24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
January 17, 2020
in Khas
Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Membayangkan diri, melihat kembali diri setahun yang lalu. Untuk mengukur sudah seberapa jauh tubuh ini berjalan. Menua melewati proses. Hidup sebagai individu yang utuh tak luput dari perubahan dan perkembangan. Layaknya ulat buruk rupa yang tak diinginkan keberadaannya, perlahan mulai memimpikan diri diterima bahkan dikagumi. Keinginan untuk berubah, tapi semua itu punya proses. Bagaimana ulat bisa diterima dan dikagumi sebagai kupu-kupu.

Memikirkan ulat membuat kembali mengingat IPA ketika saya masih belajar di bangku sekolah. Tapi berbeda dengan yang dulu, sekarang saya mulai memikirkan dan bertanya. Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul ketika saya memikirkan tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Apakah dia mengingat rupanya yang lalu? Apa dia bisa mengenali rupa barunya? Bagaimana perasaan kupu-kupu mengingat tubuhnya yang kini berubah kian menarik tidak seperti tubuhnya yang lalu? Sakitkah perubahan itu? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat pemikir atau mungkin saya terlalu membebaskan pikiran saya untuk melayang-layang bebas tak beraturan, terserah mau dia kemana atau mungkin mengada-ngada.

Tapi melihat proses itu, saya merasa diri ini masih pada tahap ulat. Ulat yang baru mempunyai mimpi untuk menjadi indah.  Ingin mempunyai sayap dan dapat terbang di langit bersama lebah, nyamuk, dan lalat. Sekarang balik lagi pada persoalan diri dan melihat kembali setahun kemarin. Bagaimana diri ini masih menjadi mahasiswa yang hanya menjalankan rutinitas sebagaimana mahasiswa pada umumnya. bangun, pergi kuliah, selepas itu mengikuti ukm, lantas pulang untuk istirahat atau sekedar menghibur penat. Sejauh yang saya ingat itulah hari-hari menoton yang saya lalui.

Sekali waktu diajak kawan pergi ke beberapa komunitas dan ikut beberapa diskusi. Namun, hiruk pikuk diskusi dan komunitas itu sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan. Walau disana ramai dangan banyaknya orang yang datang silih berganti, saling menyapa dan juga meluapkan rasa rindu. Tapi diri ini merasa gelisah, bingung. “Apakah ini tempatku?” seperti merasa berbeda dengan mereka yang datang kesana untuk berdiskusi atau hanya sekedar datang. Awalnya memang nyaman tapi lama-kelamaan terasa asing.

Sempat berapa kali hadir sana dan sini. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Mencoba banyak hal yang baru dan berbeda, tak membuat tubuh ini menemukan tempatnya. Lantas aku hanya bisa menyerahkan diri pada kampus dan rutinitasnya. Begitu saja hingga pertengahan tahun kemarin.

Iseng bermain di dunia Instagram, saya melihat adanya snapgram dari salah satu teman saya yang memuat pementasan monolog. Tanpa basa basi saya langsung menghubungi dan datang menonton tanpa ada intrepetasi akan menjadi seperti apa pementasan yang akan saya tonton. Ketika menonton, banyak sekali hal yang membuat saya terkejut. Bagaimana tata panggung yang digunakan sangat berbeda dengan sebagaimana panggung yang biasanya dipakai untuk pementasan. Hal baru lagi dalam hidup saya yang membuatku kaget dan kagum. “Ternyata ada bentuk panggung yang seperti ini” salah satu kata yang terpikir dalam benak saya kala itu.

Sebuah tempat yang membuat tertarik lagi diri ini. Menemukan hasrat yang telah lama hilang. Tempat itu bernama Canasta.  Disanalah saya berkenalan dengan Sumahardika dan Jong Santiasa Putra. Kakak-kakak di Teater Kalangan dimana saya banyak berproses dari setengah tahun yang lalu hingga sekarang. Berproses bersama kawan-kawan disana membuat saya tiada berhentinya untuk kagum. Bagaimana cara mereka memandang suatu hal dan cara pikir yang ada dalam kepala mereka. Banyak sudut pandang dan juga banyak interpretasi baru pula yang masuk kedalam batok kepalaku.

