25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
July 25, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 23-25 April 2019

Saya telah memeriksa lontar koleksi Gedong Kirtya: Mpu Kuturan (keropak IIIB) dan salinannya: Mpu Kuturan (172/2.IIIb) disalin dari Bangli, tanggal 15/10/1941, Mpu Kuturan (753.IIIb) disalin dari Pagesangan, Lombok, tanggal 06/10/1956, Hempu Kuturan (4875/Ic) disalin dari Griya Sibang Kaler, Abyansemal, Badung tanggal 19/06/1977, Kaputusan Mpu Kuturan (3752 / III d) Salinan dari lontar I Wayan Sloka, Br. Alasarum, Bungkulan, Singaraja, disalin 05/05/1979. Kesemua lontar tersebut punya topik dan pokok isi yang saya terkait pendirian parahyangan. Menurut lontar-lontar tersebut Mpu Kuturan yang mengajarkan pendirian parahyangan di Bali dengan panca datu — tidak sama dengan cerita lisan bahwa Rsi Markandeya yang mengajarkan panca datu. Lontar Keputusan Kuturan berisi ajaran-ajaran Kuturan yang lainnya yang terkait penataan kawasan dan kearifan lokal.

Mpu Kuturan memberikan panduan apa saja yang harus dibangun dan persyaratannya jika raja atau pemimpin membangun meru, pelinggih, dll. Termasuk di dalamnya ada kewajiban setiap membangun meru harus ada tanah pelaba. Kalau membangun meru tanpa pelaba (atau bukti carik) maka tidak ada kesejahteraaan bagi raja dan rakyatnya. Jelas sekali bahwa aturan pendirian parahyangan dan panca datu, menurut lontar-lontar tersebut adalah ‘warisan sesuluh’ peninggalan Mpu Kuturan.

Lontar-lontar lain, yang tidak memakai judul Mpu Kuturan, tetapi di dalamnya menyebutkan bahwa lontar tersebut adalah warisan Empu Kuturan, ada beberapa lontar:

A. Lontar Indik Ngangun Parahyangan (Perihal Membangun Kawasan Suci dan Pura). Lontar ini sangat relevan dalam membicarakan hal terkait warisan Mpu Kuturan yang paling pokok. Lontar ini berisi berbagi aturan membangun desa yang berporos pada parahayangan/pusat pemujaan. Desa pertama-tama harus punya titik pivot, baik sekala-nisaka, yang mana berupa perempatan jalan, atau titik strategis balai desa dan atau parahyangan (pura Pagaduhan, Bale Agung, atau Puseh). Parahyangan sebagai “penyangga” sebuah desa dan kelangsungan dari sebuah tatanan masyarakat, dari bagaimana secara kohesif menata dirinya, bekerjasama dalam pola gotong-royong, ayahan desa, kepemilikan, yang secara konsepsi terintegrasi secara teoloigis dalam apa yang kita kenal sebagai konsep dan penataan desa dalan Tri Parahyangan (Kayangan). Pahyangan artinya tatanan Hyang (pura berserta para Hyang yang dimuliakan atau dipuja). Secara lisan, setiap kali percakapan terkait desa pakraman dan penataannya tidak bisa-tidak nama Mpu Kuturan disebutkan. Sosok ini yang disebut sebagai konseptor dari Tri Kahayangan dan desa pakraman. Bertitik tumpu pada itulah sebuah tatanan masyarakat dibuat hidup bersama. Ini ditata dalam kalender ritual yang siklik atau siklusnya datang setiap 210 hari atau salam sistem purnama-tilem. Ini yang disebut sebagai odalan atau karya yang memberikan kesempatan warga untuk bertemu atau berjumpa dalam pengaturan yang rapi dan berdasarkan kalender. Disamping Pakraman menyangga Parahyangan, dalam tataran praktisnya, mereka harus tahu dan sadar urusan lingkungan dan tata letak keruangan yang sangat tertib (secara konsepsi dikenal sebagai Tri Mandala). Semuanya diatur sedemikian rupa dalam hormoni dengan Palemahan (Ketanahan dan keruangan). Ini diletakkan dalam berbagai masyawarah desa, awig-awig desa (aturan desa), sangkep (rapat), dll yang semuanya bertumpu pada harmoni antar warga atau antar manusia (Pawongan). Tidak salah jika dikatakan akar pemikiran dan konsepsi apa yang dikenal sebagai Tri Hita Karana juga disebutkan adalah berakar dari ajaran Kuturan yang ada dalam Indik Parahyangan yang didalamnya mengatur relasi Manusia dengan Alam, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan aspek Ketuhananannya.

