24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Ogoh-ogoh, Ogoh-ogoh Politik

Gede Suardana by Gede Suardana
March 4, 2022
in Opini
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

Dua tahun pandemi, tiga kali merayakan rahina Nyepi. Tiga kali Nyepi, tiga kali pula ogoh-ogoh bikin heboh.

Awal pandemi tahun 2020 menjadi permulaan prosesi ritual rahina Nyepi tidak bisa dilaksanakan sesuai tradisi. Ritual melasti serta pawai ogoh-ogoh selalu mengawali tapa brata penyepian.

Jelang Nyepi tahun 2020, pemerintah (Gubernur Bali, PHDI, dan MDA) mengeluarkan surat edaran bersama tentang tata cara pelaksanaan ritual Nyepi yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Hanya saja, aturan pelarangan pawai ogoh-ogoh tersebut memancing kemelut di masyarakat. Anak-anak muda merasa kecewa.  Ogoh-ogoh yang mereka persiapkan selama sebulan penuh dilarang untuk diarak mengelilingi desa adat.

Salah satu sekaa teruna di wilayah Gianyar pun melampiaskan kekecewaan.  Membakar ogoh-ogoh yang sebenarnya sudah siap diarak keliling desa pada malam pengerupukan.

Nyepi 2021 polemik ogoh-ogoh mereda. Tahun ini praktis tanpa gejolak, boleh atau tidak boleh arak-arakan ogoh-ogoh di malam pengerupukan. Saat itu, virus Covid-19 tengah merajalela.

Nyepi Tahun Saka 1944 (2022), wacana ogoh-ogoh kembali riuh rendah. Tarik ulur ogoh-ogoh ramai. Kalangan orang tua hingga anak-anak pun membicarakannya. “Dadi tusing ogoh-ogoh e jani nah?,”. “Nak dadi kone. Nak be baange ajak pemerintah e,”. Percakapan ini saling bersahutan.

Perubahan makna Ogoh-ogoh

Soal ogoh-ogoh sudah banyak yang membahasnya. Dari sejarah munculnya ogoh-ogoh, sampai pada wacana apakah ada atau tidak hubungan ogoh-ogoh dengan ritual Nyepi.

Kali ini kita coba membahas pergeseran makna ogoh-ogoh sebagai praktik budaya populer. 

Dari perspektif culture studies, budaya adalah sebuah konstruksi sosial. Yang bisa diadakan atau ditiadakan sesuai kepentingan manusia pada massanya.

Ogoh-ogoh bisa disebut sebagai praktik budaya pop. Dimana bentuk dan makna terus berubah seiring kepentingan manusianya.

Ogoh-ogoh, pada awal mula kemunculannya, ada yang meyakini sebagai produk kreativitas seni tangan terampil teruna-teruna Bali.  Disalurkan dalam bentuk boneka raksasa untuk melengkapi ritual Nyepi.

Seiring kemajuan perkembangan pariwisata, ogoh-ogoh dikomodifikasi ulang untuk kepentingan pariwisata. Ogoh-ogoh dibuat penuh dengan kreativitas. Bahannya pun ikut berubah-ubah mengikuti perkembangan perubahan bentuknya.

Sebagai bagian pertunjukan pariwisata, ogoh-ogoh mentas di kawasan wisata, seperti Sanur, Kuta, dan Ubud. Turis asing dan domestik yang beruntung berlibur ke Bali pada jelang dan saat Nyepi, dapat menyaksikan sepuasnya.

Pasca bom Bali I dan II (2002-2005), ogoh-ogoh dikonstruksi menjadi kritik sosial. Muncul ogoh-ogoh berwajah Amrozi. Tokoh yang dipersepsikan sebagai bhuta kala karena bagian dari dedengkot teroris yang meluluhlantakkan kawasan wisata Kuta.  Disusul ogoh-ogoh berwajah tokoh publik yang tengah menjadi perbincangan.

Pada masa gering agung Covid-19 tahun 2020-2022, untuk pertama kalinya ogoh-ogoh menjadi persoalan pelik bagi publik.

Ogoh-ogoh pun dilarang diarak di masing-masing desa karena dikhawatirkan akan memperluas penyebaran virus.

Ogoh-ogoh jadi teronggok tak terawat di sudut desa (ditempatkan di bale banjar untuk yang masih dirawat).

Persoalan pelik ogoh-ogoh kembali menjadi mencuat tahun 2022. Surat edaran MDA (satu paket dengan Gubernur Bali) melarang pawai ogoh-ogoh. Sontak, edaran itu mendapatkan perlawanan teruna-teruni. Mereka serentak menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Bali Wayan Koster. Aspirasi itu mendapat gelombang sambutan luar biasa dari teruna-teruni di Bali. “Surat edaran MDA yang melarang ogoh-ogoh hanya himbauan,  tidak wajib untuk diikuti,” seru seorang aktor politik.

