2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
January 17, 2020
in Khas
Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Membayangkan diri, melihat kembali diri setahun yang lalu. Untuk mengukur sudah seberapa jauh tubuh ini berjalan. Menua melewati proses. Hidup sebagai individu yang utuh tak luput dari perubahan dan perkembangan. Layaknya ulat buruk rupa yang tak diinginkan keberadaannya, perlahan mulai memimpikan diri diterima bahkan dikagumi. Keinginan untuk berubah, tapi semua itu punya proses. Bagaimana ulat bisa diterima dan dikagumi sebagai kupu-kupu.

Memikirkan ulat membuat kembali mengingat IPA ketika saya masih belajar di bangku sekolah. Tapi berbeda dengan yang dulu, sekarang saya mulai memikirkan dan bertanya. Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul ketika saya memikirkan tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Apakah dia mengingat rupanya yang lalu? Apa dia bisa mengenali rupa barunya? Bagaimana perasaan kupu-kupu mengingat tubuhnya yang kini berubah kian menarik tidak seperti tubuhnya yang lalu? Sakitkah perubahan itu? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat pemikir atau mungkin saya terlalu membebaskan pikiran saya untuk melayang-layang bebas tak beraturan, terserah mau dia kemana atau mungkin mengada-ngada.

Tapi melihat proses itu, saya merasa diri ini masih pada tahap ulat. Ulat yang baru mempunyai mimpi untuk menjadi indah.  Ingin mempunyai sayap dan dapat terbang di langit bersama lebah, nyamuk, dan lalat. Sekarang balik lagi pada persoalan diri dan melihat kembali setahun kemarin. Bagaimana diri ini masih menjadi mahasiswa yang hanya menjalankan rutinitas sebagaimana mahasiswa pada umumnya. bangun, pergi kuliah, selepas itu mengikuti ukm, lantas pulang untuk istirahat atau sekedar menghibur penat. Sejauh yang saya ingat itulah hari-hari menoton yang saya lalui.

Sekali waktu diajak kawan pergi ke beberapa komunitas dan ikut beberapa diskusi. Namun, hiruk pikuk diskusi dan komunitas itu sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan. Walau disana ramai dangan banyaknya orang yang datang silih berganti, saling menyapa dan juga meluapkan rasa rindu. Tapi diri ini merasa gelisah, bingung. “Apakah ini tempatku?” seperti merasa berbeda dengan mereka yang datang kesana untuk berdiskusi atau hanya sekedar datang. Awalnya memang nyaman tapi lama-kelamaan terasa asing.

Sempat berapa kali hadir sana dan sini. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Mencoba banyak hal yang baru dan berbeda, tak membuat tubuh ini menemukan tempatnya. Lantas aku hanya bisa menyerahkan diri pada kampus dan rutinitasnya. Begitu saja hingga pertengahan tahun kemarin.

Iseng bermain di dunia Instagram, saya melihat adanya snapgram dari salah satu teman saya yang memuat pementasan monolog. Tanpa basa basi saya langsung menghubungi dan datang menonton tanpa ada intrepetasi akan menjadi seperti apa pementasan yang akan saya tonton. Ketika menonton, banyak sekali hal yang membuat saya terkejut. Bagaimana tata panggung yang digunakan sangat berbeda dengan sebagaimana panggung yang biasanya dipakai untuk pementasan. Hal baru lagi dalam hidup saya yang membuatku kaget dan kagum. “Ternyata ada bentuk panggung yang seperti ini” salah satu kata yang terpikir dalam benak saya kala itu.

Sebuah tempat yang membuat tertarik lagi diri ini. Menemukan hasrat yang telah lama hilang. Tempat itu bernama Canasta.  Disanalah saya berkenalan dengan Sumahardika dan Jong Santiasa Putra. Kakak-kakak di Teater Kalangan dimana saya banyak berproses dari setengah tahun yang lalu hingga sekarang. Berproses bersama kawan-kawan disana membuat saya tiada berhentinya untuk kagum. Bagaimana cara mereka memandang suatu hal dan cara pikir yang ada dalam kepala mereka. Banyak sudut pandang dan juga banyak interpretasi baru pula yang masuk kedalam batok kepalaku.

