25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita di Balik Bunuh Diri

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 17, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Lebih baik padam daripada pudar.” (Kurt Cobain-Nirvana)

Dalam surat yang ditinggalkannya sebelum bunuh diri, Kurt Cobain menuliskan sebaris lirik lagu penyanyi lain dari Canada, Neil Young berjudul Hey Hey, My My (Into the Black), yaitu “It’s better to burn out than to fade away.” Saat itu, di tahun 1994 yang menggemparkan dunia karena tindakan bunuh dirinya, band grunge asal Seattle, Nirvana, di mana Kurt Cobain sebagai vokalis dan gitarisnya, adalah band yang sedang berada pada puncak popularitasnya. Lagu-lagunya, dari hari ke hari, merajai tangga-tangga lagu radio di seluruh dunia.

Mereka menjual puluhan juta album rekaman dan dibanjiri tawaran manggung di sana sini. Lalu ada apa dengan Kurt? Mestinya ia bergelimang harta dan ketenaran. Dipuja di mana-mana. Sayang sekali, itu semua tak membuatnya bahagia, ia depresi berkepanjangan dan kian dalam. Lalu menemukan terapinya sendiri, menjejalkan peluru senapan laras panjang ke dalam kepalanya. Ketimbang menikmati cemerlang kesuksesannya, Kurt memilih terbenam dalam mimpi buruk tentang ketenarannya yang pasti akan meredup. Siapa bilang bunuh diri karena kemiskinan dan kegagalan?

Tak sedikit orang lalu mengaitkan bunuh diri yang dilakukannya karena kerapuhan jiwa seorang Kurt Cobain lantaran kegemarannya menggunakan narkoba. Cukup mudah memahami efek narkoba terhadap mental pemakainya, ia memang memberi risiko lebih besar kepada seseorang untuk mengambil tindakan bunuh diri. Namun demikian, tak terhitung artis-artis lain yang juga adiksi namun tak sampai bunuh diri. Band metal Motley Crue misalnya, oleh majalah Rolling Stones bahkan diberikan predikat sebagai band yang “More sex, drugs dan rock n’roll”.

Hingga kini mereka tetap tenar, kaya dan bahagia. Fenomena bunuh diri menjadi kian berkabut untuk dipahami. Apalagi jika kita pernah mendengar seseorang yang bernama Santo Maximilian Kolbe. Ia menyerahkan nyawanya, hayatnya untuk diakhiri sebagai salah seorang martir paling masyur sepanjang sejarah manusia. Berkat pengorbanannya yang melampaui kekuatan hati setiap manusia, ia pun telah dinobatkan menjadi orang suci. Ia “bunuh diri” dengan menyerahkan nyawanya sebagai pengganti tahanan Yahudi yang akan dieksekusi oleh NAZI. Serupa tapi tak sama, bunuh diri yang didasari doktrin atas sebuah keyakinan radikal juga banyak terjadi dalam bentuk bom bunuh diri. Pengikut kelompok keyakinan radikal seperti Jemaah Islamiyah atau ISIS, telah melakukan aksi bunuh diri yang jumlahnya tak terhitung di seluruh dunia.

Pekan ini, masyarakat Bali dikagetkan oleh berita kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang dokter, wanita berusia 30 tahun. Motif peristiwa yang menyedihkan ini masih dalam penyelidikan. Namun demikian, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang dokter dianggap sangat langka bahkan dianggap tak mungkin terjadi.

Kenapa? Sebab profesi ini memang dikaitkan dengan profil orang-orang yang sangat dekat dengan kesehatan, fisik maupun mental. Tak hanya mendalami ilmu kesehatan/medis, seorang calon mahasiswa pun telah menjalani test psikologi saat mau masuk sekolah kedokteran. Ini cukup ketat, mengingat, mirip seperti tentara yang memegang senapan pembunuh atau pilot yang menentukan keselamatan hidup orang banyak, seorang dokter pun boleh dikata punya otoritas “memegang nyawa” orang lain. Maka seorang dokter wajib hukumnya memiliki fisik dan mental yang sehat. Ini pun sesuai dengan riset yang mengaitkan pemicu bunuh diri terbanyak yaitu keadaan depresi dengan tingkat pendidikannya.

Data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan 2018 menunjukkan, latar belakang pendidikan penderita depresi beragam, paling banyak mereka yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan (8,2 persen) dan mereka yang tidak tamat SD atau MI (8,1 persen). Dilihat dari latar belakang ekonomi, mayoritas dari mereka tidak bekerja (8,1 persen) dan nelayan (6,9 persen). Maka kasus bunuh diri yang dilakukan oleh dokter tersebut memang menjadi tak mewakili kecenderungan umum ini. Namun begitulah, tak ada yang absolut dalam fenomena biososial, semuanya terikat oleh hukum statistik yang selalu memberi peluang akan kemungkinan terkecil sekalipun.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Bali menempati kasus bunuh diri tertinggi ketiga di Indonesia, setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jelas ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk mencegahnya. Seorang kawan, dokter ahli jiwa (psikiater) dr Sri Diniari SpKJ, memberi saran yang sangat praktis akan hal ini. Tak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental pun sudah harus kita bangun sejak masa kanak-kanak. Selama ini kita lebih terpusat membangun fisik mereka dengan kegiatan olah raga. Bagaiman menempa mental mereka? Rupanya bukan hal yang sulit untuk melakukannya.

Menurutnya, kita bahkan dapat mulai dengan hal-hal kecil yang selama ini kita sering lewatkan dan kurang disadari. Ia menyebutnya sebagai “imunisasi mental”. Latih kemandirian, latih keterampilan hidup dasar anak-anak kita seperti mencuci baju, piring, nyapu dan lain-lain. Perlu dilatih juga untuk pulang pergi kesuatu tempat sendiri. Faktanya anak-anak sekarang sudah gede pun boboknya masih sama orang tuanya atau baru mau ikut kegiatan masa orientasi sekolah (MOS) dibuatkan surat sakit karena kasihan kalau nanti kecapekan. Bahkan cuma karena bertengkar kecil saja, namanya dunia anak-anak, mamaknya yang maju. Sikap dan tindakan orang tua yang “terlalu menyayangi” ini kelak dapat melemahkan sistem imun mental dan jiwa mereka ketika sudah menjadi besar dan dewasa.

Sepertinya saran sejawat saya tersebut mirip sekali dengan gagasan mendidik anak yang terdapat dalam kitab Nitisastra. Ayah saya pun sangat sering mengutip sloka 3.18 yang aslinya berbunyi : laalayet panca varsani, dasa varsani taadyet, praapte to sodase varse, putram mitravadaacaret. Terjemahannya: “Asuhlah anak dengan memanjakannya sampai berumuh lima tahun, berikanlah “hukuman” (maksudnya pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah dewasa (maksudnya sejak remaja) didiklah dia sebagai teman”. Dan tentu artinya, saat mereka sudah berumah tangga, mereka harus dilepaskan memilih jalan kehidupan mereka bersama pasangannya, tak semestinya kita campuri lagi. Yakinilah, suatu hari mereka akan berkunjung bersama cucu-cucu kita dalam ceria dan bahagia, bukan dalam kemuraman duka. [T]

Tags: bunuh diridokterPsikologi
Share104TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Nusa Penida Sebut “Ke Bali”, Kekeliruan Geografis atau Merasa Tak Bagian dari Bali?

Next Post

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co