Guyub Kalangan adalah salah satu proses saya dalam merubah diri, membuat saya mulai memandang hal dari sudut yang berbeda.Guyub Kalangann adalah sebuah program dimana program ini dimaksudkan untuk mengajak teman-teman untuk latihan selama sebulan dari latihan olah tubuh, menonton pementasan dan film, hingga mendiskusikan buku-buku teater. Selama latihan itu saya merasa seperti dibukakan wawasan saya tentang teater lebih dalam lagi. Bahwa teater itu bukan hanya sekedar pementasan, atau hanya sekedar kita memainkan tokoh. Yang saya dapatkan teater itu lebih seperti mempelajari sebuah kehidupan.

Dimulai dari mengenali diri terlebih dahulu. Siapakah aku? Bagaimana bentuk tubuhku? Seperti apa rupaku? Mulai mengenal kembali diri ini. Mempelajari diri terlebih dahulu setelah itu lanjut mempelajari tokoh. Walaupun sampai sekarang saya sendiri belum kenal betul dengan diri ini dan tubuh ini. belum katam betul. Mempelajari siapa tokoh yang akan kita mainkan? Mencari tau motivasi dibalik semua dialog-dialog naskah. Mencari cara bicara, jalan, bahkan hingga memainkan jari-jari ketika bingung. Hingga ke hal yang besar seperti bagaimana membaca sebuah tempat. Keseharian sekelompok orang yang bermukim di suatu daerah. Bagaimana psikologi mereka? Dan masih banyak hal yang lain.Mempelajari kehidupan, memaknainya, dan menuangkannya dalam sebuah pementasan.

Banyak hal yang dipelajari seperti balajar menumbuhkan kesadaran, kesadaran dari mulai hal yang sederhana seperti sadar akan bernafas. Ini juga masuk dalam proses menyadari diri sendiri. Bahwa sadar akan apa yang terjadi pada tubuh dan tidak membuatnyya lepas begitu saja membiarkanya bekerja begitu saja tanpa kita tahu hal tersebut sudah terjadi. Seakan-akan tubuh itu punya pikirannya sendiri. Pikiran yang berbeda dengan pikiran saya. Seperti bayi kembar siam yang memiliki satu tubuh dengan dua pikiran. Atau mungkin seperti orang bipolar yang mempunyai dua kepribadian dalam satu tubuh. Memyadari nafas adalah hal yang sederhana bahkan saking sederhananya banyak orang lupa bahwa dirinya bernafas. Dan membiarkanya terjadi begitu saja. Hal-hal sederhana seperti itu yang membuat sadar bahwa saya hidup. Yang mengindikasikan bahwa saya mahluk hidup.

Berproses di Teater kalangan juga membuka relasi saya dengan teman-teman baru. selama ini saya sebagai mahasiswaa pada umumnya biasanya mempunyai relasi yang itu-itu saja. Teman kampus, teman ukm, teman sma yangmungkin karena arena kultural saya itu-itu saja. Tetapi ketika saya berproses di sini banyak sekali saya bertemu dengan orang-orang yang sama sekali beda dengan arena kultural saya selama ini. bertemu dengan banyak seniman di berbagai bidang seperti seniman visual, musik, juga seniman yang banyak bergelut di dunia teater tentunya. Seperti perjumpaan saya dengan Muhammad Khan atau yang sering dipanggil dengan sapaan Mas Khan. Bagaimana saya bisa berjumpa dengan seorang aktor yang bermain di film Kucumbu Tubuh Indahku nya Garin Nugroho. Bisa bertemu dengan aktor yang sudah lama berproses didunia teater dan sudah memiliki namanya sendiri. Bisa bertemu dengannya dan sedikit tidaknya saya dapat ngobrol dan mendengarkan diskusi tentang prosesnya selama ini dalam dunia keaktoran.