Guyub Kalangan adalah salah satu proses saya dalam merubah diri, membuat saya mulai memandang hal dari sudut yang berbeda.Guyub Kalangann adalah sebuah program dimana program ini dimaksudkan untuk mengajak teman-teman untuk latihan selama sebulan dari latihan olah tubuh, menonton pementasan dan film, hingga mendiskusikan buku-buku teater. Selama latihan itu saya merasa seperti dibukakan wawasan saya tentang teater lebih dalam lagi. Bahwa teater itu bukan hanya sekedar pementasan, atau hanya sekedar kita memainkan tokoh. Yang saya dapatkan teater itu lebih seperti mempelajari sebuah kehidupan.

Dimulai dari mengenali diri terlebih dahulu. Siapakah aku? Bagaimana bentuk tubuhku? Seperti apa rupaku? Mulai mengenal kembali diri ini. Mempelajari diri terlebih dahulu setelah itu lanjut mempelajari tokoh. Walaupun sampai sekarang saya sendiri belum kenal betul dengan diri ini dan tubuh ini. belum katam betul. Mempelajari siapa tokoh yang akan kita mainkan? Mencari tau motivasi dibalik semua dialog-dialog naskah. Mencari cara bicara, jalan, bahkan hingga memainkan jari-jari ketika bingung. Hingga ke hal yang besar seperti bagaimana membaca sebuah tempat. Keseharian sekelompok orang yang bermukim di suatu daerah. Bagaimana psikologi mereka? Dan masih banyak hal yang lain.Mempelajari kehidupan, memaknainya, dan menuangkannya dalam sebuah pementasan.

Banyak hal yang dipelajari seperti balajar menumbuhkan kesadaran, kesadaran dari mulai hal yang sederhana seperti sadar akan bernafas. Ini juga masuk dalam proses menyadari diri sendiri. Bahwa sadar akan apa yang terjadi pada tubuh dan tidak membuatnyya lepas begitu saja membiarkanya bekerja begitu saja tanpa kita tahu hal tersebut sudah terjadi. Seakan-akan tubuh itu punya pikirannya sendiri. Pikiran yang berbeda dengan pikiran saya. Seperti bayi kembar siam yang memiliki satu tubuh dengan dua pikiran. Atau mungkin seperti orang bipolar yang mempunyai dua kepribadian dalam satu tubuh. Memyadari nafas adalah hal yang sederhana bahkan saking sederhananya banyak orang lupa bahwa dirinya bernafas. Dan membiarkanya terjadi begitu saja. Hal-hal sederhana seperti itu yang membuat sadar bahwa saya hidup. Yang mengindikasikan bahwa saya mahluk hidup.

Berproses di Teater kalangan juga membuka relasi saya dengan teman-teman baru. selama ini saya sebagai mahasiswaa pada umumnya biasanya mempunyai relasi yang itu-itu saja. Teman kampus, teman ukm, teman sma yangmungkin karena arena kultural saya itu-itu saja. Tetapi ketika saya berproses di sini banyak sekali saya bertemu dengan orang-orang yang sama sekali beda dengan arena kultural saya selama ini. bertemu dengan banyak seniman di berbagai bidang seperti seniman visual, musik, juga seniman yang banyak bergelut di dunia teater tentunya. Seperti perjumpaan saya dengan Muhammad Khan atau yang sering dipanggil dengan sapaan Mas Khan. Bagaimana saya bisa berjumpa dengan seorang aktor yang bermain di film Kucumbu Tubuh Indahku nya Garin Nugroho. Bisa bertemu dengan aktor yang sudah lama berproses didunia teater dan sudah memiliki namanya sendiri. Bisa bertemu dengannya dan sedikit tidaknya saya dapat ngobrol dan mendengarkan diskusi tentang prosesnya selama ini dalam dunia keaktoran.

