2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
January 25, 2020
in Ulasan
Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak

Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak [Foto: Kardian Narayana]

Penikmat seni, mungkin itulah yang paling pas untuk menyebutkan seseorang yang hanya bisa menikmati seni dalam perspektif pemahamannya yang terbatas.

Sore itu, Sabtu 25 Januari 2020, saya berkesempatan menyaksikan pertunjukan teater yang dipentaskan oleh dosen-dosen dan mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar di Taman Dompu Rumah Intaran, di kawasan Bengkala, Buleleng, Bali.  Seperti layaknya seni pementasan teater, seharusnya pagelaran ini dilakukan dengan persiapan yang matang. Misalnya, persiapan sejak awal tentang tata lighting, sound, script dan segala embel-embel yang biasanya melekat dalam seni pertunjukan. Namun, saya tak melihatnya, tapi saya menikmatinya.

Sebagai seorang yang hanya bisa menikmati seni, saya menilai tidak ada usaha lebih yang dilakukan dalam pementasan ini. Semua biasa-biasa saja. Kesan saya sangat biasa dan saya menurunkan ekspektasi saat itu. Dengan begitu, saya bisa menyudahi kekecewaan yang mungkin bisa saja menghampiri, ketika pementasan itu berakhir.

Waktu berlalu, saat itu jam dua sore, Guru Gede Kresna sebagai founder Rumah Intaran menyampaikan bahwa pertunjukan akan dimulai, saya bersama teman-teman bergegas menuju Taman Dompu. Namun sebelum sampai disana, saya menyelinap masuk ke areal Pengalaman Rasa.  Di sana saya melihat ada lembaran kain-kain kuno dan desainnya sangat tidak biasa (warna dan corak), saya mendengar penjelasan, bahwa kain itu semua adalah kain hasil koleksi Cok Ratna yang usianya 3 kali lipat usia saya (100 Tahun). Selain sebagai kolektor kain tenun bebali, Cok Ratna juga merupakan dosen di ISI Denpasar.

Melihat itu, sontak saja ekspektasi saya mulai meningkat, saya menilai tidak mungkin kain yang bernilai historis dan ekonomis tinggi itu dikeluarkan hanya untuk mendukung pertunjukan remeh-temeh, apalagi seniman yang saya lihat adalah sosok-sosok pria paruh baya yang barang tentu, sarat akan pemahaman dan pengalaman dalam dunia seni.

Desain Taman Dompu sangat unik, jembatan kayu melintang, batu-batu kali tersusun rapi, main stage yang diapit oleh dua pohon besar menambah suasana alami, apalagi di belakang panggung utama, ada jejeran pohon-pohon Soekarno yang menjulang tinggi, pohon-pohon itu menjadi saksi, diplomasi-diplomasi gagasan Rumah Intaran terhadap alam dan kemanusiaan, konon katanya oleh sang empunya,

Taman ini didedikasikan untuk mengenang salah satu anjing kesayangan milik keluarga Rumah Intaran yang tewas akibat diracun oleh orang tak dikenal, nama anjing itu adalah Dompu, begitu mulia sekali, bagaimana binatang peliharaan diperlakukan layaknya manusia, sampai namanya diabadikan sebagai tempat pementasan.

Semilir angin, dedaunan dan ranting yang sayup terdengar saling bergesekan, seolah-olah memantik jiwa yang selama lalai akan keheningan. Mata tertuju pada panggung utama, namun tidak ada yang nampak apa pun dari sana. Namun dari kejauhan tiba-tiba ada pria berperawakan lusuh dengan rambut sebahu berdiri di atas jembatan kayu, menyalakan dupa segenggam, sembari memegang keranjang yang dibaluti oleh lembaran kain bermotif tua. Entah apa yang dilakukan oleh bapak itu, hanya bisa menerka-nerka saja. Pria itu adalah I Wayan Sujana Suklu, orang juga memanggilnya Pak Suklu, atau dengan panggilan lebih lengkap Sujana Suklu.


Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak [Foto: Kardian Narayana]

Di panggung utama saya lihat ada pria berkulit putih, membawa gamelan kecil, layaknya anak kecil yang baru belajar nada dasar. Pria itu memukul-mukul lembaran pelawah, tidak jelas apa nadanya, sembari membolak-balik lengannya yang dibaluti lonceng-lonceng kecil, suaranya berpadu, dengan kepolosan laku yang dibawakannya. Pria itu bernama Ketut Sumerjana, seorang musisi yang juga dosen di Institut Seni Indonesia Denpasar.

