24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 27, 2021
in Cerpen
Sinar Bulan di Jalan Tantular | Cerpen Jong Santiasa Putra

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Jalan Tantular, Renon Denpasar malam itu tampak sepi, sesekali pengendara roda dua melintas. Hanya beberapa bagian jalan diterangi lampu merkuri, bagian lainnya gelap, tapi tidak terlalu pekat, masihlah mata manusia menangkap suatu benda dalam samar-samar. Di sanalah Fitri menunggu pelanggan, mengenakan cut-out dress berwarna merah, memamerkan sudut bahunya yang seksi, bagian atas payudaranya terlihat indah menyembul, tas kecil berwarna emas menggelantung dipundak kirinya, jam tangan putih mencolok di pergelangan tangan kanan, wajahnya tirus-make up sederhana, bibirnya tipis menggoda, rambutnya ia gerai sebahu, kakinya ramping bergerak seperlunya dan sesekali menoleh ke kanan ke kiri, barangkali ada pelanggan dari kejauhan. Sementara motor Vario warna merah nangkring dekat pohon, dalam kondisi siaga, berstandar dua.

Tidak hanya Fitri, sejumlah kawan Fitri yang lain menyebar di sepanjang jalan Tantular. Ada yang menunggu di bawah lampu, ada yang duduk di sepeda motor, ada yang santai di gubuk kecil dekat sawah, ada yang berdiri di bawah pohon, ada pula yang bersembunyi di semak-semak. Jika pengendara motor melintas, mereka biasanya memberi kode dengan mengedipkan cahaya senter berulang kali atau memanggil dengan suara “ssssstt..sssst..sssst…sssst’ 

Jika pelanggan datang hanya ada dua pilihannya ke indekos atau di gedung kosong. Kebanyakan pelanggan dewasa memilih indekos sementara pelanggan remaja memilih gedung kosong. Bagi pelanggan dewasa kenyamanan adalah hal penting, sementara bagi usia remaja mereka hanya coba-coba untuk mencari sensasi baru.

“Seratus di kos, kalau lima puluh di gedung tua,” kata Fitri tersenyum kepada De Pales

“Gedung tuanya jauh?” tanya De Pales

“Tidak jauh, jalan kaki sampai, kamu mabuk yah?”

“Hanya beberapa teguk arak saja, agar berani ke sini!”

“Oooo, lalu maunya di mana?”

“Kalau ke kos, ke mana?”

“Dekat, kamu bonceng aku, motorku biar di sini saja, nanti dipinjam sama yang lain!”

Fitri dan De Pales menyusur jalan malam, menuju indekos di daerah pemukiman Renon. Dalam perjalanan mereka bertukar nama serta berbincang renyah lainnya. Dari Fitri, De Pales tahu jika ingin membesarkan payudara cukup mengkonsumsi pil KB teratur dalam kurun waktu tertentu. Dari De Pales, Fitri tahu daerah Renon ini dulunya adalah sawah dan rawa-rawa yang sangat luas, dulu De Pales kecil suka bermain di Renon bahkan jika ke pantai Sanur ia dan teman-temannya bermain di sawah terlebih dahulu.  

“Aku takut mendekati perempuan, Fit,” kata De Pales di atas motor kesayangan, Grand Astrea warisan ayahnya

“Lalu, kenapa kamu berani sama aku, kan aku perempuan?”

“Kalau kamu kan beda, setidaknya dulu kamu seperti aku,” ujar De Pales sambil tertawa.

De Pales terkejut sesampainya di indekos Fitri. Indekos kelas elite, lantai tiga, ada fasilitas kolam berenangnya. Ia seperti terhipnotis ketika menaiki anak tangga menuju kamar Fitri, itu pertama kali dia menaiki tangga yang bagus, kinclong dan berlantai marmer.

Biasanya tangga tempatnya bekerja di Pasar Kumbasari, kumal, kotor, tak terurus. Sementara tangga indekos Fitri bak istana raja-raja,  pun pegangannya di cat berwana emas, beberapa lukisan di dinding berbingkai kayu, ada lukisan petani sedang merawat petakan sawahnya, ada pula lukisan gedung-gedung megah menjulang langit, lukisan matahari tenggelam berwarna jingga  disaksikan oleh seorang perempuan yang duduk di dermaga.

