24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam yang Entah di Mana

Santi Dewi by Santi Dewi
November 16, 2019
in Cerpen
Malam yang Entah di Mana

The Dancing Goddess karya Komang Astiar

Cerpen Susanti Dewi

Malam itu adalah hari Sabtu. Wira, pacarku mengajakku untuk pergi makan malam di sebuah warung lalapan dekat kampus. Kami sangat menyukai warung lalapan itu. Selain karena sambalnya yang segar dan pedas, yang membuat warung itu spesial dan berbeda dibandingkan warung lalapan lainnya adalah ayam, sambal, gorengan tempe tahu, dan tak lupa sayur kul rebus juga kangkung yang dipadu-padankan menjadi satu dalam sebuah cobek kecil. Di kota yang kecil ini, kami jarang sekali menemukan warung lalapan yang sambalnya diulek dan dicolek langsung dari cobeknya, oleh sebab itu kami selalu datang ke warung lalapan itu jika sedang ingin makan lalapan.

Setelah selesai makan malam, Wira mengantarkanku pulang ke kos. Jarak kosku dan Wira memang cukup jauh, tapi ia selalu rela mengantar-jemputku ke manapun yang aku mau. Sesampainya di kos, Wira langsung berpamitan padaku karena harus menemui salah seorang temannya di dekat pelabuhan. Setelah Wira tak terlihat lagi, akupun tak segera masuk ke dalam kamarku.

Aku mendatangi kamar teman kosku, Nanda. Kuketuk pintunya dan ia membukakan pintu. Seperti biasanya, aku akan mengadu dan bercerita kepadanya bagaimana senangnya aku tiap kali pergi bersama Wira. Maka ia akan tertawa cekikikan mendengar ceritaku, namun juga terkadang cemberut. Ia merasa iri, karena sampai saat ini ia belum memiliki pasangan. Entah karena apa. Yang jelas, sebenarnya Nanda adalah orang yang cantik dan asik jika diajak ngobrol.  Ia memiliki banyak gebetan. Namun aku tak mengerti mengapa ia masih sendiri sampai saat ini.

Kami bersendau-gurau saat itu. Suara tawa kami beradu liar dengan obrolan-obrolan dan musik dari kumpulan laki-laki yang sedang pesta minum di salah satu kamar dekat kamarku dan Nanda. Kos kami memang bukan kos khusus perempuan. Namun seluruh penghuni kos kami adalah mahasiswa. Selama aku tinggal di kos ini, tak pernah ada kejadian aneh di kos kami. Terlebih lagi soal maling.

Bapak kos juga sangat perhatian perihal kebersihan juga keamanan kos dengan memberi tau kami agar tidak melakukan keributan yang membuat tetangga di sebelah terganggu.  Kos kami bisa dikatakan cukup aman, dan semoga akan terus begitu. Setelah lelah tertawa, aku pun balik ke kamarku untuk mengganti pakaian dan beristirahat. Nanda menutup pintunya, dan akupun menutup pintuku.

Setelah masuk kamar, aku segera mengganti pakaianku dengan piyama bermotif panda yang diberikan oleh Wira saat ulang tahunku yang ke-20. Mengenakan piyama itu membuat tanganku sangat gatal untuk melihat-lihat album ulang tahunku saat tahun lalu. Aku melihat album kenangan itu sambil senyum-senyum sendirian ketika melihat potret wajah Wira yang penuh dengan cream kue tart di wajahnya karena ulahku. Namun aku merasa cukup terganggu dengan orang-orang yang sedang minum itu.

Lambat laun, suara tawa dan obrolan mereka semakin keras dan terus mengeras. Ingin rasanya aku menghampiri mereka keluar dan menyuruh mereka untuk bubar. Namun jika aku melakukannya, mereka yang sedang dalam kondisi mabuk atau tidak itu pasti akan menjadikanku sasaran empuk. Sungguh, aku kesal sekali. Namun aku tak mungkin melakukannya. Aku mencoba tak menghiraukan suara-suara mereka dan menutup album untuk segera tidur.

Album foto itu aku letakkan kembali diatas rak kayu dan kembali ke tempat tidur. Saat aku baru saja menarik selimut, hp yang aku letakkan di sebelah bantalku tiba-tiba bergetar. Aku memang tidak pernah mengaktifkan nada dering hp-ku. Karena aku pikir, itu akan sangat mengganggu jika hp-ku tiba-tiba berbunyi keras saat aku tengah berada dalam suatu acara atau sedang melakukan kegiatan yang penting. Mendengar getaran itu, aku segera mengambil hp-ku. Kulihat ternyata Nanda yang menelepon. Ada apa ini? Baru saja bertemu, kok sekarang dia meneleponku? Sudah satu kos, gaya-gayaan pakai nelepon segala lagi, pikirku sebelum mengangkat telponnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh di pikiranku aku tebas segera dengan mengangkat teleponnya.

