13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Vincent Chandra by Vincent Chandra
February 5, 2021
in Khas
Gurat Memoar | Ida Bagus Sena,  Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Ilustrasi: Ida Bagus Sena sedang melukis [Vincent Chandra]

Seorang filsuf besar di Athena, Socrates—dalam rangka membuktikan salah satu kebenaran ajaran filsafatnya di ruang pengadilan tempat ia akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan meneguk segelas minuman hemlock—sempat menyampaikan bahwa kebijaksanaan tidak dapat ditemui dari seorang yang berprofesi sebagai penyair, pemahat, dan pelukis. Andai Socrates lahir di jaman yang berbeda atau masih hidup sampai sekarang dan tinggal di Bali—terlebih bila mendapat kesempatan mengikuti perjalanan kami (tim Gurat Institute) menemui Ida Bagus Sena di studionya di Tebesaya, Ubud, Bali, pada hari Senin, 1 Februari 2021—mungkin ia akan mengubah kesimpulannya.

Bagi Socrates, kebijaksanaan sejati terkandung pada pengetahuan bahwa diri kita tidak tahu apa-apa. Dengan itu saya rasa saya cukup tepat jika menyebut Ida Bagus Sena sebagai orang yang bijak. Pasalnya hampir setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan tentang karya-karyanya dan kesehariannya banyak ia awali dengan amat rendah diri, “Niki sampun, tyang nak belog.. (itu dah, saya orang bodoh/ tak tahu apa)”. Walaupun selanjutnya Tu Aji (sapa kami kepada Ida Bagus Sena; sapaan untuk orang Bali yang berasal dari golongan Brahmana) sendiri dapat menyampaikan pengetahuan-pengetahuannya secara fasih kepada tim Gurat.

Dalam pertemuan singkat sekitar 4 jam itu, rombongan kami—diantaranya pak Wayan Seriyoga Parta, Made Susanta Dwitanaya, Asok Nagara, Putra Wali Aco, Totok Hariyono, I Kadek Wiradinata, Putu Yoga Satyadhi, dan saya—beberapa kali dibuat takjub oleh penyampaian Tu Aji terkait pemikiran-pemikiran yang telah mengantarkan beliau pada segala pencapaiannya yang penuh kedalaman secara visual dan maknawi, serta kesungguhan pada tiap proses berkaryanya. Soal karya-karya Tu Aji sendiri nanti akan dijelaskan lebih lanjut oleh guru-guru saya di Gurat Institute dalam buku tentang Ida Bagus Sena yang rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Memang terkesan cukup cepat untuk menerbitkan buku lagi, mengingat pada bulan Desember tahun 2020 lalu kami baru saja menerbitkan buku “I Gusti Made Deblog, Master Seni Lukis Naturalis Denpasar Bali”. Namun tidak berarti Gurat sedang terburu-buru. Kurang lebih sama seperti riset tentang Deblog yang telah dimulai sejak tahun 2014, riset tentang Tu Aji ini telah dimulai sejak tahun 2018 oleh salah satu founder Gurat, Wayan Seriyoga Parta yang akrab kami sapa Pak Yoga. Namun riset tersebut mulanya Pak Yoga lakukan untuk kebutuhan menulis dalam porsinya sebagai kurator pameran tunggal Tu Aji di Museum Puri Lukisan pada pertengahan tahun 2018.

Memberi label “orang bijak” pada Tu Aji saya rasa belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan tentangnya. Karena itu saya perlu mengutip apa yang telah dituliskan oleh Pak Yoga dalam katalog pameran tunggal Tu Aji, yang pertama “(Ida Bagus Sena) selalu berusaha memetik pelajaran dari banyak orang, sehingga tidak pernah pupus senantiasa selalu belajar, hal ini ia petik secara tidak langsung dari pamannya Ida Bagus Made dan begitu membekas hingga menjadi tuntunan bagi dirinya untuk senantiasa mengembangkan diri”. Kedua, Pak Yoga juga menyimpulkan bahwa karya-karya Tu Aji adalah ruang penghayatan dalam dirinya sebagai upaya untuk memahami hidup, serta memahami perannya sebagai  suami dan ayah bagi keluarganya.

Ida Bagus Sena

Meski lahir dan besar di tengah lingkungan seniman, Tu Aji ternyata menemukan bahasa rupanya sendiri dengan cara otodidak. Ia tidak pernah benar-benar belajar langsung lewat kakeknya Ida Bagus Made Kembeng, pamannya Ida Bagus Made (Poleng), atau bahkan ayahnya sendiri Ida Bagus Wiri yang juga adalah seorang pelukis. Temuannya ini berhasil ia peroleh melalui dialog-dialog sunyi antara dirinya dengan pengalamannya, dirinya dengan medium gambar, dan dirinya dengan kegelisahannya. Proses kompleks yang berbekal keuletan, kemampuan teknis yang matang, serta pengetahuan-pengetahuan mengenai nilai filosofis budayanya ini membuat nama Tu Aji kemudian diakui diantara para seniman-seniman, khususnya di daerah Tebesaya Ubud.

