23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Galungan, Selamat “Maceki”, Semoga Menang!

Eddy Wedadinata by Eddy Wedadinata
July 21, 2019
in Opini

Istimewa

GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak alasan lain kenapa Galungan ditunggu-tunggu.

Orang bilang “lekad di galungane“. Artinya, orang yang lahir di saat semuanya tersedia baik, makanan yang banyak,jajanan melimpah, dan suasana yang ramai penuh rasa gembira serta bahagia. Orang yang kerap dibilang lekad di galungane adalah orang yang lahir ketika usaha orang tuanya sedang jaya, atau orang tuanya sedang menjadi pejabat tinggi. Pokoknya orang yang lahir di keluarga sedang kaya-kayanya, tan kirang artha-berana.

Begitulah orang melukiskan betapa Galungan itu hari besar, hari berbahagia. Hari untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Dulu, pada zaman babi makan gedebong dan dagdag, menurut cerita pekak dan dadong, Galungan merupakan hari kemerdekaan dari kemelaratan. Satu hari merdeka, di tengah rentetan hari-hari lain yang penuh kemelaratan.

Bagaimana tidak. Dulu, hanya saat Galungan orang “terpaksa” makan daging, “terpaksa” berpakaian baru, “terpaksa” melancong-lancong ke objek wisata (meski objek wisatanya hanya berupa bendungan sungai di desa sebelah).  Mereka hidup mewah dalam sehari, semiskin apa pun kondisi mereka.

Kini orang tak perlu menunggu Galungan untuk makan daging, beli pakaian baru, atau maplesiran ke objek wisata. Kini zaman babi makan konsentrat. Orang bisa makan apa saja, pakai baju apa saja, dan pergi ke mana saja, setiap hari.

Lalu di mana istimewanya Hari Galungan kini, selain tentu saja sembahyang bersama? Maceki atau main kartu ceki. Itulah jawaban bagi penggemar ceki. Karena, kita bisa makan mewah kapan saja dan berwisata kapan saja, tapi maceki tak bisa dilakukan kapan saja. Harus ada moment untuk berkumpul terlebih dahulu, baru bisa bermain ceki. Memang mau main ceki sendirian, atau bersama anak dan istri?

Sebagian orang tua atau muda-mudi zaman sekarang menunggu Galungan demi sebuah kegiatan yang boleh dibilang sudah mentradisi. Yakni maceki. Tiada Galungan tanpa maceki, kata sebagian orang. Apalagi, maceki kini sudah bisa dianggap olahraga. Sudah ada organisasi yang mengayomi, yakni Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Jika sudah sesuai prosedur, jangan takut lagi digrebek polisi.

Maceki, Hiburan Turun-Temurun

Meski maceki (dengan taruhan) melanggar undang-undang nasional, apakah maceki juga dianggap menodai Hari Raya Galungan dan upacara lain di Bali? Tak ada yang bisa menjawabnya dengan baik dan benar serta memuaskan.

Yang jelas, maceki adalah salah satu kegiatan menghibur yang biasa dilakukan orang pada saat  magebagan (begadang di rumah duka), atau pada waktu luang dan berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Jika orang tak kenal dengan hiburan lain, misalnya hiburan main golf, maka maceki bisa dianggap sebagai hiburan paling sederhana dan mudah dilakukan bersama teman-teman dekat.

Ceki atau cekian, di negara lain bisa disebut koa atau pei. Permainan kartu ini kegiatan yang biasa dilakukan suku kuno secara turun temurun. Dulunya bahkan sering dilakukan kaum wanita. Permainan ini berkembang di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Permainan kartu ceki konon bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno, bahkan disebut-sebut sebagai asalmula dari permaninan mahyong.

Di negara lain, permaian ceki mulai dikalahkan permainan lain yang lebih modern. Tapi di Indonesia, terutama di Bali, permainan ini makin populer saja. Permainan ini dilakukan berlima mengelilingi sebuah meja dengan duduk bersila. Masuknya permainan ceki ke Bali diduga dibawa oleh para pedagang Cina.

Ketika dikenalkan di Bali, permainan ini sangat digemari terutama oleh kaum bawah yang tak memiliki cara lain untuk menghibur diri. Selain itu, permainan ceki sangat mudah dilakukan karena orang-orang Bali memang lebih sering berkumpul bersama keluarga, kerabat dan warga lain dalam berbagai kegiatan, terutama kegiatan adat.

Dari yang Kecil hingga Turnamen Besar

Maceki biasa dilakukan dalam skala kecil. Skala rumah tangga. Ini tentu tak perlu lapor ke FORMI, ngabis-ngabisin energi. Kalau ketahuan polisi, maceki skala rumah tangga ini bisa digrebek. Urusannya bisa panjang dan melelahkan.

Maceki skala rumah tangga ini dilakukan di rumah masing-masing. Usai sembahyang, sebelum sejumlah anggota keluarga kembali ke perantauan, paman-keponakan, sepupu misan-mindon, kadang suami-istri, atau pekak-cucu, bergabung membentuk satu grup yang terdiri dari 5 orang. Siapkan kartu cekian atau sampyan, maka permainan dimulai. Di sini tujuannya tak melulu menang, melainkan sebagai ajang silahturahmi antaranggota keluarga.

