3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Vincent Chandra by Vincent Chandra
February 5, 2021
in Khas
Gurat Memoar | Ida Bagus Sena,  Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Ilustrasi: Ida Bagus Sena sedang melukis [Vincent Chandra]

Seorang filsuf besar di Athena, Socrates—dalam rangka membuktikan salah satu kebenaran ajaran filsafatnya di ruang pengadilan tempat ia akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan meneguk segelas minuman hemlock—sempat menyampaikan bahwa kebijaksanaan tidak dapat ditemui dari seorang yang berprofesi sebagai penyair, pemahat, dan pelukis. Andai Socrates lahir di jaman yang berbeda atau masih hidup sampai sekarang dan tinggal di Bali—terlebih bila mendapat kesempatan mengikuti perjalanan kami (tim Gurat Institute) menemui Ida Bagus Sena di studionya di Tebesaya, Ubud, Bali, pada hari Senin, 1 Februari 2021—mungkin ia akan mengubah kesimpulannya.

Bagi Socrates, kebijaksanaan sejati terkandung pada pengetahuan bahwa diri kita tidak tahu apa-apa. Dengan itu saya rasa saya cukup tepat jika menyebut Ida Bagus Sena sebagai orang yang bijak. Pasalnya hampir setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan tentang karya-karyanya dan kesehariannya banyak ia awali dengan amat rendah diri, “Niki sampun, tyang nak belog.. (itu dah, saya orang bodoh/ tak tahu apa)”. Walaupun selanjutnya Tu Aji (sapa kami kepada Ida Bagus Sena; sapaan untuk orang Bali yang berasal dari golongan Brahmana) sendiri dapat menyampaikan pengetahuan-pengetahuannya secara fasih kepada tim Gurat.

Dalam pertemuan singkat sekitar 4 jam itu, rombongan kami—diantaranya pak Wayan Seriyoga Parta, Made Susanta Dwitanaya, Asok Nagara, Putra Wali Aco, Totok Hariyono, I Kadek Wiradinata, Putu Yoga Satyadhi, dan saya—beberapa kali dibuat takjub oleh penyampaian Tu Aji terkait pemikiran-pemikiran yang telah mengantarkan beliau pada segala pencapaiannya yang penuh kedalaman secara visual dan maknawi, serta kesungguhan pada tiap proses berkaryanya. Soal karya-karya Tu Aji sendiri nanti akan dijelaskan lebih lanjut oleh guru-guru saya di Gurat Institute dalam buku tentang Ida Bagus Sena yang rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Memang terkesan cukup cepat untuk menerbitkan buku lagi, mengingat pada bulan Desember tahun 2020 lalu kami baru saja menerbitkan buku “I Gusti Made Deblog, Master Seni Lukis Naturalis Denpasar Bali”. Namun tidak berarti Gurat sedang terburu-buru. Kurang lebih sama seperti riset tentang Deblog yang telah dimulai sejak tahun 2014, riset tentang Tu Aji ini telah dimulai sejak tahun 2018 oleh salah satu founder Gurat, Wayan Seriyoga Parta yang akrab kami sapa Pak Yoga. Namun riset tersebut mulanya Pak Yoga lakukan untuk kebutuhan menulis dalam porsinya sebagai kurator pameran tunggal Tu Aji di Museum Puri Lukisan pada pertengahan tahun 2018.

Memberi label “orang bijak” pada Tu Aji saya rasa belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan tentangnya. Karena itu saya perlu mengutip apa yang telah dituliskan oleh Pak Yoga dalam katalog pameran tunggal Tu Aji, yang pertama “(Ida Bagus Sena) selalu berusaha memetik pelajaran dari banyak orang, sehingga tidak pernah pupus senantiasa selalu belajar, hal ini ia petik secara tidak langsung dari pamannya Ida Bagus Made dan begitu membekas hingga menjadi tuntunan bagi dirinya untuk senantiasa mengembangkan diri”. Kedua, Pak Yoga juga menyimpulkan bahwa karya-karya Tu Aji adalah ruang penghayatan dalam dirinya sebagai upaya untuk memahami hidup, serta memahami perannya sebagai  suami dan ayah bagi keluarganya.

Ida Bagus Sena

Meski lahir dan besar di tengah lingkungan seniman, Tu Aji ternyata menemukan bahasa rupanya sendiri dengan cara otodidak. Ia tidak pernah benar-benar belajar langsung lewat kakeknya Ida Bagus Made Kembeng, pamannya Ida Bagus Made (Poleng), atau bahkan ayahnya sendiri Ida Bagus Wiri yang juga adalah seorang pelukis. Temuannya ini berhasil ia peroleh melalui dialog-dialog sunyi antara dirinya dengan pengalamannya, dirinya dengan medium gambar, dan dirinya dengan kegelisahannya. Proses kompleks yang berbekal keuletan, kemampuan teknis yang matang, serta pengetahuan-pengetahuan mengenai nilai filosofis budayanya ini membuat nama Tu Aji kemudian diakui diantara para seniman-seniman, khususnya di daerah Tebesaya Ubud.