“Hallo. Kenapa, Nan?”, Ku dengar napasnya terengah-engah seperti orang asma.

“Kei, kok… aku… napasku…” Perkataannya terbata-bata. Sepertinya ia sangat susah untuk bicara.

“Kamu kenapa, Nan?” Kupertegas lagi pertanyaanku namun ia tak menjawab. Terdengar napasnya ditarik dan dihela sangat panjang. Jantungku berdebar, aku khawatir terjadi hal yang tidak-tidak kepadanya.  “Tunggu, Nan. Aku ke kamarmu sekarang”. Segera ku taruh hp-ku dan menuju kamar Nanda, lagi. Aku sangat panik. Sampai-sampai aku lupa menutup pintu kamarku.

            Aku berjalan setengah berlari menuju kamar Nanda. Ketika aku sampai di depan kamarnya, aku segera membuka pintunya. Pintu kamarnya belum terkunci. Kulihat ia duduk di atas kasur sambil menutup wajahnya dengan tangan. Kuraih tangannya dan mencoba untuk membuka.

“Kamu kenapa, Nan?” tanyaku.

Ia melepaskan tangannya dari wajah dan berpindah ke dadanya. “Napasku, Kei. Aku susah bernapas. Sesak”.

Napasnya sangat berat, ia linglung dan panik. Napasnya semakin tak terkendali. “Tenang, Nan. Atur napasmu. Tenang, ayo minum air dulu!” .

Ia segera bangkit dan menyambet sebuah gelas. Ia terlalu panik dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia seperti ingin segera menemukan cara agar sesaknya lekas hilang. Gelas di tadahkan di bawah pipa pompa air. Dengan napas yang sangat susah, ia terus memompa air agar keluar dari galon.

“Sudah, Nan. Kau diam saja. Biar aku yang memompa airnya!”

Ia tak menghiraukan omonganku, ia terus memompa dengan napas yang sangat sulit. Benar saja, belum beberapa detik ia memompa, gelasnya terlepas dari tangan. Tubuhnya melemas. Matanya terpejam. Tangannya mencengkram kuat dadanya. Napasnya tak bisa lagi dikendalikan. Jantungku semakin berdebar, tubuhku gemetar melihat keadaannya. Aku berusaha menopang tubuh Nanda dari belakang.

“Nannnn… sadar! Hei, atur napasmu! Nan, dengarkan aku. Sekarang kamu tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan pelan-pelan. Tarik… hembuskan… tarik… hembuskan…”

Ia berusaha mendengarkan omonganku dan berusaha untuk mengatur napasnya. Namun Ia tak berhasil. Matanya masih terpejam. Ia menangis. Tubuhnya meronta-ronta karena kesulitan bernapas.

Di tengah isak tangis dan napasnya, tiba-tiba ia berkata, “Aduhhh, Kei.. tanganku… tanganku tak bisa bergerak. Tanganku, Kei… ” Kulihat kedua tangannya terbujur kaku ke depan. Jari-jari tangannya menyatu. Aku berusaha membuka jari-jari tangannya, namun sama sekali tidak bisa. Kurasakan tangannya seperti besi. Keras dan kaku.

Aku semakin panik. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan dengan kondisi Nanda yang seperti itu. Yang terus aku lakukan hanyalah menyuruh Nanda agar mengatur napasnya. Aku sangat takut. Lalu tiba-tiba Nanda berteriak sangat keras “Aaaaaaa….!”

Teriakannya memenuhi seluruh ruangan. Keras sekali. Pekikan suaranya memecah malam. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Tiba-tiba ia berteriak lagi “Aaaaaaa…!”

Oh, ya Tuhan. Aku ketakutan bukan main. Tubuhku gemetar menopang tubuhnya. Badanku berkeringat panas dingin. Aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya padanya, suaraku menjadi parau, ku goyangkan tubuhnya untuk membuatnya sadar bahwa aku di sampingnya “Hei! Nan, kamu kenapa? Kenapa, Nan? Ayo bicara!”. Napasnya tersengal-sengal tak karuan.

Pintu kamar Nanda masih terbuka saat aku masuk, aku menoleh keluar bermaksud meminta bantuan kepada yang lain. Namun saat aku menoleh keluar, kulihat ternyata orang-orang sudah berkerumun di depan kamar Nanda. Juga orang-orang yang sedang pesta minum tadi. Mereka datang ke kamar Nanda karena mendengar teriakan keras dari Nanda. Kepala-kepala mereka mendengak-dengok penasaran namun tak berani untuk masuk. Jelas bagiku, siapa yang tidak terkejut dan penasaran ketika mendengar sebuah teriakan kencang di tengah malam begini? Beberapa penghuni kos lain juga berdatangan. Yesi, tetangga kamar sebelah Nanda masuk dan menghampiri kami.

