vloger) namun miskin penikmat. Terlebih untuk kasus-kasus seni tradisi.

Keberhasilan sajian yang ditentukan oleh kalkulasi jumlah penonton (viewer) agar mampu mendatangkan iklan terhitung sangat rendah. Mayoritas penontonnya adalah seniman sealiran, teman, sahabat, dan keluarga, alih-alih menikmati sajian pertunjukan digital yang ada justru empati, rasa prihatin, memberi semangat, dan saling salam.

Rendahnya jumlah penonton itu berakibat pada semakin tak berdayanya tradisi di musim pandemi. Seniman-seniman mulai berpikir untuk terus bertahan hidup dengan menjual peralatan seni yang dimiliki seperti gamelan, wayang, dan lain sebagainya.

Tak terbacanya seni tradisi juga disebabkan karena pengaruh algoritma digital. Seni tradisi di panggung baru itu ibarat setetes air tawar di luasnya samudera virtual. Dunia virtual adalah dunia yang tak terbatas. Di YouTube misalnya, ada jutaan konten yang diproduksi setiap hari. Satu konten bersaing dengan konten lainnya, dan tradisi adalah salah satunya. Hanya konten-konten viral yang diburu oleh penonton. Hal itu akan menentukan mekanisme kerja algoritma.

Setidaknya, algoritma digital akan memberikan sugesti pada penonton, terkait konten apa yang bisa dinikmati setelah tontonan pertama usai diputar. Dan bisa ditebak, tontonan selanjutnya adalah serupa dengan tontonan sebelumnya, begitu seterusnya. Akibatnya, kesenian tradisi tak mendapat tempat, tak mampu  terbaca secara lebih terbuka, karena algoritma digital tak pernah merekomendasikannya pada publik.

Kekhusyukan dalam menikmati seni tradisi tidak didapatkan dalam panggung virtual, yang sekali lagi, menekankan kegaduhan dan kebisingan isu. Seniman-seniman tradisi memang mulai banyak beradu keuntungan di jagat digital, tapi ekstase yang didapat adalah berupa katarsis berpentas, bukan keuntungan finansial.

Artinya, pentas itu semata mengobati kerinduan untuk tampil, yang selama ini tubuh mereka terpenjara karena pandemi. Berpentas digital sebagai sarana detoksinasi dari jemunya menjalani hidup sebagai seniman tradisi yang tak lagi bisa merengkuh panggungnya.

Oleh karena itu, jangan terlalu banyak berharap bahwa jagat virtual mampu memberi akses berpentas yang lebih manusiawi di kala benturan-benturan kepentingan, karakter, dan formulasi bentuk sajian terjadi. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan seni tradisi akan berpendar menjadi narasi purbawi megalitik, tidak lagi dijumpai di kehidupan manusia kini dan nanti. Aduh!! [T]

  • Artikel ini adalah makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional bertajuk “Seni Virtual dan Masa Depan Seni Tradisi” yang diselenggarakan oleh Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu, 25 Juli 2021.
Tags: digitalISI DenpasarSeniseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Next Post

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Seorang jurnalis yang rajin melakukan pencatatan peristiwa musik untuk dipublikasikan di media massa. Beberapa karya tulisnya rutin terbit di Harian Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jawa Pos, Detik.com, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Majalah Basis, Republika, Basa-basi.co, Koran Jakarta, Koran Kontan, Etnis.id. Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah seperti Dewa Ruci, Sorai, Gelar, Terob, Resital, Music Scholarship, Pelataran Seni, Harmonia, Abdi Seni. Aris Setiawan menjadi dosen di Jurusan Etnomusikologi dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co