Ada juga maceki dalam skala lebih besar. Sejumlah warga berkumpul di suatu tempat, lalu membuat sejumlah kelompok. Kadang permainan di satu tempat itu bisa terdiri dari lima kelompok atau lima meja. Jika pemainnya lebih manja, ada sejumlah orang menjadi pelayan, sebagai tukang kocok kartu sekaligus tukang belanja jika pemain kelaparan atau kehausan.

Dulu, permainan skala lebih besar itu biasa dilakukan di balai banjar, balai subak, atau di teras belakang sebuah warung. Kini, ketika perjudian diurus lebih serius karena tergolong tindak pidana (bahkan kadang dianggap setara dengan tindak pidana korupsi), permainan skala lebih besar ini dilakukan secara tersembunyi di tempat-tempat tertentu. Jika ketahuan polisi, ya, tetap saja digelandang ke sel tahanan. Tak peduli Galungan atau hari apa.

Kini, setelah ada FORMI, turnamen meceki sudah menjadi hal yang legal karena tanpa taruhan bisa masuk olahraga rekreasi. Turnamen ini banyak dilakukan saat hari raya, terutama Galungan. Biasanya turnamen ini diselenggarakan oleh muda-mudi untuk menggali dana di Hari Galungan atau Umanis Galungan karena di hari ini semua orang libur dan punya waktu untuk maceki sekaligus bertemu lebih lama dengan teman lama.

Ajang Hiburan dan Menggali Dana

Main ceki dalam turnamen memang paling asyik. Tak perlu cemas dicokok polisi. Karena prosedurnya sudah ada dan sudah dipatuhi oleh panitia. Apalagi sejatinya, permainan ini memang mengasyikan seperti permainan-permainan kartu di dunia lain, seperti kiu, foker, mahyong, dan sejenisnya. Asyik dimainkan sambil ngobrol kanan-kiri, dari topik yang ringan hingga yang berat.

Ada berbagai sistem dalam turnamen ceki. Ada sistem gugur dan sistem nilai.  Dalam turnamen ceki sistem gugur jumlah peserta dibatasi kelipatan 5. Jika jumlah peserta 125, maka terdapat 25 kelompok. Hanya satu peserta dari satu kelompok yang berhak maju ke babak berikutnya.

Setelah satu pemain maju dari satu kelompok, maka akan terdapat 25 pemain yang berhak maju ke babak berikutnya, sementara 100 pemain lainnya gugur. Sebanyak 25 pemain itu dibagi lagi menjadi 5 kelompok. Nah, pemenang dari masing-masing kelompok itulah yang berhak masuk final yang bermain dalam satu meja. Dan setelah itu akan diperoleh satu pemenang saja.

Cara menentukan pemenang dalam satu meja adalah pemain pertama yang berhasil mengumpulkan tiga game (menang) sebanyak tiga kali. Jika, ngandang atau neris, dianggap memiliki dua game atau dua kemenangan.

Turnamen juga bisa dilakukan dengan sistem nilai. Pemenang ditentukan dengan nilai tertinggi yang dikumpulkan seorang peserta. Nilai dihitung dari setiap jenis kemenangan dalam satu game. Jika menang dengan ngandang, nilainya paling tinggi. Menang biasa dan  menang dengan nyaga, nilai lebih rendah. Biasanya sistem ini dibatasi dengan waktu, satu jam, dua jam, tiga jam, atau lebih sesuatu aturan panitia.

Dan jangan heran, banyak desa yang hampir semua laki-laki dewasa, juga beberapa perempuan dewasa, bisa bermain ceki. Maka untuk mencari peserta 200 orang dalam satu desa bisa dengan sangat mudah. Tapi jangan pikir semuanya penjudi alias bebotoh. Sebagian besar hanya melakukannya untuk hiburan belaka. Salah satunya menghibur diri dan banyak yang main hanya dalam turnamen.

Dengan membayar uang pendaftaran Rp 100 ribu, jika beruntung bisa membawa pulang Rp 4 juta atau lebih.  Panitia pun bisa mendapatkan dana. Apabila pesertanya 125 orang maka akan terkumpul dana Rp 12,5 juta. Setelah dipotong konsumsi dan biaya pengadaan Rp 2,5 juta, sisanya Rp 10 juta. Biasanya Rp 10 juta dibagi dua. Rp 5 jt sebagai hadiah dan Rp 5 juta masuk kas penyelenggara.

Turnamen semacam  ini tanpa beban sedikit pun. Semua bersenang-senang. Tujuh bulan sekali, setiap Galungan, mengibur diri dengan Rp 100 tali, tetapi bertemu teman lama dan kerabat tak ternilai harganya. Semua senang, riang gembira. Apalagi menang he he he.

Selamat Galungan. Semoga dharma selalu menang. [T] [editor Adnyana Ole]

Tags: cekijudipermainanupacara
Share275TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Menagih Janji Kepada Langit

Next Post

Pasca-KKN: Hati yang Tertinggal dan Kita pun Menangis Mengenangnya…

Eddy Wedadinata

Eddy Wedadinata

Suka bertualang, naik sepeda, naik motor, dan jalan kaki. Lahir di Tabanan, kini menekuni wiraswasta di wilayah Badung

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Pasca-KKN: Hati yang Tertinggal dan Kita pun Menangis Mengenangnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co