24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Carma Citrawati by Carma Citrawati
March 16, 2020
in Cerpen
Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Cerpen: Carma Citrawati

Aku bersumpah! Jika aku terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan dan aku diajak ke dukun, aku akan bunuh diri di depan ibu, daripada terkubur seperti ini, Ayah!

Hari kematianku akan segera tiba. Bagaimana mungkin sebuah jamur, hewan, bakteri, atau apalah tadi kata dokter, menghinggapi bibirku dan membuat bibirku berjamur, bengkak dan bernanah. Awalnya hanya sariawan biasa tapi semakin hari semakin membengkak. Rasa gatal semakin meluas dan bintik-bintik kecil mulai bermunculan. Bengkak dan berwarna merah, seperti buah busuk dengan nanahnya berwarna kekuningan. Sakit dan sungguh perih. Aku biarkan beberapa hari, tetapi tak kunjung sembuh dan malah semakin parah.

“Ayu, bibirmu belum sembuh juga? ”

“Belum.”

Aku merasakan nanah itu membanjiri bibirku. Sama seperti kekhawatiran yang membanjiri perasaanku. Kalau seperti ini aku tak bisa berbuat apapun selain membantu bibirku agar makin busuk. Aku selalu mencabiknya, mencakarnya dan membiarkan diriku lumpuh dan agar tak bisa kemanapun. Hanya membusuk.

“Kalau belum sembuh, ayo kita ke…”

“Tidak usah, Bu. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

Aku enggan melanjutkan pembicaraan itu dengan ibuku. Aku tahu arahnya ke mana. Aku memutuskan untuk ke dokter. Dokter menasehatiku dan seakan menghakimiku, aku orang yang kotor. Aku tidak bersih. Dokter tua itu mengatakan semua hal dan istilah yang aku tak mengerti. Kata-katanya menghujam tajam, menyayat hatiku dan membuatku jengkel.

Bibirku seperti bukan milikku. Benda berbintik-bintik kekuningan ini adalah benda asing. Benda asing yang menggantikan bibirku yang dulu, kadang sedingin es dan kadang seperti terbakar. Bibirku dulu adalah bagian wajah yang paling indah. Sebagai perempuan aku merasa sempurna karena memiliki bibir merah muda yang seksi. Tapi kini, semuanya sudah berakhir. Bibirku kini hanya benda pucat yang akan layu dan mulai busuk. Sering kali, aku mencoba menggigit bibirku, membiarkan nanah itu bercampur dengan darah dan membuat luka makin dalam di pinggir-pinggir bibirku. Aku tahu, betapa mengerikan bibirku kini, tapi ada yang lebih mengerikan dari bibirku. Bibir dukun, bibir ibuku, bibir teman-temanku. Iya, bibir tajam mereka semua. bibir mereka yang tak memiliki bibir sepertiku, yang bibirnya katanya bibir normal, bibir yang tak besar dan bernanah. Bibir manusia.

Aku begini karena kesalahanku. Semua orang menyalahkanku. Dokter menyalahkanku karena aku malas gosok gigi dan makan makanan tanpa dicuci. Ibuku menyalahkanku karena aku terlalu banyak mengumbar janji. Benar? Kata siapa? Ttu kata seorang balian, dukun sakti di desa seberang. Aku kena kutukan. Janji itu urusanku dan tak ada hubungannya dengan penyakit ini. Betul memang aku sangat gampang berucap janji, sesumbar menjanjikan sesuatu tapi aku membayarnya. Membayarnya dengan cara mencicil. Sesangi namanya, semacam kaul. Sesangi adalah bentuk kesepakatanku dengan Dewa. Untuk mencapai tujuanku! Aku tak pernah percaya, Tuhan dan dewa marah padaku hanya karena janji yang aku buat. Toh aku juga akan membayar semua janji itu!

Tuhan, jika saya berhasil menjadi PNS saya akan mempersembahkan seekor babi guling di pura.

Ratu Bhatara, jika ayah saya sembuh, saya akan berkeliling ke pura-pura di Bali.

Kalau aku bisa menjadi pacar Wayan Suwitra, aku akan traktir kamu makan sebulan penuh.

Dan masih banyak lagi bibir busuk ini meracau dengan janji-janji yang kini tak pernah aku ingat. Bagiku itu wajar dan itu adalah sebuah kesepakatan.

***

“Cicing! Pergi.”

“Kenapa kau mengumpat ketika melihat Ayu?”

“Kau tidak bisa lihat mulutnya itu? Besar dan bernanah, kalau menular bagaimana?”

“Siapa bilang menular? Itu hanya sariawan biasa, kok.”

“Kau tidak tahu, semua keluarganya tertular. Ibu, ayah, adik, sepupu bahkan neneknya.”

“Kenapa dia tidak diam di rumah saja?”

“Entahlah!”