Itulah kehidupan, ada yang statis dan ada yang dinamis, dua pria dengan lincah dan pongahnya, meloncat-loncat kesana kemari, mengitari panggung, naik melintasi jembatan, turun sembari beratraksi, membisu dan hanya sesekali terdengar celotehan yang membuat saya bingung, sebenarnya apa yang coba mereka ingin sampaikan dari pertunjukan ini.

Pria itu bernama Itu Gusti Ngurah Subagia, seniman tari yang juga aktif mengajar sebagai Dosen di ISI Denpasar, sementara pria yang satu lagi, berbadan cepak, dengan logat yang agak khas, sudah barang tentu saya bisa menebak dari mana asalnya, pria itu bernama Dek Geh, seniman tari yang tergolong masih muda dan sangat totalitas dalam berkarya, pria ini berasal dari Banyuning, Buleleng, Bali.

Lembut,  cantik, ayu, putih langsat, dengan perawakan tinggi, dia bersolek layaknya seorang peragawati yang sedang melintasi panggung catwalk, wanita ini seolah-olah mencoba merayu tatapan penonton untuk menyoroti paras dan lakunya, busana klasik, berbalut kain bersejarah, seolah-olah membawa kami ke dimensi masa lalu, tanpa bersuara, hanya laku yang kami coba duga, apa yang dia sampaikan saat itu, yang pasti saya terpesona. Wanita itu bernama Lady, seorang model yang juga merupakan alumnus dari ISI Denpasar.


Dosen ISI Denpasar Menggerakkan Taman Dompu di Rumah Intaran, Bebas dan Bijak [Foto: Kardian Narayana]

Gusti Ngurah Indra, seorang desainer juga turut serta memberikan sentuhan dalam pertunjukan ini, tokoh-tokoh yang terlibat sangat luar biasa, saking begitu luar biasanya, saya tidak mengerti alur yang coba dimainkan, cerita apa yang coba digambarkan. Saya bertanya-tanya dalam diri, sembari mencoba menutupi ketidaktahuan saya, apakah penilaian yang sama juga dialami oleh teman-teman saya yang lainnya.

Saya melihat mereka, para seniman atau para dosen itu, bergerak. Saya melihat mereka seakan menggerakkan panggung di Taman Dompu, memberi jiwa dan nilai.

Pertunjukan itu berakhir, segudang hipotesis tersimpan di kepala, gelisah mencoba mencari tahu, rasa penasaran kembali menyelimuti isi otak. Kegalauan itu terjawab sudah, satu persatu aktor menyampaikan apa yang dialami, mulai dari Sudibia, beliau menyampaikan bahwa ini adalah petunjukan yang ditujukan untuk merespon alam, energi positif yang coba digambarkan dalam setiap gerak para aktor, beliau menyampaikan, seni itu akan semakin baik jika setiap orang memiliki perspektif terhadap apa yang dilihat dan dirasakan.

Sementara Wayan Suklu menyampaikan, bahwa tidak ada alur dalam pertunjukan ini, semua mengalir, respon aktor, penonton dan alam di Rumah Intaran, membuat pertunjukan ini semakin alami, semua memahami apa yang mesti dilakukan, disanalah tantangan yang ada, seni pertunjukan ini tidak memiliki script, setiap aktor adalah sutradara dari setiap peran mereka.

Guru Gede Kresna memandu acara ini, memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyampaikan tanggapannya, ada yang menyampaikan dengan kesimpulan bijak, ada yang menyampaikan dengan teori dan pemahaman.

Sementara saya sendiri punya pendapat singkat, “Seni bergerak, seni bebas, kebebasan dalam dimensi perspektif, tidak ada yang rigid, mengalir, tidak ada yang salah, kebebasan dijamin, karena keterikatan adalah penghianatan terhadap seni itu seni itu sendiri.” [T]

Tags: ISI DenpasarRumah IntaranSeniseni pertunjukanTeater
Share186TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Teater Kalangan – Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Next Post

Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Puisi-puisi Manik Sukadana # Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co