24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Carma Citrawati by Carma Citrawati
March 16, 2020
in Cerpen
Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Cerpen: Carma Citrawati

Aku bersumpah! Jika aku terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan dan aku diajak ke dukun, aku akan bunuh diri di depan ibu, daripada terkubur seperti ini, Ayah!

Hari kematianku akan segera tiba. Bagaimana mungkin sebuah jamur, hewan, bakteri, atau apalah tadi kata dokter, menghinggapi bibirku dan membuat bibirku berjamur, bengkak dan bernanah. Awalnya hanya sariawan biasa tapi semakin hari semakin membengkak. Rasa gatal semakin meluas dan bintik-bintik kecil mulai bermunculan. Bengkak dan berwarna merah, seperti buah busuk dengan nanahnya berwarna kekuningan. Sakit dan sungguh perih. Aku biarkan beberapa hari, tetapi tak kunjung sembuh dan malah semakin parah.

“Ayu, bibirmu belum sembuh juga? ”

“Belum.”

Aku merasakan nanah itu membanjiri bibirku. Sama seperti kekhawatiran yang membanjiri perasaanku. Kalau seperti ini aku tak bisa berbuat apapun selain membantu bibirku agar makin busuk. Aku selalu mencabiknya, mencakarnya dan membiarkan diriku lumpuh dan agar tak bisa kemanapun. Hanya membusuk.

“Kalau belum sembuh, ayo kita ke…”

“Tidak usah, Bu. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

Aku enggan melanjutkan pembicaraan itu dengan ibuku. Aku tahu arahnya ke mana. Aku memutuskan untuk ke dokter. Dokter menasehatiku dan seakan menghakimiku, aku orang yang kotor. Aku tidak bersih. Dokter tua itu mengatakan semua hal dan istilah yang aku tak mengerti. Kata-katanya menghujam tajam, menyayat hatiku dan membuatku jengkel.

Bibirku seperti bukan milikku. Benda berbintik-bintik kekuningan ini adalah benda asing. Benda asing yang menggantikan bibirku yang dulu, kadang sedingin es dan kadang seperti terbakar. Bibirku dulu adalah bagian wajah yang paling indah. Sebagai perempuan aku merasa sempurna karena memiliki bibir merah muda yang seksi. Tapi kini, semuanya sudah berakhir. Bibirku kini hanya benda pucat yang akan layu dan mulai busuk. Sering kali, aku mencoba menggigit bibirku, membiarkan nanah itu bercampur dengan darah dan membuat luka makin dalam di pinggir-pinggir bibirku. Aku tahu, betapa mengerikan bibirku kini, tapi ada yang lebih mengerikan dari bibirku. Bibir dukun, bibir ibuku, bibir teman-temanku. Iya, bibir tajam mereka semua. bibir mereka yang tak memiliki bibir sepertiku, yang bibirnya katanya bibir normal, bibir yang tak besar dan bernanah. Bibir manusia.

Aku begini karena kesalahanku. Semua orang menyalahkanku. Dokter menyalahkanku karena aku malas gosok gigi dan makan makanan tanpa dicuci. Ibuku menyalahkanku karena aku terlalu banyak mengumbar janji. Benar? Kata siapa? Ttu kata seorang balian, dukun sakti di desa seberang. Aku kena kutukan. Janji itu urusanku dan tak ada hubungannya dengan penyakit ini. Betul memang aku sangat gampang berucap janji, sesumbar menjanjikan sesuatu tapi aku membayarnya. Membayarnya dengan cara mencicil. Sesangi namanya, semacam kaul. Sesangi adalah bentuk kesepakatanku dengan Dewa. Untuk mencapai tujuanku! Aku tak pernah percaya, Tuhan dan dewa marah padaku hanya karena janji yang aku buat. Toh aku juga akan membayar semua janji itu!

Tuhan, jika saya berhasil menjadi PNS saya akan mempersembahkan seekor babi guling di pura.

Ratu Bhatara, jika ayah saya sembuh, saya akan berkeliling ke pura-pura di Bali.

Kalau aku bisa menjadi pacar Wayan Suwitra, aku akan traktir kamu makan sebulan penuh.

Dan masih banyak lagi bibir busuk ini meracau dengan janji-janji yang kini tak pernah aku ingat. Bagiku itu wajar dan itu adalah sebuah kesepakatan.

***

“Cicing! Pergi.”

“Kenapa kau mengumpat ketika melihat Ayu?”

“Kau tidak bisa lihat mulutnya itu? Besar dan bernanah, kalau menular bagaimana?”

“Siapa bilang menular? Itu hanya sariawan biasa, kok.”

“Kau tidak tahu, semua keluarganya tertular. Ibu, ayah, adik, sepupu bahkan neneknya.”

“Kenapa dia tidak diam di rumah saja?”

“Entahlah!”

