18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hilangnya Pura, Larinya “Pengempon”

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
August 27, 2019
in Opini
Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

“Eksekusi lahan ini, pura akan hilang. Bagaimana cara melangsungkan upacara, lahan untuk pura hilang. Mau diambil. Pura di samping juga lahannya mau dieksekusi, bagaimana cara melanjutkan upacara.” — (Jro Mangku Pura Puseh, Banjar Pakudui Kangin, Desa Kedisan, Tegalalang, Gianyar, Tribun Bali, 1 Agustus 2019)     

___

Tanpa saya duga, handphone saya bergetar. Pesan whatsaap masuk mengabarkan bahwa puluhan krama desa di Bali memudut (menyungsung) adengan Pratima (simbolisasi dewa) ke Pegadilan Negeri Gianyar, tempat sidang sengketa lahan pura tersebut berlangsung. Yang mengirimkan pesan ini adalah seorang mahasiswa Hindu yang juga berasal dari satu kabupaten. Ia melanjutkan pesannya, “Gejala napi niki pak? Apa yang sebenarnya terjadi?” Saat itu, saya tetiba termangu. Saya tidak bisa memikirkan apa-apa melihat fenomena ini. Namun saya berusaha mencari tahu informasi lebih detail.    

Sengketa tersebut terjadi di Tegalalang, Gianyar. Akarnya adalah sengketa lahan pelaba Pura Puseh antara Banjar Pakudui Kangin dengan Pakudui Kawan yang dimenangkan oleh Banjar Pakudui Kawan. Ujungnya adalah lahan berdirinya Pura Puseh terancam dieksekusi. Dengan demikian, tidak akan lagi Pura Puseh di lahan terebut.

Para pengempon yang berasal dari Banjar Pakudui Kangin kemudian membawa pratima ke PN Gianyar. Tujuannya adalah agar Ida Sesuhunan menyaksikan perjuangan krama pengempon untuk mempertahankan tanah dan Pura Puseh tersebut. “Bila nanti pura tersebut dieksekusi, lalu apa arti dari keberadaan Ida Sesuhunan ini,” ungkap Jro Mangku Pura Puseh, Banjar Pakudui Kangin, Desa Kedisan, Tegalalang, Gianyar.

Fenomena lain yang menyesakkan, juga berhubungan dengan terancam hilangnya pura, adalah yang menimpa pengempon Pura Hyang Ibu Pasek Gaduh, Banjar Babakan, Canggu, Kuta Utara. Sejumlah 45 KK (Kepala Keluarga) pengempon gundah karena kalah dan terancam kehilangan hak waris atas tanah dan pura tersebut. Akar dari permasalahan ini adalah konflik internal  pengempon.       



Salah satu proses pelaksanaan ritual di pura penyusung jagad di Bali (foto: I Ngurah Suryawan)

Komoditas

Dua dari sekian banyak kasus “hilangnya” pura-pura masyarakat Bali menggambarkan permasalahan besar yang dihadapi manusia Bali. Persoalan tersebut berhubungan dengan konflik tanah sekaligus konflik personal internal masyarakat sendiri. Hal ini menggambarkan betapa rapuhnya kekerabatan dan solidaritas sosial dalam arti luas ketika orientasi kehidupan berubah. Hal lainnya adalah yang berhubungan dengan kegagapan orang Bali merespon perubahan saat dunia berlari kencang.

Meski mengakui bahwa Pulau Bali terjaga kesuciannya berkat tersebarnya pura , kita sulit membantah bahwa penyokong pura tersebut semakin gundah. Para pengempon menghadapi kompleksitas kehidupan bermasyarakat yang terus berubah. Salah satu soalnya adalah bergesernya orientasi hidup dan kebudayaan di Bali dari ngayah ke mayah. Sederhananya, dari solidaritas sosial tanpa pamrih menuju orientasi pragmatis ekonomis.         

Silang-sengkarut Bali kontemporer mementaskan tubrukan berbagai macam kepentingan dengan nalar yang berbeda dan saling berkelidan. Kebudayaan, dalam arti seluas-luasnya, senyata-nyatanya telah menjadi komoditas. Santikarma (2003) dengan tajam mengungkapkan bahwa kebudayaan yang dahulu merupakan sebuah pemberian atau druwe kini berubah menjadi sebuah komoditas yang bisa dibalik-namakan, disertifikat, dan dicantumkan nama pemiliknya. Ini bertujuan untuk mempertegas akan hak. Tetapi kapitalisme pariwisata menggairahkan nafsu untuk menjualnya. Kebudayaan Bali menjadi semacam obyek yang tidak bisa diganggu, digugat, dibongkar atau diperiksa sebagai sebuah bangunan sosial.



Pura dan kawasan suci lainnya menjadi incaran dari investor pariwisata dan properti untuk meluaskan sayapnya (foto: I Ngurah Suryawan)

Pada sisi yang lain, ruang hidup, tentu bukan hanya tanah, semakin menyempit. Arus migrasi seolah tak terbedung. Kegagapan yang terjadi adalah merespon merespon globalisasi Bali dengan membangun “benteng”. Penguatan modal-modal social budaya un dilakukan. Desa adat diperkuat dan gerakan-gerakan pelestarian budaya terus didengungkan.

