24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Carma Citrawati by Carma Citrawati
March 16, 2020
in Cerpen
Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Cerpen: Carma Citrawati

Aku bersumpah! Jika aku terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan dan aku diajak ke dukun, aku akan bunuh diri di depan ibu, daripada terkubur seperti ini, Ayah!

Hari kematianku akan segera tiba. Bagaimana mungkin sebuah jamur, hewan, bakteri, atau apalah tadi kata dokter, menghinggapi bibirku dan membuat bibirku berjamur, bengkak dan bernanah. Awalnya hanya sariawan biasa tapi semakin hari semakin membengkak. Rasa gatal semakin meluas dan bintik-bintik kecil mulai bermunculan. Bengkak dan berwarna merah, seperti buah busuk dengan nanahnya berwarna kekuningan. Sakit dan sungguh perih. Aku biarkan beberapa hari, tetapi tak kunjung sembuh dan malah semakin parah.

“Ayu, bibirmu belum sembuh juga? ”

“Belum.”

Aku merasakan nanah itu membanjiri bibirku. Sama seperti kekhawatiran yang membanjiri perasaanku. Kalau seperti ini aku tak bisa berbuat apapun selain membantu bibirku agar makin busuk. Aku selalu mencabiknya, mencakarnya dan membiarkan diriku lumpuh dan agar tak bisa kemanapun. Hanya membusuk.

“Kalau belum sembuh, ayo kita ke…”

“Tidak usah, Bu. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

Aku enggan melanjutkan pembicaraan itu dengan ibuku. Aku tahu arahnya ke mana. Aku memutuskan untuk ke dokter. Dokter menasehatiku dan seakan menghakimiku, aku orang yang kotor. Aku tidak bersih. Dokter tua itu mengatakan semua hal dan istilah yang aku tak mengerti. Kata-katanya menghujam tajam, menyayat hatiku dan membuatku jengkel.

Bibirku seperti bukan milikku. Benda berbintik-bintik kekuningan ini adalah benda asing. Benda asing yang menggantikan bibirku yang dulu, kadang sedingin es dan kadang seperti terbakar. Bibirku dulu adalah bagian wajah yang paling indah. Sebagai perempuan aku merasa sempurna karena memiliki bibir merah muda yang seksi. Tapi kini, semuanya sudah berakhir. Bibirku kini hanya benda pucat yang akan layu dan mulai busuk. Sering kali, aku mencoba menggigit bibirku, membiarkan nanah itu bercampur dengan darah dan membuat luka makin dalam di pinggir-pinggir bibirku. Aku tahu, betapa mengerikan bibirku kini, tapi ada yang lebih mengerikan dari bibirku. Bibir dukun, bibir ibuku, bibir teman-temanku. Iya, bibir tajam mereka semua. bibir mereka yang tak memiliki bibir sepertiku, yang bibirnya katanya bibir normal, bibir yang tak besar dan bernanah. Bibir manusia.

Aku begini karena kesalahanku. Semua orang menyalahkanku. Dokter menyalahkanku karena aku malas gosok gigi dan makan makanan tanpa dicuci. Ibuku menyalahkanku karena aku terlalu banyak mengumbar janji. Benar? Kata siapa? Ttu kata seorang balian, dukun sakti di desa seberang. Aku kena kutukan. Janji itu urusanku dan tak ada hubungannya dengan penyakit ini. Betul memang aku sangat gampang berucap janji, sesumbar menjanjikan sesuatu tapi aku membayarnya. Membayarnya dengan cara mencicil. Sesangi namanya, semacam kaul. Sesangi adalah bentuk kesepakatanku dengan Dewa. Untuk mencapai tujuanku! Aku tak pernah percaya, Tuhan dan dewa marah padaku hanya karena janji yang aku buat. Toh aku juga akan membayar semua janji itu!

Tuhan, jika saya berhasil menjadi PNS saya akan mempersembahkan seekor babi guling di pura.

Ratu Bhatara, jika ayah saya sembuh, saya akan berkeliling ke pura-pura di Bali.

Kalau aku bisa menjadi pacar Wayan Suwitra, aku akan traktir kamu makan sebulan penuh.

Dan masih banyak lagi bibir busuk ini meracau dengan janji-janji yang kini tak pernah aku ingat. Bagiku itu wajar dan itu adalah sebuah kesepakatan.

***

“Cicing! Pergi.”

“Kenapa kau mengumpat ketika melihat Ayu?”

“Kau tidak bisa lihat mulutnya itu? Besar dan bernanah, kalau menular bagaimana?”

“Siapa bilang menular? Itu hanya sariawan biasa, kok.”

“Kau tidak tahu, semua keluarganya tertular. Ibu, ayah, adik, sepupu bahkan neneknya.”

“Kenapa dia tidak diam di rumah saja?”

“Entahlah!”

