1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Temui Aku Pada Hangat Senja di Tepi Pantai Ini | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
July 24, 2021
in Cerpen
Temui Aku Pada Hangat Senja di Tepi Pantai Ini | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tepat pukul setengah 5 sore, ia berjanji menemuiku di tepi pantai. Aku datangi pantai itu, tempat yang biasa kami datangi kala senja sedang hangat. Aku menunggu di tepi pantai. Ombak memecah hening dalam kepalaku tapi angin laut seolah berulah, membuat kami senantiasa bisu ketika bertemu.

Setengah jam berlalu. Akhirnya, ia datang, menyapa dengan lambaian, dan senyum yang sangat manis. Aku membalas lambaian dan senyum itu.

Ia berjalan menghampiriku lalu duduk tepat di sampingku. Hatiku berkecamuk seperti ombak di hadapan kami, walaupun sudah lama saling kenal, tapi setiap kali bertemu, mataku seakan tidak siap untuk menatapnya. Rambutnya yang berantakan karena tertiup angin pun tak dapat menutupi kecantikannya.

“Apa kabar?” tanyanya lembut.

“Baik. Kau?” balasku sambil memainkan pasir.

“Seperti pertama kali berjumpa di sini,” katanya dengan suara yang selalu terpahat dalam ingatanku.

Sesaat ketika ia mengatakan itu, aku teringat dua tahun lalu, gadis itu menerima cintaku, tepat di tepi pantai ini. Jawabannya membuatku tak bisa tidur lima hari lima malam. Aku tidak percaya hingga pertanyaan memutar di kepalaku, apa benar ia menerima cintaku? Ah, apa ia hanya main-main denganku? Tidak… tidak… tidak mungkin wanita secantik dirinya mau menerimaku. Tapi, jawabannya bukan omong kosong. Ia menerimaku dengan tulus. Aku tahu dari raut wajahnya yang sangat indah itu selalu terlihat ketulusan untukku.

Seorang yang amat sangat cantik. Bahkan bidadari pun kalah cantik dengannya. Kulit putih bersih, senyum manis yang selalu membuat hatiku berdegup. Semua pemuda di desa sangat suka dengannya, bahkan pemuda dari desa lain rela datang hanya ingin menemuinya. Apalah aku, yang hanya seorang manusia biasa.

Tapi, ia memilihku. Seribu kali pertanyaan ini aku layangkan  pada diriku sendiri. Apa benar ia memilihku? Ah, ini benar-benar seperti mimpi, mimpi yang amat sangat panjang.

Dari sekian banyak orang, hanya ia yang memandangku dengan ketulusan. Berani mendekat ke arahku dan meluapkan segala cintanya kepadaku. Sesaat lagi matahari akan terbenam, itu artinya perpisahan akan segara datang dan cinta ini akan segera berakhir untuk hari ini.

Kami lantas berpisah. Menuju peruntungan masing-masing. Setelah ini, ia masih menjadi bidadari yang dikagumi banyak orang dan aku masih menjadi orang yang dipandang  hina oleh orang-orang.

Lantas, beberapa hari kemudian ia kembali mengajakku bertemu di tempat itu. Kami menjalin cinta pertama kami sampai hari ini kami duduk kembali di tepi pantai yang sangat indah ini.

Tapi, kembali aku ingat kejadian yang memilukan. Saat itu aku memberanikan diri untuk bertemu orang tuamu. Ayahnya memandangku seperti melihat hewan yang sudah membusuk di sekujur tubuh.

“Ada kepentingan apa kau ke sini?” tegasnya.

“U.. u.. untuk mencari anak bapak,” jawabku dengan terbata-bata.

Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku. Aku hanya bisa menunduk dan berdiri kaku di hadapan ayahnya.

“Kuperingatkan saja, Nak. Jika kau berani menyentuh dia, tanganmu tidak segan aku potong!”

Dia berkata dengan mata mendelik dan nada yang sangat tinggi.

“Pergilah! Sebelum amarahku ini berada di ambang batas!” lanjutnya.

Aku melangkah pergi, dengan kaki yang gemetar. Aku tersadar, memang tidak pantas untuk orang sepertiku mencintai gadis secantik dirinya.

“Dan satu lagi, jangan pernah kau melangkahkan kaki di rumah ini lagi! Jika saja aku lihat, walau itu hanya tetesan keringat, aku tidak akan segan membunuhmu!” lanjutnya kembali dengan nada yang sangat tinggi.

