23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
February 8, 2020
in Cerpen
Pulang

Lukisan karya Gusti Sura Ardana yang dipemarkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, November 2019. [Foto: Mursal Buyung]

Cerpen: Geg Ary Suharsani []


Aku mencakupkan tangan di ubun-ubun. Kenanga, cempaka dan teratai putih menyembul dari kedua ujung jemariku yang bertemu satu sama lain. Inilah jalan satu-satunya yang bisa aku tempuh, memohon padaMu.

***

Sudah dua bulan ibuku menahan sakit di tubuhnya. Kadang di perut, kadang di dada. Kata ibu, jika perutnya sakit maka yang dia rasakan adalah pelintiran yang luar biasa. Aku membayangkan ketika aku memelintir baju yang usai aku bilas. Mungkin serupa itu.

Jika dadanya sakit, maka yang dirasakan adalah panas yang menampar. Menyengat dada dan menjalar ke tubuh yang lain. Saat panas itu datang, ibu memintaku menempelkan es di dadanya. Es yang dingin itu membuatnya merasa lebih nyaman.

“Ibu lelah.” Wanita yang kini berusia sembilan puluh enam tahun itu memandangku sambil berujar lirih. Suaranya hampir saja tidak bisa aku dengar andai aku tidak melihat gerak bibirnya. Ketika itu ibu terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah lebih dari lima kali ibu bolak-balik rumah sakit dan rumah. Opname kemudian pulang kemudian opname kembali kemudian pulang lagi. Begitulah beberapa kali.

Ibu tak kunjung sembuh. Bisik-bisik mulai terdengar. Aku mendengar semuanya namun aku memilih diam. Mereka bilang, ibuku terlalu banyak ilmu. Saat tubuh ibu makin lemah, ilmu itu tetap kuat tak rela sirna. Kata mereka, ilmu itulah yang membuat ibu masih hidup meski penuh dengan rasa sakit.

“Ibu ingin pulang. Pulang,” rintih ibu, terbaring lemah dan menatapku penuh harap. Dadanya yang tipis bergerak naik turun, tersengal. Sebagai anak satu-satunya, aku tentu sangat menyayangi ibu. Melihat ibu kesakitan seperti ini sungguh menyiksa hati.

Ilmu itu akan hilang jika ada tubuh lain yang siap menerimanya. Begitulah bisik-bisik lain yang kemudian aku dengar. Tapi ilmu apa? Ibu hanya seorang pedagang kopi yang menjajakan kopinya dari kampung ke kampung. Berjalan kaki seharian penuh, kadang hingga berhari-hari. Melewati malam hanya bersinarkan lampu minyak kecil, kadang sekumpulan daun kelapa kering yang dibakar. Meninggalkan rumah, menjauh dari bapak yang menikah lagi dengan wanita kembang desa yang lebih muda dan lebih cantik.

Ibu selalu mengajakku dalam setiap perjalanannya. Aku melihat bagaimana ibu melewati malam yang dingin berangin dan hujan lebat yang membuat badan menggigil. Aku menyaksikan bagaimana ibu melalui malam demi malam, memilih bungkam bersama gurih biji kopi yang dijajakannya.

Hingga kemudian ibu mulai menghasilkan uang yang cukup sehingga mampu membeli kebun kopi. Ibu  berangsur-angsur mengurangi aktivitasnya berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain. Kami kemudian menetap di kebun kopi yang dibeli oleh ibu.

Ibu tidak pernah pulang, sudah tentu aku juga tidak. Bapak tidak pernah mengunjungi kami. Kami makin menjauh, meski  masih satu desa. Namun seolah ada kesepakatan untuk tidak saling mengunjungi antara bapak dan ibu. Mereka berdiam diri dalam kesepakatan yang sunyi. Bapak sibuk dengan istri mudanya, ibu sibuk dengan kebun kopinya. Sedangkan aku, bagiku ada ibu saja sudah lebih dari cukup.

“Aduhhh … aduhhhh ….” Ibu mengaduh, ranjang rumah sakit berderak, saat ibu bergeser sambil mencengkeram perutnya. Keringat dingin bercucuran di antara pelipisnya yang keriput. Aku hanya mampu memegang pundak ibu, sambil sesekali mengusap keringat yang bercucuran itu. Perutnya pasti sakit lagi. Betapa gigiku terasa ngilu, membayangkan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh ibu.

Siapa yang akan diberikan ilmu, akan didatangi melalui mimpi. Seolah tongkat estafet, ilmu itu harus dioper ke tubuh selanjutnya. Jika tidak, dia akan bersemayam dan membiarkan sang pemilik tubuh mengunyah rasa sakit, meski hati telah menyerah pasrah.

