23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
February 8, 2020
in Cerpen
Pulang

Lukisan karya Gusti Sura Ardana yang dipemarkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, November 2019. [Foto: Mursal Buyung]

Cerpen: Geg Ary Suharsani []


Aku mencakupkan tangan di ubun-ubun. Kenanga, cempaka dan teratai putih menyembul dari kedua ujung jemariku yang bertemu satu sama lain. Inilah jalan satu-satunya yang bisa aku tempuh, memohon padaMu.

***

Sudah dua bulan ibuku menahan sakit di tubuhnya. Kadang di perut, kadang di dada. Kata ibu, jika perutnya sakit maka yang dia rasakan adalah pelintiran yang luar biasa. Aku membayangkan ketika aku memelintir baju yang usai aku bilas. Mungkin serupa itu.

Jika dadanya sakit, maka yang dirasakan adalah panas yang menampar. Menyengat dada dan menjalar ke tubuh yang lain. Saat panas itu datang, ibu memintaku menempelkan es di dadanya. Es yang dingin itu membuatnya merasa lebih nyaman.

“Ibu lelah.” Wanita yang kini berusia sembilan puluh enam tahun itu memandangku sambil berujar lirih. Suaranya hampir saja tidak bisa aku dengar andai aku tidak melihat gerak bibirnya. Ketika itu ibu terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah lebih dari lima kali ibu bolak-balik rumah sakit dan rumah. Opname kemudian pulang kemudian opname kembali kemudian pulang lagi. Begitulah beberapa kali.

Ibu tak kunjung sembuh. Bisik-bisik mulai terdengar. Aku mendengar semuanya namun aku memilih diam. Mereka bilang, ibuku terlalu banyak ilmu. Saat tubuh ibu makin lemah, ilmu itu tetap kuat tak rela sirna. Kata mereka, ilmu itulah yang membuat ibu masih hidup meski penuh dengan rasa sakit.

“Ibu ingin pulang. Pulang,” rintih ibu, terbaring lemah dan menatapku penuh harap. Dadanya yang tipis bergerak naik turun, tersengal. Sebagai anak satu-satunya, aku tentu sangat menyayangi ibu. Melihat ibu kesakitan seperti ini sungguh menyiksa hati.

Ilmu itu akan hilang jika ada tubuh lain yang siap menerimanya. Begitulah bisik-bisik lain yang kemudian aku dengar. Tapi ilmu apa? Ibu hanya seorang pedagang kopi yang menjajakan kopinya dari kampung ke kampung. Berjalan kaki seharian penuh, kadang hingga berhari-hari. Melewati malam hanya bersinarkan lampu minyak kecil, kadang sekumpulan daun kelapa kering yang dibakar. Meninggalkan rumah, menjauh dari bapak yang menikah lagi dengan wanita kembang desa yang lebih muda dan lebih cantik.

Ibu selalu mengajakku dalam setiap perjalanannya. Aku melihat bagaimana ibu melewati malam yang dingin berangin dan hujan lebat yang membuat badan menggigil. Aku menyaksikan bagaimana ibu melalui malam demi malam, memilih bungkam bersama gurih biji kopi yang dijajakannya.

Hingga kemudian ibu mulai menghasilkan uang yang cukup sehingga mampu membeli kebun kopi. Ibu  berangsur-angsur mengurangi aktivitasnya berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain. Kami kemudian menetap di kebun kopi yang dibeli oleh ibu.

Ibu tidak pernah pulang, sudah tentu aku juga tidak. Bapak tidak pernah mengunjungi kami. Kami makin menjauh, meski  masih satu desa. Namun seolah ada kesepakatan untuk tidak saling mengunjungi antara bapak dan ibu. Mereka berdiam diri dalam kesepakatan yang sunyi. Bapak sibuk dengan istri mudanya, ibu sibuk dengan kebun kopinya. Sedangkan aku, bagiku ada ibu saja sudah lebih dari cukup.

“Aduhhh … aduhhhh ….” Ibu mengaduh, ranjang rumah sakit berderak, saat ibu bergeser sambil mencengkeram perutnya. Keringat dingin bercucuran di antara pelipisnya yang keriput. Aku hanya mampu memegang pundak ibu, sambil sesekali mengusap keringat yang bercucuran itu. Perutnya pasti sakit lagi. Betapa gigiku terasa ngilu, membayangkan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh ibu.

Siapa yang akan diberikan ilmu, akan didatangi melalui mimpi. Seolah tongkat estafet, ilmu itu harus dioper ke tubuh selanjutnya. Jika tidak, dia akan bersemayam dan membiarkan sang pemilik tubuh mengunyah rasa sakit, meski hati telah menyerah pasrah.

