24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 10, 2023
in Kuliner
Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

Anda kenyang, saya bahagia.

Tagline di atas tidak lahir dari rumah makan mewah. Tidak juga lahir dari warteg kelas menengah. Ia lahir dari pedagang mie ayam pinggiran lorong sempit Jalak Putih.Ya, mie ayam dengan nama yang sangat Biden itu: Uncle Sam.

Di Singaraja, untuk urusan perut, setidaknya ada dua tempat yang sering saya kunjungi. Pertama Warung Portugal; dan kedua, sudah dapat ditebak, mie ayam Uncle Sam tentu saja.

Portugal itu tidak ada hubungannya dengan kesebelasan sepak bola, kelahiran CR7, atau penjualnya Bule Portugal. Bukan. Melainkan singkatan dari “porsi tukang gali”. Alasannya jelas, kami menyebutnya begitu karena porsinya yang tidak wajar. Banyak sekali!

Pernah saking banyaknya, pada saat saya membeli 3 bungkus—sebungkus hanya 10 ribu sudah lengkap nasi serta kemeriahan lauk pauknya—kira-kira berbobot 2 kg lebih. Dan benar, alih-alih kenyang, justru saya sering dibuat payah, kewalahan ketika makan nasi Portugal. (Sayang, akhir-akhir ini Portugal sering tutup.)

Tetapi ini bukan tentang Warung Portugal, ini tentang warung mie ayam yang mepet sawah itu, mie ayam Uncle Sam.

Mie ayam Uncle Sam berada tidak jauh dari Warung Portugal. Hanya saja letak Uncle Sam lebih tersembunyi dan jauh dari jalan besar—atau dalam bahasa kerennya, hidden gems. Tepatnya di Kelurahan Banyuasri, Perumahan Jalak Putih V atas, ujung jalan dekat persawahan.

Uncle Sam, dengan segala kesederhanaannya, bagi saya adalah mie ayam terbaik. Bukan hanya rasanya yang nikmat, tapi juga porsinya yang menyalahi kodrat. Tetapi ini yang terpenting: harganya tak lebih mahal dari sebungkus rokok Sampurna non-filter.

Ya, hanya 10 ribu, bapak-ibu. Sepuluh ribu! Tak lebih. Dengan uang bergambar Frans Kaisiepo itu, Anda sudah mendapat mie ayam porsi (super) jumbo lengkap dengan toping bakso sapi, pangsit kering, dan siomay (kadang masih ada tahu gorengnya.)

Saya masih ingat betul saat pertama kali mencobanya.Waktu itu salah seorang teman mengajak saya makan mie ayam. Sejak sebelum berangkat sampai di perjalanan, teman saya ini selalu menceritakan betapa nikmatnya sajian mie ayam Uncle Sam itu. Tentu saja, perihal urusan makanan, imajinasi saya tak perlu diajarkan lagi untuk membayangkan kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Tetapi, imajinasi yang saya bangun sejak di perjalanan tadi, porak poranda ketika sampai di tempat Uncle Sam berjualan. Ini bukan tentang makanannya, tapi lebih kepada ketidaksiapan saya kalau harus makan di samping aliran selokan (waktu itu suasana masih PPKM, jadi pelanggan harus makan sambil ngumpet di dekat selokan itu supaya luput dari Satpol PP.)

Meskipun kesan pertama sangat menjengkelkan, tetapi sejak saat itu, saya sepakat dengan teman saya, bahwa mie ayam Uncle Sam memang nikmat.

Tempatnya tak semewah nama dan rasanya

Uncle Sam diambil dari nama pedagangnya: Samsul. Sungguh sangat nggatheli. Dan, harus saya akui, tempatnya memang tak semewah rasa dan namanya.

Tempatnya itu, di pinggir jalan gang sempit Jalak Putih V, gancet dengan gerbang tua berkarat. Dua meja dan kursi panjangnya, sepintas mirip bangku zaman SD. Atap plastik yang kadang kalau hujan, rembesan air bisa membasahi ubun-ubun padahal sedang asik makan.

Atau lampu yang tiba-tiba mati bukan karena mistis, tapi lebih tepatnya kekurangan daya karena energinya harus berbagi dengan radio tape yang meneriakkan lagu-lagu dangdut,  gambus, sampai lagu-lagu dengan genre tak jelas. Dan itu, gerobaknya itu, yang redup karena catnya sudah pudar, tampak letih menahan beban bawaan.

Ya, tempatnya memang sederhana (atau lebih tepatnya, serba kurang). Tapi, ketragisan-ketragisan yang sangat fundamental itu, seketika lenyap dan termaafkan dengan rasa (harga dan porsi) mie ayamnya.

Memang benar masih sama-sama kuliner mie yang berisi irisan daging ayam. Tapi tetap, ini beda dan lebih spektakuler.

