25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jika Rokok Rp. 50 Ribu, Wajah Politik Bali Utara Bisa Berubah

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

Foto: Nova Putra

JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nasib wajah politik praktis, misalnya Pilkada dan Pemilu, di Buleleng? Bagaimana situasi politik di Bali Utara?

Saya memikirkan hal itu. Rokok dan situasi politik di Buleleng memiliki hubungan “emosional” yang tak serius. Namun saya memikirkannya dengan serius. Bukan karena saya merokok. Namun karena ini sebuah hubungan yang unik.

Sejak lama, sejak saya mengemban tugas menjadi wartawan di Buleleng, saya mengamati secara diam-diam hubungan antara rokok, cengkeh dan Pilkada atau Pemilu. Pengamatan saya mungkin tak selengkap para peneliti, dan analaisanya mungkin tak setajam konsultan politik. Tapi inilah temuan saya yang berkaitan dengan masalah rokok, cengkeh dan politik:

Pertama, banyak (untuk menyebut lebih dari sepuluh orang) pemain dan tokoh politik di Buleleng adalah pemilik kebun cengkeh yang luas. Mereka biasanya mengandalkan hasil panen cengkeh untuk memenuhi biaya politik, terutama dana kampanye dan pencitraan di depan publik.

Kedua, pada musim Pilkada atau Pemilu Legislatif, apalagi bertepatan dengan berakhirnya panen raya cengkeh, banyak petani cengkeh yang sebelumnya mukim jauh dari dunia politik tiba-tiba ngebet mencalonkan diri menjadi anggota Dewan dan masuk ke partai-partai politik.

Tentu ada yang lolos. Dan ada juga yang apes: kursi Dewan tak dapat, hasil cengkeh melayang. Yang tak lolos biasanya tak terceritakan lagi. Ada yang kembali ke kebun mengurus cengkeh, dan tak kembali lagi ke arena politik yang sudah dianggapnya jahanam. Ada juga yang secara diam-diam masih menunggu kesempatan untuk maju pada pemilu berikutnya, sembari tetap menabung hasil panen.

Yang lolos bisa langsung melesat jadi tokoh politik beken, bahkan hingga ke ranah nasional. Sudah banyak diketahui. sejumlah pimpinan dan pengurus partai politik asal Buleleng diketahui punya kebun cengkeh yang cukup luas di desanya sendiri atau di wilayah sekitarnya.

Ketiga, jika kampanye Pilkada atau kampanye Pemilu bertepatan dengan panen cengkeh, suasana kampanye (terutama kampanye umum yang melibatkan banyak massa) akan tampak sepi. Banyak warga lebih suka meburuh memetik cengkeh, atau ngorek cengkeh, ketimbang mengejar recehan dari ongkos kampanye.

Keempat, jika kampanye digelar bertepatan dengan musim paceklik, atau cengkeh sedang tak berbunga, kampanye akan tampak lebih ramai. Daripada tak ada kerjaan, banyak buruh petik cengkeh dan tukang ngorek dengan mudah diajak ikut kampanye, siapa pun calonnya.

***

BULELENG memiliki kebun cengkeh terluas di Bali. Data dari Dinas Kehutnan dan Perkebunan Buleleng menyebutkan luas tanaman dan produksi cengkeh tahun tahun 2013 mencapai 7.572,10 ha dengan produksi: 2.359,98 ton, tahun 2014 luasnya 7.857,32 ha dengan produksi 5.270,75 ton,  tahun 2015 luasnya7.751,82 ha dengan produsi 4.907,39 ton.

Dengan luasan seperti itu, mungkin ada ratusan ribu warga yang mengandalkan hidupnya dari hasil cengkeh. Selain pemilik kebun, banyak warga yang tak punya kebun namun bisa menikmati gelimang hasil cengkeh dengan menjadi buruh petik dan tukang ngorek setelah panen.

Nah, jika misalnya benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, atau benar-benar tak ada yang merokok, tentu akan berpengaruh terhadap permintaan cengkeh di Buleleng. Pabrik rokok bangkrut, permintaan cengkeh pun turun drastis. Atau mungkin tak ada permintaan sama sekali. Petani cengkeh pun bisa bangkrut.