“Nanda kenapa, Kei?”

“Aku tak tau, Yes. Katanya sesak, tangannya kaku tak bisa digerakkan!”

“Kita bawa ke rumah sakit saja, Kei. Aku takut kalau kita biarkan di sini, sesaknya akan semakin menjadi-jadi!”

“Tapi bagaimana caranya, Yes?”

“Itu di luar ada Arka, minta bantuan dia saja!”

“Tapi Arka dan teman-temannya baru saja pesta minum, Yes.  Kurasa mereka mabuk. Apa tidak bahaya nanti di jalan? Aku takut Arka oleng saat mengendarai motor, apalagi membonceng Nanda. Tidak… tidak…!”

“Kita tidak punya pilihan lain, Kei. Kau mau Nanda kenapa-napa di sini? Lagipula Arka terlihat sadar-sadar saja. Sudah, biar aku yang memintanya!”

Aku tak punya pilihan lain. Arka yang sedari-tadi dengak-dengok di depan pintu, akhirnya menawarkan diri lebih dahulu sebelum Yesi memintanya.

“Ayo bawa ke rumah sakit saja, biar kuantar!”

Kami tak berpikir panjang. Segera kuambil jaket dan celana panjang dari lemari Nanda. Yesi memegang tubuh Nanda, dan aku berusaha memakaikan jaket dan celana panjang kepadanya. Arka segera menyiapkan motornya agar lebih dekat di depan kamar Nanda. Entah kenapa kami tak kepikiran untuk memanggil ambulance. Ah tapi yang pasti, motor jauh lebih cepat.

Aku segera berlari ke kamarku untuk mengambil dompet dan memakai jaket. Arka dan motornya telah siap di depan kamar Nanda. Nanda yang sangat lunglai dan masih dengan napasnya yang terengah-engah, diangkat naik ke atas motor oleh salah satu teman Arka yang bertubuh kekar. Setelah Nanda di atas motor, aku menyusul dibelakangnya. Aku memegangi Nanda dari belakang. Nanda berada di tengah-tengahku dan Arka. Kami berangkat. Motor melaju kilat di tengah jalan yang sepi.

Kami sampai di rumah sakit. Arka memakirkan motornya tepat di depan ruang IGD. Di depan ruang IGD, ada beberapa orang yang sedang menunggu sanak saudaranya yang mungkin sedang dirawat di dalam. Kami menjadi pusat perhatian. Melihat kedatangan kami, langsung saja para perawat dan petugas rumah sakit membawakan sebuah ranjang dorong yang biasa digunakan untuk menangani pasien yang gawat darurat. Salah satu petugas segera mengangkat Nanda dari atas motor dan dipindahkan ke ranjang pasien. Napas nanda masih terengah-engah. Tangannya masih terbujur kaku ke depan. Ranjang didorong masuk ke dalam ruangan oleh para perawat. Mereka berjalan cepat. Aku dan Arka menyusul di belakang.

Di dalam ruang IGD, Nanda ditempatkan di sebuah kamar yang hanya dibatasi oleh korden-korden biru. Seorang dokter dan perawat datang dengan peralatannya. Perawat itu segera memasangkan selang oksigen di hidung Nanda. Dengan tergesa-gesa, dokter memasangkan alat cek tensi dan bertanya padaku.

“Apa temanmu ini memang punya asma?”

Aku berpikir sebentar dan menjawab “Tidak, Dok, saya tau dia. Dia tidak pernah punya penyakit asma!”

Dokter itu terdiam, ia tak membalas jawabanku. Lalu beberapa detik kemudian ia berkata “Tolong tinggalkan kami, kami akan melakukan pemeriksaan!”

Korden ditutup rapat. Aku dan Arka menunggu di luar ruang IGD.

Aku dan Arka terdiam, mungkin Arka sedang memikirkan hal yang sama denganku. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku cemas sekali, jantungku masih berdebar-debar. Tiba-tiba terdengar keributan dari dalam.

“Aaaaaaaa…!”

Orang-orang berteriak riuh sekali. Para dokter dan perawat berhamburan lari ke luar ruangan. Begitu juga pasien-pasien, mereka didorong lari keluar oleh para petugas. Raut wajah mereka terlihat sangat ketakutan. Aku yang sedari tadi berada di luar bersama Arka merasa sangat kebingungan. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam. Aku berusaha mengejar dokter yang tadi memeriksa Nanda. Aku berlari mengejarnya, dokter itu terjatuh.

