2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
January 17, 2020
in Khas
Catatan Awal Tahun Teater Kalangan: Diri Sebagai Ulat dan Memorinya

Membayangkan diri, melihat kembali diri setahun yang lalu. Untuk mengukur sudah seberapa jauh tubuh ini berjalan. Menua melewati proses. Hidup sebagai individu yang utuh tak luput dari perubahan dan perkembangan. Layaknya ulat buruk rupa yang tak diinginkan keberadaannya, perlahan mulai memimpikan diri diterima bahkan dikagumi. Keinginan untuk berubah, tapi semua itu punya proses. Bagaimana ulat bisa diterima dan dikagumi sebagai kupu-kupu.

Memikirkan ulat membuat kembali mengingat IPA ketika saya masih belajar di bangku sekolah. Tapi berbeda dengan yang dulu, sekarang saya mulai memikirkan dan bertanya. Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul ketika saya memikirkan tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Apakah dia mengingat rupanya yang lalu? Apa dia bisa mengenali rupa barunya? Bagaimana perasaan kupu-kupu mengingat tubuhnya yang kini berubah kian menarik tidak seperti tubuhnya yang lalu? Sakitkah perubahan itu? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat pemikir atau mungkin saya terlalu membebaskan pikiran saya untuk melayang-layang bebas tak beraturan, terserah mau dia kemana atau mungkin mengada-ngada.

Tapi melihat proses itu, saya merasa diri ini masih pada tahap ulat. Ulat yang baru mempunyai mimpi untuk menjadi indah.  Ingin mempunyai sayap dan dapat terbang di langit bersama lebah, nyamuk, dan lalat. Sekarang balik lagi pada persoalan diri dan melihat kembali setahun kemarin. Bagaimana diri ini masih menjadi mahasiswa yang hanya menjalankan rutinitas sebagaimana mahasiswa pada umumnya. bangun, pergi kuliah, selepas itu mengikuti ukm, lantas pulang untuk istirahat atau sekedar menghibur penat. Sejauh yang saya ingat itulah hari-hari menoton yang saya lalui.

Sekali waktu diajak kawan pergi ke beberapa komunitas dan ikut beberapa diskusi. Namun, hiruk pikuk diskusi dan komunitas itu sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan. Walau disana ramai dangan banyaknya orang yang datang silih berganti, saling menyapa dan juga meluapkan rasa rindu. Tapi diri ini merasa gelisah, bingung. “Apakah ini tempatku?” seperti merasa berbeda dengan mereka yang datang kesana untuk berdiskusi atau hanya sekedar datang. Awalnya memang nyaman tapi lama-kelamaan terasa asing.

Sempat berapa kali hadir sana dan sini. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Mencoba banyak hal yang baru dan berbeda, tak membuat tubuh ini menemukan tempatnya. Lantas aku hanya bisa menyerahkan diri pada kampus dan rutinitasnya. Begitu saja hingga pertengahan tahun kemarin.

Iseng bermain di dunia Instagram, saya melihat adanya snapgram dari salah satu teman saya yang memuat pementasan monolog. Tanpa basa basi saya langsung menghubungi dan datang menonton tanpa ada intrepetasi akan menjadi seperti apa pementasan yang akan saya tonton. Ketika menonton, banyak sekali hal yang membuat saya terkejut. Bagaimana tata panggung yang digunakan sangat berbeda dengan sebagaimana panggung yang biasanya dipakai untuk pementasan. Hal baru lagi dalam hidup saya yang membuatku kaget dan kagum. “Ternyata ada bentuk panggung yang seperti ini” salah satu kata yang terpikir dalam benak saya kala itu.

