24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antimadat, Penyelamatan Holistik

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
September 16, 2019
in Opini
Antimadat, Penyelamatan Holistik

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mempermasalahkan merk dan logo perusahaan rokok yang tersablon pada kaos anak-anak yang mengikuti audisi calon atlet bulu tangkis. Dinilai ajang tersebut mengeksploitasi anak-anak secara terselubung untuk mepromosikan produk-produk rokok PT Djarum.

Persatuan Bulu Tangkis Djarum kemudian bereaksi dengan mengumumkan penghentian audisi pencarian bakat calon atlet mulai tahun 2020. Sebagian masyarakat menilai apa yang dilakukan KPAI sebagai sebuah kecerobohan karena dapat membunuh kesempatan bagi atlet-atlet yang berbakat.

Sementara KPAI membela diri jika apa yang mereka lakukan telah tepat karena Djarum dinilai telah melanggar regulasi negara. Di luar gelombang pro-kontra yang masih bergulir, polemik ini sejatinya mampu menuntun kepada penguraian akar masalah permadatan yang berkelindan sejak sangat lampau.//

Pembatasan Definitif tentang Madat

Rudy Badil dalam bukunya Kretek Jawa Gaya Hidup Lintas Budaya (2011) menduga bahwa prototipe rokok bukanlah tembakau, meskipun ia mengakui tidak memiliki informasi yang lengkap. Akibat kebuntuan dalam melacak prototipe rokok, Badil mencoba mencari alternatif dengan mencermati tradisi menghisap bau-bauan khas dalam bentuknya yang lain seperti dhupa, asĕp, dan agaru/ garu.

Khusus untuk benda hisap yang mendekati rokok ada penjelasan Kakawin Smarandahana 4.5: saksat guguh makemilan mangudud kapundung” (Terlihat orang tua ompong pipinya mengembung mengisap dan menghemuskan asap). Selain itu ditemukan kutipan dari Kitab Sri Tanjung 7.84 yang berbunyi, wong anglampit saududan (seseorang menggenggam lintingan untuk merokok).

Sementara Babad Tanah Jawi memuat kisah tentang Rara Mendut perempuan cantik yang berjualan rokok pada suatu pasar yang membuat para pengunjung terutama kaum pria demikian terpikat terhadapnya. Ketuaan tradisi serta beragam cara menghisap bau-bauan menuntut kita untuk berhati-hati ketika membedakan perilaku menghisap bau-bauan yang tergolong madat dan tidak.

Rokokpun tidak seutuhnya dipergunakan sebagai sarana madat dalam artian hanya dihisap untuk kesenangan pragmatis dan lebih banyak efek negatif yang ditimbulkannya. Budiman dan Onghokam dalam bukunya Hikayat Kretek (2016) memuat kisah tentang Haji Jamhari, si penemu kretek yang awalnya menderita penyakit dada menahun. Berbagai macam cara pengobatan telah dicobanya namun tidak membuahkan hasil, hingga  muncul ide di kepalanya unuk menggosokkan minyak cengkeh pada dada dan punggungnya.

Keampuhan minyak cengkeh membuat Jamhari tertarik untuk mencampurkan gilingan cengkeh ke dalam tembakau yang diraciknya sebagai bahan rokok. Hasilnya sangat menakjubkan, penyakit dada Jamhari mulai membaik hingga sembuh samasekali. Cara pengobatan Jamhari lama kelamaan ditiru oleh orang-orang di sekitarnya. Pandangan tentang merokok pada masa Jamhari tentu berbeda dengan citra merokok masa kini yang identik dengan berbagai penyakit. Semenjak era kolonial memang telah diklasifikasi antara kretek lokal dengan rokok putih BAT (British American Tobacco) yang lebih modern.

Penyebutan madat mulanya hanya ditujukan bagi penghisap opium. Rush dalam bukunya Opium to Java mengungkapkan pada tahun 1882 satu dari 20 orang Jawa adalah pemadat yang menghisap candu. Di Bali sendiri perdagangan Candu merupakan bisnis yang menjanjikan sehingga terjadi benturan-benturan antara penguasa lokal dan pihak Belanda.

Sastrodiwiyo dalam bukunya Budak Pulau Surga (2009)menggambarkan jika budak dan candu merupakan dua sumber pendapatan para bangsawan serta raja-raja yang menawarkan kehidupan penuh kesenangan. Masyarakat Bali sesungguhnya mengenal aturan tentang dampak buruk menghisap opium yang jelas merupakan pengaruh dari ajaran Mo Lima di Jawa. Dalam masyarakat Bali aturan ini sering disebut dengan Panca Ma salah satunya adalah madat. Seiring berjalannya waktu ketika rokok diketahui menimbulkan kecanduan dan dalam pembuatannya melibatkan bahan-bahan kimia sintetik penambah citarasa maka merokok juga digolongkan ke dalam madat.

Dalam Lontar Panugrahan Dalem ditemukan suatu ilmu magis bernama Kawisésan Sang Hyang Pancamahabhuta. Pengamalnya mesti berdisiplin, salah satunya adalah pantang merokok (tan wenang meroko). Beberapa ritual di Bali sejatinya mensyaratkan penggunaan rokok (lanjaran) hanya saja sifatnya sangat fleksibel. Unsur tembakau pada lanjaran dapat digantikan dengan kayu-kayuan beraroma harum yang selanjutnya dikenal sebagai lanjaran banten.

Belakangan muncul temuan rokok bermerk Divine oleh Gretha Zahar yang disebut-sebut efektif untuk menyembuhkan berbagai penyakit termasuk kanker. Jikalau temuan tersebut benar-benar sahih bukannya tidak mungkin pengertian madat tidak lagi dilekatkan pada perokok Divine.       

