23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kriya Nusa Penida: Produk Seni Berkualitas Tinggi, Magis dan Sakral

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
April 29, 2020
in Opini
Kriya Nusa Penida: Produk Seni Berkualitas Tinggi, Magis dan Sakral

Traditional cloth (Rangrang)-wonderful Nusa Penida. Sumber foto:wonderfulnusapenida.com

Apa yang membuat nama Nusa Penida (NP) menjadi tersohor seperti sekarang? Anda mungkin sepakat mengatakan karena “pesona geografisnya”. Ya, NP memiliki laut, teluk, tebing, dan pantai yang dikemas ke dalam “whisky pariwisata”. “Whisky pariwisata” (baca: pesona geografis) inilah yang mungkin memabukkan wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk meneguk keindahannya. Kemasan faktor geografis ini pula yang membuat pariwisata NP sering merasa jumawa. Jumawa menyebut diri sebagai satu-satunya yang paling berjasa mempopulerkan nama NP.

Padahal, jauh sebelum muncul “whisky pariwisata”, nama NP sudah dikenal lewat seni kriya yaitu produk tenun—baik dalam skala lokal Bali, nasional, bahkan mungkin internasional. Prestasi ini tidak lepas dari realita mutu tenun yang diproduksi oleh masyarakat NP. Tidak hanya berkualitas tinggi, beberapa kain tenun NP juga bernilai magis dan sakral. Contohnya, kain Lumlum dan Rangrang.

Popularitas NP dalam bidang kriya memang tidak bersifat instan. Sejak zaman kerajaan, produk tenun NP diakui oleh Bali daratan. Karena itu, ketika berada di bawah kendali Klungkung, NP dijadikan andalan dalam mengimpor kain tenun. Hal ini pernah disinggung oleh Sidemen ketika menjelaskan alasan NP dijadikan tempat pembuangan. Menurutnya, Klungkung memiliki kepentingan ekonomi terkait misi pembuangan tersebut karena NP terkenal dengan kerajinan tenun.

Artinya, leluhur NP sudah sejak lama memiliki skill menenun. Mungkin bukan hanya ketika zaman kerajaan di Bali. Jangan-jangan jauh sebelum zaman kerajaan Bali, tetua NP sudah memiliki keahlian menenun. Kemudian, mereka mewariskan dari generasi ke generasi. Tentu dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan dugaan tersebut.

Proses penggenerasian yang begitu panjang bisa jadi membuat masyarakat NP memiliki skill tinggi dalam menenun. Kemungkinan skill ini didukung pula oleh bahan mentah dan pewarnaan (kapas dan tanaman pewarna hasil bumi NP) yang mungkin berkualitas.

Karena itu, wajar saja produk-produk tenunnya diakui sejak dahulu hingga ke luar daerah NP. Salah satunya ialah kain Lumlum. Hampir semua masyarakat Bali daratan mengenal kain tersebut. Pasalnya, hingga sekarang kain Lumlum digunakan oleh hampir seluruh masyarakat Bali saat menggelar upacara manusia yadnya (potong gigi). Malah, saya baru tahu dari salah seorang dosen (asal Klungkung) yang mengajar saya ketika kuliah di STKIP Singaraja (Undiksha sekarang). Ia mengatakan bahwa konon (masyarakat Bali) wajib hukumnya menggunakan kain Lumlum ketika mengadakan upacara adat, potong gigi.

“You harus tanya kepada tetua di NP, kenapa saat metatah harus menggunakan kain Lumlum itu!” Begitulah kurang lebih pesan yang dikirimnya lewat messenger kepada saya. Saya mendadak menjadi mahasiswa lagi. Seminggu pasca kejadian itu, saya pulang kampung karena ada momen mlaspas dan mecaru di karang tua. Saya mencoba menanyakan kepada beberapa teman dan tetua yang hadir waktu itu. Jangankan jawaban ilmiah atau sekelumit historis, menduga-duga pun tidak ada yang berani. Mungkin mereka takut salah.

Kemudian, saya mencoba buka-buka google, mencari referensi tentang kain tenun NP. Siapa tahu ada petunjuk yang mengarah pada jawaban pertanyaan itu. Ah, saya hanya mendapatkan informasi terbatas tentang kain tenun cepuk Rangrang NP. Maklum, Rangrang memang nasibnya lebih bagus daripada Lumlum. Promosinya tidak hanya di tingkat lokal Bali, tetapi sudah ke tingkat nasional bahkan internasional.