Sebuah tempat yang membuat tertarik lagi diri ini. Menemukan hasrat yang telah lama hilang. Tempat itu bernama Canasta.  Disanalah saya berkenalan dengan Sumahardika dan Jong Santiasa Putra. Kakak-kakak di Teater Kalangan dimana saya banyak berproses dari setengah tahun yang lalu hingga sekarang. Berproses bersama kawan-kawan disana membuat saya tiada berhentinya untuk kagum. Bagaimana cara mereka memandang suatu hal dan cara pikir yang ada dalam kepala mereka. Banyak sudut pandang dan juga banyak interpretasi baru pula yang masuk kedalam batok kepalaku.

Guyub Kalangan adalah salah satu proses saya dalam merubah diri, membuat saya mulai memandang hal dari sudut yang berbeda.Guyub Kalangann adalah sebuah program dimana program ini dimaksudkan untuk mengajak teman-teman untuk latihan selama sebulan dari latihan olah tubuh, menonton pementasan dan film, hingga mendiskusikan buku-buku teater. Selama latihan itu saya merasa seperti dibukakan wawasan saya tentang teater lebih dalam lagi. Bahwa teater itu bukan hanya sekedar pementasan, atau hanya sekedar kita memainkan tokoh. Yang saya dapatkan teater itu lebih seperti mempelajari sebuah kehidupan.

Dimulai dari mengenali diri terlebih dahulu. Siapakah aku? Bagaimana bentuk tubuhku? Seperti apa rupaku? Mulai mengenal kembali diri ini. Mempelajari diri terlebih dahulu setelah itu lanjut mempelajari tokoh. Walaupun sampai sekarang saya sendiri belum kenal betul dengan diri ini dan tubuh ini. belum katam betul. Mempelajari siapa tokoh yang akan kita mainkan? Mencari tau motivasi dibalik semua dialog-dialog naskah. Mencari cara bicara, jalan, bahkan hingga memainkan jari-jari ketika bingung. Hingga ke hal yang besar seperti bagaimana membaca sebuah tempat. Keseharian sekelompok orang yang bermukim di suatu daerah. Bagaimana psikologi mereka? Dan masih banyak hal yang lain.Mempelajari kehidupan, memaknainya, dan menuangkannya dalam sebuah pementasan.

Banyak hal yang dipelajari seperti balajar menumbuhkan kesadaran, kesadaran dari mulai hal yang sederhana seperti sadar akan bernafas. Ini juga masuk dalam proses menyadari diri sendiri. Bahwa sadar akan apa yang terjadi pada tubuh dan tidak membuatnyya lepas begitu saja membiarkanya bekerja begitu saja tanpa kita tahu hal tersebut sudah terjadi. Seakan-akan tubuh itu punya pikirannya sendiri. Pikiran yang berbeda dengan pikiran saya. Seperti bayi kembar siam yang memiliki satu tubuh dengan dua pikiran. Atau mungkin seperti orang bipolar yang mempunyai dua kepribadian dalam satu tubuh. Memyadari nafas adalah hal yang sederhana bahkan saking sederhananya banyak orang lupa bahwa dirinya bernafas. Dan membiarkanya terjadi begitu saja. Hal-hal sederhana seperti itu yang membuat sadar bahwa saya hidup. Yang mengindikasikan bahwa saya mahluk hidup.

Berproses di Teater kalangan juga membuka relasi saya dengan teman-teman baru. selama ini saya sebagai mahasiswaa pada umumnya biasanya mempunyai relasi yang itu-itu saja. Teman kampus, teman ukm, teman sma yangmungkin karena arena kultural saya itu-itu saja. Tetapi ketika saya berproses di sini banyak sekali saya bertemu dengan orang-orang yang sama sekali beda dengan arena kultural saya selama ini. bertemu dengan banyak seniman di berbagai bidang seperti seniman visual, musik, juga seniman yang banyak bergelut di dunia teater tentunya. Seperti perjumpaan saya dengan Muhammad Khan atau yang sering dipanggil dengan sapaan Mas Khan. Bagaimana saya bisa berjumpa dengan seorang aktor yang bermain di film Kucumbu Tubuh Indahku nya Garin Nugroho. Bisa bertemu dengan aktor yang sudah lama berproses didunia teater dan sudah memiliki namanya sendiri. Bisa bertemu dengannya dan sedikit tidaknya saya dapat ngobrol dan mendengarkan diskusi tentang prosesnya selama ini dalam dunia keaktoran.

