14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasi Bagus Umbara dan Tiga Nama Mantra

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
September 25, 2020
in Esai
Prasi Bagus Umbara dan Tiga Nama Mantra

keterangan gambar: potongan prasi Bagus Umbara koleksi British Library

Saya tidak begitu ngeh dengan prasi atau lontar dengan gambar yang mengilustrasikan cerita dari sebuah geguritan ataupun kakawin, sampai pada akhirnya, seorang kawan, sahabat ngopi, teman berbagi ide dan bertukar pikiran, transaksi literatur sambil ngopi berjam-jam di warung kopi atau dimana saja asal bertemu sambil ngopi yaitu I Gede Gita Purnama alias bli Bayu, beberapa tahun belakangan (entah sudah berapa tahun yang lalu saya sungguh lupa dan susah mengingat tepatnya) yang selalu bersemangat menceritakan perihal prasi dan menyatakan keseriusannya meriset prasi.

Yang pertama sering kali didiskusikan adalah tentang terminologi prasi itu sendiri, asal-muasal, siapa yang mencetuskannya, apakah ini istilah lokal atau serapan, kemudian berlanjut pada kantung-kantung wilayah ditemukannya prasi sejalan kemudian kesejarahan prasi. Yang kedua, sering kali pembicaraan mengarah kepada bagaimana metodenya, teori apa yang relevan, dan di dalam hal ini saya dengan latar belakang seni rupa tentu saja mengarahkannya ke teori-teori yang berkenaan dengan kerupaan semisal, teori bahasa rupanya Primadi Tambrani, Art as Experience-nya John Dewey, teori Ikonografi-nya Erwin Panofsky, dan lainnya. Yang ketiga, kami kemudian membuat semacam persekutuan untuk bertukar informasi jika ada yang menemukan prasi atau yang berkenaan dengan prasi itu sendiri.

Bli Bayu sendiri sudah memulai lebih awal masuk dari museum satu ke museum lainnya, tidak hanya di Bali bahkan Pulau Jawa, tidak hanya prasi berupa fisik yang datanya dikumpulkan akan tetapi juga menjelajah museum-museum virtual, saya ikut ketika diajak masuk ke koleksi lontar perpustakaan lontar Universitas Udayana, begitu juga pada bulan maret 2020 lalu sempat terjun ke Bungkulan atas bantuan Bli Tobing kami bertatap muka dengan seorang guru prasi yaitu I Gusti Bagus Sudiasta dari Jero Gusti Bungkulan.

Apa yang kami dapat? Untuk bli Bayu tentu data-data untuk medukung risetnya, sedangkan saya mendapatkan pengalaman baru, pemahaman baru tentang dunia pernaskahan lontar yang di dalamnya memuat fragmen cerita naratif itu, dan tentu yang terpenting adalah hasrat jalan-jalan sambil Nglesir Visual saya terpenuhi hehehe. beberapa pengalaman baru adalah saya pertama kali melihat langsung prasi yang konon paling indah dari sisi visualnya berjudul Dampati Lelangon, kemudian mengkopi buku Mengenal Prasi terbitan Gedong Kirtya Singaraja 1979 yang ditulis oleh I Ketut Suwidja serta ditunjukan bagaimana perspektif bangunan itu digambarkan dengan pendekatan penggambaran sudut pandang modern pada prasi Bagus Umbara, sampai pada hari sabtu malam, 19 September 2020 ketika liburan semalam bersama keluarga di Singaraja saya mendapat kesempatan mencoba menelusuri nama pembuat prasi Bagus Umbara ini di Desa Penarukan, Buleleng diantar oleh paman dari istri saya yang tinggal di perumahan Penarungan.

Sebelumnya, informasi mengenai nama pencipta prasi Bagus Umbara ini memang tercatat pada buku I Ketut Suwidja yang dikutip dari bukunya Dr. C Hooykass berjudul Bagus Umbara Prince of Koripan terbitan British Museum, London 1968. di halaman 7 Suwidja menulis bahwa “…gambar prasi Bagus Umbara ini mula-mula berasal dari Mis Helen Eva Yates yang datang ke Bali pada tahun 1928, atas bantuan Residen Bali dan Lombok Mr. H. Caron, ia telah menemui senimannya sendiri yang ada di sebuah desa dekat Singaraja. Rupa-rupanya seniman yang menggambar prasi ini bernama Bagus Ktut Mantra, dari Desa Penarukan, Buleleng. Desa ini dekat sekali dengan kota Singaraja. Pada tahun 1-1-1919 ia yang terkenal di Buleleng karena prestasinya telah diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan sebagai sedahan dan sempat berfoto bersama dengan pemerintah pada waktu itu.” Sabtu malam itu saya tidak mengingat pada buku nama yang tertera adalah Bagus Ktut Mantra, justru yang familiar di ingatan saya hanya nama Mantra.

Secara kebetulan, bibi dari istri saya yang sekarang tinggal di Banjar Liligundi, suaminya yang akrab disapa Aji Dodek adalah keturunan dari seseorang yang bernama Mantra atau tepatnya Bagus Nyoman Mantra dari Desa Penarukan, jadi dapat ditebak bagaimana gembiranya hati ini bahwa ini akan mudah untuk ditelusuri dan diketemukan, dan hal ini sudah saya kabarkan pula kepada bli Bayu. Namun sewaktu penelusuran ke Desa Penarukan pada hari Sabtu malam itu sekali lagi saya katakan bahwa saya lupa pencipta prasi Bagus Umbara dalam buku Suwidja itu bernama tengah Ketut bukan Nyoman.