“Berdoalah untuk ibumu, Sulastri,” ujar salah seorang uwakku di suatu hari yang dingin, di antara rimbun daun kopi. Uwakku sama berumurnya dengan ibuku. Diam-diam dia menemuiku meski dengan tertatih. Keluar dari rumah yang tidak pernah aku datangi.

“Pulanglah ke rumah. Sembahyang kepada leluhur, mohon jalan terbaik,” desaknya sambil menatapku tajam dengan matanya yang kelabu sebagian berkatarak.

“Kasihan ibumu.” Sebelum berpisah, uwak masih sempat mengucapkan kalimat ini, sambil menggenggam tanganku. Aku menatap uwak dengan mata dipenuhi genangan air. Begitupun uwak. Kami berkaca-kaca atas sesuatu yang kami pahami dalam diam.

Pulang. Sudah lama aku mengubur kata ini. Bertahun-tahun kata pulang mengendap jauh di tumpukan terbawah kenanganku. Bagai ampas kopi, dia ada di dasar gelas dan terbuang tiap kali gelas dicuci. Aku melupakan satu demi satu kenangan. Aku lupa kenanga di pojok halaman, yang selalu menguarkan wangi tiap kali sore menjelang serta bagaimana nyamannya duduk di bangku dekat dapur bersama bapak. Aku lupa gemerisik kerikil di halaman jika kaki melangkah dan bagimana damainya duduk di halaman sanggah, pura keluarga kami.

Jika aku pulang, untuk memohon di hadapan kemulan, tempat pemujaan terhadap leluhur, aku akan kalah. Segala yang telah aku lupakan bertahun-tahun akan muncul kembali. Segala upaya yang ibuku lakukan, tertatih di tengah gelap malam bersama biji-biji kopi itu akan menjadi keping, tak ada gunanya. Ampas kopi itu akan hadir. Oh, sungguh menyakitkan. Belum lagi tatap mata tajam dari seluruh penghuni rumah. Dari istri muda bapak. Apakah aku akan sanggup?

“Sakit … sakit ….” Kembali kudengar erangan lirih ibu. Wajah ibu kini berkerut menahan sakit. Sungguh perjuangan yang seolah tak berujung. Sampai kapankah? Kembali tanya ini menyeruak di benakku.

Jika benar yang membuat ibu bertahan saat ini adalah ilmu yang ada di tubuhnya, betapa jahatnya ilmu itu. Parasit egois itu memaksa tubuh inangnya untuk tetap bertahan hidup. Mungkin semacam balas jasa atas apa yang telah diberikan pada masa lalu. Mereka menanti tubuh selanjutnya yang akan ditunjuk oleh inangnya.

“Sebagai anak satu-satunya, doakanlah ibumu. Memohon pada leluhur. Pulanglah, Sulastri.” Kembali aku teringat ucapan uwakku. Aku bergetar, tanpa sadar tanganku meremas tangan ibu yang sedari tadi sibuk mencengkeram perutnya. Keputusan kini ada di tanganku.

***

 Dini hari yang teramat dini. Uwak membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Begitu pelannya hingga tidak ada bunyi derit sedikitpun. Aku menunggu hingga gerbang terbuka dengan celah yang cukup untuk tubuhku menyelinap masuk. Wajah uwak terlihat samar, karena hanya satu lampu yang menyala di halaman. Suasana di beberapa bagian halaman rumah yang luas ini begitu gelap. Tidak ada yang menyadari kedatanganku, kecuali uwak. Uwak berjanji membukakan pintu ketika aku bilang aku tak tega melihat ibu kesakitan.

“Selepas tengah malam, aku akan pulang, Wak,” ujarku kemarin siang, di perempatan jalan dekat rumahku. Uwak mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Kembali dia menggenggam erat tanganku.

            Bersimpuh di sanggah, dalam gelap yang mengitari. Aku mencakupkan tangan untuk ketiga kalinya.

“Hyang Dewata, Ibu ingin pulang. Terimalah, berilah jalan. Jika ada yang harus ibu lepaskan, biarlah saya yang menerimanya,” bisikku lirih bersama sebutir air mata yang berjaga di pelupuk.

Angin semilir. Wangi cempaka dan kenanga berpadu. Terdengar suara cicak entah dari mana. Samar kulihat senyum ibu melalui kelopak mataku yang terpejam. Betapa dekat jalan pulang.

*****

Denpasar, November 2019

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arnata Pakangraras # Sekali Lagi Perihal Hujan

Next Post

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co