Aku mendengar mulut-mulut busuk mereka, yang membicarakan kesakitanku. Melecehkan kemalanganku. Dan yang paling aku sesalkan, aku pernah berkaul untuk laki-laki itu. Iya, dia Wayan Suwitra, laki-laki yang aku inginkan. Mulut kotornya benar-benar busuk. Busuk! Aku tak ingin mendengar kebusukan mereka lagi. Kepalaku pusing.

Aku memutuskan untuk pulang saja. Sekolah sudah seperti neraka, tak ada yang menginginkanku. Dan aku mengikuti nasehat mulut busuk mereka. Aku pergi!Kuhempaskan tubuhku di kamar. Mencoba menghirup udara melalui bibirku. Di luar, Langit biru berwarna ini yang aku suka. Teduh dan tenang. Mengobati sedikit rasa sesak di hatiku karena mereka. Aku melihat keluar kamar dan merasa nyeri di sekitar bibirku. Seperti ribuan semut menggerayangi bibirku. Aku menanggalkan masker yang aku kenakan, memonyongkan bibirku di depan kaca, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, dan melihat nanah bercucuran keluar membasahi daguku. Seperti mengeluarkan kencing, aku merasa lega. Nanah itu aku bersihkan, aku isi obat yang sudah semakin menipis.

 Jika aku dikatakan menerima penyakit ini, pastilah tidak. Tidak sama sekali. Kulihat wajahku sendiri, Menyedihkan! Kanya karena bibir busuk ini aku menderita. Dicemooh, dikucilkan dan beberapa kali harus ke dokter dan akhirnya harus ke dukun, Balian Cotek, Balian Sonteng dan balian-balian lain. Aku pun harus segera bunuh diri di depan ibuku.

Para dukun memiliki versi yang berbeda atas penyakitku. Ada yang mengatakan aku harus diruwat dan ada juga yang mengatakan aku disakiti oleh kerabatku. Aku tetap tidak percaya. Aku masih ingat bagaimana perdebatanku dengan ibuku sebelum aku memutuskan untuk pergi ke balian. Ke dukun bagiku adalah sebuah vonis kematian. Tapi sudah tiga kali aku ke dukun, aku tidak berani mewujudkan janjiku dan mulutku semakin hancur bernanah.

“Tu, bagaimana kalau kita ke balian?”

“Untuk apa?”

“Agar kau sembuh, itu bukan sakit biasa. Ini sakit karena leak!Ini ilmu hitam”

“Aku tidak mau. Leak itu tidak pernah ada dan tidak mungkin ada hal-hal omong kosong seperti itu.”

“Dengarkan, Ibu! Wayan Nata, dulu pernah sakit seperti ini, malah lebih parah. Ini disebut upas. Tidak akan bisa sembuh jika hanya mengandalkan dokter. Percaya pada Ibu.”

“Kenapa, kenapa Wayan Nata?”

 “Pamannya iri pada keluarga Wayan Nata, kamu tahu kan keluarganya sangat mampu dalam segala hal. Kaya, pintar dan tampan. Karena iri, pamannya mencari semacam penyakit untuk melukai Wayan Nata.”

Aku tak habis pikir dia ibuku. Seorang pegawai dan terpelajar. Aku pikir dia tak akan pernah percaya hal-hal seperti itu. Cerita omong kosong dan tak masuk akal. Inilah yang aku tak suka dari keluargaku, setiap ada suatu penyakit dan masalah yang tidak bisa dipecahkan, selalu mencari kambing hitam. Yang dikambinghitamkan adalah para leak-leak ini. Aku merasa iba kepada leak karena terus saja difitnah. Siapa yang bisa membuktikan kebenaran bahwa itu semua perbuatan mereka?Siapa yang bisa membuktikan bahwa leak itu pasti selalu jahat?

“Lalu… kalau aku sakit karena leak, kenapa leak-leak itu iri pada kita? Kalau Wayan Nata, iya, dia kaya, pintar, dan terpandang. Tapi kita? Apa Ibu tidak pernah mau belajar dari kesalahan atas meninggalnya Ayah?”

“Kenapa kau bicara merendahkan keluargamu seperti itu dan kenapa dengan almarhum Ayah?” Ibuku menatapku tajam sambil bicara terbata-bata.

“Apa kesalahanku? Leak itu yang membunuhnya. Kita tidak pernah tahu alasan kenapa leak benci pada kita! Jadi, tidak usah bicara apapun, ikut dengan ibu ke balian sekarang!”

Setelah kejadian itu, Ibuku hanya datang sesekali menengokku. Tak ada siapapun. Malam hanya berlalu menjadi malam, pagi datang dan siang tak tampak bagiku. Tak hanya itu, ibuku semakin kasar mencurigai, mengutuk dan tak henti-hentinya mengajakku ke dukun. Aku divonis berkali-kali dan hanya teronggok di ujung kegelapan.