Aku mendengar mulut-mulut busuk mereka, yang membicarakan kesakitanku. Melecehkan kemalanganku. Dan yang paling aku sesalkan, aku pernah berkaul untuk laki-laki itu. Iya, dia Wayan Suwitra, laki-laki yang aku inginkan. Mulut kotornya benar-benar busuk. Busuk! Aku tak ingin mendengar kebusukan mereka lagi. Kepalaku pusing.

Aku memutuskan untuk pulang saja. Sekolah sudah seperti neraka, tak ada yang menginginkanku. Dan aku mengikuti nasehat mulut busuk mereka. Aku pergi!Kuhempaskan tubuhku di kamar. Mencoba menghirup udara melalui bibirku. Di luar, Langit biru berwarna ini yang aku suka. Teduh dan tenang. Mengobati sedikit rasa sesak di hatiku karena mereka. Aku melihat keluar kamar dan merasa nyeri di sekitar bibirku. Seperti ribuan semut menggerayangi bibirku. Aku menanggalkan masker yang aku kenakan, memonyongkan bibirku di depan kaca, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, dan melihat nanah bercucuran keluar membasahi daguku. Seperti mengeluarkan kencing, aku merasa lega. Nanah itu aku bersihkan, aku isi obat yang sudah semakin menipis.

 Jika aku dikatakan menerima penyakit ini, pastilah tidak. Tidak sama sekali. Kulihat wajahku sendiri, Menyedihkan! Kanya karena bibir busuk ini aku menderita. Dicemooh, dikucilkan dan beberapa kali harus ke dokter dan akhirnya harus ke dukun, Balian Cotek, Balian Sonteng dan balian-balian lain. Aku pun harus segera bunuh diri di depan ibuku.

Para dukun memiliki versi yang berbeda atas penyakitku. Ada yang mengatakan aku harus diruwat dan ada juga yang mengatakan aku disakiti oleh kerabatku. Aku tetap tidak percaya. Aku masih ingat bagaimana perdebatanku dengan ibuku sebelum aku memutuskan untuk pergi ke balian. Ke dukun bagiku adalah sebuah vonis kematian. Tapi sudah tiga kali aku ke dukun, aku tidak berani mewujudkan janjiku dan mulutku semakin hancur bernanah.

“Tu, bagaimana kalau kita ke balian?”

“Untuk apa?”

“Agar kau sembuh, itu bukan sakit biasa. Ini sakit karena leak!Ini ilmu hitam”

“Aku tidak mau. Leak itu tidak pernah ada dan tidak mungkin ada hal-hal omong kosong seperti itu.”

“Dengarkan, Ibu! Wayan Nata, dulu pernah sakit seperti ini, malah lebih parah. Ini disebut upas. Tidak akan bisa sembuh jika hanya mengandalkan dokter. Percaya pada Ibu.”

“Kenapa, kenapa Wayan Nata?”

 “Pamannya iri pada keluarga Wayan Nata, kamu tahu kan keluarganya sangat mampu dalam segala hal. Kaya, pintar dan tampan. Karena iri, pamannya mencari semacam penyakit untuk melukai Wayan Nata.”

Aku tak habis pikir dia ibuku. Seorang pegawai dan terpelajar. Aku pikir dia tak akan pernah percaya hal-hal seperti itu. Cerita omong kosong dan tak masuk akal. Inilah yang aku tak suka dari keluargaku, setiap ada suatu penyakit dan masalah yang tidak bisa dipecahkan, selalu mencari kambing hitam. Yang dikambinghitamkan adalah para leak-leak ini. Aku merasa iba kepada leak karena terus saja difitnah. Siapa yang bisa membuktikan kebenaran bahwa itu semua perbuatan mereka?Siapa yang bisa membuktikan bahwa leak itu pasti selalu jahat?

“Lalu… kalau aku sakit karena leak, kenapa leak-leak itu iri pada kita? Kalau Wayan Nata, iya, dia kaya, pintar, dan terpandang. Tapi kita? Apa Ibu tidak pernah mau belajar dari kesalahan atas meninggalnya Ayah?”

“Kenapa kau bicara merendahkan keluargamu seperti itu dan kenapa dengan almarhum Ayah?” Ibuku menatapku tajam sambil bicara terbata-bata.

“Apa kesalahanku? Leak itu yang membunuhnya. Kita tidak pernah tahu alasan kenapa leak benci pada kita! Jadi, tidak usah bicara apapun, ikut dengan ibu ke balian sekarang!”

Setelah kejadian itu, Ibuku hanya datang sesekali menengokku. Tak ada siapapun. Malam hanya berlalu menjadi malam, pagi datang dan siang tak tampak bagiku. Tak hanya itu, ibuku semakin kasar mencurigai, mengutuk dan tak henti-hentinya mengajakku ke dukun. Aku divonis berkali-kali dan hanya teronggok di ujung kegelapan.