Ketika melintasi semua lukisan itu Fitri melihat wajah De Pales begitu terpesona, seperti orang desa masuk kota, ling lung. Fitri mengatakan semua lukisan tangga itu penuh kepalsuan, mana ada petani zaman sekarang yang berbahagia hidupnya, sawah-sawah was-was diburu untuk bangunan rumah, mana ada pantai yang bisa dikunjungi untuk menikmati matahari tenggelam, pantai sudah milik hotel.

Kamar Fitri di pojok-lantai tiga, De Pales berdiri di depan pintu lalu menengok ke bawah, melihat kolam renang lengkap dengan tatanan kebun yang rapi. Di kolam ada 3 laki-laki dewasa bermain air, satu di antaranya meloncat ke air hingga menimbulkan bunyi kecipak yang riuh, yang lain menimpali dengan tawa dan penuh ejekan. Dari dialeknya mereka orang luar Bali. De Pales  berfikir ketiga lelaki tersebut tidak menghiraukan kehadirannya bersama Fitri, ia baru menyadari mereka tidak ada menyapa, begitu pun sebaliknya. Beda dengan di pasar, setiap orang ia kenal dan saling menyapa jika bertemu, malah pedagang-pedagang seperti keluarganya sendiri. De Pales teringat dengan Niang Tu pedagang nasi campur Be Tutu di dekat jembatan pura Melanting, yang selalu memberinya sarapan atau makan siang gratis. Kadang De Pales membantu Niang Tu menyiapkan bahan makanan atau mencuci piring jika warungnya ramai.

 “Kenapa mereka tidak menyapa kita Fit?” tanya De Pales lugu

“Di sini sangat individu orang-orangnya, pulang kerja, tidur, sampai besok, lalu kerja lagi, tidak ada istilah gosip-gosip ria, makanya aku suka di sini, seperti tidak di Bali,” jawab  Fitri sembari membuka pintu dan melepas sepatu high hillnya di depan pintu. 

Kamar tidur Fitri rapi, kesetnya dari bulu-bulu hitam yang lembut, sejumlah foto diri dan foto keluarga berdiri di atas kulkas. Di pintu kulkas berbagai pernak-pernik dari kaca menempel dengan sejajar dan simetris, Di meja ada beberapa buku cerita pendek berbahasa Inggris berjejer sesuai ejaan judulnya, beberapa pot pohon kaktus di bawah lampu tidur, selebihnya tembok berwana ungu kelabu dan lampu temaram berwarna kuning di beberapa sudut ruang. De Pales jadi ingat sebuah cafe dekat rumahnya, remang-remang dan penuh umpatan jika malam telah larut. Ada pagawai yang ia kenal, Luh Nadi, wanita beranak satu yang ditinggal suaminya karena mengetahui pekerjaan Luh Nadi sebagai wanita penghibur. Padahal niat Luh Nadi untuk membantu perekonomian suaminya sebagai supir taksi yang tengah goyah saat pariwisata sepi tamu.

“Kamarmu rapi sekali, seperti iklan hotel-hotel yang sering aku temukan di majalah bekas di pasar,” ujar De Pales saat melihat-lihat pohon kaktus dengan hati-hati

“Awas itu beracun!”

“Apa? Beracun? Hampir saja!”

“Aku bercanda!”

Malam itu De Pales berbincang hangat bersama Fitri. Itu pertama kali De Pales berbincang dengan seorang perempuan, Bagi Fitri De Pales adalah lelaki kesepian yang sedang membutuhkan teman untuk mengobrol dan baru kali itu dia mendapatkan pelanggan hanya untuk mengobrol, bukan menikmati tubuhnya dengan nafsu menggebu.

