14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
January 25, 2020
in Ulasan
Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak

Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak [Foto: Kardian Narayana]

Penikmat seni, mungkin itulah yang paling pas untuk menyebutkan seseorang yang hanya bisa menikmati seni dalam perspektif pemahamannya yang terbatas.

Sore itu, Sabtu 25 Januari 2020, saya berkesempatan menyaksikan pertunjukan teater yang dipentaskan oleh dosen-dosen dan mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar di Taman Dompu Rumah Intaran, di kawasan Bengkala, Buleleng, Bali.  Seperti layaknya seni pementasan teater, seharusnya pagelaran ini dilakukan dengan persiapan yang matang. Misalnya, persiapan sejak awal tentang tata lighting, sound, script dan segala embel-embel yang biasanya melekat dalam seni pertunjukan. Namun, saya tak melihatnya, tapi saya menikmatinya.

Sebagai seorang yang hanya bisa menikmati seni, saya menilai tidak ada usaha lebih yang dilakukan dalam pementasan ini. Semua biasa-biasa saja. Kesan saya sangat biasa dan saya menurunkan ekspektasi saat itu. Dengan begitu, saya bisa menyudahi kekecewaan yang mungkin bisa saja menghampiri, ketika pementasan itu berakhir.

Waktu berlalu, saat itu jam dua sore, Guru Gede Kresna sebagai founder Rumah Intaran menyampaikan bahwa pertunjukan akan dimulai, saya bersama teman-teman bergegas menuju Taman Dompu. Namun sebelum sampai disana, saya menyelinap masuk ke areal Pengalaman Rasa.  Di sana saya melihat ada lembaran kain-kain kuno dan desainnya sangat tidak biasa (warna dan corak), saya mendengar penjelasan, bahwa kain itu semua adalah kain hasil koleksi Cok Ratna yang usianya 3 kali lipat usia saya (100 Tahun). Selain sebagai kolektor kain tenun bebali, Cok Ratna juga merupakan dosen di ISI Denpasar.

Melihat itu, sontak saja ekspektasi saya mulai meningkat, saya menilai tidak mungkin kain yang bernilai historis dan ekonomis tinggi itu dikeluarkan hanya untuk mendukung pertunjukan remeh-temeh, apalagi seniman yang saya lihat adalah sosok-sosok pria paruh baya yang barang tentu, sarat akan pemahaman dan pengalaman dalam dunia seni.

Desain Taman Dompu sangat unik, jembatan kayu melintang, batu-batu kali tersusun rapi, main stage yang diapit oleh dua pohon besar menambah suasana alami, apalagi di belakang panggung utama, ada jejeran pohon-pohon Soekarno yang menjulang tinggi, pohon-pohon itu menjadi saksi, diplomasi-diplomasi gagasan Rumah Intaran terhadap alam dan kemanusiaan, konon katanya oleh sang empunya,

Taman ini didedikasikan untuk mengenang salah satu anjing kesayangan milik keluarga Rumah Intaran yang tewas akibat diracun oleh orang tak dikenal, nama anjing itu adalah Dompu, begitu mulia sekali, bagaimana binatang peliharaan diperlakukan layaknya manusia, sampai namanya diabadikan sebagai tempat pementasan.

Semilir angin, dedaunan dan ranting yang sayup terdengar saling bergesekan, seolah-olah memantik jiwa yang selama lalai akan keheningan. Mata tertuju pada panggung utama, namun tidak ada yang nampak apa pun dari sana. Namun dari kejauhan tiba-tiba ada pria berperawakan lusuh dengan rambut sebahu berdiri di atas jembatan kayu, menyalakan dupa segenggam, sembari memegang keranjang yang dibaluti oleh lembaran kain bermotif tua. Entah apa yang dilakukan oleh bapak itu, hanya bisa menerka-nerka saja. Pria itu adalah I Wayan Sujana Suklu, orang juga memanggilnya Pak Suklu, atau dengan panggilan lebih lengkap Sujana Suklu.


Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak [Foto: Kardian Narayana]

Di panggung utama saya lihat ada pria berkulit putih, membawa gamelan kecil, layaknya anak kecil yang baru belajar nada dasar. Pria itu memukul-mukul lembaran pelawah, tidak jelas apa nadanya, sembari membolak-balik lengannya yang dibaluti lonceng-lonceng kecil, suaranya berpadu, dengan kepolosan laku yang dibawakannya. Pria itu bernama Ketut Sumerjana, seorang musisi yang juga dosen di Institut Seni Indonesia Denpasar.

Itulah kehidupan, ada yang statis dan ada yang dinamis, dua pria dengan lincah dan pongahnya, meloncat-loncat kesana kemari, mengitari panggung, naik melintasi jembatan, turun sembari beratraksi, membisu dan hanya sesekali terdengar celotehan yang membuat saya bingung, sebenarnya apa yang coba mereka ingin sampaikan dari pertunjukan ini.

Pria itu bernama Itu Gusti Ngurah Subagia, seniman tari yang juga aktif mengajar sebagai Dosen di ISI Denpasar, sementara pria yang satu lagi, berbadan cepak, dengan logat yang agak khas, sudah barang tentu saya bisa menebak dari mana asalnya, pria itu bernama Dek Geh, seniman tari yang tergolong masih muda dan sangat totalitas dalam berkarya, pria ini berasal dari Banyuning, Buleleng, Bali.

Lembut,  cantik, ayu, putih langsat, dengan perawakan tinggi, dia bersolek layaknya seorang peragawati yang sedang melintasi panggung catwalk, wanita ini seolah-olah mencoba merayu tatapan penonton untuk menyoroti paras dan lakunya, busana klasik, berbalut kain bersejarah, seolah-olah membawa kami ke dimensi masa lalu, tanpa bersuara, hanya laku yang kami coba duga, apa yang dia sampaikan saat itu, yang pasti saya terpesona. Wanita itu bernama Lady, seorang model yang juga merupakan alumnus dari ISI Denpasar.


Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak [Foto: Kardian Narayana]

Gusti Ngurah Indra, seorang desainer juga turut serta memberikan sentuhan dalam pertunjukan ini, tokoh-tokoh yang terlibat sangat luar biasa, saking begitu luar biasanya, saya tidak mengerti alur yang coba dimainkan, cerita apa yang coba digambarkan. Saya bertanya-tanya dalam diri, sembari mencoba menutupi ketidaktahuan saya, apakah penilaian yang sama juga dialami oleh teman-teman saya yang lainnya.

Saya melihat mereka, para seniman atau para dosen itu, bergerak. Saya melihat mereka seakan menggerakkan panggung di Taman Dompu, memberi jiwa dan nilai.

Pertunjukan itu berakhir, segudang hipotesis tersimpan di kepala, gelisah mencoba mencari tahu, rasa penasaran kembali menyelimuti isi otak. Kegalauan itu terjawab sudah, satu persatu aktor menyampaikan apa yang dialami, mulai dari Sudibia, beliau menyampaikan bahwa ini adalah petunjukan yang ditujukan untuk merespon alam, energi positif yang coba digambarkan dalam setiap gerak para aktor, beliau menyampaikan, seni itu akan semakin baik jika setiap orang memiliki perspektif terhadap apa yang dilihat dan dirasakan.

Sementara Wayan Suklu menyampaikan, bahwa tidak ada alur dalam pertunjukan ini, semua mengalir, respon aktor, penonton dan alam di Rumah Intaran, membuat pertunjukan ini semakin alami, semua memahami apa yang mesti dilakukan, disanalah tantangan yang ada, seni pertunjukan ini tidak memiliki script, setiap aktor adalah sutradara dari setiap peran mereka.

Guru Gede Kresna memandu acara ini, memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyampaikan tanggapannya, ada yang menyampaikan dengan kesimpulan bijak, ada yang menyampaikan dengan teori dan pemahaman.

Sementara saya sendiri punya pendapat singkat, “Seni bergerak, seni bebas, kebebasan dalam dimensi perspektif, tidak ada yang rigid, mengalir, tidak ada yang salah, kebebasan dijamin, karena keterikatan adalah penghianatan terhadap seni itu seni itu sendiri.” [T]

Tags: ISI DenpasarRumah IntaranSeniseni pertunjukanTeater
Share186TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Teater Kalangan – Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Next Post

Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co