7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha

I Made Sujaya by I Made Sujaya
April 22, 2023
in Kritik Sastra
Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha

Buku puisi karya I Wayan Suartha

DALAM SEBUAH ESAINYA di Bali Post Minggu, 22 Oktober 1995, I Wayan Westa menyebut Klungkung dengan ibukotanya Semarapura sebagai kota bagi para penyair, kota para pendamba keindahan.

Gagasan kota para penyair, kota pendamba keindahan itu tak semata dirumuskan dari makna kata kung pada nama Klungkung dan smara pada nama Semarapura yang sama-sama berarti “cinta” atau “keindahan”, tetapi juga fakta historis sejumlah penyair penting dalam sejarah sastra tradisional Bali lahir di Klungkung.

Pada masa Gelgel, lahir dua sastrawan penting, yakni kawi-wiku Danghyang Nirartha dan I Gusti Dauh Bale Agung. Pada masa Klungkung, dikenal nama I Dewa Agung Istri Kanya, Ida Pedanda Gede Rai dan Anak Agung Pemeregan.

Dewa Agung Istri Kanya merupakan raja kawi yang menulis sejumlah karya sastra sejarah yang penting bagi historiografi Klungkung. Dua di antaranya Pralambang Bhasa Wewatekan dan Kidung Padem Warak.  Ida Pedanda Gede Rai tak lain kawi-wiku yang menjadi guru bagi raja-raja Klungkung. Karya sastranya yang terkenal, Kidung Pamancanggah yang juga menjadi rujukan penting sejarah Bali. Anak Agung Pemeregan adalah seorang keluarga kerajaan Klungkung yang melakoni jalan nyastra. Salah satu karya sastranya yang dikenal menawan, yakni Geguritan Duh Ratnayu.

Dalam jagat sastra modern, Klungkung juga masih menjadi rahim bagi kemunculan sejumlah penyair dan sastrawan Bali, baik yang menulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Mereka antara lain I Wayan Suartha, IBG Parwita, IDK Raka Kusuma –yang kemudian memilih bermukim di Karangasem—, Gede Artawan –kini bermukim dan berkiprah di Singaraja–, Herry Wijaya, Ngakan Kasub Sidan, Ketut Sumarta, Nyoman Mastra, Ketut Rai Sulastra, Agung Bawantara, Ketut Aryawan Kenceng, termasuk Wayan Westa sendiri.

Belakangan muncul juga generasi terbaru, seperti I Komang Adnyana, Ni Made Purnama Sari, Juli Sastrawan, Carma Citrawati, I Gede Gita Purnama dan I Made Suar Timuhun. Klungkung seolah tidak pernah kehabisan daya untuk terus mengaliri telaga sastra di Bali.

Di antara para penulis sastra modern itu, terutama yang menulis dalam bahasa Indonesia, I Wayan Suartha mungkin memiliki emosi paling kuat terhadap Klungkung. Penyair yang tumbuh bersama Sanggar Binduana Klungkung ini banyak mengabadikan Klungkung dalam sajak-sajaknya. Tahun 2020, bersamaan dengan karibnya sesama penyair Klungkung, IBG Parwita, Suartha merilis buku kumpulan puisi pertamanya, Buku Harian Ibu Belum Selesai.

Sosok I Wayan Suartha

I Wayan Suartha lahir di Klungkung pada tahun 1957. Dia lama menjadi guru di SMP PGRI Klungkung dan pensiun sebagai guru aparatur sipil negara (ASN) di SMA Pariwisata PGRI Dawan, Klungkung. Meski sudah pensiun, Suartha masih mengurus kegiatan literasi di sekolahnya, termasuk menjadi penjaga gawang majalah sekolah PAS milik SMA Pariwisata PGRI Dawan Klungkung.

