23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
February 8, 2020
in Cerpen
Pulang

Lukisan karya Gusti Sura Ardana yang dipemarkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, November 2019. [Foto: Mursal Buyung]

Cerpen: Geg Ary Suharsani []


Aku mencakupkan tangan di ubun-ubun. Kenanga, cempaka dan teratai putih menyembul dari kedua ujung jemariku yang bertemu satu sama lain. Inilah jalan satu-satunya yang bisa aku tempuh, memohon padaMu.

***

Sudah dua bulan ibuku menahan sakit di tubuhnya. Kadang di perut, kadang di dada. Kata ibu, jika perutnya sakit maka yang dia rasakan adalah pelintiran yang luar biasa. Aku membayangkan ketika aku memelintir baju yang usai aku bilas. Mungkin serupa itu.

Jika dadanya sakit, maka yang dirasakan adalah panas yang menampar. Menyengat dada dan menjalar ke tubuh yang lain. Saat panas itu datang, ibu memintaku menempelkan es di dadanya. Es yang dingin itu membuatnya merasa lebih nyaman.

“Ibu lelah.” Wanita yang kini berusia sembilan puluh enam tahun itu memandangku sambil berujar lirih. Suaranya hampir saja tidak bisa aku dengar andai aku tidak melihat gerak bibirnya. Ketika itu ibu terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah lebih dari lima kali ibu bolak-balik rumah sakit dan rumah. Opname kemudian pulang kemudian opname kembali kemudian pulang lagi. Begitulah beberapa kali.

Ibu tak kunjung sembuh. Bisik-bisik mulai terdengar. Aku mendengar semuanya namun aku memilih diam. Mereka bilang, ibuku terlalu banyak ilmu. Saat tubuh ibu makin lemah, ilmu itu tetap kuat tak rela sirna. Kata mereka, ilmu itulah yang membuat ibu masih hidup meski penuh dengan rasa sakit.

“Ibu ingin pulang. Pulang,” rintih ibu, terbaring lemah dan menatapku penuh harap. Dadanya yang tipis bergerak naik turun, tersengal. Sebagai anak satu-satunya, aku tentu sangat menyayangi ibu. Melihat ibu kesakitan seperti ini sungguh menyiksa hati.

Ilmu itu akan hilang jika ada tubuh lain yang siap menerimanya. Begitulah bisik-bisik lain yang kemudian aku dengar. Tapi ilmu apa? Ibu hanya seorang pedagang kopi yang menjajakan kopinya dari kampung ke kampung. Berjalan kaki seharian penuh, kadang hingga berhari-hari. Melewati malam hanya bersinarkan lampu minyak kecil, kadang sekumpulan daun kelapa kering yang dibakar. Meninggalkan rumah, menjauh dari bapak yang menikah lagi dengan wanita kembang desa yang lebih muda dan lebih cantik.

Ibu selalu mengajakku dalam setiap perjalanannya. Aku melihat bagaimana ibu melewati malam yang dingin berangin dan hujan lebat yang membuat badan menggigil. Aku menyaksikan bagaimana ibu melalui malam demi malam, memilih bungkam bersama gurih biji kopi yang dijajakannya.

Hingga kemudian ibu mulai menghasilkan uang yang cukup sehingga mampu membeli kebun kopi. Ibu  berangsur-angsur mengurangi aktivitasnya berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain. Kami kemudian menetap di kebun kopi yang dibeli oleh ibu.

Ibu tidak pernah pulang, sudah tentu aku juga tidak. Bapak tidak pernah mengunjungi kami. Kami makin menjauh, meski  masih satu desa. Namun seolah ada kesepakatan untuk tidak saling mengunjungi antara bapak dan ibu. Mereka berdiam diri dalam kesepakatan yang sunyi. Bapak sibuk dengan istri mudanya, ibu sibuk dengan kebun kopinya. Sedangkan aku, bagiku ada ibu saja sudah lebih dari cukup.

“Aduhhh … aduhhhh ….” Ibu mengaduh, ranjang rumah sakit berderak, saat ibu bergeser sambil mencengkeram perutnya. Keringat dingin bercucuran di antara pelipisnya yang keriput. Aku hanya mampu memegang pundak ibu, sambil sesekali mengusap keringat yang bercucuran itu. Perutnya pasti sakit lagi. Betapa gigiku terasa ngilu, membayangkan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh ibu.

Siapa yang akan diberikan ilmu, akan didatangi melalui mimpi. Seolah tongkat estafet, ilmu itu harus dioper ke tubuh selanjutnya. Jika tidak, dia akan bersemayam dan membiarkan sang pemilik tubuh mengunyah rasa sakit, meski hati telah menyerah pasrah.