Belum lagi pertemuan saya dengan Ibed Surgana Yuga dan juga Curex Iwan. Dua manusia yang sudah lama bergelut dalam dunia teater. Pertemuan saya dengan mereka yang seperti ulat yang bertemu dengan kupu-kupu yang terbang di langit. Sayayang baru berkenalan dengan dunia teater dapat bertemu dengan mereka itu seperti sebuah hal yang tidak diduga. Seperti halnya ketika sayayang menginap dirumah Bli Ibed ketika saya ada pentas di negara bersama dengan Kak Jong. Disana saya semakin kagum dengannya. Perjalanan kerumahnya yang begitu jauh dari kota. Berada di atas bukit jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ketika itu sedang malam dan aku diantar oleh adiknya Bli Ibed menggunakan sebuah motor. Gelap tak ada penerangan lampu jalan ketika itu, hanya ada sedikit lampu rumah-rumah pendudk yang terlihat.

Sekitar lima belas atau dua puluh menit untuk bsa sampai kerumah Bli Ibed. Rumah dengan satu masa bangunan dan merajan yang masih dalam tahap konstruksi menyapa saya kala itu. Memasuki rumah itu berjalan diatas lantai-lantainya kemudian mengarah pada kamar Bli Ibed membuka pintunya dan. Saya hanya bisa diam melihat kamar itu. Antara takjub atau saya tidak tahu mesti mengekspresikan apa yang saya lihat saat itu. Layaknya sebuah perpustakaan, setengah dinding kamar itu terisiis oleh rak yang dipenuhi oleh buku-buku. Seakan sebuah perpustakaan kecil yang sengaja keberadaannya disembunyikan oleh Bli Ibed untuk dinikmatinya sendiri. Lagi-lagi ini membuat saya takjub dan bertanya apa semua buku ini sudah dibaca? Berapa jumlah bukunya? Apa semua ini bisa ditampung dalam satu kepala? Rasa kagum saya terus tumbuh mungkin sekarang sudah jadi gundukan bukit kagum dalam benak saya.

Dengan Bli Curex saya masih punya sebuah project monolog yang tertunda hingga kini belum terealisasikan karena Bli Curex yang masih di Jawa dan saya sendiri masih kadang lupa bahwa saya masih punya PR sendiri dengan naskah monolog saya. Sebaiknya saya mengambil lagi naskah itu dan mempelajari kembali tokoh saya agar ketika Bli Curex kembali, kita bisa menggarapnya kembali dan tidak harus mulai dari nol lagi.

Begitu banyak proses yang terjadi dan saya bingung ingin menuliskan proses yang mana. Setengah tahun saya bersama Teater Kalangan begitu penuh dan padat. Banyak emosi yang tumpah ruah.Kritik sudah seperti makanan sehari-hari.Saya sering dikritik oleh Kak Suma dan Kak Jong tapi saya tahu itu untuk kebaikan saya.Saya terima dan itu harus dijalani. Agar kritikan itu tak semata-mata menjadi ucapan yang keluar begitu saja tetapi juga menjadi pemantik untuk saya menjadi lebih baik lagi. Tapi melalui kritik itu, tunas perkembanggan akan mucul dan tumbuh. Tergantung bagaimana kita menyikapi kritik tersebut. Dan dalam perjalanan ulat ini untuk berproses menjadi kupu-kupu. Kritik, membaca, latihan, diskusi, saran merupakan makananya. Daun yang dimakan agar ulat ini tumbuh besar dan berkembang. Untuk saat ini memang ulat ini masih hanya bisa bermimpi untuk terbang tapi suatu saat nanti dia percaya itu akan menjadi kenyataan.[T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita di Balik Bunuh Diri

Next Post

Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co