2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Temui Aku Pada Hangat Senja di Tepi Pantai Ini | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
July 24, 2021
in Cerpen
Temui Aku Pada Hangat Senja di Tepi Pantai Ini | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tepat pukul setengah 5 sore, ia berjanji menemuiku di tepi pantai. Aku datangi pantai itu, tempat yang biasa kami datangi kala senja sedang hangat. Aku menunggu di tepi pantai. Ombak memecah hening dalam kepalaku tapi angin laut seolah berulah, membuat kami senantiasa bisu ketika bertemu.

Setengah jam berlalu. Akhirnya, ia datang, menyapa dengan lambaian, dan senyum yang sangat manis. Aku membalas lambaian dan senyum itu.

Ia berjalan menghampiriku lalu duduk tepat di sampingku. Hatiku berkecamuk seperti ombak di hadapan kami, walaupun sudah lama saling kenal, tapi setiap kali bertemu, mataku seakan tidak siap untuk menatapnya. Rambutnya yang berantakan karena tertiup angin pun tak dapat menutupi kecantikannya.

“Apa kabar?” tanyanya lembut.

“Baik. Kau?” balasku sambil memainkan pasir.

“Seperti pertama kali berjumpa di sini,” katanya dengan suara yang selalu terpahat dalam ingatanku.

Sesaat ketika ia mengatakan itu, aku teringat dua tahun lalu, gadis itu menerima cintaku, tepat di tepi pantai ini. Jawabannya membuatku tak bisa tidur lima hari lima malam. Aku tidak percaya hingga pertanyaan memutar di kepalaku, apa benar ia menerima cintaku? Ah, apa ia hanya main-main denganku? Tidak… tidak… tidak mungkin wanita secantik dirinya mau menerimaku. Tapi, jawabannya bukan omong kosong. Ia menerimaku dengan tulus. Aku tahu dari raut wajahnya yang sangat indah itu selalu terlihat ketulusan untukku.

Seorang yang amat sangat cantik. Bahkan bidadari pun kalah cantik dengannya. Kulit putih bersih, senyum manis yang selalu membuat hatiku berdegup. Semua pemuda di desa sangat suka dengannya, bahkan pemuda dari desa lain rela datang hanya ingin menemuinya. Apalah aku, yang hanya seorang manusia biasa.

Tapi, ia memilihku. Seribu kali pertanyaan ini aku layangkan  pada diriku sendiri. Apa benar ia memilihku? Ah, ini benar-benar seperti mimpi, mimpi yang amat sangat panjang.

Dari sekian banyak orang, hanya ia yang memandangku dengan ketulusan. Berani mendekat ke arahku dan meluapkan segala cintanya kepadaku. Sesaat lagi matahari akan terbenam, itu artinya perpisahan akan segara datang dan cinta ini akan segera berakhir untuk hari ini.

Kami lantas berpisah. Menuju peruntungan masing-masing. Setelah ini, ia masih menjadi bidadari yang dikagumi banyak orang dan aku masih menjadi orang yang dipandang  hina oleh orang-orang.

Lantas, beberapa hari kemudian ia kembali mengajakku bertemu di tempat itu. Kami menjalin cinta pertama kami sampai hari ini kami duduk kembali di tepi pantai yang sangat indah ini.

Tapi, kembali aku ingat kejadian yang memilukan. Saat itu aku memberanikan diri untuk bertemu orang tuamu. Ayahnya memandangku seperti melihat hewan yang sudah membusuk di sekujur tubuh.

“Ada kepentingan apa kau ke sini?” tegasnya.

“U.. u.. untuk mencari anak bapak,” jawabku dengan terbata-bata.

Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku. Aku hanya bisa menunduk dan berdiri kaku di hadapan ayahnya.

“Kuperingatkan saja, Nak. Jika kau berani menyentuh dia, tanganmu tidak segan aku potong!”

Dia berkata dengan mata mendelik dan nada yang sangat tinggi.

“Pergilah! Sebelum amarahku ini berada di ambang batas!” lanjutnya.

Aku melangkah pergi, dengan kaki yang gemetar. Aku tersadar, memang tidak pantas untuk orang sepertiku mencintai gadis secantik dirinya.

“Dan satu lagi, jangan pernah kau melangkahkan kaki di rumah ini lagi! Jika saja aku lihat, walau itu hanya tetesan keringat, aku tidak akan segan membunuhmu!” lanjutnya kembali dengan nada yang sangat tinggi.