B. Lontar Dharma Pamaculan (Perihal Pedoman dalam bercocok tanam, irigasi, membangun bendungan dan ritual serta kalender pertanian terkait). Pertanian subak adalah tulang punggung keberlangsungan dan ketahanan pangan di Bali. Pedoman bertaninya disebut Lontar Dharma Pamaculan. Lontar ini di dalamnya menyebutkan bahwa ajaran ini adalah Panugrahan Mpu Kuturan (warisan ajaran/pemikiran Mpu Kuturan). Tidak hanya menyangkut kalender bertani padi, tapi juga dikombinasikan ketaatan kalender ini dengan kalender ritual. Pemikiran mendisiplinkan atau menertibkan kalender tanam dan ilmu bertani dengan ritual keagamaan sangat penting dalam mengikat atau mengarahkan para petani tradisional.

Isi dari lontar Dharma Pamaculan adalah prihal bercocok tanam padi, sbb:

– Ngendangin (mengawali bertani)

– Menyiapkan  bibit padi

– Amaluku (mulai membajak)

– Anggurit (membibit padi)

– Anandur pari (menanam padi)

– Ketetapan lain saat menanam padi sesuai sasih

– Uwusan anandur pari (selesai menanam padi)

– Padi berumur 12 hari

– Padi berumur 17 hari

– Padi berumur 1 bulan

– Padi berumur lebih 1 bulan

– Padi berumur 2 bulan

– Padi berumur 3 bulan

– Memanen padi disawah

– Menghindarkan padi (pamungkem) dari hama:

a.  Menghindar Dari Serangan Burung.

b. Hama Tikus menyerang Padi

c.   Jika padi diserang hama Walang Sangit

d.   Jika padi tidak mau tumbuh tunas baru

e.   Jika padi menguning bagaikan terbakar.

f.   Jika padi diserang hama lana

g.   Jika diserang hama Wereng.

C. Lontar Kusuma Dewa (Pedoman dalam Pemujaan dan Etika Kependetaan/Kepamangkuan). Kepemangkuan (Kependetaan Pemangku) di Bali tidak terpisahkan dengan Sangkulputih. Bahkan Sangkulputih dapat disebut sebagai peletak dasar sistem kepemangkuan di Bali. Beberapa sarjana dan peneliti Belanda menyinggung selintas-selintas siapa sosok Sangkulputih. Semuanya tidak ada yang secara khusus mengkajinya. Namun demikian, R. GORIS berpendapat bahwa Sangkulputih tidak lain adalah Mpu Kuturan sendiri. Kepemangkuan Dewa Tattwa, Kusuma Dewa disebutkan di dalamnya sebagai warisan Kuturan. Dalam Lontar Usana Dewa dinyatakan Mpu Kuturan-lah yang mengajarkan cara-cara mendirikan tempat pemujaan atau kahyangan seperti Kahyangan Jagat di Bali. Dalam Lontar Kusuma Dewa yang merupakan kompilasi mantra dan doa-doa kepemangkuan  dinyatakan sebagai warisan Mpu Kuturan. Lontar ini mempertegas bahwa disamping arsitektur parahyangan ia juga menyusun manual book bagi para pemangkunya. Lontar Kaputusan Kusuma Dewa dan Kaputusan Mpu Kuturan berisikan ajaran yang paralel. Ini menujukkan bahwa konsen atau perhatiannya pada pengembangan parahyangan atau tata kehidupan spiritual sebuah desa tidak bisa terjaga kalau tidak ada panduan kependetaan yang menjadi garis-garis pokok menenggakkan etika, agama dan ritaul di pedesaan di Bali.