Begini, saya mulai dari porsinya. Mangkuk standar bergambar ayam yang sangat klasikal itu, terlihat gemuk, memaksakan diri untuk menampung satu porsi mie ayam saja. Di dalam mangkuk itu, tersaji mie ayam dengan irisan daging ayam yang besar-besar, bertoping 4 pangsit goreng, 4 siomay rebus, 3 tahu goreng dan 1 pentol sapi dengan ukuran segenggam tangan balita. Lengkap, seperti sebuah acara karnaval Agustusan.

Dan semua itu, makin nikmat dengan kuah kaldunya yang kental—yang kalau beruntung, bisa dapat lemak juga tulang muda di dalamnya.

Saya tidak sedang membual atau melebih-lebihkan. Sama sekali tidak. Mie ayam Kang Sul— begitu saya memanggilnya (karena belakangan saya tahu kalau dia berasal dari Banyuwangi dan bersuku Osing)—memang benar-benar seperti yang sudah saya gambarkan di atas. Ini adalah ungkapan jujur saya terhadap mie ayam buatannya.

Saya terkadang bingung, sehingga sering bertanya kepada Kang Sul. “Nggak rugi, Kang?” tanya saya. Kemudian, seperti biasa, ia akan menjawab sambil tersenyum, “Namanya rezeki sudah ada yang atur. Segini sudah cukup, Mas.” Jawaban templet yang terkesan Sufi.

Nampaknya bagi laki-laki berumur 50-an itu, porsi dan harga segitu memang sudah paten dan tidak bisa diganggu-gugat. Saya sampai menduga, kalau sebenarnya dia ini tidak niat berjualan. Melainkan sedang shodaqoh atau beramal dengan kedok berjualan. Atau, dan ini yang membuat saya was-was, jangan-jangan dia… Ah, siapa yang tahu.

Tapi bodoh amat, yang jelas, mie ayamanya enak, mantap, banyak dan murah. Sudah pas!

Limabelas tahun berjualan

Suatu kali Kang Sul bercerita tentang bagaimana ia memulai jualan di Singaraja. Dulu, sebelum berjualan mie ayam, ia sempat juga bekerja di Malang, Jawa Timur. Ikut orang berjualan bakso, katanya. Tapi, entah apa sebabnya, kemudian pindah ke Bali dan berjualan kerupuk di sekitaran Pasar Anyar Singaraja.

Dari pengalaman-pengalaman itu ia dapat membuat makanan lezat dan pada akhirnya memutuskan untuk membangun usaha kuliner sendiri dengan mie ayam sebagai menu andalanya.

Kang Sul sudah berjualan mie ayam kurang lebih 15 tahun lamanya. Dan ia bercerita, sebelum menetap di Perumahan Jalak Putih, ia sempat berkeliling menjajakan dagangannya di sekitaran asrama Polisi di Jalan Skip. Limabelas tahun, ah, tentu ia sudah sangat berpengalaman dalam meracik mie ayam.

Dan ini yang membuat saya kagum, meskipun tempat jualannya tersembunyi, pelanggannya tetap banyak dan berasal dari berbagai status, dari masyarakat biasa, tentara, polisi, dokter, hingga mahasiswa. Banyak mahasiswa Undiksha yang makan di sini. Biasanya mereka tahu dari mulut ke mulut (Kang Sul tak mungkin promosi di media sosial.)

Akhirnya, untuk urusan mie ayam, saya sarankan Anda mencoba mie ayam Uncle Sam ini. Dari sekian banyak pedagang mie ayam di Singaraja yang pernah saya coba, mie ayam Uncle Sam adalah yang paling the best.

Di samping murah, tempat makannya yang sederhana (dengan suara-suara katak di persawahan), juga porsi yang menggilanya itu akan memanjakan lidah Anda. Saya jamin, apa yang saya rasakan di awal tentang kegilaan porsinya, juga akan Anda alami. Apalagi pada saat hujan. Ah, benar-benar kenikmatan yang hakiki, sebagaimana tulisan di kaos bajunya: MIE AYAM UNCLE SAM, ANDA KENYANG, SAYA BAHAGIA.

Cobalah![T]

Nasi Kuning Bu Ayu di Baktiseraga, Sambal Nikmat untuk Nasi Kuning yang Nikmat
Ketut Suci dari Tejakula, dan Kesetiaan Menjual Bubur Mengguh
Babi Guling Tidak Boleh, Ayam Guling pun Jadi di Warung Mbok Eka Banyuning Singaraja
Nasi Bayam, Makanan Legendaris yang Sederhana dari Desa Bungkulan
Tags: kulinerkuliner khas balikuliner legendarismakananmakanan cepat saji
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Keutuhan Bali | Epilog Suteja Neka untuk Buku Puisi Air Mata (Tanah) Bali

Next Post

Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh “Nandisuara”

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh “Nandisuara”

Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh "Nandisuara"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co