23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
February 5, 2021
in Esai
Merevisi Nukilan Sejarah Visual |  “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Ertic Relief -- Drawing WOJ Nieuwenkamp 1918 dan Relief di Bale Kukul Desa Takmung Klungkung

Bagi saya, sangat menyenangkan untuk mengerjakan sesuatu yang berkenaan dengan sejarah visual, sebab pada tiap lembarannya tidak hanya tulisan melainkan juga ada visual atau rupa yang ditampilkan, baik tulisan dan visual saya menyukai keduanya.

Manusia selain meninggalkan nama tentu juga meninggalkan artefak, ketika arterfak tersebut didokumentasikan melalui sketsa atau gambar pada masa lalu, yang mendokumentasikannya pun meninggalkan artefaknya, artefak itu kemudian di tulis dalam sebuah buku oleh orang lainnya, tentu ia kemudian meninggalkan buku sebagai artefak, dan begitu kemudian terus-menerus.

Berbeda dengan pencuri yang harus menghilangkan jejak dengan sengaja, di dalam dunia visual, jejak tersebut harus bertahan agar generasi selanjutnya mampu menyerap apa yang ditinggalkan oleh pendahulunya, mengapresiasinya, memuji, menyalahkan, maupun merevisi.

Merevisi saya pilih sebagai kata utama dalam judul bukan tanpa alasan, sebab ketika kita menyalahkan sesuatu (kotradiktif) seolah kita tidak terima dengan adanya kebenaran di dalamnya, dengan kata lain, menolak. Revisi dalam pengertian kamus bahasa Indonesia memiliki arti peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan (kata benda), dalam kata kerja istilah merevisi berarti memperbaiki; memperbaharui. Dengan merevisi maka akan ada lapisan atau susunan-susunan data dan analisa baru sebagai perbandingan dan pada tahap ini justru lebih memperkaya nilai sesuatu yang direvisi.

Ketika saya membuka pertama kali buku dengan judul “W.O.J Nieuwenkamp Fisrt European Artist in Bali” (1997) di tulis oleh Bruce W. Carpenter saya menjumpai sebuah relief yang menarik perhatian saya.

Alasan ingin sekali membaca buku tersebut, pertama, karena penasaran dengan nama I Ketut Gede Singaraja yang menggambar ratusan karya untuk Van der Tuuk di Singaraja, sebab W.O.J Nieuwenkamp tercatat pernah berjumpa dengan I Ketut Gede Singaraja secara langsung dan dirinya sungguh gembira luar biasa dapat berjumpa dengan pelukis yang banyak membantu Van der Tuuk dalam hal membuat ilustrasi pada akhir abad-19.

Alasan kedua, karena cukup susah untuk mendapatkan buku tersebut selain memang harganya lumayan menguras kantong untuk buku baru, jadi beruntung tahun lalu atau dua tahun lalu saya berhasil mendapatkan buku tersebut secara online dengan status barang second. Sebelumnya, saya membuka, membaca dan memfoto buku ini pertama kali di rumah seorang sahabat di Sanggulan, Tabanan, Bli Nengah Januarta yang juga ternyata meminjam buku teman baiknya. Di buku tersebut kemudian saya berjumpa dengan karya W.O.J Nieuwenkamp, tentang sebuah relief yang menarik perhatian saya itu.

Mundur sedikit ke belakang, bahwa W.O.J Nieuwenkamp lahir pada 1874 adalah seorang seniman rupa yang pertama kali berkunjung ke Bali pada tahun 1904, dan pada tahun-tahun berikutnya bolak-balik antara Belanda, Pulau Jawa, Pulau Bali, Lombok, dan beberapa pulau lainnya di Hindia-Belanda kala itu. Kunjungannya ke berbagai daerah banyak menghasilkan karya lukisan juga gambar. Saya kira aktivitasnya dalam seni rupa sebagai catatan perjalanannya, terlebih di Bali ia tidak segan-segan untuk berguru kepada seniman-seniman lokal seperti pelukis, dalang maupun undagi. Figur W.O.J Nieuwenkamp juga yang sosoknya terpahatkan pada relief orang asing naik sepeda di Pura Meduwekarang, Kubutambahan, Buleleng.

