23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sathya Kori Mancika, Mahasiswa Komunikasi, Suka Dongeng, Suka Ikan Cupang

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
October 9, 2022
in Persona, Pilihan Editor
Sathya Kori Mancika, Mahasiswa Komunikasi, Suka Dongeng, Suka Ikan Cupang

Kadek Sathya Kori Mancika saat mendongeng di panggung Komunitas Mahima, Singaraja, Bali | Foto: Komunitas Mahima

Kadek Sathya Kori Mancika melangkah ke atas panggung. Di atas panggung ia mengeluarkan dua boneka kertas. Pipih. Sebut saja wayang dari kertas.

Satu wayang berbentuk kepiting, yang satu lagi berwujud lobster. Yang kepiting namanya Kepi. Yang lobster namanya Lobi.  

“Kepi dan Lobi bersiap untuk mengikuti pesta di dasar laut,” kata Kori mengawali dongengnya. Dan penonton yang hadir di Rumah Belajar Komunitas Mahima pun menyimak dengan khusyuk.

Malam itu, Rabu, 5 Oktober 2022, Kadek Sathya Kori Mancika—panggil saja Kori—memang sedang mendongeng. Ia adalah juara satu lomba mendongeng selangkaian Festival Mendongeng Mahima se-Indonesia untuk katagori umum yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

Sebagai juara satu, ia didaulat untuk mendongeng pada malam penutupan festival sekaligus malam penyerahan hadiah di Ruah Belajar Komunitas Mahima. Dan ia mendongeng dengan judul Kepi Si Penyelamat Lautan. Itu adalah dongeng yang sama saat ia bawakan dalam lomba.

Diceritakan, Kepi dan Lobi tiba di tengah pesta di dasar lautan. Pesta sudah dihadiri oleh ribuan ikan cantik warna warni. Di tengah pesta, Kepi memamerkan ketajaman capitnya di hadapan ribuan ikan warna itu.

Kepi mengacungkan capit dan cangkangnya yang tajam dan kuat. Ia kemdian memotong rumput, “Krek, krek, krek!” Rumput terpotong dan ikan-ikan pun tepuk tangan.

Giliran Lobi memamerkan keunggulannya dalam hal berlari cepat. Lobi melesat di dasar laut, larinya sangat cepat. Dan ia mendapat tepuk tangan meriah.

Kadek Sathya Kori Mancika membawakan dongeng Kepi Si Penyelamat Lautan di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Komunitas Mahima

Lobi kemudian mengejek Kepi yang tak bisa berlari cepat dan hanya bisa bergeser-geser ke kanan dan ke kiri, Ikan-ikan tertawa. Kepi yang malu kemudian keluar dari pesta. Ia menyendiri di suatu tempat.

Ketika makhluk laut itu sedang asyik berpesta, tanpa disadari meluncurlah perahu nelayan di atas lautan. Nelayan itu menebarkan jala yang besar dan kuat hingga ke dasar lautan. Ikan-ikan dan Lobi berusaha lari sekuat tenaga untuk menghindari jala, tapi jala itu lebih kuat. Ikan-ikan dan Lobi pun terjaring dalam jala.

Kepi yang kebetulan melihat teman-temannya terperangkap dalam jalan dengan cepat melakukan pertolongan. Kepi dengan cepat memotong jala dengan capitnya yang kuat dan tajam itu. Tali-tali jala terpotong, dan ikan-ikan, termasuk Lobi pun bisa keluar dari jala dengan selamat.

Lobi merasa bersalah telah mengejek Kepi, dan ia minta maaf. Suasana lautan kembali ceria.

[][][]

Kadek Sathya Kori Mancika menceritakan dongeng itu dengan apik dan menarik. Ia punya kemampuan memainakan wayang dan kemampuan untuk mengubah suara sesuai dengan karakter tokoh-tokohnya. Suara Kepi dan suara Lobi dibuat berbeda. Begitu pun narasi yang dibangun oleh Kori juga sangat tenang tapi kuat.

Tentu saja. Karena urusan olah vokal, urusan public speaking, memang sudah dikuasai dengan baik oleh Kori.

Kori yang mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini telah membuktikan bahwa ia memang punya potensi besar berbicara di atas panggung di hadapan publik.

