23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 10, 2023
in Kuliner
Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia

Ilustrasi tatkala.co | Jason Aditya

Anda kenyang, saya bahagia.

Tagline di atas tidak lahir dari rumah makan mewah. Tidak juga lahir dari warteg kelas menengah. Ia lahir dari pedagang mie ayam pinggiran lorong sempit Jalak Putih.Ya, mie ayam dengan nama yang sangat Biden itu: Uncle Sam.

Di Singaraja, untuk urusan perut, setidaknya ada dua tempat yang sering saya kunjungi. Pertama Warung Portugal; dan kedua, sudah dapat ditebak, mie ayam Uncle Sam tentu saja.

Portugal itu tidak ada hubungannya dengan kesebelasan sepak bola, kelahiran CR7, atau penjualnya Bule Portugal. Bukan. Melainkan singkatan dari “porsi tukang gali”. Alasannya jelas, kami menyebutnya begitu karena porsinya yang tidak wajar. Banyak sekali!

Pernah saking banyaknya, pada saat saya membeli 3 bungkus—sebungkus hanya 10 ribu sudah lengkap nasi serta kemeriahan lauk pauknya—kira-kira berbobot 2 kg lebih. Dan benar, alih-alih kenyang, justru saya sering dibuat payah, kewalahan ketika makan nasi Portugal. (Sayang, akhir-akhir ini Portugal sering tutup.)

Tetapi ini bukan tentang Warung Portugal, ini tentang warung mie ayam yang mepet sawah itu, mie ayam Uncle Sam.

Mie ayam Uncle Sam berada tidak jauh dari Warung Portugal. Hanya saja letak Uncle Sam lebih tersembunyi dan jauh dari jalan besar—atau dalam bahasa kerennya, hidden gems. Tepatnya di Kelurahan Banyuasri, Perumahan Jalak Putih V atas, ujung jalan dekat persawahan.

Uncle Sam, dengan segala kesederhanaannya, bagi saya adalah mie ayam terbaik. Bukan hanya rasanya yang nikmat, tapi juga porsinya yang menyalahi kodrat. Tetapi ini yang terpenting: harganya tak lebih mahal dari sebungkus rokok Sampurna non-filter.

Ya, hanya 10 ribu, bapak-ibu. Sepuluh ribu! Tak lebih. Dengan uang bergambar Frans Kaisiepo itu, Anda sudah mendapat mie ayam porsi (super) jumbo lengkap dengan toping bakso sapi, pangsit kering, dan siomay (kadang masih ada tahu gorengnya.)

Saya masih ingat betul saat pertama kali mencobanya.Waktu itu salah seorang teman mengajak saya makan mie ayam. Sejak sebelum berangkat sampai di perjalanan, teman saya ini selalu menceritakan betapa nikmatnya sajian mie ayam Uncle Sam itu. Tentu saja, perihal urusan makanan, imajinasi saya tak perlu diajarkan lagi untuk membayangkan kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Tetapi, imajinasi yang saya bangun sejak di perjalanan tadi, porak poranda ketika sampai di tempat Uncle Sam berjualan. Ini bukan tentang makanannya, tapi lebih kepada ketidaksiapan saya kalau harus makan di samping aliran selokan (waktu itu suasana masih PPKM, jadi pelanggan harus makan sambil ngumpet di dekat selokan itu supaya luput dari Satpol PP.)

Meskipun kesan pertama sangat menjengkelkan, tetapi sejak saat itu, saya sepakat dengan teman saya, bahwa mie ayam Uncle Sam memang nikmat.

Tempatnya tak semewah nama dan rasanya

Uncle Sam diambil dari nama pedagangnya: Samsul. Sungguh sangat nggatheli. Dan, harus saya akui, tempatnya memang tak semewah rasa dan namanya.

Tempatnya itu, di pinggir jalan gang sempit Jalak Putih V, gancet dengan gerbang tua berkarat. Dua meja dan kursi panjangnya, sepintas mirip bangku zaman SD. Atap plastik yang kadang kalau hujan, rembesan air bisa membasahi ubun-ubun padahal sedang asik makan.

Atau lampu yang tiba-tiba mati bukan karena mistis, tapi lebih tepatnya kekurangan daya karena energinya harus berbagi dengan radio tape yang meneriakkan lagu-lagu dangdut,  gambus, sampai lagu-lagu dengan genre tak jelas. Dan itu, gerobaknya itu, yang redup karena catnya sudah pudar, tampak letih menahan beban bawaan.

Ya, tempatnya memang sederhana (atau lebih tepatnya, serba kurang). Tapi, ketragisan-ketragisan yang sangat fundamental itu, seketika lenyap dan termaafkan dengan rasa (harga dan porsi) mie ayamnya.

Memang benar masih sama-sama kuliner mie yang berisi irisan daging ayam. Tapi tetap, ini beda dan lebih spektakuler.

