2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Manik Sukadana by Manik Sukadana
January 25, 2020
in Puisi
Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Salah satu karya dalam pameran seni rupa di Undiksha Singaraja [Foto: Mursal Buyung]


KEDAI EMBARA


Bayangkan setelah tutup mata, warna tiada,

hitam putih, ketikan dan kertas,

merah, bungkus renyah lidah,

biru, tangkup alir air,

kuning, mi instan dan penjaranya,

dan hijau, sayur-sayur kabur.

Jadi tunawarna sesudah buka mata.


Bayangkan setelah buka mata, warna berbeda,

kopi sulit dikenali,

lampu jalan berwujud bayang,

permata tak lebih dari kerikil,

dan bibir milik kekasih kehilangan goda.

Jadi tunarasa sesudah tutup mata.


Bayangkan setelah kedip mata, warna seperti sediakala,

wajah sendiri tak dilupa,

ragu langkah di penyeberangan kota hilang,

awan selalu pantulkan suasana,

panas cabik cahaya,

dan matahari putih terbit di sela pohon cemara.

Jadi tunakarsa sesudah tatap mata.


Bayangkan setelah tatap mata, warna tetap sama,

air dan arak tak jauh beda,

gula rasa laut,

roti gosong coklat,

aspal sepupu dekat tanah basah,

dan semangka semanis darah.

Jadi tunamakna sesudah kedip mata.


Singaraja, 12 Maret 2019


MATRA I


Mencintai seperti membeli nasi.

Bisa makan di tempat atau dibungkus.

Ada sayur atau lauk perkara pemesan.

Harganya tetap sama. 


Dalam porsi itu ada kesegalaan yang dimakan bersamaan.

Selalu kuhabiskan.

Kadang, rasa benci timbul ketika ada sisa karena tidak suka.

Pedagang tidak mau mengganti.

“Itu bukan urusan kami! Kau yang bersalah! Kauminta yang kausisakan”

“Ya, seperti cinta, harus ada yang tersisa!” Sahut seseorang di sebelah.

Setelah selesai makan,

mata pedagang senja.  

kesedihannya juga senilai dengan apa yang tersisa: Cinta.

Sebab selalu ada kasih dalam setiap suap. 


Seperti halnya rasa,

cinta tidak akan membuatku rakus.

hanya saja,

dalam satu hari,

aku tidak puas hanya dengan sebungkus cinta.


Singaraja, 12-13 Juli 2017


MATRA II


Anggaplah kau adalah pohon.

Apakah yang dirasakan Akar, Batang, Ranting, Buah, dan Daun?


Kesalkah Akar?

Ia, tumpu bagi saudara-saudara asing.

Merintih-merintis dalam gelap.

Sementara yang lain berjoget, terlebih Ranting. 

“Adakah di antara kalian melihat rupa Akar?”

Tanya Buah pada suatu reinkarnasi.

“Sepanjang hidup, tak pernah kudengar sapanya. Meski bertetangga”

Bisik Batang.

Yang lain semakin pongah.

Dalam perih, ia menggali permata air.

Tak peduli.


Kesalkah Batang?

Ia hanya berdiri.

Tak bisa ia usap peluh seperti Daun

atau meniru Akar yang rebahan-mendengkur.

Ia juga dilarang bernyanyi.

“Jika kau berbunyi dan berjoget, tidak hanya kau, kita bisa mati!”

Kata Buah selalu mementingkan diri sendiri. 

 “Tegakah kau merusak cinta Akar dan permata air yang bersih ini?”

Lanjut Daun yang masih sibuk menyembah langit.

Masih berdiri. Sunyi.


Kesalkah Ranting?

Ia tak lelah mendekap kerakusan Buah atau ketulusan daun.

Sikap kaku Batang berlagak tua membuat takut.

“Jika Buah dan Daun Hilang, maka habislah kita,” pikirnya

tanpa peduli diri.

Tetap saja. Ia.

Menyuapi Buah.

Meremas jari Daun.

Menyalami batang.


