24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Galungan, Selamat “Maceki”, Semoga Menang!

Eddy Wedadinata by Eddy Wedadinata
July 21, 2019
in Opini

Istimewa

GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak alasan lain kenapa Galungan ditunggu-tunggu.

Orang bilang “lekad di galungane“. Artinya, orang yang lahir di saat semuanya tersedia baik, makanan yang banyak,jajanan melimpah, dan suasana yang ramai penuh rasa gembira serta bahagia. Orang yang kerap dibilang lekad di galungane adalah orang yang lahir ketika usaha orang tuanya sedang jaya, atau orang tuanya sedang menjadi pejabat tinggi. Pokoknya orang yang lahir di keluarga sedang kaya-kayanya, tan kirang artha-berana.

Begitulah orang melukiskan betapa Galungan itu hari besar, hari berbahagia. Hari untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Dulu, pada zaman babi makan gedebong dan dagdag, menurut cerita pekak dan dadong, Galungan merupakan hari kemerdekaan dari kemelaratan. Satu hari merdeka, di tengah rentetan hari-hari lain yang penuh kemelaratan.

Bagaimana tidak. Dulu, hanya saat Galungan orang “terpaksa” makan daging, “terpaksa” berpakaian baru, “terpaksa” melancong-lancong ke objek wisata (meski objek wisatanya hanya berupa bendungan sungai di desa sebelah).  Mereka hidup mewah dalam sehari, semiskin apa pun kondisi mereka.

Kini orang tak perlu menunggu Galungan untuk makan daging, beli pakaian baru, atau maplesiran ke objek wisata. Kini zaman babi makan konsentrat. Orang bisa makan apa saja, pakai baju apa saja, dan pergi ke mana saja, setiap hari.

Lalu di mana istimewanya Hari Galungan kini, selain tentu saja sembahyang bersama? Maceki atau main kartu ceki. Itulah jawaban bagi penggemar ceki. Karena, kita bisa makan mewah kapan saja dan berwisata kapan saja, tapi maceki tak bisa dilakukan kapan saja. Harus ada moment untuk berkumpul terlebih dahulu, baru bisa bermain ceki. Memang mau main ceki sendirian, atau bersama anak dan istri?

Sebagian orang tua atau muda-mudi zaman sekarang menunggu Galungan demi sebuah kegiatan yang boleh dibilang sudah mentradisi. Yakni maceki. Tiada Galungan tanpa maceki, kata sebagian orang. Apalagi, maceki kini sudah bisa dianggap olahraga. Sudah ada organisasi yang mengayomi, yakni Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Jika sudah sesuai prosedur, jangan takut lagi digrebek polisi.

Maceki, Hiburan Turun-Temurun

Meski maceki (dengan taruhan) melanggar undang-undang nasional, apakah maceki juga dianggap menodai Hari Raya Galungan dan upacara lain di Bali? Tak ada yang bisa menjawabnya dengan baik dan benar serta memuaskan.

Yang jelas, maceki adalah salah satu kegiatan menghibur yang biasa dilakukan orang pada saat  magebagan (begadang di rumah duka), atau pada waktu luang dan berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Jika orang tak kenal dengan hiburan lain, misalnya hiburan main golf, maka maceki bisa dianggap sebagai hiburan paling sederhana dan mudah dilakukan bersama teman-teman dekat.

Ceki atau cekian, di negara lain bisa disebut koa atau pei. Permainan kartu ini kegiatan yang biasa dilakukan suku kuno secara turun temurun. Dulunya bahkan sering dilakukan kaum wanita. Permainan ini berkembang di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Permainan kartu ceki konon bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno, bahkan disebut-sebut sebagai asalmula dari permaninan mahyong.

Di negara lain, permaian ceki mulai dikalahkan permainan lain yang lebih modern. Tapi di Indonesia, terutama di Bali, permainan ini makin populer saja. Permainan ini dilakukan berlima mengelilingi sebuah meja dengan duduk bersila. Masuknya permainan ceki ke Bali diduga dibawa oleh para pedagang Cina.

Ketika dikenalkan di Bali, permainan ini sangat digemari terutama oleh kaum bawah yang tak memiliki cara lain untuk menghibur diri. Selain itu, permainan ceki sangat mudah dilakukan karena orang-orang Bali memang lebih sering berkumpul bersama keluarga, kerabat dan warga lain dalam berbagai kegiatan, terutama kegiatan adat.

Dari yang Kecil hingga Turnamen Besar

Maceki biasa dilakukan dalam skala kecil. Skala rumah tangga. Ini tentu tak perlu lapor ke FORMI, ngabis-ngabisin energi. Kalau ketahuan polisi, maceki skala rumah tangga ini bisa digrebek. Urusannya bisa panjang dan melelahkan.

Maceki skala rumah tangga ini dilakukan di rumah masing-masing. Usai sembahyang, sebelum sejumlah anggota keluarga kembali ke perantauan, paman-keponakan, sepupu misan-mindon, kadang suami-istri, atau pekak-cucu, bergabung membentuk satu grup yang terdiri dari 5 orang. Siapkan kartu cekian atau sampyan, maka permainan dimulai. Di sini tujuannya tak melulu menang, melainkan sebagai ajang silahturahmi antaranggota keluarga.