Begini, saya mulai dari porsinya. Mangkuk standar bergambar ayam yang sangat klasikal itu, terlihat gemuk, memaksakan diri untuk menampung satu porsi mie ayam saja. Di dalam mangkuk itu, tersaji mie ayam dengan irisan daging ayam yang besar-besar, bertoping 4 pangsit goreng, 4 siomay rebus, 3 tahu goreng dan 1 pentol sapi dengan ukuran segenggam tangan balita. Lengkap, seperti sebuah acara karnaval Agustusan.

Dan semua itu, makin nikmat dengan kuah kaldunya yang kental—yang kalau beruntung, bisa dapat lemak juga tulang muda di dalamnya.

Saya tidak sedang membual atau melebih-lebihkan. Sama sekali tidak. Mie ayam Kang Sul— begitu saya memanggilnya (karena belakangan saya tahu kalau dia berasal dari Banyuwangi dan bersuku Osing)—memang benar-benar seperti yang sudah saya gambarkan di atas. Ini adalah ungkapan jujur saya terhadap mie ayam buatannya.

Saya terkadang bingung, sehingga sering bertanya kepada Kang Sul. “Nggak rugi, Kang?” tanya saya. Kemudian, seperti biasa, ia akan menjawab sambil tersenyum, “Namanya rezeki sudah ada yang atur. Segini sudah cukup, Mas.” Jawaban templet yang terkesan Sufi.

Nampaknya bagi laki-laki berumur 50-an itu, porsi dan harga segitu memang sudah paten dan tidak bisa diganggu-gugat. Saya sampai menduga, kalau sebenarnya dia ini tidak niat berjualan. Melainkan sedang shodaqoh atau beramal dengan kedok berjualan. Atau, dan ini yang membuat saya was-was, jangan-jangan dia… Ah, siapa yang tahu.

Tapi bodoh amat, yang jelas, mie ayamanya enak, mantap, banyak dan murah. Sudah pas!

Limabelas tahun berjualan

Suatu kali Kang Sul bercerita tentang bagaimana ia memulai jualan di Singaraja. Dulu, sebelum berjualan mie ayam, ia sempat juga bekerja di Malang, Jawa Timur. Ikut orang berjualan bakso, katanya. Tapi, entah apa sebabnya, kemudian pindah ke Bali dan berjualan kerupuk di sekitaran Pasar Anyar Singaraja.

Dari pengalaman-pengalaman itu ia dapat membuat makanan lezat dan pada akhirnya memutuskan untuk membangun usaha kuliner sendiri dengan mie ayam sebagai menu andalanya.

Kang Sul sudah berjualan mie ayam kurang lebih 15 tahun lamanya. Dan ia bercerita, sebelum menetap di Perumahan Jalak Putih, ia sempat berkeliling menjajakan dagangannya di sekitaran asrama Polisi di Jalan Skip. Limabelas tahun, ah, tentu ia sudah sangat berpengalaman dalam meracik mie ayam.

Dan ini yang membuat saya kagum, meskipun tempat jualannya tersembunyi, pelanggannya tetap banyak dan berasal dari berbagai status, dari masyarakat biasa, tentara, polisi, dokter, hingga mahasiswa. Banyak mahasiswa Undiksha yang makan di sini. Biasanya mereka tahu dari mulut ke mulut (Kang Sul tak mungkin promosi di media sosial.)

Akhirnya, untuk urusan mie ayam, saya sarankan Anda mencoba mie ayam Uncle Sam ini. Dari sekian banyak pedagang mie ayam di Singaraja yang pernah saya coba, mie ayam Uncle Sam adalah yang paling the best.

Di samping murah, tempat makannya yang sederhana (dengan suara-suara katak di persawahan), juga porsi yang menggilanya itu akan memanjakan lidah Anda. Saya jamin, apa yang saya rasakan di awal tentang kegilaan porsinya, juga akan Anda alami. Apalagi pada saat hujan. Ah, benar-benar kenikmatan yang hakiki, sebagaimana tulisan di kaos bajunya: MIE AYAM UNCLE SAM, ANDA KENYANG, SAYA BAHAGIA.

Cobalah![T]

Nasi Kuning Bu Ayu di Baktiseraga, Sambal Nikmat untuk Nasi Kuning yang Nikmat
Ketut Suci dari Tejakula, dan Kesetiaan Menjual Bubur Mengguh
Babi Guling Tidak Boleh, Ayam Guling pun Jadi di Warung Mbok Eka Banyuning Singaraja
Nasi Bayam, Makanan Legendaris yang Sederhana dari Desa Bungkulan
Tags: kulinerkuliner khas balikuliner legendarismakananmakanan cepat saji
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Keutuhan Bali | Epilog Suteja Neka untuk Buku Puisi Air Mata (Tanah) Bali

Next Post

Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh “Nandisuara”

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh “Nandisuara”

Yowana Manik Asta Gina, Desa Adat Sangket,  Tampilkan Ogoh-Ogoh "Nandisuara"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co