Awalnya kain ini juga digunakan pada saat upacara adat (potong gigi) atau keagamaan (tarian sakral) saja. Sama seperti kain Lumlum, kain ini juga diyakini dapat melindungi penggunanya, sehingga kain ini dipercaya sebagai kain suci. Rangrang merupakan warisan harta karun ratusan tahun lalu. Seiring perkembangan zaman, kain ini mulai diproduksi bahkan keluar wilayah Bali. Misalnya, Lombok dan Jepara.

Meski demikian, produk kain Rangrang NP tetap memiliki keunikan tersendiri dibandingkan produk-produk daerah lain. Rangrang NP memiliki motif dan warna yang berbeda dengan Rangrang di Bali daratan. Begitu juga dengan Rangrang Jepara. Perbedaannya terletak pada benang yang digunakan (kain Rangrang Jepara lebih tipis). Sementara itu, Rangrang Lombok mendekati sama. Hanya saja, perbedaannya pada penggunaan benang warna emas pada Rangrang Lombok (https://griyatenun.com).

Motif Rangrang awalnya hanya menggunakan 3 warna utama, yaitu merah, hitam, dan putih. Konon ketiga warna ini menggambarkan simbol hidup, mati dan kelahiran pada siklus hidup manusia. Namun, kini penggunaan warna pada motif Cepuk Rangrang sudah sangat dinamis, dengan menggunakan warna-warna lain. Bahkan, tak jarang menggunakan warna-warna cerah menyolok, seperti orange dan ungu. Salah satu ciri kain tenun ini yang tidak berubah dari dulu adalah motifnya sederhana, tidak rumit dan keberadaan garis tegas berbentuk zigzag atau bergelombang.

Kain Rangrang, Nusa Penida. Sumber foto: tempo.co

Tidak hanya pewarnaan, penggunaannya pun mulai meluas tak sebatas pada upacara keagamaan saja, tetapi juga acara-acara sosial lainnya. Kini, kain renggang yang konon bermakna (simbol) transparansi (jujur dan terbuka) ini lebih banyak digunakan sebagai fashion etnik. Bahkan, sekarang motif tenun Rangrang juga digunakan ke dalam berbagai bentuk karya seni dan produk seni turunan lainnya. Di Yogyakarta misalnya, motif tenun Rangrang digunakan sebagai motif untuk batik printing maupun tulis, tas, sepatu, dan produk-produk fashion lainnya.

Meskipun mengalami dinamika, tenun Rangrang tidak bergeser dari fungsi hakikinya. Jika dilihat dari fungsinya, kain cepuk Rangrang dibagi menjadi 6 jenis antara lain: (1) Cepuk Ngawis, hanyadikenakan saat menghadiri upacara pitra yadnya (misalnya, ngaben), (2)Cepuk Tangi Gede, dipakai oleh anak tengah yang seluruh kakak dan adiknya telah meninggal (pada saat upacara ngaben), (3) Cepuk Liking Paku, dipakai oleh laki-laki dalam upacara potong gigi, (4) Cepuk Kecubung, dipakai oleh para perempuan dalam upacara potong gigi, (5) Cepuk Sudamala, biasanya dipakai ketika melakukan ritual pembersihkan diri seperti melukat, dan (6) Cepuk Kurung, digunakan oleh masyarakat dalam hari-hari biasa (https://www.baliya.id).

Karya seni (Tenun), Media Sakral dan Upaya Pelestarian

Lalu, mengapa kriya (kain tenun) NP lebih banyak pemanfaatannya pada aktivitas upacara adat dan ritual keagamaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya terpaksa membuat pertanyaan bandingan. Mungkinkah lebih pantas kita gunakan ketika melakukan aktivitas pertanian? Ayo, Anda pilih yang mana?

Menurut saya, ya, lebih pantas ketika momen ritual adat dan keagamaan. Ketika masyarakat lebih dominan bekerja sebaga petani (agraris), upacara adat dan ritual keagamaan merupakan “panggung sosial” yang istimewa. Biasanya, masyarakat agraris memanfaatkan momen ritual adat dan keagamaan sebagai kesempatan unjuk “mepayas” (tampil cantik/ ganteng). Sebab, sehari-hari waktunya lebih banyak bergulat dengan aktivitas bertani (kotor/ dekil).

Sebagai “panggung sosial”, medan ritual adat/ keagamaan tidak dapat dilepaskan dari kerumunan massa. Kerumunan massa ini mungkin ibarat penonton. Penonton yang akan melihat dan menilai kain tenun (kriya) yang digunakan oleh orang yang punya “karya”.

