2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Temui Aku Pada Hangat Senja di Tepi Pantai Ini | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
July 24, 2021
in Cerpen
Temui Aku Pada Hangat Senja di Tepi Pantai Ini | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tepat pukul setengah 5 sore, ia berjanji menemuiku di tepi pantai. Aku datangi pantai itu, tempat yang biasa kami datangi kala senja sedang hangat. Aku menunggu di tepi pantai. Ombak memecah hening dalam kepalaku tapi angin laut seolah berulah, membuat kami senantiasa bisu ketika bertemu.

Setengah jam berlalu. Akhirnya, ia datang, menyapa dengan lambaian, dan senyum yang sangat manis. Aku membalas lambaian dan senyum itu.

Ia berjalan menghampiriku lalu duduk tepat di sampingku. Hatiku berkecamuk seperti ombak di hadapan kami, walaupun sudah lama saling kenal, tapi setiap kali bertemu, mataku seakan tidak siap untuk menatapnya. Rambutnya yang berantakan karena tertiup angin pun tak dapat menutupi kecantikannya.

“Apa kabar?” tanyanya lembut.

“Baik. Kau?” balasku sambil memainkan pasir.

“Seperti pertama kali berjumpa di sini,” katanya dengan suara yang selalu terpahat dalam ingatanku.

Sesaat ketika ia mengatakan itu, aku teringat dua tahun lalu, gadis itu menerima cintaku, tepat di tepi pantai ini. Jawabannya membuatku tak bisa tidur lima hari lima malam. Aku tidak percaya hingga pertanyaan memutar di kepalaku, apa benar ia menerima cintaku? Ah, apa ia hanya main-main denganku? Tidak… tidak… tidak mungkin wanita secantik dirinya mau menerimaku. Tapi, jawabannya bukan omong kosong. Ia menerimaku dengan tulus. Aku tahu dari raut wajahnya yang sangat indah itu selalu terlihat ketulusan untukku.

Seorang yang amat sangat cantik. Bahkan bidadari pun kalah cantik dengannya. Kulit putih bersih, senyum manis yang selalu membuat hatiku berdegup. Semua pemuda di desa sangat suka dengannya, bahkan pemuda dari desa lain rela datang hanya ingin menemuinya. Apalah aku, yang hanya seorang manusia biasa.

Tapi, ia memilihku. Seribu kali pertanyaan ini aku layangkan  pada diriku sendiri. Apa benar ia memilihku? Ah, ini benar-benar seperti mimpi, mimpi yang amat sangat panjang.

Dari sekian banyak orang, hanya ia yang memandangku dengan ketulusan. Berani mendekat ke arahku dan meluapkan segala cintanya kepadaku. Sesaat lagi matahari akan terbenam, itu artinya perpisahan akan segara datang dan cinta ini akan segera berakhir untuk hari ini.

Kami lantas berpisah. Menuju peruntungan masing-masing. Setelah ini, ia masih menjadi bidadari yang dikagumi banyak orang dan aku masih menjadi orang yang dipandang  hina oleh orang-orang.

Lantas, beberapa hari kemudian ia kembali mengajakku bertemu di tempat itu. Kami menjalin cinta pertama kami sampai hari ini kami duduk kembali di tepi pantai yang sangat indah ini.

Tapi, kembali aku ingat kejadian yang memilukan. Saat itu aku memberanikan diri untuk bertemu orang tuamu. Ayahnya memandangku seperti melihat hewan yang sudah membusuk di sekujur tubuh.

“Ada kepentingan apa kau ke sini?” tegasnya.

“U.. u.. untuk mencari anak bapak,” jawabku dengan terbata-bata.

Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku. Aku hanya bisa menunduk dan berdiri kaku di hadapan ayahnya.

“Kuperingatkan saja, Nak. Jika kau berani menyentuh dia, tanganmu tidak segan aku potong!”

Dia berkata dengan mata mendelik dan nada yang sangat tinggi.

“Pergilah! Sebelum amarahku ini berada di ambang batas!” lanjutnya.

Aku melangkah pergi, dengan kaki yang gemetar. Aku tersadar, memang tidak pantas untuk orang sepertiku mencintai gadis secantik dirinya.

“Dan satu lagi, jangan pernah kau melangkahkan kaki di rumah ini lagi! Jika saja aku lihat, walau itu hanya tetesan keringat, aku tidak akan segan membunuhmu!” lanjutnya kembali dengan nada yang sangat tinggi.