Belum lagi pertemuan saya dengan Ibed Surgana Yuga dan juga Curex Iwan. Dua manusia yang sudah lama bergelut dalam dunia teater. Pertemuan saya dengan mereka yang seperti ulat yang bertemu dengan kupu-kupu yang terbang di langit. Sayayang baru berkenalan dengan dunia teater dapat bertemu dengan mereka itu seperti sebuah hal yang tidak diduga. Seperti halnya ketika sayayang menginap dirumah Bli Ibed ketika saya ada pentas di negara bersama dengan Kak Jong. Disana saya semakin kagum dengannya. Perjalanan kerumahnya yang begitu jauh dari kota. Berada di atas bukit jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ketika itu sedang malam dan aku diantar oleh adiknya Bli Ibed menggunakan sebuah motor. Gelap tak ada penerangan lampu jalan ketika itu, hanya ada sedikit lampu rumah-rumah pendudk yang terlihat.

Sekitar lima belas atau dua puluh menit untuk bsa sampai kerumah Bli Ibed. Rumah dengan satu masa bangunan dan merajan yang masih dalam tahap konstruksi menyapa saya kala itu. Memasuki rumah itu berjalan diatas lantai-lantainya kemudian mengarah pada kamar Bli Ibed membuka pintunya dan. Saya hanya bisa diam melihat kamar itu. Antara takjub atau saya tidak tahu mesti mengekspresikan apa yang saya lihat saat itu. Layaknya sebuah perpustakaan, setengah dinding kamar itu terisiis oleh rak yang dipenuhi oleh buku-buku. Seakan sebuah perpustakaan kecil yang sengaja keberadaannya disembunyikan oleh Bli Ibed untuk dinikmatinya sendiri. Lagi-lagi ini membuat saya takjub dan bertanya apa semua buku ini sudah dibaca? Berapa jumlah bukunya? Apa semua ini bisa ditampung dalam satu kepala? Rasa kagum saya terus tumbuh mungkin sekarang sudah jadi gundukan bukit kagum dalam benak saya.

Dengan Bli Curex saya masih punya sebuah project monolog yang tertunda hingga kini belum terealisasikan karena Bli Curex yang masih di Jawa dan saya sendiri masih kadang lupa bahwa saya masih punya PR sendiri dengan naskah monolog saya. Sebaiknya saya mengambil lagi naskah itu dan mempelajari kembali tokoh saya agar ketika Bli Curex kembali, kita bisa menggarapnya kembali dan tidak harus mulai dari nol lagi.

Begitu banyak proses yang terjadi dan saya bingung ingin menuliskan proses yang mana. Setengah tahun saya bersama Teater Kalangan begitu penuh dan padat. Banyak emosi yang tumpah ruah.Kritik sudah seperti makanan sehari-hari.Saya sering dikritik oleh Kak Suma dan Kak Jong tapi saya tahu itu untuk kebaikan saya.Saya terima dan itu harus dijalani. Agar kritikan itu tak semata-mata menjadi ucapan yang keluar begitu saja tetapi juga menjadi pemantik untuk saya menjadi lebih baik lagi. Tapi melalui kritik itu, tunas perkembanggan akan mucul dan tumbuh. Tergantung bagaimana kita menyikapi kritik tersebut. Dan dalam perjalanan ulat ini untuk berproses menjadi kupu-kupu. Kritik, membaca, latihan, diskusi, saran merupakan makananya. Daun yang dimakan agar ulat ini tumbuh besar dan berkembang. Untuk saat ini memang ulat ini masih hanya bisa bermimpi untuk terbang tapi suatu saat nanti dia percaya itu akan menjadi kenyataan.[T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita di Balik Bunuh Diri

Next Post

Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Dunia Kerja Memang Tak Sesantuy Dunia Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co