Di dalam buku yang saya bicarakan ini banyak dimuat karya lukis maupun gambar-gambar, pun ada beberapa tulisan surat-suratnya yang ditampilkan ketika di Bali, salah satunya adalah gambar sebuah relief erotis yang mencuri perhatian saya dan ia rekam dengan gambar di wilayah Klungkung.

Relief yang digambarnya menarasikan tentang seorang pria sedang telanjang bulat sedang diikat pada batang pohon, di hadapan pria tersebut ada dua orang wanita yang juga telanjang meski dibuat mempergunakan kain kamben namun justru disingkapkan yang menjadikan citranya erotis.

Drawing WOJ Nieuwenkamp 1918 – erotic relief.jpg

Pada bagian bawah gambar terdapat informasi mengenai gambar dengan judul “Erotic Relief”, medium gambarnya “pencil, pen, and ink, 22x18cm”, lokasinya ditulis “Bali” dan tahunnya ditulis “1906”, lebih dari itu pada bagian bawah informasi karya tersebut ditulis oleh Bruce W. Carpenter sebuah narasi “this erotic relief was discovered by Nieuwenkamp in the vicinity of Klungkung Palace”. Gambar dan narasi ini terdapat pada halaman 194.

Saya mengingat betul dengan gambar relief ini sehingga ketika saya mengunjungi sahabat di Griya Gde Lelandep Kemenuh, Ida Bagus Komang Sindu Putra di Desa Takmung, Klungkung yang posisi rumahnya berseberangan dengan sebuah tempat suci yaitu Pura Desa dan Bale Agung Takmung. Perhatian saya tertuju pada bale kulkulnya, setiap saya lewat di jalur tersebut hampir selalu mencuri pandangan ke arah balai kulkul hingga memastikan bahwa relief yang terpahatkan di dinding bagian barat balai kulkul adalah relief yang sama dengan gambar W.O.J Nieuwenkamp.

Bale Kulkul Pura Desa Takmung, Klungkung, Bali
 Relief erotic – Bale Kukul Pura Desa Takmung, Klungkung, Bali

Namun muncul beberapa pertanyaan, sebab narasi yang diberikan oleh Bruce W. Carpenter bahwa relief tersebut ditemukan oleh W.O.J Nieuwenkamp di daerah sekitar Puri Klungkung setelah peristiwa Puputan Klungkung berakhir dan juga pertanyaan pada penanggalannya di buku setelah saya melakukan pengecekan ulang.

Yang pertama adalah, bayangan saya tentang daerah sekitar puri yang dimaksud mungkin di sekitar pasar Klungkung sekarang, atau di sekitar Banjar Pameregan, mungkin di sekitar Pekandelan, atau di wilayah Bendul juga Lebah yang memang posisinya berada di sekitar puri, sejauh-jauhnya saya bayangkan mungkin di wilayah Desa Kemoning atau Budaga. Namun ternyata relief ini terdapat di Desa Takmung yang kurang lebih terpisahkan oleh dua sungai dari areal Puri Klungkung.

Selanjutnya adalah mengenai angka tahun, di dalam buku ditulis tahun dibuat gambarnya adalah tahun 1906 namun jika diteliti kembali pada gambar yang dibuat W.O.J Nieuwenkamp maka pada bagian bawah gambar jelas tertera nama pembuat gambar dan angka tahun dibuatnya. Dalam gambar tersebut tertulis “W.O.J.N. 27.9.1918”, tulisan berupa singkatan paling depan tentu merujuk kepada nama seniman sedangkan angkanya merujuk kepada tanggal 27 bulan September tahun 1918.

Jadi kesimpulan saya tentu ada sedikit kekeliruan terutama pada penulisan penanggalan yang dibuat oleh penulis buku, namun sebagaimana makna merevisi itu, sedikit tidaknya saya berhasil berjumpa sekaligus mendokumentasikannya dan lebih bahagianya mengetahui dimana posisi aktual relief yang digambarkan pada tahun 1918 tersebut kemudian ditampilkan pada buku yang terbit tahun 1997 dan saya merevisinya pada tahun 2021. [T]

Pohmanis, Denpasar / 5 Februari 2021

Tags: Erotic RelieferotisRelief BaliRelief ErotisSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Next Post

Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co