Ada juga maceki dalam skala lebih besar. Sejumlah warga berkumpul di suatu tempat, lalu membuat sejumlah kelompok. Kadang permainan di satu tempat itu bisa terdiri dari lima kelompok atau lima meja. Jika pemainnya lebih manja, ada sejumlah orang menjadi pelayan, sebagai tukang kocok kartu sekaligus tukang belanja jika pemain kelaparan atau kehausan.

Dulu, permainan skala lebih besar itu biasa dilakukan di balai banjar, balai subak, atau di teras belakang sebuah warung. Kini, ketika perjudian diurus lebih serius karena tergolong tindak pidana (bahkan kadang dianggap setara dengan tindak pidana korupsi), permainan skala lebih besar ini dilakukan secara tersembunyi di tempat-tempat tertentu. Jika ketahuan polisi, ya, tetap saja digelandang ke sel tahanan. Tak peduli Galungan atau hari apa.

Kini, setelah ada FORMI, turnamen meceki sudah menjadi hal yang legal karena tanpa taruhan bisa masuk olahraga rekreasi. Turnamen ini banyak dilakukan saat hari raya, terutama Galungan. Biasanya turnamen ini diselenggarakan oleh muda-mudi untuk menggali dana di Hari Galungan atau Umanis Galungan karena di hari ini semua orang libur dan punya waktu untuk maceki sekaligus bertemu lebih lama dengan teman lama.

Ajang Hiburan dan Menggali Dana

Main ceki dalam turnamen memang paling asyik. Tak perlu cemas dicokok polisi. Karena prosedurnya sudah ada dan sudah dipatuhi oleh panitia. Apalagi sejatinya, permainan ini memang mengasyikan seperti permainan-permainan kartu di dunia lain, seperti kiu, foker, mahyong, dan sejenisnya. Asyik dimainkan sambil ngobrol kanan-kiri, dari topik yang ringan hingga yang berat.

Ada berbagai sistem dalam turnamen ceki. Ada sistem gugur dan sistem nilai.  Dalam turnamen ceki sistem gugur jumlah peserta dibatasi kelipatan 5. Jika jumlah peserta 125, maka terdapat 25 kelompok. Hanya satu peserta dari satu kelompok yang berhak maju ke babak berikutnya.

Setelah satu pemain maju dari satu kelompok, maka akan terdapat 25 pemain yang berhak maju ke babak berikutnya, sementara 100 pemain lainnya gugur. Sebanyak 25 pemain itu dibagi lagi menjadi 5 kelompok. Nah, pemenang dari masing-masing kelompok itulah yang berhak masuk final yang bermain dalam satu meja. Dan setelah itu akan diperoleh satu pemenang saja.

Cara menentukan pemenang dalam satu meja adalah pemain pertama yang berhasil mengumpulkan tiga game (menang) sebanyak tiga kali. Jika, ngandang atau neris, dianggap memiliki dua game atau dua kemenangan.

Turnamen juga bisa dilakukan dengan sistem nilai. Pemenang ditentukan dengan nilai tertinggi yang dikumpulkan seorang peserta. Nilai dihitung dari setiap jenis kemenangan dalam satu game. Jika menang dengan ngandang, nilainya paling tinggi. Menang biasa dan  menang dengan nyaga, nilai lebih rendah. Biasanya sistem ini dibatasi dengan waktu, satu jam, dua jam, tiga jam, atau lebih sesuatu aturan panitia.

Dan jangan heran, banyak desa yang hampir semua laki-laki dewasa, juga beberapa perempuan dewasa, bisa bermain ceki. Maka untuk mencari peserta 200 orang dalam satu desa bisa dengan sangat mudah. Tapi jangan pikir semuanya penjudi alias bebotoh. Sebagian besar hanya melakukannya untuk hiburan belaka. Salah satunya menghibur diri dan banyak yang main hanya dalam turnamen.

Dengan membayar uang pendaftaran Rp 100 ribu, jika beruntung bisa membawa pulang Rp 4 juta atau lebih.  Panitia pun bisa mendapatkan dana. Apabila pesertanya 125 orang maka akan terkumpul dana Rp 12,5 juta. Setelah dipotong konsumsi dan biaya pengadaan Rp 2,5 juta, sisanya Rp 10 juta. Biasanya Rp 10 juta dibagi dua. Rp 5 jt sebagai hadiah dan Rp 5 juta masuk kas penyelenggara.

Turnamen semacam  ini tanpa beban sedikit pun. Semua bersenang-senang. Tujuh bulan sekali, setiap Galungan, mengibur diri dengan Rp 100 tali, tetapi bertemu teman lama dan kerabat tak ternilai harganya. Semua senang, riang gembira. Apalagi menang he he he.

Selamat Galungan. Semoga dharma selalu menang. [T] [editor Adnyana Ole]

Tags: cekijudipermainanupacara
Share275TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Menagih Janji Kepada Langit

Next Post

Pasca-KKN: Hati yang Tertinggal dan Kita pun Menangis Mengenangnya…

Eddy Wedadinata

Eddy Wedadinata

Suka bertualang, naik sepeda, naik motor, dan jalan kaki. Lahir di Tabanan, kini menekuni wiraswasta di wilayah Badung

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Pasca-KKN: Hati yang Tertinggal dan Kita pun Menangis Mengenangnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co