D. Lontar Taru Pramana (Perihal Tumbuhan Berkasihan atau resep-resep herbal untuk menjaga kesehatan). Bukan hanya ketahanan pangan dan tata pemerintahan desa yang menjadi perhatian Mpu Kuturan. Lontar Taru Pramana adalah sebuah warisan besar yang isinya adalah list tumbuhan obat yang menjadi petunjuk dalam menjaga kesehatan masyarakat. Taru Pramana merupakan salah satu naskah yang memuat jenis-jenis tumbuhan obat yang tertulis dalam lembaran daun lontar yang karakteristik informasinya merupakan tonggak pengetahuan tumbuhan obat dan sistem kosmologi yang melekat di dalamnya. Taru pramana artinya kekuatan : pramana = khasiat dan taru = tumbuhan. Usada taru pramana adalah sebuah naskah pengobatan (usada) berbentuk dialog dalam pengungkapan cara pengobatannya. Begini pembuka lontar tersebut: Disebutkan ada seorang mpu bernama “Mpu Kuturan”, seorang dukun sidiwakia, selalu dingin tangan jika mengobati orang sakit. Disebutkan tidak pernah gaga menangani orang sakit sekalipun pasiennya telah parah. Suatu masa ia sangat kecewa setiap pasien yang diobatinya kebanyakan menemukan ajalnya. Pada saat itu ia menanggung “erang” menanggung rasa malu yang tak terhingga, kemudian bersemedi. Datanglah Betari Khayangan. Setelah mendengar Sabda tersebut akhirnya Empu Kuturan pun mengetahui nama pepohonan sebagai obat. Selanjutnya pohon itu datang satu demi satu untuk menyatakan kegunaan masing-masing. 

Melihat dari warisan pemikiran lontar-lontar tersebut yang secara terang benderang menyebutkan did alamnya apa yang sedang kita baca (lontar tersebut di atas) diwariskan sebagai pemikiran Kuturan, maka tidak bisa dengan mudah kita mengatakan bahwa Empu Kuturan yang kita bicarakan ini sebagai tokoh mitos belaka. Tentu bukan tokoh mitos atau legenda yang meninggalkan jejak tertulis atau teks tertulis. Umumnya tokoh historislah yang mewariskan demikian rinci catatan dan ajaran tertulis yang demikian penting, bahkan menjadi pedoman dalam menyusun tata kelola desa, penataan ruang desa dan kawasan, pedoman membuat bendungan dan ritualnya, pedoman membuka desa, bercocok tanam, menjaga kesehatan dengan herbal, etika kependetaan, pemikiran teologia, dstnya yang hampir menyentuh seluruh aspek sosiologis, teologis, bahkan ekonomi (ketahanan pangan desa).

Berpijak pada berbagai warisan tertulis yang masih tertinggal dalam bentuk lontar tersebut, kita bisa menjejaki kehidupan beliau secara historis, benang-benang merah ajaran-ajarannya, dan situasi apa yang menjadi setting historis kehidupannya yang melatari lahirnya berbagai pemikiran yang terwariskan sampai kini.

Selain karya-karya tulis dalam bentuk lontar yang menyebutkan sumbernya adalah ajaran Mpu Kuturan, kita juga mewarisi karya sastra berbentuk babad dan juga karya sastra lainnya yang menyebutkan kehadiran atau “kehistorisan” Empu Kuturan. Berbagai prasasti Bali yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali kuno juga menyebutkan nama Empu Kuturan. Prasasti sebagai “produk hukum” dan “primary source” yang kita warisi di Bali tidak bisa kita tolak Empu Kuturan sebagai tokoh historis.

Sosok Mpu Kuturan dalam sumber lain

Mpu Kuturan disebutkan dalam berbagai prasasti Bali dalam abad yang berbeda-beda. Kemungkinan nama Empu Kuturan adalah nama jabatan, namun yang kita bicarakan di sini adalah Empu Kuturan yang dimuliakan di Pura Silayukti, Desa Padang Bai, Kabupaten Karangasem.

Ada beberapa catatan terkait Kuturan:

