22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengkaji Ulang Kendaraan Pribadi di Denpasar

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
February 1, 2020
in Opini
Mengkaji Ulang Kendaraan Pribadi di Denpasar

Gambar: Kemacetan parah di Denpasar. Pertambahan kendaraan pribadi lebih besar daripada perluasan kendaraan dan tempat parkir. [Foto: penulis]

Saat ini di Bali dan banyak tempat di Indonesia, hampir tidak ada kayuhan sepeda dayung di jalan raya. Bus kota sulit diakses. Saat ingin pergi ke berbagai tempat , harus menggunakan kendaraan pribadi. Banyak orang berpikir ini hal yang biasa dan dapat diterima. Dampak kendaraan pribadi adalah besar bagi lingkungan, kesehatan dan sosial sehingga rancangan kota alternative yang mengutamanan pejalan kaki, sepeda dayung dan transportasi masal harus menjadi perhatian bersama

Transportasi termasuk penyumbang terbesar gas rumah kaca. Efek dari kota yang dirancang untuk kendaraan pribadi adalah perluasan kota yang tak beraturan dengan “menelan” ruang hijau dan lahan pertanian. Belum lagi kemacetan, polusi suara dan resiko kecelakaan. Setiap komponen pada kendaran pribadi didapat dengan menambang. Secara sosial, kendaraan pribadi merupakan penanda perbedaan kelas.

Efek polusi pada mobil berupa gas karbon dioksida memerangkap panas di perkotaan. Pembakaran yang tidak sempurna dari mesin mengeluarkan gas monoksida yang berbahaya bagi pernapasan. Suara bising yang ditimbulkan membuat orang rentan naik darah dan mengalami tekanan hingga serangan jantung. Biaya kesehatan lain yang muncul adalah kegemukan karena kurang bergerak. Kegemukan menjadi masalah serius di Indonesia yang terkait dengan sistem transportasi dimana membuat orang enggan berjalan kaki atau bersepeda. Seruan aksi individu untuk membatasi kendaraan pribadi tanpa fasilitas yang layak untuk transportasi umum dan mengutamanan pejalan kaki serta sepeda dayung tidak ada gunanya.

Pada tahun 2018, ratusan ribu orang menjadi korban kecelakaan di jalan raya. Dapat dipikirkan dampaknya bukan hanya pada kondisi fisik korban, tapi juga biaya kesehatan, kesulitan bekerja hingga cacat seumur hidup. Ditambah lagi, saat terjadi kecelakaan, kemacetan parah terjadi seperti pada jalur Denpasar Gilimanuk. Kemacetan panjang membuat waktu tempuh lebih lama tiga jam atau lebih. Distribusi barnag untuk kebutuhan ekonomi menjadi terganggu. Kerusakan jalan yang sering terjadi akibat kendaraan pribadi terlalu berat seperti truk mengharuskan perbaikan jalan yang memboroskan anggaran.

Di Denpasar, jalan Imam Bonjol, Raya Sesetan, jalan Hang Tuah, dan Sunset Road sering terjadi kemacetan parah yang dapat disetarakan dengan Jakarta pada jam jam sibuk. Menurut data bank dunia(1), rakyat Indonesia rugi 56 Trilliun rupiah akibat kemacetan di jalan. Kemacetan berpotensi besar membuat emosi seseorang jadi buruk sehingga memicu kekerasan dalam rumah tangga atau pada orang lain. Kemacetan yang buruk, tekanan di tempat kerja dan keterasingan dirinya dengan hasil kerjanya, dengan sesama manusia maupun lingkungannya menyebabkan rasa sakit yang tak kelihatan.

Perluasan pemukiman yang menggusur ruang hijau di Bali membuat kerawanan pangan tak jauh dari masyarakat. Ada suatu seminar berjudul sawah punah Bali benyah. Di balik alarm ekologi ini, perluasan lahan beraspal dan berbeton menimbulkan daya resap air ke tanah menyusut sehingga sumber air untuk mengairi sawah berkurang. Lahan berbeton dan beraspal ini dibuat untuk menguntungkan perusahaan pengembang rumah dan kendaraan pribadi yang keuntungannya dinikmati segelintir orang dengan memberikan dampak negative pada banyak orang. Sawah yang menjadi sumber karbohidrat, serat dan protein Bali, terkikis oleh supermarket yang asal usul produknya tidak diketahui bagaimana pengolahannya, asal usul bahan mentah untuk membuat makanan tersebut dan siapa yang mengolah.

Bila diamati lebih dalam bahan baku kendaraan pribadi seperti bijih besi, aluminium, timah, tembaga, perak, dan minyak bumi untuk bahan plastik mengharuskan penambangan dilakukan terus menerus demi memenuhi permintaan. Banyak konflik sosial dan kerusakan lingkungan terjadi akibta ini. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan habis suatu saat nanti. Kendaraan mobil hibrida atau mobil listrik tidak menjadi solusi menangani masalah yang timbul akibat kendaraan pribadi justru akan semakin marak perluasan lahan beton, aspal dan penambangan demi bahan baku mobil, aspal, maupun bahan bakar listrik.

Beberapa langkah drastis untuk menghilangkan kemacetan di Denpasar. Pada ruas jalan Kamboja dari Selatan hingga Utara, perlu ditegaskan larangan memarkir kendaraan pribadi di Badan Jalan. Komplek lahan gor Ngurah Rai  dapat dibangun gedung parkir mobil untuk menampung kendaraan. Badan jalan menjadi lebih lancer dilalui. Di jalan Hayam Wuruk Barat dan komplek pasar Kreneng, mobil dan motor yang parkir di badan jalan ditampung di gedung parkir lapangan yang sering dipakai pameran atau konser music dangdut. Jalur pejalan kaki di situ harus steril dari parkir kendaraan dan pedagang kaki lima. Trotoar yang berlubang ditambal. Pembangunan gedung parkir itu perlu dan para pengendara mobil harus parkir di sana.

Untuk jangka menengah, jalur sepeda dibangun mencakup jalan Hayam Wuruk, hingga Jalan Gunung Agung, Jalur ini harus dihubungkan dengan yang ada di jalan Hang Tuah, Raya Puputan , Jalan Kecubung, Jalan Katrangan, Jalan Nusa Indah, dan Jalan Plawa. Jalur pejalan kaki dapat dibangun juga di sana.

Dalam jangka panjang, gerakan akar rumput perlu dilakukan untuk merencanakan kota yang ramah lingkungan dengan ruang hijau berupa sawah, kebun pertanian permakultur, dan taman kota minimal dua per tiga total luas kota terhubung ke tempat pendidikan, kesehatan, pariwisatan, industry,  ruang public dan komunitas untuk dapat berkolaborasi, dan pemukiman dengan transportasi umum.  


Sumber:

  1. https://katadata.co.id/berita/2019/10/03/bank-dunia-indonesia-rugi-rp-56-triliun-per-tahun-akibat-kemacetan

Tags: denpasarkendaraan bermotorlalu lintastransportasi
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Zumba dan Gaya

Next Post

Sesederhana Mencinta – [Ulasan Buku “Nyujuh Langit Duur Bukit”]

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Sesederhana Mencinta – [Ulasan Buku “Nyujuh Langit Duur Bukit”]

Sesederhana Mencinta – [Ulasan Buku “Nyujuh Langit Duur Bukit”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co