Logika itu barangkali sangat sederhana dan sangat tidak intelek. Tapi lihat dulu penjelasan Ketua Umum Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), Dahlan Said, sebagaimana dikutip surya.co.id, sekitar April 2016. Menurut dia, kebutuhan cengkeh dalam negeri setiap tahun mencapai 110.000 ton. Dari jumlah itu, 93 persennya diserap pabrik rokok, dan sisanya untuk kebutuhan komestik dan rempah-rempah.

Dan ingat, produksi dalam negeri itu termasuk produksi cengkeh yang berasal dari Buleleng dan kabupaten lain di Bali. Jika pabrik rokok bangkrut, atau  produksinya berkurang sehingga kebutuhan cengkeh juga berkurang, maka kebutuhan cengkeh dari Bali pun berkurang atau bisa saja dipotong sama sekali.

Pada saat itulah, cengkeh tak lagi “berkuasa” dalam pusaran politik di Buleleng. Di satu sisi, suasana kampanye umum akan selalu ramai, karena warga pengangguran meningkat sehingga banyak warga berharap bisa mendapatkan “uang transport” dan “uang makan” dari kegiatan politik.

Namun, di sisi lain, politikus dari kalangan petani cengkeh, tentu saja tak mau menghambur-hamburkan banyak uang karena penghasilan mereka menurun. Kemungkinan wajah politik berubah, bukan lagi “tokoh cengkeh” yang banyak muncul, namun tokoh-tokoh dari kalangan lain, bisa saja kalangan intelektual, pengangguran terselubung, atau dari petani sawah dan pemilik kebun kopi.

Selain hubungan sebab-akibat antara politik praktis, rokok dan cengkeh, hubungan lain tentu juga ada. Hubungan antara rokok, cengkeh dan politik pembangunan. Karena cengkeh, ratusan ribu warga di Buleleng tak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pemerintahnya. Warga sudah asyik dengan kegiatan dan penghasilan mereka. Jika perlu pemerintah, mereka hanya konsultasi masalah harga, pupuk, bibit tanaman dan hal-hal yang berkaitan dengan cengkeh.

Itu baru soal cengkeh. Saya belum bicara soal petani tembakau yang juga banyak terdapat di Buleleng. Petani tembakau ini juga kebanyakan asyik dengan kegiatan dan penghasilan mereka, tanpa banyak mengganggu pemerintah. Jika tak ada lagi yang merokok, maka berpengaruh besar terhadap penghasilan petani tembakau di Buleleng.

Meski banyak pejabat dan tokoh politik di Buleleng dan di Bali mengawali karirnya dari kebun cengkeh, namun tak banyak yang bicara ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kampanye antirokok, termasuk ketika muncul wacana naiknya harga rokok hingga Rp 50 ribu.

Pun ketika Pemprov Bali mengeluarkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) No 10 Tahun 2011 yang juga berlaku di Buleleng, para politisi beraroma cengkeh dan tembakau juga manut-manut saja. Padahal, jika sayang sama cengkeh, seharusnya mereka berontak, setidaknya secara politik mereka bisa melakukan wacana tandingan. Atau mengeluarkan kebijakan politik, seperti menolak kebijakan atau perda yang bisa merugikan petani cengkeh dan tembakau.

Namun, sebagai orang politik, mereka sepertinya punya hitung-hitungan lain. Mereka seakan takut menentang kebijakan pemerintah yang sudah telanjur dianggap luhur. Jika membela perokok, mereka seakan takut dianggap membela kejahatan.  (T)

Tags: antirokokcengkehPartai PolitikPolitikrokok
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Bernostalgia “Nyuluh Jangkrik” dengan Pokemon-Go

Next Post

Bagi Masyarakat Bali, Anjing Bali itu Peliharaan atau Ternak?

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Bagi Masyarakat Bali, Anjing Bali itu Peliharaan atau Ternak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co