Kapitalisasi tanah berlangsung terus-menerus. Rakyat kecil seolah menghadapi situasi terdesak untuk menjual tanahnya demi (bayangan) nasib yang lebih baik. Seolah tidak ada pilihan untuk tidak menjungjung pariwisata. Pilihan untuk berdaulat dan mandiri menjadi begitu mahal. Saking mahalnya hingga dianggap aneh pada kondisi demam pariwisata ini.

Pandangan bahwa kebudayaan dan segala macam propertinya menjadi hak milik membawa pengaruh besar. Seluruh elemennya dengan demikian wajib untuk dipatenkan menjadi hak milik (baca: disertifikatkan). Pada tataran yang lebih abstrak, pendakuan sebagai pemilik kebudayaan menjadi semacama keharusan. Pada konteks inilah, keaslian sebagai pemilik kebudayaan menjadi persoalan yang serius sekaligus pelik. Selalu ada konflik yang menjadi sumbunya.

Lalu, bukan hanya pengempon kehilangan puranya, tetapi sebaliknya,  

pura yang kehilangan pengempon-nya. Pura-pura mulai terdesak, disamping karena perebutan tanah, konflik personal, juga perlahan karena perubahan orientasi kebudayaan. Kita bisa lihat pura-pura subak yang semakin terdesak dengan bangunan perumahan yang menerabas sawah.



Pura petirtan (pemandian) yang terletak di lokasi yang persawahan di kawasan Tampaksiring, Gianyar
 (foto: I Ngurah Suryawan)

Krama Bali yang terikat dengan pura-pura keluarga dan desa berpikir seribu kali untuk meninggalkan pura. Tetapi itu bukan mustahil akan terjadi jika perubahan mengusik hingga orientasi kehidupan. Yang saya maksudkan adalah konflik dan pengekangan kebebasan sebagai individu. Sebagai sebuah institusi, desa dan pengempon pura tentu mempunyai aturan yang harus disepakati bersama. Aturan tersebutlah yang seringkali menyisakan api dalam sekam bagi personal krama-nya.

Menurut saya, titik pangkal persoalannya adalah berubahnya orientasi manusia Bali, sementara pondasinya tidak dipersiapkan untuk berubah. Kemeriahan ritual menjadi pentas teater kebudayaan yang menyisakan persoalan serius. Sudah bukan rahasia umum jika praktik ritual lambat laun akan menjadi “beban sosial dan agama” jika tidak beradaptasi dengan perubahan. Celakanya, gebyar ritual seolah “diada-adakan” untuk kepentingan teater politik dan kekuasaan, tempat dimana manusia-manusia Bali menampilkan kekuasaannya.

Dalam situasi seperti itu, pantas kita bertanya, apakah ada manusia Bali yang berani menggugat dan mengkritisi situasi demikian? Atau perlahan-lahan mati dalam kubangan yang sama tanpa sempat untuk bersuara kritis?      

(Dimana) Kedaulatan Rakyat?

Jika mencermati konflik-konflik pelaba pura dan ketersingkiran pura dan pengempon-nya, kita dibawa untuk memikirkan bagaimana sejatinya rakyat Bali memikirkan dirinya yang berdaulat dalam mensikapi perubahan yan terjadi.

Salah satu yang menjadi karakteristik kebudayaan rakyat Bali adalah rwa bhineda, poleng (selem putih). Dalam bahasa yang jamak adalah ambiguitas itu sendiri. Dengan cara seperti itulah rakyat Bali memahami diri dan perubahannya.  

Namun sayangnya, tidak demikian dengan perspektif Negara dan kekuasaan. Cermin ambiguitas dan kelampauan yang dipakai oleh orang-orang kebanyakan untuk mengerti masa lalu dihapus oleh sejarah yang disponsori rezim Orde Baru. Kerumitan dan ranah abu-abu dibabat untuk dialihkan kejurusan “sejarah jalan lurus” linear progress. Kalaupun rakyat diberi tempat dalam pentas narasi-narasi sejarah negara terbatas sebagai peminta-minta resep, petunjuk dan perlindungan dari negara, atau sebaliknya sebagai potensi massa yang berbahaya karena dianggap bodoh, suka rusuh,ngamuk, dan penjarah, dan oleh karena itu harus dikontrol oleh aparatus negara (Santikarma, 2008).

Rakyat sejatinya dalam bahasa Laksono (2008 via Budi Susanto, 2005) adalah “orang-orang yang berdaya”, mempunyai kekuatan untuk melakukan perubahan sosial terhadap diri dan lingkungannya. Oleh karenanya rakyat hampir selalu diantara dua sisi yaitu melakukan resistensi (perlawanan) sekaligus obyek penundukan dan eksploitasi. Dalam hal inilah rakyat berbeda dengan “massa” yang sangat mudah untuk dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan. Dalam konteks historis, negara dan kekuasaannya sangat alergi dengan kata “rakyat” karena sejarah panjangnya dalam melakukan gerakan kritis kepada kekuasaan.

Dengan kasus-kasus yang disebutkan di atas, apakah rakyat Bali adalah orang-orang yang (tidak) berdaya menghadapi diri dan perubahan yang mengejarnya? [T]

Peguyangan, Agustus 2019

Tags: balihinduPura
Share145TweetSendShareSend
Previous Post

Ngiring Ida Batara Pucak Natar Sari: Perjalanan Spiritual, Bakti Spiritual…

Next Post

Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co