24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog Pemabuk

Eka Prasetya by Eka Prasetya
March 16, 2020
in Cerpen
Monolog Pemabuk

Cerpen: Eka Prasetya

HARI beranjak malam. Waktunya sudah tiba. Aku segera beranjak ke kulkas di sudut kamar. Membukanya. Kosong. Tidak ada minuman yang tersisa.

Aku tahu. Ini pasti ulah istriku. Arak yang kemarin aku simpan di kulkas, sudah tak berbekas.

“Di mana arak yang kemarin itu Luh?” tanyaku.

“Sudah habis. Dipakai metabuh tadi. Itu minuman bhutakala,” jawab istriku.

Aku memilih tak menjawab. Urusannya bisa panjang dan berakhir pada pertengkaran. Salah-salah, ada piring terbang yang mengenai kepalaku.

Motor segera aku geber menuju warung milik Wawan, rekanku sesama alkoholik. Sebenarnya dia berjualan bakso. Tapi sembunyi-sembunyi, Wawan juga menjual arak. Wawan tahu minuman seperti apa yang aku butuhkan. Seperti apa campurannya. Aku cukup mengacungkan jari, tanda berapa banyak aku memesan.

Malam itu, Wawan memintaku minum di warungnya. Sebenarnya aku tak pernah nyaman minum di keramaian, terlebih dengan orang yang tak terlalu aku kenal. Tapi suasana di rumah sedang tidak kondusif.

Apalagi Wawan melontarkan kalimat yang tak bisa kutolak. “Minumlah di sini. Berapa pun yang kau minta, aku berikan. Gratis,” katanya.

Aku segera duduk di depan Wawan. Ia menyodorkan sebotol arak. Dia juga mengenalkan aku pada teman-temannya. Baru sekali ini aku lihat mereka belanja di sana.

Gelas pertama disodorkan. Ini minuman penyambutan. Tak patut ditolak. Meski porsinya agak berlebihan. Segera aku tenggak hingga tandas.

Otakku yang tadinya mumet, kini jadi rileks. Ternyata nikmat betul minuman ini. Rasa penat dan gelisah di tubuhku langsung menguar. Hilang entah ke mana.

Wawan kembali menyodorkan gelas. Ini putaran kedua. Konon gelas kedua akan memberikan kebahagiaan. Memang seperti itu yang aku rusakan. Bisa menenggak alkohol tiap hari, sudah jadi kebahagiaan. Apalagi bisa mendapat arak gratis.

Putaran ketiga datang. Katanya gelas ketiga akan membuat aku seperti raja. Tapi entahlah, aku tak merasa begitu. Bila pulang, aku akan merasa seperti bidak raja pada permainan catur. Langkahnya serba terbatas. Ah, peduli apa. Toh aku dapat minuman gratis. Bagiku, itu lebih penting.

Gelas keempat aku ambil. Mulutku mulai meracau. Orang-orang mulai terheran-heran. Sebab dari tadi aku hanya terdiam. Tersenyum pun sekenanya.

Aku mulai meracau soal kebiasaanku minum sendirian hingga tertidur di teras rumah. Mengeluh soal omelan istriku tiap kali aku menenggak minuman beralkohol.

“Padahal dari sebelum kawin, dia sudah tahu aku suka mabuk. Tapi sekarang dia sering marah-marah. Tiap aku beli minuman, tidak pernah aku pakai uang dapur,” kataku.

Wawan hanya tertawa mendengar keluhanku. “Kalau tidak sanggup dengar omelan istri, kawin saja lagi,” katanya.

“Mendengar omelan satu istri saja aku tidak kuat. Apalagi dua istri. Bisa mati berdiri aku,” kataku lagi.

Gelas kelima disodorkan padaku. Langsung saja kutenggak hingga tandas. Sejujurnya aku tak ingat apalagi yang kami bicarakan. Aku lebih fokus pada pramuria di warung milik Wawan yang mondar-mandir membawa mangkok bakso. Sesekali aku colek pinggulnya. Pramuria itu membalasku dengan senyuman genit.

“Katanya satu istri saja tidak sanggup. Mau tambah lagi? Pelayanku masih lajang,” goda Wawan.

Ah, lebih baik aku menjauhi masalah. Aku raih segelas minuman lagi. Badanku mulai merasa tidak nyaman. Sepertinya aku mau muntah. Mungkin aku sudah mabuk. Tapi aku belum mau pulang. Lebih baik aku bertahan sebentar lagi.

Kepala mulai kusandarkan di sofa. Rasanya sungguh berat. Tapi meninggalkan Wawan dan teman-temannya yang sedang bersukaria, rasanya sungguh tak pantas. Mungkin aku harus bertahan, barang segelas atau dua gelas lagi.

Segelas arak kembali disodorkan. Aku sebenarnya ragu menenggaknya. Rasanya sudah terlalu banyak. Tapi, aku tak bisa mengecewakan teman-teman satu botol yang baru aku kenal. Aku harus bertahan.

Arak itu segera aku tenggak hingga tandas. Kepalaku makin berputar. Perutku mulai bergejolak. Rasanya ada yang ingin keluar. Aku berlari keluar. Aku tak mau muntah di hadapan sesama peminum. Itu aib yang sangat memalukan.

Aku harus segera pulang ke rumah. Tiba-tiba aku kangen istri. Istriku bisa memijat kepalaku. Pijatannya sangat ampuh menghilangkan pengar. Meski biasanya dia memijat sambil mulutnya terus berbunyi. Marah-marah. Tak masalah, toh aku sudah mabuk. Aku tak akan ingat apa yang dia bicarakan.

Aku segera menggeber motor ke rumah. Tiba-tiba kepalaku terasa ringan. Ringan sekali.

“Istriku, istriku…!” Aku menyebut nama istriku berkali-kali.  Ia harus memberikan pijatan.

Tubuhku makin ringan. Aku menerobos lampu merah di perempatan pertama. Lalu seseorang kudengar berteriak, memaki. Tampaknya aku salah jalur. Di perempatan berikutnya, tak kulihat lagi, apakah lampu pengatur jalan itu merah, hijau atau kuning, kutererobos saja.  

Sedetik kemudian kudengar orang berteriak-teriak. Tubuhku yang terlentang di jalan dikerumuni banyak orang. Kulihat satu per satu.

Istriku, istriku, di mana istriku. Aku perlu pijatan… [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Etika Batuk, Cegah Penyakit Menular

Next Post

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co