Kami  akhirnya tidak disetujui oleh orang tuanya karena ia anak satu-satunya di keluarganya dan aku hanya orang yang tidak pantas sama sekali bersanding dengannya.

Setelah itu, ia tidak diizinkan untuk keluar dari rumahnya walau hanya sejengkal. Aku menunggunya selalu di tempat biasa, di tepi pantai sembari menunggu senja datang. Tapi ia tidak juga datang. Selama lebih dari dua setengah bulan aku menunggunya di sini. Aku sangat ingin sekali menemui dirinya dan ingin ia tau, aku adalah orang yang sangat tulus mencintainya, mengagumi hal-hal yang melekat di tubuhnya. Bukan seperti orang lain yang hanya memandang dari kecantikan dirinya.

Aku selalu datang ke tepi pantai ini. Berharap ia juga ada di sini, menemani setiap deburan ombak yang siap membawa keindahan dari dasar laut. Keindahan itu tak pernah datang kali ini. Aku lelah sekali menunggu, menunggu seseorang yang sangat aku cintai. Mungkin ia bosan hanya berdiam diri di kamarnya yang sempit itu, aku tahu ia juga sangat ingin bertemu denganku. Kita sama-sama saling memiliki batasan. Ia yang sangat sempurna untuk hal apapun kecuali cinta.

Ah bukan. Ia hanya salah memilih cinta itu. Setidaknya ia tidak memilihku untuk mencintainya terlalu dalam.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi ingin melamarnya. Jika aku tidak melamarnya lebih  cepat, lelaki mana yang akan dijodohkan dengannya? Aku memberanikan diri untuk datang kembali ke rumahnya, walau aku tahu resiko besar yang akan aku hadapi.

Aku menemui ayahnya, dan langsung membawa banten yang aku berikan langsung ke ayahnya. Tapi, ia mengambil beberapa banten lalu dilempar begitu saja ke hadapanku. Banten yang aku peroleh dari jerih payah usahaku, kesana-kemari meminta tanggal baik untuk bisa melamarnya. Tapi hari itu bukanlah tanggal yang baik.

Ayahnya mengambil sebilah pisau dari dapur, pisau yang aku lihat sangatlah tajam. Sepertinya sudah diasah untuk siap menebasku. Ia memandangku dahulu dengan tajam, seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Aku tak bergeming sama sekali. Aku langsung lari menuju pantai itu, tempat biasa kami bertemu dan menjalin cinta yang hangat bagai senja yang sedang larut tenggelam.

Hari itu juga, aku berdiam diri di tepi pantai. Tempat biasa yang selalu kami habiskan dengan cinta yang sangat pekat. Bahkan pasir pun mungkin tak bisa menyamai cinta kami. Tentu saja hatiku terasa sangat terkoyak. Aku berdiam diri dari sore hingga larut malam. Di mana lagi aku mendapatkan cinta setulus dirinya, tapi orang tuanya tidak bisa membiarkan ia bersanding denganku yang memang mempunyai banyak kekurangan.

Akhirnya, aku berjalan menuju laut yang sangat luas dipandang ketika biasanya kami duduk di tepi pantai ini. Di bawah bulan purnama ini, aku berjanji akan selalu mencintainya. Air laut kala itu begitu deras hingga sampai ke bibir pantai. Pura di timur yang sangat megah ikut tersapu ombak. Dengan berbalut kain kamben, aku masuk ke dalam ombak. Tubuhku semakin lama semakin masuk ke dalam laut, kamben yang menutup sebagian tubuhku juga hanyut entah ke mana.

Sepertinya tubuhku terbalut oleh ombak sekarang, hingga terombang-ambing seperti jukung yang siap untuk pergi menjala ikan. Aku tiba-tiba merasakan dirinya memelukku dengan erat, wajahnya yang sangat cantik tersenyum manis ke hadapanku. Ini seperti perpisahan yang sangat manis. Aku akhirnya menemuinya di ambang kematianku.

Cinta ini tak akan binasa oleh ombak ganas, apalagi hanya karena ayahnya tidak merestui cinta kami. Aku selalu ada di tepi pantai ini, menunggunya dan menikmati ombak, angin dan senja  hangat yang menemani cinta kami. [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perbekel Gede Adi Wistara | Sedang Mengerjakan PR untuk Desa Les

Next Post

Bhadrawada Masa | Bulan Penuh Kemuliaan

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Bhadrawada Masa | Bulan Penuh Kemuliaan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co