Kami  akhirnya tidak disetujui oleh orang tuanya karena ia anak satu-satunya di keluarganya dan aku hanya orang yang tidak pantas sama sekali bersanding dengannya.

Setelah itu, ia tidak diizinkan untuk keluar dari rumahnya walau hanya sejengkal. Aku menunggunya selalu di tempat biasa, di tepi pantai sembari menunggu senja datang. Tapi ia tidak juga datang. Selama lebih dari dua setengah bulan aku menunggunya di sini. Aku sangat ingin sekali menemui dirinya dan ingin ia tau, aku adalah orang yang sangat tulus mencintainya, mengagumi hal-hal yang melekat di tubuhnya. Bukan seperti orang lain yang hanya memandang dari kecantikan dirinya.

Aku selalu datang ke tepi pantai ini. Berharap ia juga ada di sini, menemani setiap deburan ombak yang siap membawa keindahan dari dasar laut. Keindahan itu tak pernah datang kali ini. Aku lelah sekali menunggu, menunggu seseorang yang sangat aku cintai. Mungkin ia bosan hanya berdiam diri di kamarnya yang sempit itu, aku tahu ia juga sangat ingin bertemu denganku. Kita sama-sama saling memiliki batasan. Ia yang sangat sempurna untuk hal apapun kecuali cinta.

Ah bukan. Ia hanya salah memilih cinta itu. Setidaknya ia tidak memilihku untuk mencintainya terlalu dalam.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi ingin melamarnya. Jika aku tidak melamarnya lebih  cepat, lelaki mana yang akan dijodohkan dengannya? Aku memberanikan diri untuk datang kembali ke rumahnya, walau aku tahu resiko besar yang akan aku hadapi.

Aku menemui ayahnya, dan langsung membawa banten yang aku berikan langsung ke ayahnya. Tapi, ia mengambil beberapa banten lalu dilempar begitu saja ke hadapanku. Banten yang aku peroleh dari jerih payah usahaku, kesana-kemari meminta tanggal baik untuk bisa melamarnya. Tapi hari itu bukanlah tanggal yang baik.

Ayahnya mengambil sebilah pisau dari dapur, pisau yang aku lihat sangatlah tajam. Sepertinya sudah diasah untuk siap menebasku. Ia memandangku dahulu dengan tajam, seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Aku tak bergeming sama sekali. Aku langsung lari menuju pantai itu, tempat biasa kami bertemu dan menjalin cinta yang hangat bagai senja yang sedang larut tenggelam.

Hari itu juga, aku berdiam diri di tepi pantai. Tempat biasa yang selalu kami habiskan dengan cinta yang sangat pekat. Bahkan pasir pun mungkin tak bisa menyamai cinta kami. Tentu saja hatiku terasa sangat terkoyak. Aku berdiam diri dari sore hingga larut malam. Di mana lagi aku mendapatkan cinta setulus dirinya, tapi orang tuanya tidak bisa membiarkan ia bersanding denganku yang memang mempunyai banyak kekurangan.

Akhirnya, aku berjalan menuju laut yang sangat luas dipandang ketika biasanya kami duduk di tepi pantai ini. Di bawah bulan purnama ini, aku berjanji akan selalu mencintainya. Air laut kala itu begitu deras hingga sampai ke bibir pantai. Pura di timur yang sangat megah ikut tersapu ombak. Dengan berbalut kain kamben, aku masuk ke dalam ombak. Tubuhku semakin lama semakin masuk ke dalam laut, kamben yang menutup sebagian tubuhku juga hanyut entah ke mana.

Sepertinya tubuhku terbalut oleh ombak sekarang, hingga terombang-ambing seperti jukung yang siap untuk pergi menjala ikan. Aku tiba-tiba merasakan dirinya memelukku dengan erat, wajahnya yang sangat cantik tersenyum manis ke hadapanku. Ini seperti perpisahan yang sangat manis. Aku akhirnya menemuinya di ambang kematianku.

Cinta ini tak akan binasa oleh ombak ganas, apalagi hanya karena ayahnya tidak merestui cinta kami. Aku selalu ada di tepi pantai ini, menunggunya dan menikmati ombak, angin dan senja  hangat yang menemani cinta kami. [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perbekel Gede Adi Wistara | Sedang Mengerjakan PR untuk Desa Les

Next Post

Bhadrawada Masa | Bulan Penuh Kemuliaan

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Bhadrawada Masa | Bulan Penuh Kemuliaan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co