Aku tak ingin menceritakan bagaimana aku di rumah dukun-dukun itu. Mereka mengasapiku dengan dupa, menusuk-nusuk bibirku dan mengatakan hal-hal yang tak ada logikanya. Vonis mati jatuh padaku berkali-kali, tapi aku tak pernah berani untuk memenuhi janjiku. Terlalu menyakitkan. Aku takut mati. Takut terkubur sendiri, takut semua terampas. Dan kini, apa yang harus kulakukan?

Apakah ini benar-benar kutukan? Atau Tuhan menantangku? Jika aku menyerah aku harus bagaimana? Yang menjadi kekhawatiranku kini tidak hanya bibirku, juga janji yang aku buat. Aku terkurung dalam kegelisahan. Kegelisahan untuk membayarnya atau membiarkannya.

Ibu sibuk membuat sesajen. Sesajen yang diminta oleh dukun untuk dipersembahkan di rumah. Ibu bicara dengan nenek, tentang apa yang dikatakan dukun soal penyakitku. Nenek menangis, wajahnya yang keriput dibanjiri air mata. Aku semakin muak. Dukun, dukun, dan dukun. Mereka semua sama. Mereka semua mengatakan omong kosong.

“Ada orang iri ini, Bu. Untung ibu segera ke sini.”

“Siapa orangnya, Jero?”

“Dekat, dekat rumah, masih ada ikatan keluarga. Jika tidak keluarga, tidak akan bisa mendatangkan penyakit seperti ini.”

“Lalu apakah anak saya bisa sembuh?”

“Pasti, pasti sembuh. Saya berikan minyak.”

Bibirku semakin bernanah, aku merabanya. Merasakan setiap lubang-lubang kecil bernanah sudah semakin melebar dan bau busuk semakin liar mengejarku. Aku bahkan sudah tak mampu bicara, setiap aku menggerakkan bibirku, nanah keluar dengan keji.

“Bagaimana siri-ciri orang yang iri, Jero? Agar saya waspada.”

“Perempuan, cerewet, selalu memakai kamben dan ada cacad di tubuhnya.”

Aku masih ingat ibuku mengangguk dengan yakin setelah dukun mengatakan itu. Konflik lain akan dimulai. Ibuku akan mencurigai semua keluargaku. Ini sudah pernah terjadi. Ketika ayahku sakit karena tidak bisa kencing dan kemaluannya membesar. Dokter sudah mengatakan ayahku harus dioperasi tetapi ibuku bersikeras pergi ke dukun. Dan hasilnya apa? Kami pindah dari dukun satu ke dukun lain, semua hal dicoba dan ayahku tidak mendapatkan pengobatan apapun. Di hari kematian Ayah, ibuku tetap meracau bahwa ada kerabatku yang mencelakainya. Sungguh gila!

“Siapa lagi yang iri padanya, selain orang itu! Aku tidak akan pernah memaafkannya.” Ibuku menangis sambil memeluk foto ayahku.

“Bu, jangan seperti ini, ini sudah satu bulan ibu tetap seperti ini. Ayah tidak akan tenang di sana.”

“Kau tidak tahu perasaanku, Nak. Sakit! Aku membantunya dulu, aku menyekolahkannya. Jika tidak karena ayahmu, dia tidak akan pernah jadi siapa-siapa. Dia hanya orang kolot yang akan berujung jadi petani.”

“Jangan bicara seperti itu, kumohon, Bu. Kumohon tenanglah. Kita tidak boleh menuduh orang seperti ini.”

“Aku tidak menuduh. Itu benar. Lihat saja setiap datang ke sini, pasti merendahkan kita. Selalu saja ada yang dia komentari.”

“Kau, adikmu dan seluruh keluarga kita jangan pernah datang ke rumahnya. Menjauh darinya dan jangan minta apapun makanan yang diberikan olehnya. Aku membenci leak-leak itu seumur hidupku.”

Entahlah, aku tak mampu menggambarkan perasaanku mendengar perkataan ibuku. Kini tak ada yang ingin kulakukan, selain membusuk dan menunggu hakim dari dunia kematian yang tak hanya memvonisku tapi juga menjemputku. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share132TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog Pemabuk

Next Post

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Carma Citrawati

Carma Citrawati

Lahir di Desa Getakan, Klungkung, 24 Februari 1990. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Jurusan Sastra Bali lalu melanjutkan S2 Ilmu Linguistik FIB Udayana. Lebih banyak menulis dalam Bahasa Bali yang dimuat di Bali Post dan Pos Bali. Buku yang sudah diterbitkan, “Smara Reka” (2014), “Kutang Sayang Gemel Madui” (2016) dan “Aud Kelor” (2019). Tahun 2017 mendapat Penghargaan Sastera Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co