Suartha mulai menulis sajak sejak SMP tetapi baru dipublikasikan tahun 1977 di sejumlah media massa, seperti Bali Post, Karya Bakti, Warta Mahasiswa, Nusa Tenggara, majalah Hai, dan Merdeka. Di samping menulis sajak, Suartha juga aktif menulis cerpen, naskah drama, serta catatan kecil apresiasi sastra dan teater. Bahkan, bersama Sanggar Binduana yang didirikannya bersama IBG Parwita, dia memainkan puluhan fragmennya di TVRI Stasiun Denpasar.

Sajak-sajak Suartha dimuat dalam sejumlah antologi bersama penyair lain, antara lain Pintu Ilalang, Spektrum, Teh Ginseng, Nuansa Tata Warna Batin, antologi puisi berbahasa Bali Pupute Tan Sida Puput serta Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta. Tahun 2005, bersama penyair IBG Parwita diundang membacakan sajaknya dalam Ubud Writers and Readers Festival. Naskah dramanya, Rantai Putus terbit tahun 2012 yang mengantarkannya meraih penghargaan Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali.

78 Sajak Selama 41 Tahun

Buku Harian Ibu Belum Selesai merupakan kumpulan puisi pertama karya I Wayan Suartha. Dalam buku ini terhimpun 78 sajak Suartha yang sudah dipilih dari sajak-sajaknya yang ditulis dalam rentang waktu 41 tahun. Sajak pertama dalam buku ini berangka tahun 1979 dan sajak terbaru berangka tahun 2020.

Dari 78 sajak dalam buku ini sedikitnya ada 18 sajak dalam kumpulan puisi Buku Harian Ibu Belum Selesai yang menggunakan Klungkung dan tempat-tempat di wilayah Klungkung sebagai judul, seperti Kali Unda, Pantai Klotok, Kusamba, Karangdadi, Tihingan, dan Sengkiding. Beberapa sajak lain juga merupakan narasi tentang sejarah Klungkung. Suartha seolah sedang menunjukkan identitasnya sebagai penyair Klungkung.

Pemaknaan Suartha tentang Klungkung, tanah kelahirannya, terekam kuat dalam sajak “Rumah Klungkung”. “Mata itu matahari seluruh mata/ dari hulu kali yang jauh/ dusun dusun ketakjuban/ mengalir aksara ning aksara/ semesta kecil semesta agung/ hanyut-hanyut ke dasar getaran/ tumpah lewat matamata pisau/ sepanjang asal usul/ pantai yang segar/ melayangkan/ asmara pemberontakan pernah tertulis/ tragedi ketulusan belapati/kekawin tarian langit mengisi/ angkasa jiwaraya/ dihembus angin tanah ini/ masuklah/”

Larik “mata itu matahari seluruh mata” tampaknya merujuk kepada keberadaan Klungkung secara historis yang menjadi pernah pusat orientasi politik, kultural dan spiritual masyarakat Bali. Sampai kini pun, secara kultural, Klungkung masih dilihat sebagai “rumah sejarah”, tempat orang-orang Bali menengok sejarah masa silamnya. Suartha menulis sebuah lirik, “Ingatlah!/ segalanya dari timur awalnya/”. Penyair Wayan Jengki Sunarta juga menulis sajak “Smarapura” yang menyebut Semarapura sebagai asal mula: “namun, Semarapura/ sejatinya bapa/ dari mana kau bermula/.

Kecintaan Suartha kepada Klungkung serupa kecintaan seorang anak kepada ibunya. Karena segala yang melahirkan itu diberi tanda ibu, tanah kelahiran juga disebut ibu. Kearifan tradisi menyebutnya sebagai ibu pertiwi. Cinta tulus seorang ibu sepatutnya memang disambut cinta penuh seorang anak.