Sebagai seorang yang juga belajar menggambar secara otodidak sejak kecil, melihat karya-karya Tu Aji tentu membuat saya tertampar dan termotivasi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sesungguhnya proses-proses itu dilalui oleh Tu Aji, yang pasti saya sepakat dengan yang dinyatakan oleh Pak Yoga dalam katalog pameran tunggal Tu Aji, apa yang kami lihat di studionya hari itu adalah karya-karya yang menampakkan kualitas estetik serta nilai-nilai intrinsik yang kaya dengan makna. Terutama salah satu karya hitam putihnya yang berukuran cukup besar dan mendominasi seluruh bagian ruangan, karya yang belum lama ini baru ia lahirkan setelah dikerjakan selama 3 tahun (2018-2021).

Kami tidak heran mengapa karya ini bisa dikerjakan begitu lama. Terlebih apabila dilihat secara langsung, pada tiap sudut dalam bidang lukisnya kita bisa temukan detil-detil yang membuat mata seakan ingin terus masuk menembus lapisan-lapisan warna dari gelap ke terang yang dibuat secara perlahan dan sulit dihitung jumlahnya. Karya ini Tu Aji hasilkan menggunakan kuas bambu dan tinta yang diolah dengan teknik lukis tradisional Bali yaitu mulai dari membuat sketsa (ngorten), membuat gelap terang (ngabur), menegaskan bentuk (ngucek/ngeskes), dan mendetil (nyawi). Teknik ini banyak dipakai oleh para pelukis di Ubud.

Beruntungnya selain mengobrol banyak dan cukup lama, rombongan kami juga berkesempatan untuk melihat proses berkarya Tu Aji secara langsung. Mulai dari mempersiapkan kuas bambu hingga proses ngeskes. Ditengah kesempatan itu Tu Aji juga mengeluarkan kumpulan sketsa-sketsanya yang banyak diantaranya belum sempat ia terjemahkan keatas kanvas. Sketsa-sketsa ini isinya hanya coretan-coretan garis pensil yang ia maksudkan untuk merancang komposisi dan merekam ide-ide. Sebagian besar rancangan karyanya tampak menggambarkan cerita-cerita yang bersumber dari epos ramayana dan mahabrata, sebagian kecil lagi mengangkat tema sosial.

Semua sketsa ini tampak biasa-biasa saja, sederhana dan tidak berlebihan. Namun setelah sketsa-sketsa itu dipindahkan keatas medium kanvas dan digarap hingga selesai, kita bisa tahu betapa khusyuk dan dalam penghayatan Tu Aji terhadap karya-karyanya, serta betapa peka ia terhadap unsur-unsur visual yang dapat teramati lewat caranya menyusun komposisi secara utuh. Semua kerumitan-kerumitan dalam karyanya, seperti latar depan-belakang yang penuh diisi figur-figur detail, setingan alam, hingga keesktriman dimensi warna gelap dan terang, semua itu dimulai dari sketsa-sketsa sederhananya. Salut.

Meski ada banyak cerita dari Tu Aji yang—akibat keterbatasan bahasa Bali saya—tidak bisa saya pahami, saya pribadi cukup puas dan bersyukur bisa melihat dan merasakan langsung energi positif dari karya-karya Tu Aji. Toh soal bahasa, saya percaya teks visual tidak kalah sering berbicara jujur dan apa adanya. Karena sejatinya karya seni itu sendiri dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan orang-orang. Di akhir pertemuan, kami semua berjanji untuk datang kembali dan mengobrol lebih banyak. Dan hingga saat itu tiba, tulisan ini hadir untuk mengingatkan saya sendiri tentang betapa saya tidak tahu apa, yang berkat indahnya cara semesta bekerja hingga hari ini pun saya selalu dipertemukan dengan para guru-guru kehidupan.

Walaupun menurut Tu Aji, “Untuk kehidupanmu sendiri kamu tidak butuh guru. Kamulah contoh untuk dirimu sendiri.” [T]

Ruang Antara Studio, Gurat Institute, Batubulan, 2021

Tags: balipelukisSeni RupaUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rakyat NTT dalam Prasi Khas Bali || Yohanes de Santo jadi Pemenang di Ajang PBB

Next Post

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Merevisi Nukilan Sejarah Visual |  “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co