Aku mendengar mulut-mulut busuk mereka, yang membicarakan kesakitanku. Melecehkan kemalanganku. Dan yang paling aku sesalkan, aku pernah berkaul untuk laki-laki itu. Iya, dia Wayan Suwitra, laki-laki yang aku inginkan. Mulut kotornya benar-benar busuk. Busuk! Aku tak ingin mendengar kebusukan mereka lagi. Kepalaku pusing.

Aku memutuskan untuk pulang saja. Sekolah sudah seperti neraka, tak ada yang menginginkanku. Dan aku mengikuti nasehat mulut busuk mereka. Aku pergi!Kuhempaskan tubuhku di kamar. Mencoba menghirup udara melalui bibirku. Di luar, Langit biru berwarna ini yang aku suka. Teduh dan tenang. Mengobati sedikit rasa sesak di hatiku karena mereka. Aku melihat keluar kamar dan merasa nyeri di sekitar bibirku. Seperti ribuan semut menggerayangi bibirku. Aku menanggalkan masker yang aku kenakan, memonyongkan bibirku di depan kaca, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, dan melihat nanah bercucuran keluar membasahi daguku. Seperti mengeluarkan kencing, aku merasa lega. Nanah itu aku bersihkan, aku isi obat yang sudah semakin menipis.

 Jika aku dikatakan menerima penyakit ini, pastilah tidak. Tidak sama sekali. Kulihat wajahku sendiri, Menyedihkan! Kanya karena bibir busuk ini aku menderita. Dicemooh, dikucilkan dan beberapa kali harus ke dokter dan akhirnya harus ke dukun, Balian Cotek, Balian Sonteng dan balian-balian lain. Aku pun harus segera bunuh diri di depan ibuku.

Para dukun memiliki versi yang berbeda atas penyakitku. Ada yang mengatakan aku harus diruwat dan ada juga yang mengatakan aku disakiti oleh kerabatku. Aku tetap tidak percaya. Aku masih ingat bagaimana perdebatanku dengan ibuku sebelum aku memutuskan untuk pergi ke balian. Ke dukun bagiku adalah sebuah vonis kematian. Tapi sudah tiga kali aku ke dukun, aku tidak berani mewujudkan janjiku dan mulutku semakin hancur bernanah.

“Tu, bagaimana kalau kita ke balian?”

“Untuk apa?”

“Agar kau sembuh, itu bukan sakit biasa. Ini sakit karena leak!Ini ilmu hitam”

“Aku tidak mau. Leak itu tidak pernah ada dan tidak mungkin ada hal-hal omong kosong seperti itu.”

“Dengarkan, Ibu! Wayan Nata, dulu pernah sakit seperti ini, malah lebih parah. Ini disebut upas. Tidak akan bisa sembuh jika hanya mengandalkan dokter. Percaya pada Ibu.”

“Kenapa, kenapa Wayan Nata?”

 “Pamannya iri pada keluarga Wayan Nata, kamu tahu kan keluarganya sangat mampu dalam segala hal. Kaya, pintar dan tampan. Karena iri, pamannya mencari semacam penyakit untuk melukai Wayan Nata.”

Aku tak habis pikir dia ibuku. Seorang pegawai dan terpelajar. Aku pikir dia tak akan pernah percaya hal-hal seperti itu. Cerita omong kosong dan tak masuk akal. Inilah yang aku tak suka dari keluargaku, setiap ada suatu penyakit dan masalah yang tidak bisa dipecahkan, selalu mencari kambing hitam. Yang dikambinghitamkan adalah para leak-leak ini. Aku merasa iba kepada leak karena terus saja difitnah. Siapa yang bisa membuktikan kebenaran bahwa itu semua perbuatan mereka?Siapa yang bisa membuktikan bahwa leak itu pasti selalu jahat?

“Lalu… kalau aku sakit karena leak, kenapa leak-leak itu iri pada kita? Kalau Wayan Nata, iya, dia kaya, pintar, dan terpandang. Tapi kita? Apa Ibu tidak pernah mau belajar dari kesalahan atas meninggalnya Ayah?”

“Kenapa kau bicara merendahkan keluargamu seperti itu dan kenapa dengan almarhum Ayah?” Ibuku menatapku tajam sambil bicara terbata-bata.

“Apa kesalahanku? Leak itu yang membunuhnya. Kita tidak pernah tahu alasan kenapa leak benci pada kita! Jadi, tidak usah bicara apapun, ikut dengan ibu ke balian sekarang!”

Setelah kejadian itu, Ibuku hanya datang sesekali menengokku. Tak ada siapapun. Malam hanya berlalu menjadi malam, pagi datang dan siang tak tampak bagiku. Tak hanya itu, ibuku semakin kasar mencurigai, mengutuk dan tak henti-hentinya mengajakku ke dukun. Aku divonis berkali-kali dan hanya teronggok di ujung kegelapan.

