10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Rakyat NTT dalam Prasi Khas Bali || Yohanes de Santo jadi Pemenang di Ajang PBB

tatkala by tatkala
February 4, 2021
in Khas
Cerita Rakyat NTT dalam Prasi Khas Bali || Yohanes de Santo  jadi Pemenang di Ajang PBB

Yohanes Soubirius de Santo dan karya prasi

Prasi di Bali merupakan lukisan yang dibuat pada daun lontar. Lukisan itu biasanya berisi cerita-cerita rakyat yang disusun secara berurutan, seperti komik. Prasi belakangan mulai populer, bahkan dalam Bulan Bahasa Bali tahun 2021 selama sebulan penuh pada Februari diadakan pameran prasi di Taman Budaya Denpasar.

Yohanes Soubirius de Santo, adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Undiksha, Singaraja, yang punya minat yang sangat besar terhadap prasi. Tugas akhirnya untuk mendapat gelar S1, adalah karya seni berupa prasi.

Prasi karya Yohanes intinya sama dengan prasi yang dibuat di Bali. Medianya sama-sama daun lontar. Cara melukisnya juga sama dengan cara melukis prasi secara tradisional di Bali, yakni dengan menggunakan pengrupak (pisau kecil) untuk alat menggurat, kemudian diusap minyak kemiri agar guratan bisa tampak dengan jelas.

Yang berbeda, jika di Bali lukisan pada daun lontar itu bisanya mengandung cerita-cerita rakyat Bali, prasi yang dibuat Yohanes berisi cerita rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT), daerah asal dia.

Inilah antara lain karya-karya prasi Yohanes:

TRADISI PENANGKAPAN PAUS

Prasi ini berisi gambaran tentang tradisi penangkapan paus. Di situ digambarkan situasi pantai lamalera yang terjal dan bertebing batu cadas dan kampung nelayan.

Lalu, ada upacara sebelum pergi menangkap paus, yakni  Tobu nama fatta berarti duduk, berkumpul di pasir tepi pantai. Dalam ritual ini tuan tanah melakukan ritual adat menaiki gunung dimana terdapat lima tempat perhentian yang berbeda. Pada ritual ini terdapat lambang penggunaan tombak dan gong sebagai simbol.

Kemudian, misa arwah dilakukan satu hari sebelum misa lefa. Penyelenggaraan misa arwah dilakukan dengan mengunjungi makam serta membakar lilin di atas pusara. Secara khusus bagi leluhur yang meninggal di laut, misa arwah dilakukan pada sore hari di pantai.

Misa ini merupakan puncak acara pembukaan musim berburu ikan paus di Lamalera. Setelah selesai misa lefa, pastor melakukan pemberkatan pada semua peledang milik warga. Untuk menandai pembukaan pasar ikan, secara simbolis dilepas peledang praso sapang.

Musyawarah pembuatan alat penangkapan paus. Pembuatan senjata dan perahu. Pemberkatan senjata, tali, layar, dan Perahu dengan air yang sudah diberkati. Lalu gambaran keberangkatan para penangkap paus (meninggalkan rumah dan keluarga).

Waktu pencarian ikan paus dilalui selama berbulan-bulan. Lalu ada gambaran saat pemburuan di laut. Lalu ucapan syukur atas hasil tangkapan. Pembagi bagian hasil tangkapan. Terakhir, pengolahan hasil tangkapan.

___

PERMAINAN ALAT MUSIK SASANDO

Inspirasi  pembuatan Sasandu diperoleh Pupuk Soroba saat menyaksikan seekor laba-laba yang besar sedang asyik memainkan jaring (sarangnya) sehingga terdengar alunan bunyi yang indah. Berdasarkan pengalamannya itu Ia ingin menciptakan suatu alat yang dapat mengeluarkan bunyi yang indah

