25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

White Building : Potret Keruntuhan

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
October 28, 2022
in Ulas Film
White Building : Potret Keruntuhan

Gambar diambil dari mubi.com

Perihal sinema, tak banyak yang saya tangkap dari negara Kamboja, kecuali kokohnya arca-arca Angkor Wat, yang pernah terekam dalam film In the Mood for Love, buah tangan sutradara Wong Kar Wai. Terlintas begitu puitis dan melankolis, sebagai momentum penutup yang luar biasa menawan. Sampai pada satu waktu, saya menemukan film yang sangat baik ini, berjudul White Building, garapan sutradara berumur 35 tahun, Kavich Neang. Tak kurang melankolisnya, lebih-lebih rada miris.

Dipilih sebagai perwakilan negaranya dalam ajang Academy Awards ke-94 untuk kategori Film Internasional Terbaik, White Building siap bersaing dengan negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia melalui film Ngeri-Ngeri Sedap. Meski pada dasarnya White Building merupakan film yang tidak berorientasi sepenuhnya pada hiburan. Namun kekuatan narasi serta pemanfaatan bahasa-bahasa gambar menjadikan film ini menarik dari isi dan sinematiknya.

Tayang untuk pertama kalinya pada Festival Venesia ke-78, tahun silam, White Building membawa kisah perubahan warna dalam kehidupan seorang remaja di tengah gaung modernitas rapid urban di kota Phnom Penh, yang harus bertarung melawan dampak gentrifikasi yang menyerang perumahan petaknya, serta dualitas antara melepaskan dan mempertahankan sebuah mimpi yang bersarang di pikirannya.

Gentrifikasi, sebagai sebuah premis, adalah hal yang tak jamak dalam dunia film. Dan Kavich Neang mengambil resiko mengangkat itu tanpa banyak punya pijakan, ditambah mengkonstruksinya lewat gaya yang menghindar dari segala ketabuan sinema. Mulai dari tensi yang datar dalam menggambarkan kehidupan sebuah kota, penggunaan aktor-aktor amatir, alih-alih profesional, sampai pendekatan neorealis yang terkesan sangat baru.

Untuk keseluruhan di atas, saya menerjemahkannya sebagai jalan alternatif Kavich Neang dalam upayanya menciptakan film yang di samping itu sebagai hiburan, juga sebagai sebuah seni yang sulit terbantahkan. Ia mampu, dan ia berhasil. Alasan yang saya lihat ketika ia menggaet aktor-aktor amatir di filmnya pun, adalah bukan hanya semata-mata menanjaki pencapaian estetika. Lebih dari itu. Ikut sertanya para pemain amatir ini adalah untuk menciptakan dunia fiksi sesegar mungkin, se-riil mungkin, tampak nyata. Dan Kavich Neang memandang bahwa, (mungkin) hanya aktor amatiran yang mampu menyempurnakan isu realitas yang diangkatnya, dalam elaborasinya terhadap pendekatan neorealis. Dan itu terbukti.

Maka tak dinyana, White Building nyaris sempurna di segala lini. Sempurna secara teknis, sempurna juga dalam pengembangan narasinya. Plot yang disajikan membuat yang menonton seakan-akan berada di dalamnya, di tengah kekacauan batin karakter utamanya. Melalui kacamata Samnang, kita terjun ke dalam kepingan-kepingan peristiwa, bukan sekadar film belaka. Ikut melihat dan merasakan bagaimana dampak dari penggusuruan bekerja. Yang ternyata, tak hanya meruntuhkan material-material di dalam rumah, namun juga meruntuhkan segala-galanya yang ada dalam diri.

Mimpi yang Runtuh

Tokoh sentral dalam film ini adalah seorang remaja bernama Samnang. Kehidupan Samnang laiknya orang-orang penikmat masa muda: setiap sore bermain sepak bola, memiliki minat yang sangat kontemporer, selalu terpesona dengan kecantikan gadis-gadis yang ditemukan di kafe-kafe maupun keramaian jalan-jalan Phnom Penh. Sebuah cermin remaja masa kini, dalam modernitas yang menggaung di ruang-ruang urban. Tapi tak sedikit Samnang memunculkan semacam paradoks terhadap zaman yang riil, menampakkan diri sebagai remaja baik-baik: satu kali terlihat berdoa betapa khusyuk, dan rutin memikul nazar “jika menang, kami akan mempersembahkan ayam dan tujuh jenis buah.” Tawaran yang sungguh menggiurkan.

