14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
February 5, 2021
in Esai
Merevisi Nukilan Sejarah Visual |  “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Ertic Relief -- Drawing WOJ Nieuwenkamp 1918 dan Relief di Bale Kukul Desa Takmung Klungkung

Bagi saya, sangat menyenangkan untuk mengerjakan sesuatu yang berkenaan dengan sejarah visual, sebab pada tiap lembarannya tidak hanya tulisan melainkan juga ada visual atau rupa yang ditampilkan, baik tulisan dan visual saya menyukai keduanya.

Manusia selain meninggalkan nama tentu juga meninggalkan artefak, ketika arterfak tersebut didokumentasikan melalui sketsa atau gambar pada masa lalu, yang mendokumentasikannya pun meninggalkan artefaknya, artefak itu kemudian di tulis dalam sebuah buku oleh orang lainnya, tentu ia kemudian meninggalkan buku sebagai artefak, dan begitu kemudian terus-menerus.

Berbeda dengan pencuri yang harus menghilangkan jejak dengan sengaja, di dalam dunia visual, jejak tersebut harus bertahan agar generasi selanjutnya mampu menyerap apa yang ditinggalkan oleh pendahulunya, mengapresiasinya, memuji, menyalahkan, maupun merevisi.

Merevisi saya pilih sebagai kata utama dalam judul bukan tanpa alasan, sebab ketika kita menyalahkan sesuatu (kotradiktif) seolah kita tidak terima dengan adanya kebenaran di dalamnya, dengan kata lain, menolak. Revisi dalam pengertian kamus bahasa Indonesia memiliki arti peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan (kata benda), dalam kata kerja istilah merevisi berarti memperbaiki; memperbaharui. Dengan merevisi maka akan ada lapisan atau susunan-susunan data dan analisa baru sebagai perbandingan dan pada tahap ini justru lebih memperkaya nilai sesuatu yang direvisi.

Ketika saya membuka pertama kali buku dengan judul “W.O.J Nieuwenkamp Fisrt European Artist in Bali” (1997) di tulis oleh Bruce W. Carpenter saya menjumpai sebuah relief yang menarik perhatian saya.

Alasan ingin sekali membaca buku tersebut, pertama, karena penasaran dengan nama I Ketut Gede Singaraja yang menggambar ratusan karya untuk Van der Tuuk di Singaraja, sebab W.O.J Nieuwenkamp tercatat pernah berjumpa dengan I Ketut Gede Singaraja secara langsung dan dirinya sungguh gembira luar biasa dapat berjumpa dengan pelukis yang banyak membantu Van der Tuuk dalam hal membuat ilustrasi pada akhir abad-19.

Alasan kedua, karena cukup susah untuk mendapatkan buku tersebut selain memang harganya lumayan menguras kantong untuk buku baru, jadi beruntung tahun lalu atau dua tahun lalu saya berhasil mendapatkan buku tersebut secara online dengan status barang second. Sebelumnya, saya membuka, membaca dan memfoto buku ini pertama kali di rumah seorang sahabat di Sanggulan, Tabanan, Bli Nengah Januarta yang juga ternyata meminjam buku teman baiknya. Di buku tersebut kemudian saya berjumpa dengan karya W.O.J Nieuwenkamp, tentang sebuah relief yang menarik perhatian saya itu.

Mundur sedikit ke belakang, bahwa W.O.J Nieuwenkamp lahir pada 1874 adalah seorang seniman rupa yang pertama kali berkunjung ke Bali pada tahun 1904, dan pada tahun-tahun berikutnya bolak-balik antara Belanda, Pulau Jawa, Pulau Bali, Lombok, dan beberapa pulau lainnya di Hindia-Belanda kala itu. Kunjungannya ke berbagai daerah banyak menghasilkan karya lukisan juga gambar. Saya kira aktivitasnya dalam seni rupa sebagai catatan perjalanannya, terlebih di Bali ia tidak segan-segan untuk berguru kepada seniman-seniman lokal seperti pelukis, dalang maupun undagi. Figur W.O.J Nieuwenkamp juga yang sosoknya terpahatkan pada relief orang asing naik sepeda di Pura Meduwekarang, Kubutambahan, Buleleng.