Sebagai seorang yang juga belajar menggambar secara otodidak sejak kecil, melihat karya-karya Tu Aji tentu membuat saya tertampar dan termotivasi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sesungguhnya proses-proses itu dilalui oleh Tu Aji, yang pasti saya sepakat dengan yang dinyatakan oleh Pak Yoga dalam katalog pameran tunggal Tu Aji, apa yang kami lihat di studionya hari itu adalah karya-karya yang menampakkan kualitas estetik serta nilai-nilai intrinsik yang kaya dengan makna. Terutama salah satu karya hitam putihnya yang berukuran cukup besar dan mendominasi seluruh bagian ruangan, karya yang belum lama ini baru ia lahirkan setelah dikerjakan selama 3 tahun (2018-2021).

Kami tidak heran mengapa karya ini bisa dikerjakan begitu lama. Terlebih apabila dilihat secara langsung, pada tiap sudut dalam bidang lukisnya kita bisa temukan detil-detil yang membuat mata seakan ingin terus masuk menembus lapisan-lapisan warna dari gelap ke terang yang dibuat secara perlahan dan sulit dihitung jumlahnya. Karya ini Tu Aji hasilkan menggunakan kuas bambu dan tinta yang diolah dengan teknik lukis tradisional Bali yaitu mulai dari membuat sketsa (ngorten), membuat gelap terang (ngabur), menegaskan bentuk (ngucek/ngeskes), dan mendetil (nyawi). Teknik ini banyak dipakai oleh para pelukis di Ubud.

Beruntungnya selain mengobrol banyak dan cukup lama, rombongan kami juga berkesempatan untuk melihat proses berkarya Tu Aji secara langsung. Mulai dari mempersiapkan kuas bambu hingga proses ngeskes. Ditengah kesempatan itu Tu Aji juga mengeluarkan kumpulan sketsa-sketsanya yang banyak diantaranya belum sempat ia terjemahkan keatas kanvas. Sketsa-sketsa ini isinya hanya coretan-coretan garis pensil yang ia maksudkan untuk merancang komposisi dan merekam ide-ide. Sebagian besar rancangan karyanya tampak menggambarkan cerita-cerita yang bersumber dari epos ramayana dan mahabrata, sebagian kecil lagi mengangkat tema sosial.

Semua sketsa ini tampak biasa-biasa saja, sederhana dan tidak berlebihan. Namun setelah sketsa-sketsa itu dipindahkan keatas medium kanvas dan digarap hingga selesai, kita bisa tahu betapa khusyuk dan dalam penghayatan Tu Aji terhadap karya-karyanya, serta betapa peka ia terhadap unsur-unsur visual yang dapat teramati lewat caranya menyusun komposisi secara utuh. Semua kerumitan-kerumitan dalam karyanya, seperti latar depan-belakang yang penuh diisi figur-figur detail, setingan alam, hingga keesktriman dimensi warna gelap dan terang, semua itu dimulai dari sketsa-sketsa sederhananya. Salut.

Meski ada banyak cerita dari Tu Aji yang—akibat keterbatasan bahasa Bali saya—tidak bisa saya pahami, saya pribadi cukup puas dan bersyukur bisa melihat dan merasakan langsung energi positif dari karya-karya Tu Aji. Toh soal bahasa, saya percaya teks visual tidak kalah sering berbicara jujur dan apa adanya. Karena sejatinya karya seni itu sendiri dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan orang-orang. Di akhir pertemuan, kami semua berjanji untuk datang kembali dan mengobrol lebih banyak. Dan hingga saat itu tiba, tulisan ini hadir untuk mengingatkan saya sendiri tentang betapa saya tidak tahu apa, yang berkat indahnya cara semesta bekerja hingga hari ini pun saya selalu dipertemukan dengan para guru-guru kehidupan.

Walaupun menurut Tu Aji, “Untuk kehidupanmu sendiri kamu tidak butuh guru. Kamulah contoh untuk dirimu sendiri.” [T]

Ruang Antara Studio, Gurat Institute, Batubulan, 2021

Tags: balipelukisSeni RupaUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rakyat NTT dalam Prasi Khas Bali || Yohanes de Santo jadi Pemenang di Ajang PBB

Next Post

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Merevisi Nukilan Sejarah Visual |  “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Merevisi Nukilan Sejarah Visual | “Erotic Relief” Karya Nieuwenkamp & Relief Bale Kulkul di Klungkung

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co