De Pales menceritakan kehidupannya di Pasar Kumbasari yang penuh sesak dengan pekerjaan. Di waktu subuh dia menjadi petugas kebersihan di lantai bawah, menyapu sisa-sisa barang jualan yang tidak bagus kualitasnya, sayur mayur yang busuk, plastik-plastik bekas, bungkus tempe, bungkus kacang dan lain sebagainya, kemudian lantai disemprot dengan selang, airnya disedot dari Tukad Badung. Siang hari dia jadi tukang parkir di sisi utara, menjaga keamanan motor dan barang belanjaan para pengunjung. Sore hari ia biasa membantu mengangkat meja untuk pasar malam, satu kali angkat upahnya tak seberapa, maka dari itu ia harus mengangkat sekian kali agar upahnya lumayan. Jika malam ia biasanya jadi petugas pengumpul iuran yang akan diserahkan kepada aparatur pasar.

“Setiap hari aku di pasar, bekerja. Kadang aku juga tidur di pasar, daripada pulang ke rumah!”

“Rumahmu adalah pasar yah De, bisa bisa kamu jadi kepala pasar lo suatu saat nanti,” ujar Fitri sembari beranjak ke kulkas mengambil dua botol biir ukuran besar

“Bagaimana caraku membayarnya, uangku hanya seratus ribu?”

“Tidak usah, lagipula tidak afdol mengobrol tanpa minum!”

Sementara Fitri menceritakan tentang bagaimana ia tumbuh dalam keluarga yang hangat dan berkecukupan, sewaktu kecil ia selalu menjadi bulan-bulanan kakak-kakak perempuannya dari berdandan menor, memakai rok, baju, miniset, bikini, anting-anting, kalung, bando dan lain sebagainya. Namun ia selalu suka melihat senyum kakak-kakaknya ketika tertawa.

“Mungkin karena sering memakai baju perempuan aku ketularan juga, jadi kayak sekarang,” katanya sambil tertawa kecil.

Kemudian ia melanjutkan, cerita di balik beberapa tato yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Tato kupu-kupu merah dipergelangan tangan fitri mengingatkannya pada ibu yang sakit hati ketika Fitri memilih jalan menyimpang dari apa seharusnya. Anak laki-laki semestinya meneruskan tradisi keluarga dan menjadi simbol keagungan.

“Kamu tahu sendiri bagaimana orang Bali mengistimewakan anak laki-laki, ibuku sangat kecewa ketika pilihanku seperti ini. Ibu suka kupu-kupu, beberapa ia awetkan untuk menghiasi tembok rumah!”

Ia melanjutkan cerita tentang tato sebatang rokok yang menyala di lengan kirinya. Rokok itu kecil tidak seperti ukuran batang rokok biasanya. Tato itu mengingatkan tentang ayahnya yang saban hari merokok di beranda rumah, sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Tidak ada pekerjaan yang ia kerjakan, karena memang tidak perlu, keluarga Fitri tidak kekurangan apapun, pembagian tanah dari keluarga puri sudah mencukupi kebutuhan hidup, Kalaupun terpaksa bekerja ayahnya hanya datang ke perusahaan keluarga untuk suatu hal penting yang tidak dapat ditangani oleh pegawai. Semua perusahaan telah diatur dalam sistem modern.  Jadi ayahnya tidak perlu repot-repot.

“Kita tidak perlu bekerja, nikmati hidup saja seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir gung, hidupmu bersama anak istrimu keluarga yang menanggung,” kata Fitri mengucapkan kalimat ayahnya

“Jadi kamu keluarga puri?”

“Tidak usah dibicarakan, lagian aku sudah keluar dari kartu keluarga, mereka mengadopsi anak laki-laki dari pamanku, untuk menggantikanku!”

Tidak terasa satu jam berlalu, mereka hanya bercakap di atas kasur putih tulang, bergambar bunga mawar merah yang kelopaknya gugur – terbang.  

***

“Hari ini purnama yah De ? Pantas bulannya penuh dan bercahaya,” kata Fitri ketika De Pales mengantarnya ke jalan Tantular.

“Minggu depan aku datang, kita mengobrol lagi yah, aku akan bekerja lebih keras, agar dapat uang lebih, dua ratus ribu, dua jam kan?” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Next Post

Makepung, Penguasa dan Semangat Kegembiraan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Melawan Kuasa Kapital Pada Jegog

Makepung, Penguasa dan Semangat Kegembiraan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co