25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Vincent Chandra by Vincent Chandra
February 5, 2021
in Khas
Gurat Memoar | Ida Bagus Sena,  Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Ilustrasi: Ida Bagus Sena sedang melukis [Vincent Chandra]

Seorang filsuf besar di Athena, Socrates—dalam rangka membuktikan salah satu kebenaran ajaran filsafatnya di ruang pengadilan tempat ia akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan meneguk segelas minuman hemlock—sempat menyampaikan bahwa kebijaksanaan tidak dapat ditemui dari seorang yang berprofesi sebagai penyair, pemahat, dan pelukis. Andai Socrates lahir di jaman yang berbeda atau masih hidup sampai sekarang dan tinggal di Bali—terlebih bila mendapat kesempatan mengikuti perjalanan kami (tim Gurat Institute) menemui Ida Bagus Sena di studionya di Tebesaya, Ubud, Bali, pada hari Senin, 1 Februari 2021—mungkin ia akan mengubah kesimpulannya.

Bagi Socrates, kebijaksanaan sejati terkandung pada pengetahuan bahwa diri kita tidak tahu apa-apa. Dengan itu saya rasa saya cukup tepat jika menyebut Ida Bagus Sena sebagai orang yang bijak. Pasalnya hampir setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan tentang karya-karyanya dan kesehariannya banyak ia awali dengan amat rendah diri, “Niki sampun, tyang nak belog.. (itu dah, saya orang bodoh/ tak tahu apa)”. Walaupun selanjutnya Tu Aji (sapa kami kepada Ida Bagus Sena; sapaan untuk orang Bali yang berasal dari golongan Brahmana) sendiri dapat menyampaikan pengetahuan-pengetahuannya secara fasih kepada tim Gurat.

Dalam pertemuan singkat sekitar 4 jam itu, rombongan kami—diantaranya pak Wayan Seriyoga Parta, Made Susanta Dwitanaya, Asok Nagara, Putra Wali Aco, Totok Hariyono, I Kadek Wiradinata, Putu Yoga Satyadhi, dan saya—beberapa kali dibuat takjub oleh penyampaian Tu Aji terkait pemikiran-pemikiran yang telah mengantarkan beliau pada segala pencapaiannya yang penuh kedalaman secara visual dan maknawi, serta kesungguhan pada tiap proses berkaryanya. Soal karya-karya Tu Aji sendiri nanti akan dijelaskan lebih lanjut oleh guru-guru saya di Gurat Institute dalam buku tentang Ida Bagus Sena yang rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Memang terkesan cukup cepat untuk menerbitkan buku lagi, mengingat pada bulan Desember tahun 2020 lalu kami baru saja menerbitkan buku “I Gusti Made Deblog, Master Seni Lukis Naturalis Denpasar Bali”. Namun tidak berarti Gurat sedang terburu-buru. Kurang lebih sama seperti riset tentang Deblog yang telah dimulai sejak tahun 2014, riset tentang Tu Aji ini telah dimulai sejak tahun 2018 oleh salah satu founder Gurat, Wayan Seriyoga Parta yang akrab kami sapa Pak Yoga. Namun riset tersebut mulanya Pak Yoga lakukan untuk kebutuhan menulis dalam porsinya sebagai kurator pameran tunggal Tu Aji di Museum Puri Lukisan pada pertengahan tahun 2018.

Memberi label “orang bijak” pada Tu Aji saya rasa belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan tentangnya. Karena itu saya perlu mengutip apa yang telah dituliskan oleh Pak Yoga dalam katalog pameran tunggal Tu Aji, yang pertama “(Ida Bagus Sena) selalu berusaha memetik pelajaran dari banyak orang, sehingga tidak pernah pupus senantiasa selalu belajar, hal ini ia petik secara tidak langsung dari pamannya Ida Bagus Made dan begitu membekas hingga menjadi tuntunan bagi dirinya untuk senantiasa mengembangkan diri”. Kedua, Pak Yoga juga menyimpulkan bahwa karya-karya Tu Aji adalah ruang penghayatan dalam dirinya sebagai upaya untuk memahami hidup, serta memahami perannya sebagai  suami dan ayah bagi keluarganya.

Ida Bagus Sena

Meski lahir dan besar di tengah lingkungan seniman, Tu Aji ternyata menemukan bahasa rupanya sendiri dengan cara otodidak. Ia tidak pernah benar-benar belajar langsung lewat kakeknya Ida Bagus Made Kembeng, pamannya Ida Bagus Made (Poleng), atau bahkan ayahnya sendiri Ida Bagus Wiri yang juga adalah seorang pelukis. Temuannya ini berhasil ia peroleh melalui dialog-dialog sunyi antara dirinya dengan pengalamannya, dirinya dengan medium gambar, dan dirinya dengan kegelisahannya. Proses kompleks yang berbekal keuletan, kemampuan teknis yang matang, serta pengetahuan-pengetahuan mengenai nilai filosofis budayanya ini membuat nama Tu Aji kemudian diakui diantara para seniman-seniman, khususnya di daerah Tebesaya Ubud.