“Berdoalah untuk ibumu, Sulastri,” ujar salah seorang uwakku di suatu hari yang dingin, di antara rimbun daun kopi. Uwakku sama berumurnya dengan ibuku. Diam-diam dia menemuiku meski dengan tertatih. Keluar dari rumah yang tidak pernah aku datangi.

“Pulanglah ke rumah. Sembahyang kepada leluhur, mohon jalan terbaik,” desaknya sambil menatapku tajam dengan matanya yang kelabu sebagian berkatarak.

“Kasihan ibumu.” Sebelum berpisah, uwak masih sempat mengucapkan kalimat ini, sambil menggenggam tanganku. Aku menatap uwak dengan mata dipenuhi genangan air. Begitupun uwak. Kami berkaca-kaca atas sesuatu yang kami pahami dalam diam.

Pulang. Sudah lama aku mengubur kata ini. Bertahun-tahun kata pulang mengendap jauh di tumpukan terbawah kenanganku. Bagai ampas kopi, dia ada di dasar gelas dan terbuang tiap kali gelas dicuci. Aku melupakan satu demi satu kenangan. Aku lupa kenanga di pojok halaman, yang selalu menguarkan wangi tiap kali sore menjelang serta bagaimana nyamannya duduk di bangku dekat dapur bersama bapak. Aku lupa gemerisik kerikil di halaman jika kaki melangkah dan bagimana damainya duduk di halaman sanggah, pura keluarga kami.

Jika aku pulang, untuk memohon di hadapan kemulan, tempat pemujaan terhadap leluhur, aku akan kalah. Segala yang telah aku lupakan bertahun-tahun akan muncul kembali. Segala upaya yang ibuku lakukan, tertatih di tengah gelap malam bersama biji-biji kopi itu akan menjadi keping, tak ada gunanya. Ampas kopi itu akan hadir. Oh, sungguh menyakitkan. Belum lagi tatap mata tajam dari seluruh penghuni rumah. Dari istri muda bapak. Apakah aku akan sanggup?

“Sakit … sakit ….” Kembali kudengar erangan lirih ibu. Wajah ibu kini berkerut menahan sakit. Sungguh perjuangan yang seolah tak berujung. Sampai kapankah? Kembali tanya ini menyeruak di benakku.

Jika benar yang membuat ibu bertahan saat ini adalah ilmu yang ada di tubuhnya, betapa jahatnya ilmu itu. Parasit egois itu memaksa tubuh inangnya untuk tetap bertahan hidup. Mungkin semacam balas jasa atas apa yang telah diberikan pada masa lalu. Mereka menanti tubuh selanjutnya yang akan ditunjuk oleh inangnya.

“Sebagai anak satu-satunya, doakanlah ibumu. Memohon pada leluhur. Pulanglah, Sulastri.” Kembali aku teringat ucapan uwakku. Aku bergetar, tanpa sadar tanganku meremas tangan ibu yang sedari tadi sibuk mencengkeram perutnya. Keputusan kini ada di tanganku.

***

 Dini hari yang teramat dini. Uwak membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Begitu pelannya hingga tidak ada bunyi derit sedikitpun. Aku menunggu hingga gerbang terbuka dengan celah yang cukup untuk tubuhku menyelinap masuk. Wajah uwak terlihat samar, karena hanya satu lampu yang menyala di halaman. Suasana di beberapa bagian halaman rumah yang luas ini begitu gelap. Tidak ada yang menyadari kedatanganku, kecuali uwak. Uwak berjanji membukakan pintu ketika aku bilang aku tak tega melihat ibu kesakitan.

“Selepas tengah malam, aku akan pulang, Wak,” ujarku kemarin siang, di perempatan jalan dekat rumahku. Uwak mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Kembali dia menggenggam erat tanganku.

            Bersimpuh di sanggah, dalam gelap yang mengitari. Aku mencakupkan tangan untuk ketiga kalinya.

“Hyang Dewata, Ibu ingin pulang. Terimalah, berilah jalan. Jika ada yang harus ibu lepaskan, biarlah saya yang menerimanya,” bisikku lirih bersama sebutir air mata yang berjaga di pelupuk.

Angin semilir. Wangi cempaka dan kenanga berpadu. Terdengar suara cicak entah dari mana. Samar kulihat senyum ibu melalui kelopak mataku yang terpejam. Betapa dekat jalan pulang.

*****

Denpasar, November 2019

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arnata Pakangraras # Sekali Lagi Perihal Hujan

Next Post

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co