Jadi, ritual adat/ keagamaan merupakan panggung yang efektif untuk mempromosikan atau memamerkan seni kriya (tenun) zaman dulu. Kalau yang membuat kriya tahu (hadir), tentu mereka bangga. Bangga karena kain garapannya diapresiasi (digunakan).

Sekarang, bayangkan ketika ke ladang menggunakan tenun bagus! Yang melihat siapa? Kalau nggak ayam, ya, babi, sapi dan sebangsanya. Mau? Artinya, kurang cocoklah karena rawan kotor, lecet dan robek, pun tak efektif sebagai ajang memamerkan. Kalau begitu, berarti kita kurang menghargai karya seni-lah.

Selain sebagai ajang promosi dan menghargai karya, wadah ritual adat dan keagamaan juga efektif untuk melestarikan karya seni (kriya). Memasukan seni kriya ke dalam upacara, membuat orang menjadi lebih bertanggung jawab menjaga dan melindungi karya seni tersebut. Karena ikatan sakral, ampuh membuat rasa tanggung jawab orang menjadi sangat kuat. Mereka tidak hanya bertanggung jawab kepada dirinya, tetapi juga kepada orang lain, leluhur dan terutama kepada Tuhan.

Lalu, bagaimana caranya menjaga tanggung jawab itu? Sederhana. Jadikan karya seni (kriya) itu sebagai bagian (pelengkap, keutuhan) upacara sakral. Orang otomatis akan berpikir bahwa karya seni itu tidak boleh punah. Ya, karena bagian dari upakara. Kalau tidak mau upakara kehilangan makna, eteh-eteh (karya seni) itu jangan sampai punah.

Begitulah mungkin cara leluhur kita melestarikan karya seni dulu. Zaman ketika tidak ada regulasi atau semacam hak paten untuk menjamin kelestarian karya seni. Maka, kekuatan sakral inilah yang mungkin dijadikan semacam regulasi pelestarian. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh wilayah Bali.

Karena itulah, sulit memisahkan seni dan agama di Bali. Yudha Bakti dalam tulisannya yang berjudul Filsafat Seni Sakral pernah mengutip pendapat Ida Wayan Oka Granoka (tokoh seni yang berwawasan spiritual), yang berbunyi, ”Agama adalah seni dan seni adalah agama. Seni dan agama identik. Kreativitas kesenian adalah nyolahang úàstra”. Mungkin konsep ini berpijak pada esensi kata seni (sani, sansekerta) yang berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur—yang tidak jauh berbeda dengan hakikat agama.

Dari statemen tersebut, Yudha mengemukakan bahwa seni dan agama di Bali dikatakan manunggal, sulit dipisahkan. Ia berkesimpulan bahwa seni tidak dapat ditiadakan dalam kegiatan keagamaan. Karena setiap penyelenggaraan yadnya pasti ada kesenian dan setiap pertunjukan kesenian pasti mengandung ajaran-ajaran agama. Pentas seni adalah pentas agama. Artinya pentas yang mengandung ajaran satyam (kebenaran), úivam (kesucian), dan sundaram (keindahan) yaitu proses pemahaman ajaran weda. Jadi, benarlah pentas seni adalah nyolahang úàstra dan seni adalah simbol penjabaran ajaran weda melalui konsep pemahaman satyam (kebenaran/tatwa), úivam (kesucian), dan sundaram berarti estetika/keindahan (http://yudhabaktiimade.blogspot.com).

Saking manunggalnya seni dan agama di Bali, sering kita kesulitan membedakan mana unsur agama dan unsur seni. Seolah-olah seni dan agama sudah dianggap satu organ kehidupan. Keduanya mendapatkan penghargaan (apresiasi) yang luar biasa di mata masyarakat Bali.

Saya sangat berharap perspektif ini terus terjaga di kalangan masyarakat Bali, termasuk di NP. Maksudnya, kriya NP (kain tenun) tetap diberikan ruang apresiasi baik oleh masyarakat lokal dan pemerintah setempat. Sehingga, ke depan kriya NP tidak semakin meredup justru di tengah laju pariwisata yang semakin meroket di NP. Karena belakangan ada kecenderungan, pemerintah dan pelaku pariwisata lebih menonjolkan pemasaran ”whisky geografis” NP dan mengabaikan ”whisky kriya” NP. [T]

Tags: Budayakain tradisionalKerajinanNusa Penida
Share590TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Next Post

Laga Tunda Calon Kepala Daerah

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Bali dan Covid-19: Titik Balik Bali Untuk Masa Depan

Laga Tunda Calon Kepala Daerah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co