  1. Mpu Kuturan dilahirkan di Jawa, atau disebutkan berasal dari Jawa.
  2. Dyah Nateng Dirah, atau Calonarang, adalah janda dari Empu Kuturan. Empu Kuturan ke Bali setelah berpisah dengan istrinya Dirah (Calonarang). Mempunyai serorang putri bernama Ratna Manggali yang selanjutnya putrinya dinikahi oleh Mpu Bahula, putra Mpu Bradah. Perpisahan dengan istrinya disebutkan karena perbedaan paham dan perbedaan pemikiran.
  3. Disebutkan bahwa Kuturan bersaudara dengan Empu Bradah. Tentang Empu Bradah banyak disebutkan sebagai seorang bhagawanta (penasehat kerajaan) di zaman Raja Erlangga. Dalam hal membagi kekuasaan di Jawa dan Bali disebutkan dalam naskah Nagarakrtagama dan juga Calonarang, bahwa Bradah mewakili Jawa (Kerajaan Kediri, Raja Erlangga) dan Kuturan mewakili Bali (Kerajaan Wangsa Udayana, Raja Anak Wungsu) dalam sebuah musyawarah, yang selanjutnya akan dibahas dalam bagian tersendiri: Samaya Bradah-Kuturan (Perjanjian Bradah dan Kuturan dalam penataan kekuasaan antara Bali dan Kediri).
  4. Sumber Babad Pasek atau Babad Para Bhujangga menyebutkan Mpu Kuturan sampai di Bali pada hari Rabu Keliwon wuku Pahang, hari keenam paruh bulan terang, sekitar bulan September tahun 1000, dan menetap di Silayukti, di Desa Padangbai, Karangasem.
  5. Selain persoalan perbedaan paham dengan istrinya, kemungkinan kepindahan dari Empu Kuturan ke Bali merupakan misi politik atau sosial lainnya. Situasi politik kerajaan Bali ketika itu dalam situasi genting. Setelah di Kediri terjadi penyerbuan oleh Kerajaan Wurawari (dalam pertanyaan besar?) yang diserang tiba-tiba dalam pesta pernikahan Erlangga dengan sepupunya (keduanya merupakan cucu Raja Dharmawangsa Teguh) yang merupakan pernikahan politis menyatukan Bali dan Jawa (Timur), terjadi chaos politik di Bali. Raja Kediri dan Raja Udayana kemungkinan menjadi korban dalam penyerbuan tersebut. Kediri kocar-kacir kehilangan rajanya, demikian juga Bali. Mempelai putri dan mempelai pria (Erlangga) dikabarkan selamat dari amukan pasukan yang tiba-tiba menyerbu ke tengah pesta pernikahan. Erlangga dan mempelai mengungsi atau diungsikan ke tengah hutan dan menghilang, diperkirakan naik di hutan Wanagiri, Jawa Timur. Mereka mengungsi dan menghilang. Kemungkinan juga Mpu Kuturan ke Bali dalam situasi chaos politik tersebut, dan memilih Bali mengingat disebutkan bahwa cucunya yang di Bali (Anak Wungsu) nantinya didampingi menjadi raja Bali yang dalam pemerintahannya didampingi oleh Empu Kuturan. Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa Teguh (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (sekarang sekitar Maospati, Magetan, Jawa Timur). Ketika pesta pernikahan sedang berlangsung, tiba-tiba kota Wwatan diserbu Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram (sekarang desa Ngloram, Cepu, Blora), yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejadian tersebut tercatat dalam prasasti Pucangan (atau Calcutta Stone). Pembacaan Kern atas prasasti tersebut, yang juga dikuatkan oleh de Casparis, menyebutkan bahwa penyerangan tersebut terjadi tahun 928 Saka, atau sekitar 1006/7. Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (Wanagiri) ditemani pedamping setia yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Wwatan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009 itu, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Pada tahun 1023, Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga lebih leluasa mempersiapkan diri untuk menaklukkan Pulau Jawa.
  6. Dalam tradisi intelektual tradisional dan kependetaan Jawa Kuno dan Bali Kuno tersebut Kuturan bertumbuh dan memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap kependetaan dan tata pemerintahan. Kedekatan darah dan relasi kekuasaan dengan Kerajaaan Kediri dan Pejarakan, serta akses yang kemungkinan tak terbatas terhadap warisan sastra dan teks Jawa Kuno yang menjadi latar sosial dan pendidikan dari Empu Kuturan kecil.