Di dalam buku yang saya bicarakan ini banyak dimuat karya lukis maupun gambar-gambar, pun ada beberapa tulisan surat-suratnya yang ditampilkan ketika di Bali, salah satunya adalah gambar sebuah relief erotis yang mencuri perhatian saya dan ia rekam dengan gambar di wilayah Klungkung.

Relief yang digambarnya menarasikan tentang seorang pria sedang telanjang bulat sedang diikat pada batang pohon, di hadapan pria tersebut ada dua orang wanita yang juga telanjang meski dibuat mempergunakan kain kamben namun justru disingkapkan yang menjadikan citranya erotis.

Drawing WOJ Nieuwenkamp 1918 – erotic relief.jpg

Pada bagian bawah gambar terdapat informasi mengenai gambar dengan judul “Erotic Relief”, medium gambarnya “pencil, pen, and ink, 22x18cm”, lokasinya ditulis “Bali” dan tahunnya ditulis “1906”, lebih dari itu pada bagian bawah informasi karya tersebut ditulis oleh Bruce W. Carpenter sebuah narasi “this erotic relief was discovered by Nieuwenkamp in the vicinity of Klungkung Palace”. Gambar dan narasi ini terdapat pada halaman 194.

Saya mengingat betul dengan gambar relief ini sehingga ketika saya mengunjungi sahabat di Griya Gde Lelandep Kemenuh, Ida Bagus Komang Sindu Putra di Desa Takmung, Klungkung yang posisi rumahnya berseberangan dengan sebuah tempat suci yaitu Pura Desa dan Bale Agung Takmung. Perhatian saya tertuju pada bale kulkulnya, setiap saya lewat di jalur tersebut hampir selalu mencuri pandangan ke arah balai kulkul hingga memastikan bahwa relief yang terpahatkan di dinding bagian barat balai kulkul adalah relief yang sama dengan gambar W.O.J Nieuwenkamp.

Bale Kulkul Pura Desa Takmung, Klungkung, Bali
 Relief erotic – Bale Kukul Pura Desa Takmung, Klungkung, Bali

Namun muncul beberapa pertanyaan, sebab narasi yang diberikan oleh Bruce W. Carpenter bahwa relief tersebut ditemukan oleh W.O.J Nieuwenkamp di daerah sekitar Puri Klungkung setelah peristiwa Puputan Klungkung berakhir dan juga pertanyaan pada penanggalannya di buku setelah saya melakukan pengecekan ulang.

Yang pertama adalah, bayangan saya tentang daerah sekitar puri yang dimaksud mungkin di sekitar pasar Klungkung sekarang, atau di sekitar Banjar Pameregan, mungkin di sekitar Pekandelan, atau di wilayah Bendul juga Lebah yang memang posisinya berada di sekitar puri, sejauh-jauhnya saya bayangkan mungkin di wilayah Desa Kemoning atau Budaga. Namun ternyata relief ini terdapat di Desa Takmung yang kurang lebih terpisahkan oleh dua sungai dari areal Puri Klungkung.

Selanjutnya adalah mengenai angka tahun, di dalam buku ditulis tahun dibuat gambarnya adalah tahun 1906 namun jika diteliti kembali pada gambar yang dibuat W.O.J Nieuwenkamp maka pada bagian bawah gambar jelas tertera nama pembuat gambar dan angka tahun dibuatnya. Dalam gambar tersebut tertulis “W.O.J.N. 27.9.1918”, tulisan berupa singkatan paling depan tentu merujuk kepada nama seniman sedangkan angkanya merujuk kepada tanggal 27 bulan September tahun 1918.

Jadi kesimpulan saya tentu ada sedikit kekeliruan terutama pada penulisan penanggalan yang dibuat oleh penulis buku, namun sebagaimana makna merevisi itu, sedikit tidaknya saya berhasil berjumpa sekaligus mendokumentasikannya dan lebih bahagianya mengetahui dimana posisi aktual relief yang digambarkan pada tahun 1918 tersebut kemudian ditampilkan pada buku yang terbit tahun 1997 dan saya merevisinya pada tahun 2021. [T]

Pohmanis, Denpasar / 5 Februari 2021

Tags: Erotic RelieferotisRelief BaliRelief ErotisSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Next Post

Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Menteri Pariwisata Ini Jalan-jalan di Desa, Sapa Petani dan Pelukis, Meski Tak Berkantor di Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co