Untuk merealisir idenya itu, mula-mula Pupuk Soroba mencungkil lidi-lidi daun lontar yang mentah, lalu disenda, kemudian dipetik. Pikiran Soroba makin berkembang, terakhir ruas bamboo dipasang pada haik yang terbuat dari dun lontar, serta senar atau dawai mula-mula dibuat dari serat akan pohon beringin, sesudah itu dibuat dari usus musang yang kering, dan ternyata menghasilkan resonansi bunyi yang lebih besar

Berdasarkan sejarah, sasando dulunya digunakan sebagai media penyembuhan bagi penderita penyakit kusta yang saat itu mewabah di Pulau Rote dan sekitarnya. Alat musik ini biasanya digunakan sebagai pengiring seni tradisional, hiburan dalam acara duka, dan dapat pula digunakan sebagai hiburan dalam pengiringan lagu.

Alat musik ini bisa digunakan sebagai media untuk mengisi berbagai macam acara upacara adat yang dilakukan masyarakat setempat. Upacara adat yang bisa diiringi dengan menggunakan alat musik sasando ini adalah upacara adat pernikahan, upacara penyambutan tamu, dan upacara adat lainnya.

___

SEJARAH PULAU KOMODO

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang diberi nama Putri Naga yang hidup dan tinggal di sebuah pulau. Tak lama kemudian sang putri hamil dan melahirkan anak kembar 2 (dua) berjenis kelamin laki-laki. Namun kedua anak kembar tersebut mempunyai bentuk yang berbeda. Satu berbentuk manusia dan satu lagi berbentuk kadal. Hal ini membuat putri naga dan moja malu.

Hari berlalu dan tahun demi tahun berganti Gerong bertumbuh menjadi seorang pemuda yang tangkas dan gagah berani. Diceritakan suatu saat Gerong hendak berburu rusa disebuah hutan, dan dia bertemu dengan sebuah kadal raksasa.

Gerong lantas mengejar kadal raksasa itu dan hendak membunuhnya dengan tombak. Tiba-tiba, si Putri Naga muncul dan mencegah Gerong menghunuskan tombaknya ke arah kadal raksasa tersebut. Si Putri Naga memberitahu Gerong bahwa kadal raksasa itu adalah komodo yang merupakan saudara kembar Gerong.

Selepas dari kejadian itu, masyarakat sekitar memperlakukan komodo itu dengan baik. Komodo hidup di hutan dengan berburu hewan lain seperti rusa, kambing atau babi hutan.  Kadal raksasa itu pun hidup berdampingan dengan penduduk lokal yang hidup tinggal di Pulau Komodo sampai saat ini.

___

TARI CACI ATAU TARI PERANG

Tari ini dipentaskan sebagai ucapan syukur atas hasil panen, yang teridiri dari ritual pembukaan, pertunjukan tari, dan ritual penutupan

Caci dimainkan dua orang laki-laki, satu lawan satu, tetapi memukul dilakukan secara bergantian. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan kelompok bertahan.

Tarian Danding atau tandak Manggarai ditarikan sebagai pembuka pertunjukan caci. Untuk menggelar permainan caci, masyarakat melakukan beberapa ritual, diantaranya dilakukan di sawah dan mata air yang berada di desa tersebut. Pada malam sebelum permainan ini dimulai dilakukan upacara pemanggilan roh leluhur yang di dalamnya terdapat penyembelihan ayam.

___

LEGENDA DANAU TIGA WARNA

Pada zaman dulu, di puncak Gunung Kelimutu hidup Konde Ratu beserta rakyatnya. Di antara rakyatnya itu, ada dua orang yang bisa menggunakan sihir. Ata Bupu misalnya, ia adalah orang yang baik dan suka melindungi orang lain, sedangkan Ata Polo, sahabatnya, dianggap penyihir jahat karena suka memakan manusia.

Suatu hari, datang sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) kepada Ata Bupu. Mereka berdua meminta Ata Bupu untuk melindungi mereka, dikarenakan kedua orangtuanya telah meninggal.  Ata Bupu setuju untuk melindungi mereka berdua, tetapi dengan syarat mereka berdua tidak boleh meninggalkan ladang milik Ata Bupu agar tidak menjadi mangsa Ata Polo.