  7. Sebuah sumber mengatakan bahwa Kuturan pertama ke Bali ketika terjadi perkawinan antar Udayana dengan Mahendradatta (putri Dharmawangsa Teguh). Selanjutnya Kuturan disinyalir bertugas sebagai pendamping posisi Ratu Mahendradatta sebagai Permaisuri yang lebih berkuasa dari Raja Udayana. Semenjak pernikahan Ratu Mahenderadatta dengan Raja Udayana terjadi perubahan pemakaian formal kerajaan dari bahasa Bali Kuno ke Bahasa Jawa Kuno. Dalam semua prasasti atau produk perundang-udangan kerajaan Bali di masa Raja Udayana, nama Ratu Mahendradatta sebagai permaisuri lebih depan disebut dibanding Udayana. Dalam prasasti tersebut juga disebutkan jabatan Empu Kuturan. Hal ini menjadi petunjuk sangat signifikan bagaimana posisi Jawa (Raja Dharmawangsa Teguh) lebih tinggi dibanding Bali (ayah Udayana). Pernihakan ini semacam pernikahan “penundukan”. Dan secara lingustika dengan digantinya Bali Kuno dengan Jawa Kuno menjadi bukti keterlibatan langsung peran intelektual Jawa dalam mengintervensi Bali secara kebahasaan. Mungkinkah ini peran Mpu Kuturan yang berperan sebagai pendamping Ratu Mahendradatta?
  8. Jika disebutkan bahwa kedatangannya ke Bali tahun 1000 maka bisa dirunut bahwa ia lahir di masa pemerintahan Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa adalah raja terakhir Kerajaan Medang yang memerintah pada tahun 991–1007 atau 1016. Selain disebutkan dalam berbagai prasasti , nama Dharmawangsa ditemukan dalam naskah Mahabharata bahasa Jawa Kuno, pada bagian Wirataparwa, yang ditulis pada tanggal 14 Oktober 996. Ia adalah raja yang memerintahkan penerjemahan Mahabharata ke dalam bahasa Jawa Kuno. Bisa dibayangkan kehidupan kesastraan dan perhatian kelompok intelektual di sekitar Mpu Kuturanketika itu sedemikian kaya dan tercerahkan, sampai pihak kerajaan mempunyai “proyek penerjemahan” kitab Mahabharata, dan berbagai proyek penulisan lainnya. Dalam suasana kesastraan seperti inilah Kuturan dibesarkan. Berbagai prasasti dan kitab lain yang lahir atau ditulis di Jawa ketika Kuturan masih di Jawa akan menjadi lampiran tersendiri untuk memahami setting kulutral dan intelektualitas dimana Kuturan bertumbuh dan dibesarkan.
  9. Kuturan dibesarkan dalam tradisi keluarga Mpu. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai babad yang mengkaitkan Empu Kuturan dalam berbagai pohon silsilah terkait langsung dengan Mpu Semeru dan Mpu Gnijaya.
  10. Gunapriyadharmapatni lahir pada tahun 961 dan tumbuh di istana Watugaluh, Jawa Timur. Dia adalah seorang puteri Jawa dari Dinasti Isyana Jawa Timur, putri raja Sri Makutawangsawarddhana (bukan Dharmawangsa) dari masa Kerajaan Medang akhir. Dia adalah saudara perempuan Raja Dharmawangsa dari Medang. Dia kemudian dinikahkan dengan Raja Bali, Udayana Warmadewa, dan pindah ke pulau sebagai permaisuri ratu dan mengambil nama Mahendradatta. Jika disebutkan mendampingi Mahendradatta yang lahir sekitar tahun 961, maka kemungkinan Mpu Kuturan lebih senior atau lahir lebih awal dari tahun 961.
  11. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa tahun 1000 bukan tahun pernihakan Udayana dan Mahendradatta (39 tahun terlalu tua untuk menikah/dinikahkan). Disebutkan bahwa tahun 1000 masehi adalah momentum besar dalam perayaan di Besakih, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Bradah yang kini salinannya masih disimpan di Pura Glap di Besakih. Foto prasasti akan dilampirkan.
  12. Teks-teks tersebut di atas adalah “teks historis” bahwa Mpu Kuturan masih hidup di tahun 1042 dan menetap di Bali, serta mempunyai otoritas kuat dalam negosiasi bahkan sebagai pemutus dalam urusan kenegaraan atau antar negara. Disebutkan bahwa Mpu Kuturan mengancam akan terjadi pertumpahan darah jika putra Airlangga dipaksakan menggantikan raja yang masih berkuasa dan dicintai warganya. Seperti dibuktikan oleh temuan berbagai prasasti/piagam kerajaan Bali kuno dalam bentuk tembaga, berbagai prasasti tersebut menyebutkan kemuliaan dan keluhuran sifat Raja Anak Wungsu.
  13. Teks lain mengatakan bahwa trah Sang Guhu atau Sang Guru (selanjutnya disebut sebagai Sangguhu) adalah keturunan Kuturan di Bali. Keluarga ini selanjutnya tinggal di banjar atau rumpun perumahan yang dikenal sebagai Sangguhan (Sengguan) menjadi guru-guru di pedesaan di Bali.

Teks-teks tersebut kita temui dalam bentuk Babad Pasek, Calonarang, dan teks terkait Mpu Kuturan lainnya. Teks-teks tersebut di atas sangat menarik untuk didalami lebih jauh untuk menyingkap sisi historis dari Mpu Kuturan, peletak dasar pilar kebudayaan Bali.

Tags: lontarpertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpanjangan PPKM: Babak Akhir Penanganan Covid-19?

Next Post

Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co