Namun di sini, ‘menang’ yang dimaksudkan Samnang saat menyogok Tuhan itu apa? Maka untuk pertama kalinya, kinerja bahasa gambar oleh Kavich Neang bermain tepat di wilayahnya. Terkaan akan meleset kalau kita kurang mendetil dalam menangkap framing di intro film: penampakan selembar brosur berwarna kuning keemasan tertempel pada dinding, lalu berpindah pada dua karakter yang hening menatapnya. Teknik POV yang cantik dan baik.

Isi selembar kertas itu adalah sesuatu yang bersangkutan pada minat Samnang, yaitu dance hip-hop ala-ala Barat. Dengan berbekal bakatnya juga bakat kedua sahabatnya, Ah Kha dan Samho. Samnang, berkeinginan tak sekadar menguras waktu hanya berhenti di tingkatan ‘minat’ terhadap hip-hop. Namun lebih dari itu, ia bermimpi bisa masuk ke layar televisi dan memamerkan tariannya. Ia menjadikan hip-hop sebagai tugur mimpi yang mesti didaki dan dipanjati. Lantas mencuatlah sikap ambisius di sini. Samnang bercita-cita, Samnang berambisi segala yang dilakukannya bisa.

Cantiknya, ambisi Samnang itu tidak diperlihatkan dengan cara yang gaduh ataupun berlebihan, melainkan dengan cara yang lamban. Sebuah upaya mempertahankan korelasi yang normal antara awalan dan sepertiga durasi filmnya. Sekaligus mencipta tali relevansi antara intensitas sepertiga durasi ke pertengahan durasi. Ini sulit, tapi sang sutradara melewatinya dengan gagah.

Tetapi, bukankah sebuah mimpi akan terasa hambar jika alpanya pelbagai hambatan yang menyertainya? Itu disadari oleh Kavich Neang.

Maka diposisikanlah Samnang pada kegalauan dan tekanan: kepergian Ah Kha bersama keluarganya yang memilih boyong ke Perancis, juga gentrifikasi yang menyasar perumahan petaknya. Sontak, karakter Samnang mengalami transfigurasi yang signifikan. Ia bukan lagi remaja yang menikmati masa muda sambil ngalor-ngidul berlatih dance hip-hop bersama dua sahabatnya. Tidak lagi mata keranjang dan menggoda gadis-gadis di sepanjang jalan raya. Samnang dan dua sahabatnya tercerai-berai. Ketiganya terpisah oleh situasi yang betul-betul menyebalkan. Dan yang menyakitkan adalah, wacana peruntuhan perumahan petak tersebut, juga berdampak pada runtuhnya mimpi Samnang.

White Building bergerak dengan sabarnya. Eksplorasi kisah/narasi beberapa banyak teruraikan lewat semesta simbol, tentu itu membutuhkan komposisi yang ringan agar lebih leluasa dicerna. Keringanan itu, diterjemahkan sebagai gelombang yang datar juga kadang lambat. Bila film ini diibaratkan seorang  manusia, kita akan melihat bahwa ia selalu saja memasang raut mata yang mengantuk dan kurang bertenaga. Namun, entah betul atau tidak, itulah yang membuat peralihan-peralihan emosi para karakter yang tampak dalam film lebih menyentuh, tidak sekelebat datang begitu saja, apalagi tanpa sekelumit aba-aba.

Pengaruh gentrifikasi ke dalam ranah psikologis yang melanda Samnang diari oleh sinematik yang benar-benar kuat, kendati alur tak memiliki intensitas yang mumpuni. Diamnya karakter sentral, membentuk bagaimana kausalitas dalam film bekerja dengan baik. Ketepatan menghadirkan tokoh juga menjadi pertimbangan matang dalam White Building. Hasilnya adalah sebuah logika cerita yang nihil interupsi dari pihak luar.

Ayah yang Rapuh

Ah Kha dan keluarganya beranjak pergi. Melalui matanya, Samnang membututi keluarga itu dari atas loteng. Runtuhnya mimpi Samnang juga sekaligus menutup lajur/fokus cerita antara dirinya dan teman-temannya. Di sini, lagi-lagi bahasa gambar bekerja dengan baik. Seolah ingin menarik atmosper masa lalu antara Samnang dan sahabatnya, Kavich Neang menutup itu dengan cerdas menggunakan; suara kicau burung mengendap dalam ruangan yang blur, tak ada lagi tarian dan musik pengiring, hanya smartphone yang terpajang lewat teknik deep focus, tertawan di dalam layar.