“Berdoalah untuk ibumu, Sulastri,” ujar salah seorang uwakku di suatu hari yang dingin, di antara rimbun daun kopi. Uwakku sama berumurnya dengan ibuku. Diam-diam dia menemuiku meski dengan tertatih. Keluar dari rumah yang tidak pernah aku datangi.

“Pulanglah ke rumah. Sembahyang kepada leluhur, mohon jalan terbaik,” desaknya sambil menatapku tajam dengan matanya yang kelabu sebagian berkatarak.

“Kasihan ibumu.” Sebelum berpisah, uwak masih sempat mengucapkan kalimat ini, sambil menggenggam tanganku. Aku menatap uwak dengan mata dipenuhi genangan air. Begitupun uwak. Kami berkaca-kaca atas sesuatu yang kami pahami dalam diam.

Pulang. Sudah lama aku mengubur kata ini. Bertahun-tahun kata pulang mengendap jauh di tumpukan terbawah kenanganku. Bagai ampas kopi, dia ada di dasar gelas dan terbuang tiap kali gelas dicuci. Aku melupakan satu demi satu kenangan. Aku lupa kenanga di pojok halaman, yang selalu menguarkan wangi tiap kali sore menjelang serta bagaimana nyamannya duduk di bangku dekat dapur bersama bapak. Aku lupa gemerisik kerikil di halaman jika kaki melangkah dan bagimana damainya duduk di halaman sanggah, pura keluarga kami.

Jika aku pulang, untuk memohon di hadapan kemulan, tempat pemujaan terhadap leluhur, aku akan kalah. Segala yang telah aku lupakan bertahun-tahun akan muncul kembali. Segala upaya yang ibuku lakukan, tertatih di tengah gelap malam bersama biji-biji kopi itu akan menjadi keping, tak ada gunanya. Ampas kopi itu akan hadir. Oh, sungguh menyakitkan. Belum lagi tatap mata tajam dari seluruh penghuni rumah. Dari istri muda bapak. Apakah aku akan sanggup?

“Sakit … sakit ….” Kembali kudengar erangan lirih ibu. Wajah ibu kini berkerut menahan sakit. Sungguh perjuangan yang seolah tak berujung. Sampai kapankah? Kembali tanya ini menyeruak di benakku.

Jika benar yang membuat ibu bertahan saat ini adalah ilmu yang ada di tubuhnya, betapa jahatnya ilmu itu. Parasit egois itu memaksa tubuh inangnya untuk tetap bertahan hidup. Mungkin semacam balas jasa atas apa yang telah diberikan pada masa lalu. Mereka menanti tubuh selanjutnya yang akan ditunjuk oleh inangnya.

“Sebagai anak satu-satunya, doakanlah ibumu. Memohon pada leluhur. Pulanglah, Sulastri.” Kembali aku teringat ucapan uwakku. Aku bergetar, tanpa sadar tanganku meremas tangan ibu yang sedari tadi sibuk mencengkeram perutnya. Keputusan kini ada di tanganku.

***

 Dini hari yang teramat dini. Uwak membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Begitu pelannya hingga tidak ada bunyi derit sedikitpun. Aku menunggu hingga gerbang terbuka dengan celah yang cukup untuk tubuhku menyelinap masuk. Wajah uwak terlihat samar, karena hanya satu lampu yang menyala di halaman. Suasana di beberapa bagian halaman rumah yang luas ini begitu gelap. Tidak ada yang menyadari kedatanganku, kecuali uwak. Uwak berjanji membukakan pintu ketika aku bilang aku tak tega melihat ibu kesakitan.

“Selepas tengah malam, aku akan pulang, Wak,” ujarku kemarin siang, di perempatan jalan dekat rumahku. Uwak mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Kembali dia menggenggam erat tanganku.

            Bersimpuh di sanggah, dalam gelap yang mengitari. Aku mencakupkan tangan untuk ketiga kalinya.

“Hyang Dewata, Ibu ingin pulang. Terimalah, berilah jalan. Jika ada yang harus ibu lepaskan, biarlah saya yang menerimanya,” bisikku lirih bersama sebutir air mata yang berjaga di pelupuk.

Angin semilir. Wangi cempaka dan kenanga berpadu. Terdengar suara cicak entah dari mana. Samar kulihat senyum ibu melalui kelopak mataku yang terpejam. Betapa dekat jalan pulang.

*****

Denpasar, November 2019

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arnata Pakangraras # Sekali Lagi Perihal Hujan

Next Post

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co