Kori adalah peraih juara 3 pada Lomba Dharma Wacana Tingkat Nasional tahun 2021 dan juara 1 pada Lomba Dharma Gita Wacana Jnana Dharma Digital Tingkat Nasional 2022. Prestasi lainnya di bidang olah suara juga banyak. Sehingga tak heran ia mendapat juara satu dalam Lomba Mendongeng Mahima 2022,

Kadek Sathya Kori Mancika menerima hadiah yang diserahkan oleh perwakilan Dinas Perpustakaan dan Arsip Buleleng | Foto: Komunitas Mahima

Kori merupakan anak kedua dari enam  bersaudara. Lahir di Tejakula, 21 Januari 2003. Terlahir dari pasangan suami istri, Gede Sukas Jaya  dan Kadek Helvy Sapariyani Ningsih. Ibunya adalah seorang pegawai negeri, bertugas di Pemkab Buleleng. Ayahnya adalah seorang sommelier atau ahli wine.

Yang banyak memberi Kori inspirasi adalah kakeknya.“Kakek memberikan banyak wejangan agar Kori tak salah langkah dalam menjalani hidup,” kata Kori.

Kori sejak keciul memang suka membaca, terutama membaca sloka-sloka dalam kitab suci Weda. Dari sloka-sloka itu ia mengaku banyak belajar, terutama berkaitan dengan kehidupan yang ia jalani saat ini.

[][][]

Bisa ditebak Kori juga suka keindahan dan belajar dari keindahan sekaligus menularkan keindahan kepada teman-temannya.

Ia suka ikan cupang. Dan ia memeliharanya di rumah. Ikan cupang itu ia pandangi menjelang ke kampus atau saat datang dari kampus. Dan itu, bagi dia, adalah sesuatu yang menyenangkan.

 “Ikan cupang membuat saya merasa tenang, apalagi melihat keindahan warna-warna cantik dari ikan cupang itu sama rasanya dengan melihat bunga-bunga indah bermekaran,” katanya.

Tentu bukan karena ikan cupang yang membuat ia memilih kuliah di jurusan Ilmu Komnukasi di STAHN Mpu Kuturan. Ia memilih menempuh kuliah di jurusan ilmu komunikasi karna ia telah menyadari bahwa kemampuannya di bidang komunikasi sudah ia rasanya sejak ia duduk di bangku SMAN 4 Singaraja. Bahkan kesenangan berbicara sudah ia rasakan sejak di bangku SDN 1 Banyuning dan di SMPN 3 Singaraja.

Dengan potensi yang dimiliki, Kori memantapkan rencananya jika lulus S1 nanti akan melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Tentu untuk meraih cita-citanya sebagai seorang dosen.

Kadek Sathya Kori Mancika bersama pemenang lain dalam Festival Mendongeng Mahima 2022 | Foto: Komunitas Mahima

Kori optimis bisa meraih cita-citanya. Ia memang orang optimis, dan memiliki prinsip hidup yang tinggi. Ia memiliki jiwa bergaul yang tinggi, dan selalu mencoba menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Karena kelak sang adik akan mengikuti jejaknya, maka ia harus menjadi cermin yang baik.

“Berbuat baik untuk rekam jejak yang baik,” kata Kori. Dan  kalimat inilah yang selalu mendorong dan menyadarkannya,  bahwa sebagai manusia yang hidup di dunia selalu terikat dengan karma.

Dengan jalan berbuat baiklah maka setidaknya seseorang dapat membayar hutang-hutangnya di masa lalu. Tentu saja berbuat baik dengan dilandasi keikhlasan tanpa berharap suatu balasan.

Satu hal yang pasti, kata dia, “Jangan pernah takut mencoba, gagal hal biasa namun hal pentingnya adalah kita bisa mencicipi setiap pengalamannya.” [T]

Festival Mendongeng Mahima se-Indonesia: Juaranya Dari Jambi, Ungaran, Palembang dan Bali
Mengapa Kita Perlu Dongeng dan Mendongeng?
Pertempuran Kepiting | Dongeng dari Filipina
Tags: dongengilmu komunikasiKomunitas MahimaSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kue dan Camilan Luh Buleleng, Yang Ringan dan Sehat dari Bali Utara

Next Post

Guru dan Serapan Pengetahuan

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Cahaya Semesta Semakin Cemerlang

Guru dan Serapan Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co