Kami  akhirnya tidak disetujui oleh orang tuanya karena ia anak satu-satunya di keluarganya dan aku hanya orang yang tidak pantas sama sekali bersanding dengannya.

Setelah itu, ia tidak diizinkan untuk keluar dari rumahnya walau hanya sejengkal. Aku menunggunya selalu di tempat biasa, di tepi pantai sembari menunggu senja datang. Tapi ia tidak juga datang. Selama lebih dari dua setengah bulan aku menunggunya di sini. Aku sangat ingin sekali menemui dirinya dan ingin ia tau, aku adalah orang yang sangat tulus mencintainya, mengagumi hal-hal yang melekat di tubuhnya. Bukan seperti orang lain yang hanya memandang dari kecantikan dirinya.

Aku selalu datang ke tepi pantai ini. Berharap ia juga ada di sini, menemani setiap deburan ombak yang siap membawa keindahan dari dasar laut. Keindahan itu tak pernah datang kali ini. Aku lelah sekali menunggu, menunggu seseorang yang sangat aku cintai. Mungkin ia bosan hanya berdiam diri di kamarnya yang sempit itu, aku tahu ia juga sangat ingin bertemu denganku. Kita sama-sama saling memiliki batasan. Ia yang sangat sempurna untuk hal apapun kecuali cinta.

Ah bukan. Ia hanya salah memilih cinta itu. Setidaknya ia tidak memilihku untuk mencintainya terlalu dalam.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi ingin melamarnya. Jika aku tidak melamarnya lebih  cepat, lelaki mana yang akan dijodohkan dengannya? Aku memberanikan diri untuk datang kembali ke rumahnya, walau aku tahu resiko besar yang akan aku hadapi.

Aku menemui ayahnya, dan langsung membawa banten yang aku berikan langsung ke ayahnya. Tapi, ia mengambil beberapa banten lalu dilempar begitu saja ke hadapanku. Banten yang aku peroleh dari jerih payah usahaku, kesana-kemari meminta tanggal baik untuk bisa melamarnya. Tapi hari itu bukanlah tanggal yang baik.

Ayahnya mengambil sebilah pisau dari dapur, pisau yang aku lihat sangatlah tajam. Sepertinya sudah diasah untuk siap menebasku. Ia memandangku dahulu dengan tajam, seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Aku tak bergeming sama sekali. Aku langsung lari menuju pantai itu, tempat biasa kami bertemu dan menjalin cinta yang hangat bagai senja yang sedang larut tenggelam.

Hari itu juga, aku berdiam diri di tepi pantai. Tempat biasa yang selalu kami habiskan dengan cinta yang sangat pekat. Bahkan pasir pun mungkin tak bisa menyamai cinta kami. Tentu saja hatiku terasa sangat terkoyak. Aku berdiam diri dari sore hingga larut malam. Di mana lagi aku mendapatkan cinta setulus dirinya, tapi orang tuanya tidak bisa membiarkan ia bersanding denganku yang memang mempunyai banyak kekurangan.

Akhirnya, aku berjalan menuju laut yang sangat luas dipandang ketika biasanya kami duduk di tepi pantai ini. Di bawah bulan purnama ini, aku berjanji akan selalu mencintainya. Air laut kala itu begitu deras hingga sampai ke bibir pantai. Pura di timur yang sangat megah ikut tersapu ombak. Dengan berbalut kain kamben, aku masuk ke dalam ombak. Tubuhku semakin lama semakin masuk ke dalam laut, kamben yang menutup sebagian tubuhku juga hanyut entah ke mana.

Sepertinya tubuhku terbalut oleh ombak sekarang, hingga terombang-ambing seperti jukung yang siap untuk pergi menjala ikan. Aku tiba-tiba merasakan dirinya memelukku dengan erat, wajahnya yang sangat cantik tersenyum manis ke hadapanku. Ini seperti perpisahan yang sangat manis. Aku akhirnya menemuinya di ambang kematianku.

Cinta ini tak akan binasa oleh ombak ganas, apalagi hanya karena ayahnya tidak merestui cinta kami. Aku selalu ada di tepi pantai ini, menunggunya dan menikmati ombak, angin dan senja  hangat yang menemani cinta kami. [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perbekel Gede Adi Wistara | Sedang Mengerjakan PR untuk Desa Les

Next Post

Bhadrawada Masa | Bulan Penuh Kemuliaan

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Bhadrawada Masa | Bulan Penuh Kemuliaan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co