2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita di Balik Bunuh Diri

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 17, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Lebih baik padam daripada pudar.” (Kurt Cobain-Nirvana)

Dalam surat yang ditinggalkannya sebelum bunuh diri, Kurt Cobain menuliskan sebaris lirik lagu penyanyi lain dari Canada, Neil Young berjudul Hey Hey, My My (Into the Black), yaitu “It’s better to burn out than to fade away.” Saat itu, di tahun 1994 yang menggemparkan dunia karena tindakan bunuh dirinya, band grunge asal Seattle, Nirvana, di mana Kurt Cobain sebagai vokalis dan gitarisnya, adalah band yang sedang berada pada puncak popularitasnya. Lagu-lagunya, dari hari ke hari, merajai tangga-tangga lagu radio di seluruh dunia.

Mereka menjual puluhan juta album rekaman dan dibanjiri tawaran manggung di sana sini. Lalu ada apa dengan Kurt? Mestinya ia bergelimang harta dan ketenaran. Dipuja di mana-mana. Sayang sekali, itu semua tak membuatnya bahagia, ia depresi berkepanjangan dan kian dalam. Lalu menemukan terapinya sendiri, menjejalkan peluru senapan laras panjang ke dalam kepalanya. Ketimbang menikmati cemerlang kesuksesannya, Kurt memilih terbenam dalam mimpi buruk tentang ketenarannya yang pasti akan meredup. Siapa bilang bunuh diri karena kemiskinan dan kegagalan?

Tak sedikit orang lalu mengaitkan bunuh diri yang dilakukannya karena kerapuhan jiwa seorang Kurt Cobain lantaran kegemarannya menggunakan narkoba. Cukup mudah memahami efek narkoba terhadap mental pemakainya, ia memang memberi risiko lebih besar kepada seseorang untuk mengambil tindakan bunuh diri. Namun demikian, tak terhitung artis-artis lain yang juga adiksi namun tak sampai bunuh diri. Band metal Motley Crue misalnya, oleh majalah Rolling Stones bahkan diberikan predikat sebagai band yang “More sex, drugs dan rock n’roll”.

Hingga kini mereka tetap tenar, kaya dan bahagia. Fenomena bunuh diri menjadi kian berkabut untuk dipahami. Apalagi jika kita pernah mendengar seseorang yang bernama Santo Maximilian Kolbe. Ia menyerahkan nyawanya, hayatnya untuk diakhiri sebagai salah seorang martir paling masyur sepanjang sejarah manusia. Berkat pengorbanannya yang melampaui kekuatan hati setiap manusia, ia pun telah dinobatkan menjadi orang suci. Ia “bunuh diri” dengan menyerahkan nyawanya sebagai pengganti tahanan Yahudi yang akan dieksekusi oleh NAZI. Serupa tapi tak sama, bunuh diri yang didasari doktrin atas sebuah keyakinan radikal juga banyak terjadi dalam bentuk bom bunuh diri. Pengikut kelompok keyakinan radikal seperti Jemaah Islamiyah atau ISIS, telah melakukan aksi bunuh diri yang jumlahnya tak terhitung di seluruh dunia.

Pekan ini, masyarakat Bali dikagetkan oleh berita kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang dokter, wanita berusia 30 tahun. Motif peristiwa yang menyedihkan ini masih dalam penyelidikan. Namun demikian, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang dokter dianggap sangat langka bahkan dianggap tak mungkin terjadi.

Kenapa? Sebab profesi ini memang dikaitkan dengan profil orang-orang yang sangat dekat dengan kesehatan, fisik maupun mental. Tak hanya mendalami ilmu kesehatan/medis, seorang calon mahasiswa pun telah menjalani test psikologi saat mau masuk sekolah kedokteran. Ini cukup ketat, mengingat, mirip seperti tentara yang memegang senapan pembunuh atau pilot yang menentukan keselamatan hidup orang banyak, seorang dokter pun boleh dikata punya otoritas “memegang nyawa” orang lain. Maka seorang dokter wajib hukumnya memiliki fisik dan mental yang sehat. Ini pun sesuai dengan riset yang mengaitkan pemicu bunuh diri terbanyak yaitu keadaan depresi dengan tingkat pendidikannya.

Data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan 2018 menunjukkan, latar belakang pendidikan penderita depresi beragam, paling banyak mereka yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan (8,2 persen) dan mereka yang tidak tamat SD atau MI (8,1 persen). Dilihat dari latar belakang ekonomi, mayoritas dari mereka tidak bekerja (8,1 persen) dan nelayan (6,9 persen). Maka kasus bunuh diri yang dilakukan oleh dokter tersebut memang menjadi tak mewakili kecenderungan umum ini. Namun begitulah, tak ada yang absolut dalam fenomena biososial, semuanya terikat oleh hukum statistik yang selalu memberi peluang akan kemungkinan terkecil sekalipun.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Bali menempati kasus bunuh diri tertinggi ketiga di Indonesia, setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jelas ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk mencegahnya. Seorang kawan, dokter ahli jiwa (psikiater) dr Sri Diniari SpKJ, memberi saran yang sangat praktis akan hal ini. Tak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental pun sudah harus kita bangun sejak masa kanak-kanak. Selama ini kita lebih terpusat membangun fisik mereka dengan kegiatan olah raga. Bagaiman menempa mental mereka? Rupanya bukan hal yang sulit untuk melakukannya.

Menurutnya, kita bahkan dapat mulai dengan hal-hal kecil yang selama ini kita sering lewatkan dan kurang disadari. Ia menyebutnya sebagai “imunisasi mental”. Latih kemandirian, latih keterampilan hidup dasar anak-anak kita seperti mencuci baju, piring, nyapu dan lain-lain. Perlu dilatih juga untuk pulang pergi kesuatu tempat sendiri. Faktanya anak-anak sekarang sudah gede pun boboknya masih sama orang tuanya atau baru mau ikut kegiatan masa orientasi sekolah (MOS) dibuatkan surat sakit karena kasihan kalau nanti kecapekan. Bahkan cuma karena bertengkar kecil saja, namanya dunia anak-anak, mamaknya yang maju. Sikap dan tindakan orang tua yang “terlalu menyayangi” ini kelak dapat melemahkan sistem imun mental dan jiwa mereka ketika sudah menjadi besar dan dewasa.

Sepertinya saran sejawat saya tersebut mirip sekali dengan gagasan mendidik anak yang terdapat dalam kitab Nitisastra. Ayah saya pun sangat sering mengutip sloka 3.18 yang aslinya berbunyi : laalayet panca varsani, dasa varsani taadyet, praapte to sodase varse, putram mitravadaacaret. Terjemahannya: “Asuhlah anak dengan memanjakannya sampai berumuh lima tahun, berikanlah “hukuman” (maksudnya pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah dewasa (maksudnya sejak remaja) didiklah dia sebagai teman”. Dan tentu artinya, saat mereka sudah berumah tangga, mereka harus dilepaskan memilih jalan kehidupan mereka bersama pasangannya, tak semestinya kita campuri lagi. Yakinilah, suatu hari mereka akan berkunjung bersama cucu-cucu kita dalam ceria dan bahagia, bukan dalam kemuraman duka. [T]

Tags: bunuh diridokterPsikologi
Share104TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Nusa Penida Sebut “Ke Bali”, Kekeliruan Geografis atau Merasa Tak Bagian dari Bali?

Next Post

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co