Kesalkah Buah?

Ia rajin menabung. Menyiapkan kehidupan.

Namun semua iri dan tidak percaya.

“Ia punya pesiguh! Ia mencuri segala milikku!” celetuk ranting ringkih.     

Dengan bingung Akar berteriak berkali-kali. Tak satu pun menjawab.

“Di manakah permata airku?”

Batang tetap bisu, meski tahu.

Namun, tiap ocehan itu tetap memaniskan ia.


Kesalkah Daun?

Bangun. Langsung berdoa dengan rapal cepat.

“Yang maha kuasa, terimalah satu setengah miligram asap air kasih

yang diramu dalam pinggan permata. Oh, Langit yang agung.

Berkati kami keselamatan pelaut, keberuntungan pedagang,

Dan kemuliaan petani. Hindarkan dari segala penyakit.

Musnahkan musuh-musuh kami dalam kobaran radiasi.

Taburlah abu pembakaran dalam wujud berkah hadiah kepada daratan dan lautan datar.

Oh, Langit yang murni.”     

Selalu terulang.

Semua tertawa. Mengira gila.

Kekurangan obat atau semacamnya.

Ia mati. Semua termangu.

Lalu, mantra matra itu menggema panjang. Alam rindang.


Jadi, masih kesalkah kau kepadaku?

Ataukah hanya aku?


Singaraja, 13-17 Juli 2017


NANTI, KAU INGIN NAMA ANAK KITA SIAPA? 

: An.


Misalkan kita menikah,

kau ingin nama anak kita siapa?

kataku dengan nakal.


Jangan memilih nama dedaunan,

karena sedikit orang yang akan mengerti.

Jangan juga memakai nama seorang pengembara,

agar rahasia malam kita tetap menjadi rahasia.

Begitu juga dengan nama huruf yunani,

jangan, karena terlalu menyulitkan. 


Tapi lebih baik gunakan nama awan,

karena ia suka memperlihatkan diri dengan apa adanya.

Seperti awan, aku apa adanya,

menunggu nama apa pun yang kau suka. 


Singaraja, 28 April 2012


ZAWSZE II


Tak ada kata pengantar pada anak itu.

Suara adalah kesunyian.

Kata-kata ia jadikan gerak sedang petunjuk menjadi warna.

Ia memahami. Kecuali sunyi.


Seperti telah kukatakan, sunyi baginya adalah kegaduhan

bahkan nyanyian perawan dianggap angin yang tak terjemahkan.

Dirinya adalah setiap seruan.

Bahkan keinginan.


Ia datang,

menanyaiku dengan jiwa.

Mencari seseorang, mungkin ibu atau saudari.

Ia memiliki petunjuk.

Nama dalam warna.

Aku bantu ia dalam pencariannya.

Ia pergi.

Bahkan ketika pulang pun tiada antar.


Singaraja 6/3/2017


KOPISEPI


Kau meminum cinta yang kurus. Tapi tidak sampai kering.

Dengan harap segala yang tertinggal kembali diisi.

Seolah memurnikan.

Ampas kopi menepi, menyendiri. Bersemadi.


Pikiranmu terlalu lurus!

Cinta yang kau bilang murni itu ada bukan dengan menadah.

Tetapi Mengolah.

Ampas beruap. Meruang.

Menjadi bulir.

Jiwa yang basah.

Rancu antara darah atau air mata.


Kau menelan cinta yang pilu. Sampai tersendak.

Dengan bibir yang setipis ujung belimbing itu tidak akan cukup.

Ya. Ampas,

awal segala rasa cinta yang kau sebut murni itu

sedalam tubuhku,

hingga tidak akan habis untuk kau hamburkan

di halamanmu sendirian.


Singaraja, 9 Januari 2017

Tags: Puisi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak

Next Post

Raja Fiktif di Dunia Kedokteran

Manik Sukadana

Manik Sukadana

Bergaul di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Menulis puisi, cerpen dan esai. Kini menjadi desainer di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Raja Fiktif di Dunia Kedokteran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co