“Ada apa, Dok? Mengapa semuanya berlari keluar dan terlihat sangat ketakutan?”

Dokter itu menggelengkan kepala, keringat bercucuran di pelipisnya “Temanmu itu…” Bibir dokter itu gemetar,

“Ada apa dengannya, Dok?”

Belum sempat ia menjawab pertanyaanku, ia lari terbirit-birit meninggalkan rumah sakit.

Kami bergegas masuk ke dalam. Di dalam ruang IGD telah sepi. Tak ada satupun perawat atau dokter yang masih tersisa. Aku dan arka menuju ruangan Nanda. Langkah kami terhenti sebentar. Kulihat ruang korden itu membiaskan sinar cahaya putih yang menyilaukan.

“Ada apa ini, Ar? Mengapa tempat Nanda bercahaya seperti itu?”

“Aku tak tau. Ah, mataku sangat silau!”

“Ayo, Ar. Kita lihat keadaan Nanda”

Kami berusaha melawan cahaya silau itu. Ketika kubuka korden yang masih tertutup rapat, ku lihat tubuh Nanda setengah melayang. Napasnya terengah-engah. Matanya terpejam, dan tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang sangat terang. Aku dan Arka sangat shock. Kami takut sejadi-jadinya. Badan kami gemetaran. Aku tak bisa menjelaskan perasaanku melihat kejadian ini. Kami tak berani mendekati Nanda, pelan-pelan kami memundurkan langkah.

Tiba-tiba Nanda memekik kencang “Aaaaaaa!!!!”.

Nanda menghilang bersama cahaya. Ruangan sepi, kami berdiri tercengang.

Oh, ya Tuhan. Apa yang baru saja aku lihat? Aku tak percaya dengan kejadian ini. Mengapa ia menghilang dan pergi secepat ini dan dengan cara seperti ini? Apa yang akan aku katakan pada orang tuanya nanti? Oh, ya Tuhan… aku telah kehilangan temanku itu. Sahabat baikku. Rasanya sesak sekali, Dadaku sakit. Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Bodoh! Mengapa aku tak bisa menjaga temanku? Mengapa aku harus mengikuti permintaan Yesy dan Arka untuk membawanya ke rumah sakit? Kalau tidak, pasti tidak akan begini jadinya. Rumah sakit sialan! Rumah sakit terkutuk! Bangsat! Air mataku mengalir deras.

Kutoleh Arka masih tercengang dengan mulut menganga. Aku menangis tersedu-sedu, kupukul-pukul pundak Arka sambil menghujat rumah sakit terkutuk itu.

Arka tersadar dari rasa shock-nya, “Sudahlah, Kei. Jujur saja aku masih sangat tak percaya dengan hal ini. Tapi Nanda sudah tidak ada, Kei. Kita adalah saksinya. Kita sendiri yang menyaksikannya. Ikhlaskan Nanda pergi, Kei. Mari kita pulang!”

Sepanjang perjalanan pulang , aku menangis tak tertahankan. Bagaimana bisa aku merelakan hal ini begitu saja? Bagaimana aku bisa ikhlas menerima kepergian sahabatku? Tuhan, mengapa kau beri Nanda jalan hidup yang seperti ini? Aku tak bisa menerima kejadian ini, Tuhan.

Sesampainya di kos, Arka melepas helmnya dan membantu melepas helmku juga. Wajahnya lesu, tapi ia berusaha terlihat tegar di hadapanku. Aku menelepon orang tua Nanda untuk menjelaskan semuanya. Aku mendengar dari telepon orang tua Nanda panik dan beteriak-teriak. Mereka akan segera datang.

Sambil menunggu orang tua Nanda, aku terduduk di kursi di teras kamar.

“Sudah, Kei. Lebih baik kau istirahat sekarang. Mari kita doakan saja yang terbaik untuknya!” kata Arka sembari berjalan menuju kamarnya.

Bangsat! Aku masih tak percaya dengan semua ini. Air mataku kembali mengalir deras. Ku lihat kamar Nanda tertutup. Lampu kamarnya masih menyala terang seperti saat kami meninggalkannya tadi. Aku memutuskan untuk tidur di kamarnya malam ini. Aku sangat menyayangi sahabatku itu, aku masih tak bisa menerima bahwa aku telah kehilangannya. Setidaknya, aku ingin tidur bersama kenangan dan barang-barangnya malam ini. Kubuka pintu kamarnya yang tak terkunci. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Nanda ada di dalam dan bertanya padaku.

“Dari mana kamu pagi-pagi buta begini, Kei? Kok pakai jaket segala?”

Kamar sunyi dan senyap.

Tags: Cerpen
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Next Post

Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi

Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co