Aku tak ingin menceritakan bagaimana aku di rumah dukun-dukun itu. Mereka mengasapiku dengan dupa, menusuk-nusuk bibirku dan mengatakan hal-hal yang tak ada logikanya. Vonis mati jatuh padaku berkali-kali, tapi aku tak pernah berani untuk memenuhi janjiku. Terlalu menyakitkan. Aku takut mati. Takut terkubur sendiri, takut semua terampas. Dan kini, apa yang harus kulakukan?

Apakah ini benar-benar kutukan? Atau Tuhan menantangku? Jika aku menyerah aku harus bagaimana? Yang menjadi kekhawatiranku kini tidak hanya bibirku, juga janji yang aku buat. Aku terkurung dalam kegelisahan. Kegelisahan untuk membayarnya atau membiarkannya.

Ibu sibuk membuat sesajen. Sesajen yang diminta oleh dukun untuk dipersembahkan di rumah. Ibu bicara dengan nenek, tentang apa yang dikatakan dukun soal penyakitku. Nenek menangis, wajahnya yang keriput dibanjiri air mata. Aku semakin muak. Dukun, dukun, dan dukun. Mereka semua sama. Mereka semua mengatakan omong kosong.

“Ada orang iri ini, Bu. Untung ibu segera ke sini.”

“Siapa orangnya, Jero?”

“Dekat, dekat rumah, masih ada ikatan keluarga. Jika tidak keluarga, tidak akan bisa mendatangkan penyakit seperti ini.”

“Lalu apakah anak saya bisa sembuh?”

“Pasti, pasti sembuh. Saya berikan minyak.”

Bibirku semakin bernanah, aku merabanya. Merasakan setiap lubang-lubang kecil bernanah sudah semakin melebar dan bau busuk semakin liar mengejarku. Aku bahkan sudah tak mampu bicara, setiap aku menggerakkan bibirku, nanah keluar dengan keji.

“Bagaimana siri-ciri orang yang iri, Jero? Agar saya waspada.”

“Perempuan, cerewet, selalu memakai kamben dan ada cacad di tubuhnya.”

Aku masih ingat ibuku mengangguk dengan yakin setelah dukun mengatakan itu. Konflik lain akan dimulai. Ibuku akan mencurigai semua keluargaku. Ini sudah pernah terjadi. Ketika ayahku sakit karena tidak bisa kencing dan kemaluannya membesar. Dokter sudah mengatakan ayahku harus dioperasi tetapi ibuku bersikeras pergi ke dukun. Dan hasilnya apa? Kami pindah dari dukun satu ke dukun lain, semua hal dicoba dan ayahku tidak mendapatkan pengobatan apapun. Di hari kematian Ayah, ibuku tetap meracau bahwa ada kerabatku yang mencelakainya. Sungguh gila!

“Siapa lagi yang iri padanya, selain orang itu! Aku tidak akan pernah memaafkannya.” Ibuku menangis sambil memeluk foto ayahku.

“Bu, jangan seperti ini, ini sudah satu bulan ibu tetap seperti ini. Ayah tidak akan tenang di sana.”

“Kau tidak tahu perasaanku, Nak. Sakit! Aku membantunya dulu, aku menyekolahkannya. Jika tidak karena ayahmu, dia tidak akan pernah jadi siapa-siapa. Dia hanya orang kolot yang akan berujung jadi petani.”

“Jangan bicara seperti itu, kumohon, Bu. Kumohon tenanglah. Kita tidak boleh menuduh orang seperti ini.”

“Aku tidak menuduh. Itu benar. Lihat saja setiap datang ke sini, pasti merendahkan kita. Selalu saja ada yang dia komentari.”

“Kau, adikmu dan seluruh keluarga kita jangan pernah datang ke rumahnya. Menjauh darinya dan jangan minta apapun makanan yang diberikan olehnya. Aku membenci leak-leak itu seumur hidupku.”

Entahlah, aku tak mampu menggambarkan perasaanku mendengar perkataan ibuku. Kini tak ada yang ingin kulakukan, selain membusuk dan menunggu hakim dari dunia kematian yang tak hanya memvonisku tapi juga menjemputku. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share132TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog Pemabuk

Next Post

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Carma Citrawati

Carma Citrawati

Lahir di Desa Getakan, Klungkung, 24 Februari 1990. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Jurusan Sastra Bali lalu melanjutkan S2 Ilmu Linguistik FIB Udayana. Lebih banyak menulis dalam Bahasa Bali yang dimuat di Bali Post dan Pos Bali. Buku yang sudah diterbitkan, “Smara Reka” (2014), “Kutang Sayang Gemel Madui” (2016) dan “Aud Kelor” (2019). Tahun 2017 mendapat Penghargaan Sastera Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co