Suatu hari, Ata Polo datang ke rumah Ata Bupu dan mengetahui keberadaan kedua anak yatim tersebut. Ata Polo sempat akan memangsa anak yatim itu, namun Ata Bupu berhasil mencegahnya. Ya, Ata Bupu meminta Ata Polo untuk menunggu hingga kedua anak yatim itu tumbuh dewasa. Akhirnya… setelah dewasa, anak yatim itu menjadi Koo Fai dan Nuwa Muri.

Lalu, Ata Polo datang untuk menagih janjinya dan memangsa kedua anak yatim itu. Namun, Ata Bupu tidak menginginkan kedua anak itu menjadi mangsa temannya.

Akhirnya ia mencegah serangan Ata Polo. Selanjutnya, Ata Bupu pergi ke perut bumi bersama dengan kedua anak yatim itu untuk menghindar. Namun, Ata Polo terus mengejar mereka. Hingga akhirnya, kedua penyihir itu pun tertelan bumi, begitu juga dengan kedua anak yatim itu, mereka terkubur hidup-hidup.

Tak lama setelah kejadian itu, muncul air berwarna biru dari tempat terkuburnya Ata Bupu. Sedangkan dari tempat Ata Polo muncul air berwarna merah. Dan air berwarna hijau, muncul dari tempat terkuburnya kedua anak yatim tersebut. Nah, itulah cerita di balik keindahan Danau Tiga Warna, berdasarkan legenda masyarakat sekitar.

___

Yohanes jadi Pemenang

Selain mengantarkan Yohanes meraih gelar sarjana, prasi yang ditekuninya ternyata mengantarkan dia dalam meraih prestasi di tingkat dunia. Awal tahun 2021 ini Yohanes meraih  penghargaan internasional awal tahun ini.

Ia ditetapkan menjadi salah satu pemenang dalam event United  Nations Development Programme From The Desk of The Executive Secretary yang diselenggarakan oleh PBB.

Pada event yang digelar PBB, pesertanya puluhan ribu orang yang datang dari 193 negara di dunia. Ada yang berasal dari serikat pekerja, asosiasi, badan perusahaan, seniman, pekerja seni, dan pengrajin seni, yang berasal dari 193 negara.

Di event PBB ini Yohanes memang memamerkan prasi yang memvisualisasikan kebudayaan NTT yang merupakan karya tugas akhir penciptaan dalam kuliah, yakni prasi tentang Tradisi Penangkapan Paus dan Legenda Danau Tiga Warna.

Selain itu, di tempat berbeda ia juga meraih juara satu pada event Art And Artisans yang diselenggarakan oleh Integrated Learning Institute For Sustainable Development dan Forum Global Challenges di Kanada.

 “Kedua event ini berlangsung pada  Januari sampai Februari 2021. Yang di PBB diadakan di daerah London, Inggris. Saya terpilih sebagai pemenang. Yang di Kanada di daerah Lombard Ave saya terpilih menjadi juara satu,” kata Yohanes.

Untuk di Kanada, ia memamerkan karya seni drawing yang bertemakan tentang perebutan peran di masa pandemi ini.

Saat pulang kampung ke NTT, Yohanes tetap akan melanjutkan pembuatan prasi dengan visualisasi kebudayaan NTT. “Apalagi di NTT banyak terdapat pohon lontar. Jadi, daun lontar tak akan kekurangan,” katanya. [T]

  • Editor: Adnyana Ole

_____

ARTIKEL TERKAIT

Prasara Lontar Prasi bertajuk “Prasikala Nukilan Taru Mahottama”. di Gedung pameran Kriya Hall Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

keterangan gambar:
potongan prasi Bagus Umbara koleksi British Library

Prasi Bagus Umbara dan Tiga Nama Mantra

Tags: Pameran Seni RupaPrasiSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terkejut, Mengolah Kejutan dan Beradaptasi

Next Post

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Gurat Memoar | Ida Bagus Sena,  Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co