Mungkin karena itu, Suartha begitu terpesona dengan kisah perjuangan membela tanah kelahiran yang dipentaskan raja bersama rakyat Klungkung dalam perang Puputan Klungkung. Suartha memaknai keperwiraan para pahlawan Klungkung itu laksana kecintaan anak-anak terhadap ibunya sendiri, ibu pertiwi yang disebutnya sebagai “upacara bumi”. “Kalaulah sudah, sebiji buah penjor/ tertembak/ rasakan gemuruh, aku teriakan itu/keris mengkarat sekalipun/ jimat setengah bertuah sisa lalu/ meyakini seyakin-yakinnya inilah puputan/ upacara bumi/dan dengarkan, aku teriakan itu/sebagai kematian di tanah peperangan/kesetiaan dikobaran kematian/sungguh keramat memang puputan// (“Kalaulah”).

Betapa mulianya pengorbanan darah bagi ibu pertiwi itu sehingga seorang Kumpi Wayan, tokoh yang dimunculkan Suartha dalam sajaknya yang berjudul “Puputan Klungkung”, merasa “perih penuh kecewa” karena “ia tak ikut mati” membasuh tubuh sang ibu bumi. Tokoh Kumpi Wayan menjadi semacam refleksi kerinduan seorang anak kepada ibu pertiwi. Bukan sekadar untuk merasakan kehangatan pelukan ibu, tetapi pulang kembali ke rahim ibu semesta, membayar segala utang-utang hidup dan kehidupan.

Kerinduan kepada Ibu

Sosok ibu memang begitu mengobsesi Suartha. Masa kecil Suartha adalah masa-masa kehilangan sang ibu kandung. Petaka letusan Gunung Agung merenggut kasih sayang ibunya untuk selama-lamanya. Peristiwa itu direkam padat dan kuat dalam sajak “Hujan Bulan Oktober”. “Senja hujan bulan oktober/ haripun tiba  waktu mendekap/ orang orang berbasah dalam langkah dingin/ langit berdebu, hujan belum reda/ anak anak terdiam menatap/ tanpa suara kasih terlepas/ ibu sudah tak ada di rumah/ cintanya bergetar menggedor/”. Pada bait terakhir, Suartha lalu menulis, “anak anak mengunjungi rumah/ membersihkan halaman duka luka/ ibu tersenyum/ berjarak kata bahasa berbeda/ pelan pelan hilang/aku terdiam/ ibu dalam bunga jiwaku//”.

Jadilah sajak-sajak Suartha, seperti kata penyair Umbu Landu Paranggi dalam kata pengantar di buku ini, serupa lagu rindu untuk ibu. Seperti kerinduan anak-anak didongengkan dan didendangkan ibu kala malam jelang tidur. Sajak “Jembatan Silang” dan “Buku Harian Ibu Belum Selesai” melukiskan luapan rasa haru rindu Suartha pada dekapan, dongeng dan tembang-tembang ibu. “Buku harian ibu belum selesai/ buku semesta wangi tanah/ kenangkanlah/ sekalipun ada yang retak/ karena kanak-kanak mencintai/ apa adanya aksara ibu//.

Lagu rindu yang tidak saja ditujukan kepada ibu kandung yang melahirkan, tetapi juga ibu pertiwi: Bumi Klungkung dan Kota Smarapura. Karena itu, membaca sajak-sajak Suartha, pembaca seperti diajak kembali ke masa silam. Serupa dongeng-dongeng purba tentang keagungan leluhur. Mungkin bagi sebagian orang terasa sebagai romantisasi masa lalu. Tapi, begitulah cara Suartha membalas cinta kasih ibu pertiwi, tanah kelahiran yang setia menyangga, sepanjang masa. Melalui cermin bening masa lalu, orang bisa memahami kesejatiannya di masa kini dan bersiap menatap masa depan. [T]

Dari Sunyi Kembali ke Sunyi: Membaca Sajak-sajak IBG Parwita
Perayaan HUT Kosala: Bersatulah Sastrawan-sastrawan Bumi Serombotan Klungkung
Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung
Tags: buku puisiKlungkungkumpulan puisiPuisisastrawansastrawan baliUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Iin Valentine | Kursi Penumpang, Telusur, Kelana

Next Post

Nama-nama Orang Indonesia : Kreatifitas Atau Anu?

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Nama-nama Orang Indonesia : Kreatifitas Atau Anu?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co