Belum lagi pertemuan saya dengan Ibed Surgana Yuga dan juga Curex Iwan. Dua manusia yang sudah lama bergelut dalam dunia teater. Pertemuan saya dengan mereka yang seperti ulat yang bertemu dengan kupu-kupu yang terbang di langit. Sayayang baru berkenalan dengan dunia teater dapat bertemu dengan mereka itu seperti sebuah hal yang tidak diduga. Seperti halnya ketika sayayang menginap dirumah Bli Ibed ketika saya ada pentas di negara bersama dengan Kak Jong. Disana saya semakin kagum dengannya. Perjalanan kerumahnya yang begitu jauh dari kota. Berada di atas bukit jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ketika itu sedang malam dan aku diantar oleh adiknya Bli Ibed menggunakan sebuah motor. Gelap tak ada penerangan lampu jalan ketika itu, hanya ada sedikit lampu rumah-rumah pendudk yang terlihat.

Sekitar lima belas atau dua puluh menit untuk bsa sampai kerumah Bli Ibed. Rumah dengan satu masa bangunan dan merajan yang masih dalam tahap konstruksi menyapa saya kala itu. Memasuki rumah itu berjalan diatas lantai-lantainya kemudian mengarah pada kamar Bli Ibed membuka pintunya dan. Saya hanya bisa diam melihat kamar itu. Antara takjub atau saya tidak tahu mesti mengekspresikan apa yang saya lihat saat itu. Layaknya sebuah perpustakaan, setengah dinding kamar itu terisiis oleh rak yang dipenuhi oleh buku-buku. Seakan sebuah perpustakaan kecil yang sengaja keberadaannya disembunyikan oleh Bli Ibed untuk dinikmatinya sendiri. Lagi-lagi ini membuat saya takjub dan bertanya apa semua buku ini sudah dibaca? Berapa jumlah bukunya? Apa semua ini bisa ditampung dalam satu kepala? Rasa kagum saya terus tumbuh mungkin sekarang sudah jadi gundukan bukit kagum dalam benak saya.

Dengan Bli Curex saya masih punya sebuah project monolog yang tertunda hingga kini belum terealisasikan karena Bli Curex yang masih di Jawa dan saya sendiri masih kadang lupa bahwa saya masih punya PR sendiri dengan naskah monolog saya. Sebaiknya saya mengambil lagi naskah itu dan mempelajari kembali tokoh saya agar ketika Bli Curex kembali, kita bisa menggarapnya kembali dan tidak harus mulai dari nol lagi.

Begitu banyak proses yang terjadi dan saya bingung ingin menuliskan proses yang mana. Setengah tahun saya bersama Teater Kalangan begitu penuh dan padat. Banyak emosi yang tumpah ruah.Kritik sudah seperti makanan sehari-hari.Saya sering dikritik oleh Kak Suma dan Kak Jong tapi saya tahu itu untuk kebaikan saya.Saya terima dan itu harus dijalani. Agar kritikan itu tak semata-mata menjadi ucapan yang keluar begitu saja tetapi juga menjadi pemantik untuk saya menjadi lebih baik lagi. Tapi melalui kritik itu, tunas perkembanggan akan mucul dan tumbuh. Tergantung bagaimana kita menyikapi kritik tersebut. Dan dalam perjalanan ulat ini untuk berproses menjadi kupu-kupu. Kritik, membaca, latihan, diskusi, saran merupakan makananya. Daun yang dimakan agar ulat ini tumbuh besar dan berkembang. Untuk saat ini memang ulat ini masih hanya bisa bermimpi untuk terbang tapi suatu saat nanti dia percaya itu akan menjadi kenyataan.[T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita di Balik Bunuh Diri

Next Post

Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co