Saya diantar oleh paman istri saya ke saudaranya Aji Dodek yang bernama Dewa Bagus Made Putrayasa atau Aji Putrayasa di Desa Penarukan, darinya saya mendapatkan info bahwa ada tiga orang yang bernama Mantra pada generasi kakeknya. Wow, lagi-lagi kejutan tak terduga di malam minggu. Mantra yang pertama adalah Bagus Nyoman Mantra berprofesi sebagai seorang Balian, orang yang sakti pada masanya, mampu membuat hujan dan membuat hujan reda seketika, informasi yang terpenting adalah bahwa di rumah Bagus Nyoman Mantra ini banyak sekali tersimpan lontar, namun sayang tidak ada yang melanjutkan karena cucu perempuan satu-satunya sudah menikah keluar ke Desa Bungkulan. Mantra yang kedua adalah kakyang dari Aji Dodek dan Aji Putrayasa juga bernama Bagus Nyoman Mantra adalah seorang pegawai negeri pada masanya sebagai sedahan desa di Penarukan, dari informasi Aji Putrayasa bahwa tidak ada lontar lagi di rumahnya terlebih ayahnya adalah seorang tentara di Desa Penarukan. Mantra yang ketiga tidak begitu jelas gelar nama tengahnya apakah memakai wayan, nyoman, made, ketut yang jelas juga bernama depan Bagus dan bernama belakang Mantra, akan tetapi tidak begitu populer untuk Mantra yang ketiga ini. Yang jelas mereka bertiga hidup satu zaman.

Hari ini Minggu, 20 September 2020 sambil menulis catatan ini saya membuka kembali buku Suwidja dan alangkah tercengangnya ketika membaca bahwa yang membuat prasi Bagus Umbara adalah Bagus Ktut Mantra. Sebelum menulis saya mengira-ngira dulu, membuat hipotesis, serta mencoba mengurai persoalan sekaligus menghubung-hubungkan antara prasi Bagus Umbara dengan tiga Mantra. Yang pertama, apakah Mis Helen Eva Yates pada 1928 itu salah menulis nama? Karena sesuai informasi dari mertua saya di Penarukan, dan Aji Dodek sekaligus Aji Putrayasa yang notabena adalah cucunya menyatakan bahwa kakeknya bernama Bagus Nyoman Mantra dulu adalah seorang pegawai sedahan?

Yang kedua, apakah Bagus Nyoman Mantra yang pertama sebagai pencipta prasi Bagus Umbara dengan dalih yang sama bahwa Mis Helen Eva Yates salah menuliskan nama? Akan tetapi beliau adalah seorang balian, orang sakti, konon perwajahannya berambut putih panjang, berkumis dan berjenggot, meskipun dirumahnya konon terdapat banyak lontar akan tetapi tidak berprofesi sebagai pegawai sedahan.

Yang ketiga, apakah Bagus Mantra yang disebutkan nomor tiga tersebut yang membuat prasi Bagus Umbara menimbang bahwa tidak jelas nama tengahnya apakah wayan, made, nyoman, ketut? Bisa-bisa saja nama tengahnya ketut, akan tetapi menurut informasi tidak ada hal yang menonjol dari Mantra yang ketiga ini, jadi agak bertolak belakang dengan keterkenalannya pada masa kolonial sebagai seorang yang berkat prestasinya.

Atau yang keempat, jangan-jangan setelah lontar prasi Bagus Umbara berpindah tangan dari Mis Helen Eva Yates kepada pemegang selanjutnya terjadi kesalahan menulis nama? Hal ini mengingatkan saya pada bulan maret bersama bli Bayu juga yang kebingungan mencari nama Ida Bagus Sudiasta yang beralamat disekitar Gedong Kirtya sebagai pembuat prasi yang tersimpan di Museum Bali ternyata salah menulis nama dan alamat, yang seharusnya bernama I Gusti Bagus Sudiasta dengan alamat Gedong Kirtya Singaraja kemudian ditulis Ida Bagus Sudiasta sedangkan jika turuti google map alamat yang tercatat lokasi tepatnya adalah di patung monumen I Gusti Anglurah Panji Sakti yang sedang menaiki kuda tersebut. Hehehe.

Atau yang kelima, memang ada nama Bagus Ktut Mantra yang memang berprofesi sebagai seniman prasi dan pegawai sedahan? Jika iya, maka ada dua orang yang berprofesi sebagai sedahan dari Desa Penarukan  dan pada masa yang sama pula.

Opsi yang manapun saya rasa sama-sama kuat, dan hal terpenting adalah walau prasi Bagus Umbara yang asli kini tersimpan di British Library, kita masih dapat melihat kopian prasinya yang kini terpajang di ruang display pameran lontar di perpustakaan Gedong Kirtya, Singaraja. Oh iya, sampai tulisan ini selesai diketik dan dimuat di laman web tatkala.co, saya belum menghubungi bli Bayu, sebab saya ingin spoiler dulu kebingungan saya ketika menganalisa dan hendak memutuskan lebih dari itu agar semakin yaahuuuu diskusi panjangnya nanti sewaktu ngopi.

Pohmanis, 21 September 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Google Doodle Mengenang Benyamin Sueb

Next Post

Komunitas Omah Laras dan Panggung yang MenghidupkanTopeng-topeng Mati

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Omah Laras dan Panggung yang MenghidupkanTopeng-topeng Mati

Komunitas Omah Laras dan Panggung yang MenghidupkanTopeng-topeng Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co