Di lain sisi, Gentrifikasi masih berlanjut. Ayah Samnang yang memimpin segala negosiasi tampak loyo akibat adanya diversitas di antara para penghuni rumah petak. Satu kubu setuju atas kesepakatan, kubu satunya berlainan pendapat. Samnang dengan segala pikirannya yang masih mengawang-awang tentang mimpi dan sebuah kepergian, harus mempersiapkan diri pada kejutan masalah yang tengah menunggunya di pertengahan.

White Building perlahan-lahan mendapati dirinya keluar dari teritori klise dengan sendirinya. Disebabkan tak puas bermain-main pada satu titik (mungkin): memutari psikologis seorang remaja. White Building melompat dari klise itu, film ini tak hanya menghadirkan sebuah dampak dari satu perspektif, melainkan dua sudut pandang. Berusaha melahirkan ambivalensi. dari kacamata ayah Samnang, rasa berat hati untuk pindah ke lingkungan baru ditampilkan lewat kalimat, “aku sebenarnya tak bisa meninggalkan rumah ini.” juga penggambaran malam hari yang lengang dimana ia merenung menatap pintu yang tertutup.

Seketika narasi bukan lagi bertumpu pada persoalan mimpi, diamnya Samnang, atau wacana penggusuran yang semakin hari makin mendekat. Narasi mendudukkan Samnang untuk meninggalkan mimpinya jauh-jauh, dan menggantinya dengan berubah sebagai motivator untuk keberlangsungan semangat hidup sang ayah. Kerapuhan diri ternyata tak hanya mengenainya. Samnang, menyadari betapa ayahnya semakin lama semakin rentan, tak punya gairah untuk hidup. Kelemahan itu ditunjukkan tidak hanya lewat penyakit diabetes yang menjangkit si ayah, tetapi lagi-lagi perihal gentrifikasi. Maka Samnang mengalami transfigurasi untuk sekian kalinya. Diamnya berubah jadi sikap yang amat acuh kepada sang ayah. Dan tak lagi melihat-lihat jalur alternatif untuk menggapai mimpinya

Namun di tengah kepedulian Samnang akan keluarga, terkhusus sang ayah, benturan pendapat dalam memandang realitas antara anak dan ayah terjadi secara simultan. Samnang ingin ayahnya berobat ke dokter terbaik, agar sembuh dengan cepat. Sementara ayahnya sendiri tidak menginginkan apapun, selain berleha-leha di rumah yang nantinya menjadi seonggok abu campur debu.

White Building, mungkin secara tersirat merupakan sebuah penampakan juga sindiran. Karena pada akhirnya, selalu ada yang menanggung semuanya di ambang ujung, yang menjawab segala pertanyaan yang bergebalau. Dan di sini sosok anak sebagai ‘penampakan’ yang menanggung semua itu, yang menjawab beragam pertanyaan, terejawantah dalam diri Samnang. Sementara ayah Samnang, mau tidak mau harus legowo diposisikan sebagai subjek yang disindir, yang tanpa sengaja bersikap serupa dengan alat-alat berat yang meruntuhkan rumahnya. Bukankah gairah hidupnya yang melemah juga berdampak bagi semangat Samnang dalam menjalani kehidupan? Entah kita perlu menjawabnya ataupun tidak. Namun White Building, lewat sajian salindianya jelas melahirkan sebuah jawaban.

Dalam pamungkasnya, White Building benar-benar menyempurnakan sebuah keruntuhan. Mata kamera berlayar sedikit goyah, mengambil tubuh bangunan yang utuh menggunakan teknik low angle yang manis, dengan diiringi suara mesin. Lalu seiring mata kamera berlayar secara horizontal, tampak alat raksasa dengan cakarnya yang panjang, mencabik-cabik bangunan itu, meluluhlantakkannya. Apapun yang di dalamnya pun menghilang, benda-benda, coretan-coretan pada dinding, dan bahkan sejuta kenangan. Bangunan itu, keruntuhan itu, terekam dengan puitis dan melankolis.[T]

Ketika Kota Menjelma Kata | Catatan Film “Walking Through Words” dalam Minikino Film Week 8
“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)
A Hero (2021) : Sebuah Kabar dari Kebaikan yang Dipertanyakan
Tags: filmFilm KambojaKambojaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Jani Nugraha 2022 | Dhenok Kristianti dan Hembusan Napas Bali dalam Puisi-puisinya

Next Post

Hari Raya Saraswati dan Pendidikan Kita Hari Ini

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Hari Raya Saraswati dan Pendidikan Kita Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co