Beberapa tokoh politik turun menggunakan isu tarik ulur ogoh-ogoh sebagai bagian unjuk diri ke hadapan muda-mudi Bali. Mereka berada di barisan anak muda. Menarik simpati dengan menentang pelarangan ogoh-ogoh oleh MDA Bali. Keputusan pelarangan yang disebut sebagai tindakan inkonsisten. “Surat edaran pelarangan ogoh-ogoh oleh MDA hanya himbauan. Tidak wajib untuk diikuti,” seru aktor politik.

Gubernur Koster rupanya membaca dengan cerdik arus ini. Ia menjadikan aspirasi anak muda sebagai peluang untuk mendekatkan dirinya dengan teruna-teruni (baca – takut kehilangan suara dari pemilih generasi milenial)

Sekelebat, ia bersama MDA secara mengundang anak-anak muda yang tergabung dalam organisasi pasikian yowana desa adat se-Bali. Menerima aspirasi. Kebijakannya berubah 180 derajat. Mengijinkan ritual nyomya ogoh-ogoh secara terbatas di wewidangan desa adat. Syaratnya, hanya boleh diikuti 25 orang dan diikuti oleh mereka yang telah divaksin dua kali. Ia pun menggelontorkan uang senilai Rp 1,9 miliar sebagai hadiah lomba ogoh-ogoh.

Tak cukup di situ, sebagai simbolis bentuk perhatiannya kepada kaum milenial dan zilenial (baca – teruna teruni), ia melakukan aksi bertajuk “Gubernur Koster mecapatan tur megagapan”. Ia menyapa anak-anak muda yang tengah menggarap ogoh-ogoh di bale banjar desa adat.

Ada empat bale banjar desa adat di Denpasar yang ia kunjungi, yaitu Yowana ST Satua Dharma, Banjar Kaja, Desa Sesetan; Yowana ST Tunas Muda, Banjar Dukuh Merta Jati, Desa Sidakarya; Yowana ST Sari Sanggraha, Banjar Pesanggaran, Desa Pedugan; dan Yowana ST Saka Bhuwana, Desa Tainsiat.

Euforia pembatalan pelarangan memuncak pada malam pengerupukan. Ribuan orang tumpah ruah di antaranya, di kawasan perempatan patung Catus Pata, Denpasar. Menyaksikan ogoh-ogoh yang hadir di malam jelang Nyepi dengan beragam tema, seperti Dana Maya Sandhi, Grubug, Katadah Kala, dan Kepet Agung.

Politik Ogoh-ogoh

Kunjungan tokoh/elit politik selevel gubernur beranjang sana ke arena pembuatan ogoh-ogoh menjadi hal yang unik. Rasanya, jarang kepala daerah yang melakukannya. Bahkan, ia sendiri belum pernah melakukan hal yang sama pada Nyepi sebelum terjadi pandemi.

Aksi mecapatan Gubernur Koster ditambah dengan hadiah uang miliaran rupiah menjadi pertanda bahwa makna ogoh-ogoh telah berubah dari kreativitas-ritual-pariwisata menjadi arena politik.

Sebagai tokoh politik tentu tak ingin melewatkan momentum ini. Kebijakan pelarangan pawai ogoh-ogoh berpotensi akan menggerus suara potensial dari kaum milenial. Karena anak muda kecewa. Buru-buru merevisi aturan.  Bahkan dikemas lebih ciamik dengan memberikan bonus hadian besar.

Itu pula menjadi sebuah simbol bahwa kekuasaannya tidak absolut. Desakan demi desakan dari kalangan muda, yang berpotensi sebagai lumbung suara   yang besar pada Pilkada 2024 telah membuatnya gentar jika tetap melarang pawai ogoh-ogoh.

Tarik ulur ogoh-ogoh pun dilakukan oleh dirinya sendiri hanya sekadar tak ingin kehilangan suara di kemudian hari. Akhirnya, politik masuk ke ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh pun telah menjadi permainan politik.

Selamat Nyepi Tahun Saka 1944.

Singaraja, 2 Maret 2022

Tags: Hari Raya Nyepiogoh-ogohPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Amuk-Amukan di Desa Padangbulia, Tradisi Serangkaian Nyepi yang Penuh Nilai

Next Post

Mobil Kembar Toyota dan Daihatsu, Sebuah Studi Kolaborasi

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Mobil Kembar Toyota dan Daihatsu, Sebuah Studi Kolaborasi

Mobil Kembar Toyota dan Daihatsu, Sebuah Studi Kolaborasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co