Aku tak ingin menceritakan bagaimana aku di rumah dukun-dukun itu. Mereka mengasapiku dengan dupa, menusuk-nusuk bibirku dan mengatakan hal-hal yang tak ada logikanya. Vonis mati jatuh padaku berkali-kali, tapi aku tak pernah berani untuk memenuhi janjiku. Terlalu menyakitkan. Aku takut mati. Takut terkubur sendiri, takut semua terampas. Dan kini, apa yang harus kulakukan?

Apakah ini benar-benar kutukan? Atau Tuhan menantangku? Jika aku menyerah aku harus bagaimana? Yang menjadi kekhawatiranku kini tidak hanya bibirku, juga janji yang aku buat. Aku terkurung dalam kegelisahan. Kegelisahan untuk membayarnya atau membiarkannya.

Ibu sibuk membuat sesajen. Sesajen yang diminta oleh dukun untuk dipersembahkan di rumah. Ibu bicara dengan nenek, tentang apa yang dikatakan dukun soal penyakitku. Nenek menangis, wajahnya yang keriput dibanjiri air mata. Aku semakin muak. Dukun, dukun, dan dukun. Mereka semua sama. Mereka semua mengatakan omong kosong.

“Ada orang iri ini, Bu. Untung ibu segera ke sini.”

“Siapa orangnya, Jero?”

“Dekat, dekat rumah, masih ada ikatan keluarga. Jika tidak keluarga, tidak akan bisa mendatangkan penyakit seperti ini.”

“Lalu apakah anak saya bisa sembuh?”

“Pasti, pasti sembuh. Saya berikan minyak.”

Bibirku semakin bernanah, aku merabanya. Merasakan setiap lubang-lubang kecil bernanah sudah semakin melebar dan bau busuk semakin liar mengejarku. Aku bahkan sudah tak mampu bicara, setiap aku menggerakkan bibirku, nanah keluar dengan keji.

“Bagaimana siri-ciri orang yang iri, Jero? Agar saya waspada.”

“Perempuan, cerewet, selalu memakai kamben dan ada cacad di tubuhnya.”

Aku masih ingat ibuku mengangguk dengan yakin setelah dukun mengatakan itu. Konflik lain akan dimulai. Ibuku akan mencurigai semua keluargaku. Ini sudah pernah terjadi. Ketika ayahku sakit karena tidak bisa kencing dan kemaluannya membesar. Dokter sudah mengatakan ayahku harus dioperasi tetapi ibuku bersikeras pergi ke dukun. Dan hasilnya apa? Kami pindah dari dukun satu ke dukun lain, semua hal dicoba dan ayahku tidak mendapatkan pengobatan apapun. Di hari kematian Ayah, ibuku tetap meracau bahwa ada kerabatku yang mencelakainya. Sungguh gila!

“Siapa lagi yang iri padanya, selain orang itu! Aku tidak akan pernah memaafkannya.” Ibuku menangis sambil memeluk foto ayahku.

“Bu, jangan seperti ini, ini sudah satu bulan ibu tetap seperti ini. Ayah tidak akan tenang di sana.”

“Kau tidak tahu perasaanku, Nak. Sakit! Aku membantunya dulu, aku menyekolahkannya. Jika tidak karena ayahmu, dia tidak akan pernah jadi siapa-siapa. Dia hanya orang kolot yang akan berujung jadi petani.”

“Jangan bicara seperti itu, kumohon, Bu. Kumohon tenanglah. Kita tidak boleh menuduh orang seperti ini.”

“Aku tidak menuduh. Itu benar. Lihat saja setiap datang ke sini, pasti merendahkan kita. Selalu saja ada yang dia komentari.”

“Kau, adikmu dan seluruh keluarga kita jangan pernah datang ke rumahnya. Menjauh darinya dan jangan minta apapun makanan yang diberikan olehnya. Aku membenci leak-leak itu seumur hidupku.”

Entahlah, aku tak mampu menggambarkan perasaanku mendengar perkataan ibuku. Kini tak ada yang ingin kulakukan, selain membusuk dan menunggu hakim dari dunia kematian yang tak hanya memvonisku tapi juga menjemputku. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share132TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog Pemabuk

Next Post

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Carma Citrawati

Carma Citrawati

Lahir di Desa Getakan, Klungkung, 24 Februari 1990. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Jurusan Sastra Bali lalu melanjutkan S2 Ilmu Linguistik FIB Udayana. Lebih banyak menulis dalam Bahasa Bali yang dimuat di Bali Post dan Pos Bali. Buku yang sudah diterbitkan, “Smara Reka” (2014), “Kutang Sayang Gemel Madui” (2016) dan “Aud Kelor” (2019). Tahun 2017 mendapat Penghargaan Sastera Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co