Pandangan Bio Medisin dan Kepudaran Maknawi

Istilah uang rokok masih sering terdengar diberikan oleh seseorang yang merasa puas terhadap hasil kerja individu lain, terlepas penerimanya seorang perokok atau tidak. Demikianlah yang terjadi dalam masyarakat kita secara luas. Pada satu sisi pemadat tidak diinginkan keberadaannya sedangkan pada sisi lainnya sokongan dana dari aktivitas permadatan masih sangat diharapkan. Terlihat kita masih sangat naïf dalam mengambil keputusan dan terkesan ‘ingin enaknya saja’. 

Folcault telah jauh-jauh hari mengingatkan jika untuk memahami kehidupan dalam modernitas yang diperlukan hanyalah seberapa jauh manusia menyadari ketundukannya kepada kekuasaan definisi medis yang lebih dikenal sebagai pendekatan Bio Medisin. Kekuasaan konsep sehat-sakit selanjutnya analog dengan kekuasaan konsep baik-buruk dalam kehidupan manusia pramodern. Jika pada masyarakat pramodern seorang pemadat tidak dibenci karena kelakuannya dipandang hanya merugikan dirinya sendiri.

Ketika literasi kesehatan disebarluaskan bahwa asap rokok mengandung bahan-bahan kimia berbahaya yang tidak hanya merugikan si perokok aktif, namun juga perokok-perokok pasif di sekitarnya. Pada saat yang bersamaan pemadat yang pada periode sebelumnya telah tercitra sebagai pribadi yang tidak menjaga kesehatannya dengan baik kemudian mendapat labeling baru sebagai orang yang memiliki kualitas moral rendahan, penjahat, pencemar udara, dan semacamnya. Terlihat jelas peralihan dari masyarakat pramodern yang berpusat pada agama menuju masyarakat modern yang mengusung dominasi kekuasaan medis maupun kekuasaan klinik.

Bila pada era pramodern penyakit dimungkinkan berasal dari sebab-sebab eksternal yang tidak rasional seperti karma buruk atau kegagalan mengendalikan diri. Sementara pada periode modern sebab-sebab sakit dilokalisir pada gejala fisik/ tubuh seperti racun tembakau. Langkah penanggulangan penyakitpun bisa jadi setengah hati.

Mendesaknya Pemulihan Fungsi Agama

Bio medisin yang tubuh-sentris dengan cepat mengakrab bahkan dalam masyarakat yang paling tradisional sekalipun. Orang-orang di pelosok pedesaan terpencil mulai memilih mendatangi dokter tinimbang dukun. Pasien diwajibkan menuruti perkataan dokter yang berisi keharusan dan pantangan bahkan melakukan pengorbanan yang melebihi kemampuannya untuk membiayai prosedur-prosedur medis. Kendatipun tidak ada jaminan bila tindakan-tindakan medis berbiaya tinggi akan menyelamatkan nyawa pasien.

Jika terjadi kegagalan maka para petugas medis seringkali memberikan penjelasan dengan cara-cara pramodern seperti takdir dan ajal yang telah diatur Tuhan. Disinilah tampak dikotomi dalam bio medisin, prosesnya seolah-olah tidak membutuhkan peran unsur-unsur eksternal sehingga mencitrakan posivisme murni sedangkan ketika timbul kegagalan barulah unsur-unsur eksternal diikut-ikutkan sebagai tameng.

Peran dimensi agama yang utuh mendesak untuk dikembalikan sehingga masyarakat kita tidak hanya berlindung dalam apa yang diistilahkan Weber sebagai ‘kandang besi birokrasi’. Weber lebih jauh mengingatkan apabila kehidupan hanya dikendalikan oleh birokrasi semu maka mengindikasikan kemenangan kapitalis. Pada saat yang sama gerbong yang sedianya mengangkut harapan bagi kesejahteraan spiritual kemanusiaan melaju menuju terminal rasionalitas yang instrumental akhirnya hanya melahirkan kenangan akan masa kemanusiaan yang indah serta sarat makna.

Demikianlah pendekatan administratif bagi masyarakat modern lambat laun mengesampingkan semua unsur emosi dan perasaan yang semestinya diolah melalui ibadah agama sehingga lahirlah krisis makna serta moralitas. Bila bangsa ini benar-benar tidak menginginkan dampak buruk aktivitas permadatan maka harus siap pula kehilangan kenimatan-kenikmatan yang telah dikontribusikannya. Agama tidak mengarahkan manusia sebagai pribadi munafik yang gandrung kenikmatan tetapi menolak ampas-ampas yang disisakannya.

Penghentian permadatan bersumber dari hati nurani sehingga dalam pelaksanaannya dipenuhi kasih. Bukan dengan drama saling menyalahkan apalagi menumbalkan segelintir orang demi keuntungan-keuntungan lain. Penghapusan permadatan bukan sebatas bertujuan menyelamatkan golongan mayoritas namun sebisa mungkin diupayakan penyelamatan segenap bangsa tanpa kecuali.

Khusus pada masyarakat Bali semakin banyak Desa Pakraman yang membuat pararem tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Meskipun demikian pelarangan merokok harusnya tidak berhenti pada tataran normatif tetapi berlanjut kepada penyadaran yang lebih holistik yang melibatkan keimanan (sradha). [T]       

Tags: agamaantirokokcandumadatPendidikanrokok
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

PETALA

Next Post

Sabana Bunga di Rejeng Anyar, Toya Bungkah

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Sabana Bunga di Rejeng Anyar, Toya Bungkah

Sabana Bunga di Rejeng Anyar, Toya Bungkah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co