Sebagai seorang yang juga belajar menggambar secara otodidak sejak kecil, melihat karya-karya Tu Aji tentu membuat saya tertampar dan termotivasi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sesungguhnya proses-proses itu dilalui oleh Tu Aji, yang pasti saya sepakat dengan yang dinyatakan oleh Pak Yoga dalam katalog pameran tunggal Tu Aji, apa yang kami lihat di studionya hari itu adalah karya-karya yang menampakkan kualitas estetik serta nilai-nilai intrinsik yang kaya dengan makna. Terutama salah satu karya hitam putihnya yang berukuran cukup besar dan mendominasi seluruh bagian ruangan, karya yang belum lama ini baru ia lahirkan setelah dikerjakan selama 3 tahun (2018-2021).

Kami tidak heran mengapa karya ini bisa dikerjakan begitu lama. Terlebih apabila dilihat secara langsung, pada tiap sudut dalam bidang lukisnya kita bisa temukan detil-detil yang membuat mata seakan ingin terus masuk menembus lapisan-lapisan warna dari gelap ke terang yang dibuat secara perlahan dan sulit dihitung jumlahnya. Karya ini Tu Aji hasilkan menggunakan kuas bambu dan tinta yang diolah dengan teknik lukis tradisional Bali yaitu mulai dari membuat sketsa (ngorten), membuat gelap terang (ngabur), menegaskan bentuk (ngucek/ngeskes), dan mendetil (nyawi). Teknik ini banyak dipakai oleh para pelukis di Ubud.

Beruntungnya selain mengobrol banyak dan cukup lama, rombongan kami juga berkesempatan untuk melihat proses berkarya Tu Aji secara langsung. Mulai dari mempersiapkan kuas bambu hingga proses ngeskes. Ditengah kesempatan itu Tu Aji juga mengeluarkan kumpulan sketsa-sketsanya yang banyak diantaranya belum sempat ia terjemahkan keatas kanvas. Sketsa-sketsa ini isinya hanya coretan-coretan garis pensil yang ia maksudkan untuk merancang komposisi dan merekam ide-ide. Sebagian besar rancangan karyanya tampak menggambarkan cerita-cerita yang bersumber dari epos ramayana dan mahabrata, sebagian kecil lagi mengangkat tema sosial.

Semua sketsa ini tampak biasa-biasa saja, sederhana dan tidak berlebihan. Namun setelah sketsa-sketsa itu dipindahkan keatas medium kanvas dan digarap hingga selesai, kita bisa tahu betapa khusyuk dan dalam penghayatan Tu Aji terhadap karya-karyanya, serta betapa peka ia terhadap unsur-unsur visual yang dapat teramati lewat caranya menyusun komposisi secara utuh. Semua kerumitan-kerumitan dalam karyanya, seperti latar depan-belakang yang penuh diisi figur-figur detail, setingan alam, hingga keesktriman dimensi warna gelap dan terang, semua itu dimulai dari sketsa-sketsa sederhananya. Salut.

Meski ada banyak cerita dari Tu Aji yang—akibat keterbatasan bahasa Bali saya—tidak bisa saya pahami, saya pribadi cukup puas dan bersyukur bisa melihat dan merasakan langsung energi positif dari karya-karya Tu Aji. Toh soal bahasa, saya percaya teks visual tidak kalah sering berbicara jujur dan apa adanya. Karena sejatinya karya seni itu sendiri dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan orang-orang. Di akhir pertemuan, kami semua berjanji untuk datang kembali dan mengobrol lebih banyak. Dan hingga saat itu tiba, tulisan ini hadir untuk mengingatkan saya sendiri tentang betapa saya tidak tahu apa, yang berkat indahnya cara semesta bekerja hingga hari ini pun saya selalu dipertemukan dengan para guru-guru kehidupan.

Walaupun menurut Tu Aji, “Untuk kehidupanmu sendiri kamu tidak butuh guru. Kamulah contoh untuk dirimu sendiri.” [T]

Ruang Antara Studio, Gurat Institute, Batubulan, 2021

Tags: balipelukisSeni RupaUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rakyat NTT dalam Prasi Khas Bali || Yohanes de Santo jadi Pemenang di Ajang PBB

Next Post

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails
Next Post
Merevisi Nukilan Sejarah Visual |  “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co